← Back to list

Review Buku : Rahasia Salinem (Ketika Sebuah Buku Bukan Sekadar Cerita, Tapi Cermin Diri)

“Kalau aku mati, ke mana anak-anakku pulang- Kartinah”

Byannakaila · 2025-08-20 05:14 · 10 claps · 3.4 min read
#hisfic #book-review #review #history #rahasia-salinem
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History LIT · Literature & Writing 📚 · Books & Reading

Review Buku : Rahasia Salinem (Ketika Sebuah Buku Bukan Sekadar Cerita, Tapi Cermin Diri)

By : Wisnu Suryaning Adji & Brilliant Yotenega

By : Wisnu Suryaning Adji & Brilliant Yotenega

“Kalau aku mati, ke mana anak-anakku pulang- Kartinah”

“Ndara, anak-anakmu aman, mereka punya jalan pulang. Pergilah dengan tenang — Salinem”.

Ada buku yang kita cari, dan ada buku yang mencari kita. Selama hampir setahun, Salinem adalah buku yang seolah terus-menerus mencariku. Ia seperti bergentayangan di setiap sudut dunia mayaku — muncul di unggahan Instagram, vlákna na X, hingga potongan video di TikTok. Sejujurnya, pada awalnya aku tak bergeming. Bukan karena genrenya tidak menarik, tapi karena sebuah prinsip personal: aku hanya akan membeli buku yang benar-benar “memanggilku”. Bagiku, buku itu seperti jodoh; ia akan datang pada saat yang paling tepat, entah untuk memberi jawaban, membuka luka lama, atau menuntun pada pemahaman baru.

Namun, panggilan dari Salinem semakin hari semakin kuat. Tiga bulan terakhir, bisikannya berubah menjadi seruan yang sulit diabaikan. Ada dorongan kuat untuk segera mengambilnya dari rak toko buku. Rasa penasaran ini begitu besar hingga aku sengaja memasang perisai, menghindari semua ulasan dan pembahasan dari para book reviewer. Aku ingin memasuki dunianya dengan pikiran yang jernih, tanpa ekspektasi apa pun.

Akhirnya, bulan lalu, takdir mempertemukan kami melalui sebuah promo di toko buku online legendaris. Anehnya, bahkan setelah buku itu tiba dan berada dalam genggamanku, aku tidak langsung membacanya. Aku membiarkannya “beristirahat” sejenak di antara tumpukan buku lain, seolah memberinya waktu untuk beraklimatisasi sebelum kami benar-benar berkenalan.

Senin, 18 Agustus 2025. Hari itu, panggilan untuk membaca Salinem terasa begitu mendesak. Tanpa sadar, aku membuka lembar pertamanya dan seketika dunia di sekitarku lenyap. Aku terhanyut, ditarik masuk ke dalam pusaran kehidupan seorang perempuan yang seolah tak pernah diberi kemewahan untuk memilih, bahkan untuk hal-hal paling mendasar dalam hidupnya.

Melalui Salinem, aku belajar sebuah kebenaran pahit: bagi sebagian orang, pilihan adalah sebuah utopia. Yang mereka miliki hanyalah keharusan untuk bertahan dan kemauan untuk terus berjalan, tak peduli sekacau apa pun kondisinya. Aku melahap buku ini dengan cepat, seakan ragaku ikut terseret ke masa lalu, berjalan beriringan dengan Salinem,Parjo, Giyo, Kartinah, Soekatmo, dan Soeratmi. Aku menjelajahi setiap sudut Solo dan Klaten bersama mereka, merasakan debu jalanan dan pengapnya udara di akhir masa penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga gejolak konflik dalam negeri yang memaksa mereka terus bergerak sepanjang sisa usia.

Setebal 411 halaman, buku ini adalah sebuah epik kecil tentang Salinem. Ia lahir dari seorang anak kusir, ditinggal mati ibunya saat berusia lima tahun, dan hidupnya adalah rangkaian misteri yang terus berpindah. Setelah kematiannya di usia senja, Mbah Nem — begitu ia disapa — mewariskan teka-teki. Kematiannya membongkar rahasia bahwa ia bukanlah nenek kandung Tyo dan semua saudaranya. Namun, misteri terbesarnya justru terpusat pada sesuatu yang tampak sepele: sebuah resep bumbu pecel yang selalu ia jaga rapat-rapat, sebuah resep yang menjadi obsesi Bulik Ning.

Ternyata, resep sederhana itu adalah kunci penyelamat keluarga besar Tyo dari kejamnya zaman. Resep itulah yang menjadi jangkar bagi Salinem, alasan utamanya untuk bertahan hidup, dari seorang gadis kecil yang dititipkan dari satu keluarga ke keluarga lain, hingga menjadi perempuan tangguh yang menopang banyak kehidupan.

Dari cerita ini, aku memetik satu pelajaran penting: hidup adalah tentang dualitas. Bahkan di dalam pengalaman terburuk sekalipun, akan selalu lahir keindahan, entah ia datang lebih awal atau menjadi hadiah di akhir perjalanan.

Setiap bab dalam buku ini terasa begitu personal. Klaten dan Solo adalah tanah asal keluargaku. Kisah Salinem yang hidup berpindah-pindah, dititipkan dari satu kerabat ke kerabat lain demi kehidupan dan pendidikan yang lebih layak, adalah gema dari kisah yang pernah dialami oleh sebagian anggota keluargaku. Di titik inilah aku akhirnya mengerti mengapa buku ini memanggilku.

Salinem bukan lagi sekadar fiksi tentang masa revolusi; ia telah menjadi cermin bagi diriku sendiri. Aku seakan ditantang untuk memahami kembali konflik-konflik dalam silsilah keluargaku yang polanya serupa dengan apa yang dialami keluarga Kartinah setelah Soekatmo meninggal. Rasanya, buku ini datang untuk menceritakan apa yang tidak sempat terucap oleh generasi sebelumku.

Kak Wisnu dan Kak Brilliant merangkai cerita ini dengan alur yang begitu membumi. Kejutannya bukanlah plot twist yang dipaksakan, melainkan momen-momen pencerahan yang membuatku sadar betapa banyak sisi dari sebuah cerita yang belum kuketahui. Buku ini mengajarkanku untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, persis seperti cara Salinem memandang hidup. Ia tidak hanya fokus pada penderitaannya, tetapi juga pada cinta, kasih, dan kesetiaan — kepada Tuhan dan orang-orang di sekitarnya — bahkan jika itu berarti ia harus mengorbankan sesuatu yang menurut dunia tidak perlu ia lakukan.

Lebih dari itu, buku ini dengan cerdas menyisipkan anomali budaya yang menyegarkan. Di tengah kungkungan tradisi Jawa yang kental, ada ruang bagi kebebasan perempuan untuk belajar dan mengambil keputusan. Ada kritik halus terhadap tuntutan agar perempuan selalu “nrimo” dan bertahan demi kebahagiaan orang lain. Lalu, ada sosok Soekatmo, seorang pria yang menolak budaya patriarki, memperlakukan Kartinah sebagai pasangan yang setara dalam batasan yang wajar. Ini adalah sebuah pelajaran tentang pentingnya memelihara idealisme di tengah dunia yang pragmatis.

Dan saat lembar terakhir kututup, satu kesadaran meresap. Aku tidak sekadar membaca sebuah buku. Aku telah ikut merasakan perjalanan panjang Salinem dan semua orang di sekelilingnya yang bertahan hidup hanya demi satu hal yang sering kita anggap remeh: sebuah kesempatan untuk MEMILIH.


메타데이터
post_id
b4ef5f7f45ca
slug
review-buku-rahasia-salinem-ketika-sebuah-buku-bukan-sekadar-cerita-tapi-cermin-diri-b4ef5f7f45ca
url
https://medium.com/@byannakaila/review-buku-rahasia-salinem-ketika-sebuah-buku-bukan-sekadar-cerita-tapi-cermin-diri-b4ef5f7f45ca
canonical_url
https://medium.com/@byannakaila/review-buku-rahasia-salinem-ketika-sebuah-buku-bukan-sekadar-cerita-tapi-cermin-diri-b4ef5f7f45ca
author_url
https://medium.com/@byannakaila
status
ok
fetched_at
2026-07-18 02:57:34