Mengembalikan Otonomi Perguruan Tinggi
Terpilihnya Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) membawa angin segar…
Mengembalikan Otonomi Perguruan Tinggi
Terpilihnya Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) membawa angin segar dalam dunia pendidikan tinggi. Pasalnya selain karena latarbelakang Menteri baru ini dari Perguruan Tinggi (PT) yakni pernah sebagai dosen di ITB, sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) dan juga Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) selama delapan (8) tahun (1999–2006), Ia juga menangkap aspirasi dari masyarakat terkait persoalan yang terjadi di PT saat ini. Tak lama setelah beliau dilantik sebagai Menteri, beliau telah memberikan pernyataan kepada publik terkait bagaimana seharusnya PT itu diarahkan, tanpa perlu harus mempelajari dulu. Beliau secara lengkap memberikan pandangan beserta rencana program-programnya terkait PT saat diawawancarai oleh Rosiana Silalahi di Talkshow ROSI pada 7 November 2024 silam.
Perguruan Tinggi dihadapkan pada masalah yang kompleks. Pemerintah melalui Kemendikti Saintek menginginkan PT untuk dapat benar-benar sebagai lembaga intelektual yakni sebagai tempat bertanya masyarakat. Untuk mencapai visi ini, Kemendikti Saintek berupaya untuk mengevaluasi keberjalanan universitas saat ini khususnya pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan menyoroti beban berat administrasi yang ditanggung PT, tidak menjadikan pemeringkatan sebagai kefokusan, dan kampus yang kebanyakan berbisnis melalui komersialisasi pendidikan yang implikasinya pada kenaikan Uang Kuliah Tinggal (UKT). Selain itu, untuk menghilangkan upaya cawe-cawe Pemerintah pada otonomi PTN, Mendikti Riset akan tidak menggunakan suara 35 %-nya dalam Majelis Wali Amanat (MWA) dalam pemilihan Rektor PTN.
Otonomi Perguruan Tinggi
Langkah untuk mengembalikan otonomi PT tersebut layak diapresiasi mengingkat Perguruan Tinggi sebahagian besar disibukkan dalam persoalan internal mereka seperti administrasi yang harus dipenuhi manajemen kampus juga termasuk dosen dan juga kewajiban publikasi di jurnal ilmiah terkemuka. Implikasi dari hal ini, universitas lebih fokus pada masalah-masalah internal mereka alih-alih menjawab tantangan yang ada di dalam masyarakat. Selain kepekaan kampus pada masalah di masyarakat memudar, kampus juga semakin hilang kekritisannya. Rencana pembekuan BEM Fisipol Universitas Airlangga (Unair) oleh Dekanat adalah salah satu contohnya akhir-akhir ini.
Upaya Pemerintah untuk tidak menjadikan kampus menara gading menjadi langkah strategis untuk menjadikan universitas semakin terbuka pada isu-isu yang ada di masyarakat, bangsa, dan negara. Implikasinya PT menjadi semakin kritis dan diwaktu bersamaan menjadi solusi pada kemajuan bangsa secara konkret. Presiden Prabowo dalam pidato pelatikannya pada 20 Oktober 2024 silam mengharapakn kemandirian pangan dan energi, juga diikuti dengan pengembangan industri high-tech yang kuat sehingga Indonesia semakin bisa maju. Tekad kuat beliau ditunjukkan saat diberbagai acara kenegaraan menggunakan Mobil Maung buatan PT Pindad. Oleh karenanya kampus yang diarahkan untuk tidak sebagai menara gading sebagai wujud konkret kontribusi kaum intelektual dalam menjawab “Matinya Kaum Intelektual” yang umum diasosiasikan pada sivitas akademika universitas dalam beberapa tahun terakhir.
Kita semua berharap apa yang dipaparkan oleh Mendikti Saintek yang melanjutkan visi Presiden Prabowo dapat terealisasi sehingga kampus kita memang benar-benar dapat berfungsi sebagai lembaga intelektual. Kampus menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabannya, mengutip ungkapan Rektor ITB (1988–1997) sekaligus Mendikbud (1998), Wiranto Arismunandar, di Tugu Plaza Widya Nusantara, ITB.
“Supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi.
Supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya.
Supaya kehidupan kampus ini membentuk watak dan kepribadian.
Supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.”
*Uruqul Nadhif Dzakiy adalah Dosen Administrasi Bisnis, Telkom University dan alumni prodi sarjana, master, dan doktor dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
메타데이터
- post_id
- b4f31f3a3b5f
- slug
- mengembalikan-otonomi-perguruan-tinggi-b4f31f3a3b5f
- url
- https://medium.com/@uruqulnadhif/mengembalikan-otonomi-perguruan-tinggi-b4f31f3a3b5f
- canonical_url
- https://medium.com/@uruqulnadhif/mengembalikan-otonomi-perguruan-tinggi-b4f31f3a3b5f
- author_url
- https://medium.com/@uruqulnadhif
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-07 07:11:48