← Back to list

Tiga Dekade: Antara Impian dan Realita

Perjalanan Chapter 3.0

Dandelion in Meja Sajak · 2026-05-24 14:15 · 122 claps · 3.7 min read
#30-years-old #impian #realita #senandika #meja-sajak
Open on Medium ↗

Tiga Dekade: Antara Impian dan Realita

Perjalanan Chapter 3.0

Perguliran 365 hari penantian kemarin berlalu begitu saja. Baru saja rasanya aku menuliskan refleksi diri ketika genap 29 tahun, kemudian menyematkan 29 nasihat untuk dijalani di hari-hari berikutnya. Ternyata 365 hari itu berlalu begitu cepat. Semakin ke sini lebih terasa bahwa perubahan waktu terasa sangatlah cepat.

Sebagaimana yang pernah kutulis sebelumnya, bahwa tidak ada ucapan kata selamat ulang tahun dari keluargaku terkhusus kedua orang tuaku. Kami tidak merayakannya tidak pula mengucapkannya apalagi membelikan sepotong kue untuk sekadar memperingati angka kelahiran.

Namun, dua hari sebelum tanggal itu tiba, aku mendapatkan kue dengan ucapan tertulis dari rekan kerjaku yang bersamaan dengan ulang tahun salah satu seniorku di kantor. Terkejut? tentu tidak. Kini aku tidak lagi mampu menyembunyikan tanggal lahirku. Tanggal lahir tercantum dalam identitas nomor pegawai. Siapapun pasti menyadari tanggal lahir seseorang hanya dengan membaca nomor pegawai tersebut.

Photo by Shutter Speed on Unsplash

Photo by Shutter Speed on Unsplash

Impian

Bagaimana idealnya menulis impian? Adakah impianmu yang terealisasi atau hanya sebagai penyemangat hidup saja. Hmm… mencoba untuk menarik napas panjang. Aku mencoba menilai kilas balik ketika masa kuliah dulu, bahwa ada keinginan bergabung di beberapa list instansi yang proses rekrutmennya cukup panjang.

Untuk kegagalan dalam prosesnya, aku tidak berhenti dan tetap mengulang mendaftarkan diri di tahun berikutnya. Pada kegagalan yang kedua aku juga tidak mengurung niatku untuk mencoba keberuntungan yang ketiga. Bahkan aku mencobanya hingga lima kali berturut- turut setiap tahunnya dan ketika mencoba yang ke-5, aku gagal pada tahap seleksi administrasi dikarenakan sudah melewati batas umur peserta.

Aku tahu bahwa resilience sudah terbentuk sejak masa sekolah dulu. Tidak pantang menyerah dan tidak malu untuk mencoba kedua dan ketiga kalinya. Semasa sekolah dulu cukup terbilang aktif menjadi delegasi sekolah untuk perlombaan antar sekolah. Ada yang gugur dibabak penyisihan, ada pula yang hanya bertahan sampai semi final.

Ada kemenangan namun hanya pada posisi ke-4 atau 5 yang biasa disebut sebagai Juara Harapan. Di antara segala bentuk kompetisi yang diikuti aku lebih sering kalah dan gagalnya. Namun, setelah terlewati aku paham bahwa dalam kompetisi tujuanku bukan menang, tapi menambah pengalaman dan memperluas jejaring pertemanan. Bahkan, masih ada teman yang dulu bertemu di kompetisi namun masih berkomunikasi dengan baik hingga kini.

Realita

Kenyataannya, ada hal-hal yang tidak terncana namun kini menjadi jalan hidup yang dipilih. Kamu tahu tidak, bahwa dulu aku tidak memimpikan pekerjaanku yang sekarang. Tidak begitu mengejarnya dulu. Hanya sedikit terlintas dalam hati dikarenakan aku bekerja di industri yang sama sebelumnya. Aku masih mengingat saat pengumuman rekrutmen dibuka dan mencoba memohon persetujuan untuk mendaftarkan diri.

Di antara banyak pilihan yang terbuka, aku memilih yang selaras dengan keinginan ibu dan ayah dan sejalan dengan hasil risetku yang berulang. Dahulu, aku sempat terbesit di dalam hati jauh sebelum pengumuman rekrutmen dibuka, bahwa jika memang aku tetap berada di industri ini aku menginginkan untuk pindah ke instansi yang sekarang dan bekerja di bidang lainnya karena mengingat sudah mulai jenuh dengan bidang pekerjaanku sebelumnya.

Perlahan aku mulai mengerti bahwa ada beberapa impian yang kita tulis dan diperjuangkan sedemikian rupa namun harus kita relakan.

Menyeleraskan impian dengan impian orang tua itu memang benar adanya. Memasrahkan diri dan memberikan ruang jeda kemudian mencoba berpikiran realistis bahwa tidak semua mimpi bisa dikejar. Semuanya sudah diatur dengan baik oleh Yang Maha Kuasa.

Bagaimana mungkin, aku yang mendapat posisi digaris batas untuk masuk ke tahap berikutnya namun menjadi posisi nomor dua dan menggunting peserta lain dalam tes kompetensi bidang. Mereka menyebutku Kuda Hitam dalam proses seleksi kemarin.

Lalu, jika bicara mengenai kegiatan untuk menambah koneksi dan pertemanan belakangan ini tidak seperti dulu. Entah sejak kapan rasanya aku yang sekarang tidak lagi suka pertemuan — pertemuan mubazir apalagi hanya sekadar gelak canda saja.

Aku lebih suka datang ke tempat yang agaknya tidak terlalu ramai orang. Aku kira perubahan ini sudah ada sejak menginjak usia 20-an. Memang jauh berbeda energi sosialnya jika dibandingkan dengan masa-masa usia belasan tahun dulu.

Di usia 30 ini, aku mencoba memilih bahan bacaan untuk menemani diri. Berikut 30 referensi bacaan yang mungkin juga kamu butuhkan sebagai pelipur lara dikala sepi yakni :

  1. The Barakah Effect — Mohammed Faris
  2. Qur’an Mapping — Ustadz Nur Fajri Ramadhon
  3. The Productive Muslim — Mohammed Fariz
  4. A Thinking Person’s Guide to the Truly Happy Life — Prince Ghazi bin Muhammad
  5. Al-Muhadditsat: Ulama Perempuan dalam Bidang Hadits — Mohammad Akram Nadwi
  6. The Art of Waiting — Ezzah Mahmud
  7. The Untold Islamic History — Edgar Hamas
  8. The Heart Code — Ustadz Sonny Abi Kim
  9. Matinya Kepakaran — Tom Nichols
  10. Madilog — Tan Malaka
  11. How to Master Yor Habits — Ustaz Felix Siauw
  12. The Let Them — Mel Robbins
  13. Healing The Emptiness — Yasmin Mogahed
  14. Reclaim Your Heart — Yasmin Mogahed
  15. The Book of Forbidden Feelings — Lala Bohang
  16. Twenty-Four Eyes — Sakae Tsuboi
  17. Tenang di Rumah — Aab El Karimi
  18. Bungkam Suara — J.S. Khairen
  19. Rumah — J.S. Khairen
  20. Sendiri — Tereliye
  21. Rasional Tanpa Menjadi Liberal — Hamid Fahmy Zarkasyi dkk
  22. Menjadi Hamba Menjadi Manusia — Fahruddin Faiz
  23. Attached — Amir Levine & Rachel S.F Heller
  24. Before the coffe gets cold — Toshikazu Kawaguchi
  25. Merantau ke Deli — Hamka
  26. Titik Nol — Agustinus Wibowo
  27. Seribu Wajah Ayah — Azhar Nurun Ala
  28. Berani Tidak Disukai — Ichiro Kishimi & Fumitake Koga
  29. Esensialisme : Pentingkan yang Penting Saja — Greg McKeown
  30. Sebuah Usaha Melupakan — Boy Candra

Pada akhirnya, semakin bertambah usia maka bertambah pula pemahaman bahwa tidak semua hal dapat terjawab dalam waktu yang sama. Dan terkadang kita hanya perlu sesuatu yang bisa menemani untuk tetap bertahan dan memahami diri sendiri

Selamat membaca,

Semoga di antara halaman-halaman yang tertulis kamu bisa menemukan bagian yang selama ini sulit dijelaskan.


메타데이터
post_id
b4b289b4b63c
slug
tiga-dekade-antara-impian-dan-realita-b4b289b4b63c
url
https://medium.com/meja-sajak/tiga-dekade-antara-impian-dan-realita-b4b289b4b63c
canonical_url
https://medium.com/meja-sajak/tiga-dekade-antara-impian-dan-realita-b4b289b4b63c
author_url
https://medium.com/@Dandeliona
status
ok
fetched_at
2026-07-10 11:40:45