The day we met
Spring, 1859

The day we met
Spring, 1859
Julius menyukai laut karena laut tidak banyak bicara, karena itu setiap kali ia mendapatkan kesempatan beristirahat dari tugas nya, ia selalu datang dan kembali pada pantai yang sama.
Sore itu, seperti biasa, ia duduk di atas batu karang dengan pancing kesayangan nya.
Angin laut berembus pelan. Menyegarkan jiwa, ombak datang dan pergi, menciptakan suara ketenangan favorit Julius. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, kehidupan terasa damai.
Tanpa sepengetahuan Julius, ada sepasang sorot mata yang sedang mengawasinya dari balik ombak. Mata yang sudah memperhatikan nya selama berhari-hari, Mata yang tidak mengerti manusia.
Mata yang selalu memandang bingung.
Mengapa mereka menggunakan banyak pakaian.
Mengapa mereka selalu terburu-buru.
Hal yang paling menarik perhatian dari sepasang mata itu adalah benda bulat berwarna emas yang selalu dibawa lelaki itu ke mana-mana.
Hari itu rasa penasaran akhirnya menang.
Perlahan, sesosok bayangan muncul dari balik batu karang.
Lalu mendekat.
Sedikit demi sedikit.
Hingga benda kecil itu berhasil berpindah tangan.
Beberapa menit kemudian, Julius menghela napas puas setelah mendapatkan seekor ikan.
Namun saat hendak melihat waktu, tangannya mendadak berhenti.
Ia merogoh saku seragamnya sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu membeku.
“…Di mana jamku?”
“Dengan aku.”
Suara asing itu membuat Julius menoleh seketika.
Dan di atas batu karang beberapa langkah darinya, duduk seseorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rambutnya basah oleh air laut.
Matanya berkilau diterpa cahaya senja.
Dan di tangannya terdapat jam saku milik Julius.
“Tolong kembalikan.”
“Tidak.”
“Itu milikku.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau mengambilnya?”
Orang asing itu memiringkan kepala.
Dengan polos.
“Aku ingin tahu kenapa benda ini berdetak.”
Mendengar jawaban polos dari orang itu, Julius berdecak kasar. Ia masih berusaha dengan keras untuk meminta jam kesayangan nya. Hingga tak sengaja ia kembali memfokuskan pandangannya pada makhluk itu dan tersadar
“KAMUUU!!! KAMUUU BUKANN MANUSIA?!!”
Melihat ekspresi terkejut dari pria di depannya, Orang itu hanya memutar bola matanya dengan malas, dengan sedikit tertawa.
“Kamu baru sadar atau emang pura-pura tidak sadar? Iya aku mermaid, legenda yang banyak orang ceritakan”
Orang itu menjelaskan dengan santai dan tanpa rasa ketakutan ataupun curiga. Melihat respon Orang itu terlampau santai, dalam benak Julius timbul lah rasa penasaran.
“Kamu tidak takut padaku? Bagaimana kalau aku menangkapmu dan menjual mu??”
“Tidak!! Buat apa? Aku lihat-lihat kamu orang baik sepertinya” Ujarnya polos dan menatap mata Julius.
“Siapa namamu? Kamu terlihat….”
Belum sempat Julius lanjutkan, orang itu sudah menyebut kan namanya.
“Galenor, nama ku Galenor” senyum terukir di wajahnya.
메타데이터
- post_id
- b520c478bdb9
- slug
- the-day-we-met-b520c478bdb9
- url
- https://medium.com/@amaranoxblog/the-day-we-met-b520c478bdb9
- canonical_url
- https://medium.com/@amaranoxblog/the-day-we-met-b520c478bdb9
- author_url
- https://medium.com/@amaranoxblog
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 13:10:15