Kualat Gara-Gara Distro
Baju baru Alhamdulillah
Kualat Gara-Gara Distro

Distro
Baju baru Alhamdulillah
Tuk dipakai di Hari Raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama
Oh, jelas apa-apa dong. Tidak mungkin tidak pakai baju baru di Hari Raya. Gengsi lah. Begitulah kira-kira isi kepala remaja seperti saya di tahun 2007. Apalagi distro-distro sedang mengadakan diskon besar-besaran kalau sudah menjelang Hari Raya begini. Ah distro, ya ya ya, suatu fenomena baru yang menghinggapi remaja tanggung kala itu. Saya mengetahui fenomena ini dari cerita kawan sekelas saya, sebut saja Riza. Riza adalah warlok Malang. Lahir dan besar di Malang. Tepatnya di kabupaten Malang. Saat SMP ia berkelana ke kota Malang untuk menuntut ilmu, ia kembali pulang kampung ketika masuk SMA.
Dari Riza-lah awal mula perkenalan saya dengan distro. Distro atau Distribution Outlet adalah toko ritel, tempat berbelanja produk fashion dari berbagai merek independen lokal secara terbatas dan eksklusif. Saya biasanya berbelanja pakaian paling di pasar, atau kalau mendekati Hari Raya diajak orang tua ke Department Store macam Ramayana, Mitra, dan Matahari. Tentu pakaian yang harganya terjangkau kantong keluarga. Namun terkadang Di Department Store saya mendapatkan baju atau celana yang sama dengan orang lain. Dan rasanya malu jika berpapasan di jalan dengan orang yang memakai pakaian sama persis. “Coba ke distro aja sekali-kali.” Begitu kata Riza. Karena katanya produk distro lebih eksklusif, jarang ada yang punya.
Akhirnya suatu sore di akhir pekan saya berencana untuk membeli pakaian di distro. Uang selama bulan Ramadan saya kumpulkan semaksimal mungkin. Sebab Riza berpesan bahwa harga barang di distro terkadang lebih mahal dari barang di Department Store. Saya berangkat ke rumah Riza dengan angkot. Ia sudah menunggu saya, Riza pun berencana akan memperbarui penampilan di Hari Raya. Sialnya baru kami sadari bahwa kami berdua tidak ada yang membawa kendaraan pribadi. Kalau pakai angkot kami khawatir mobilitas akan terbatas, lokasi distro-distro tersebut tidak berdekatan. Alasan Riza tidak diperbolehkan membawa motor oleh ayahnya karena ia belum memiliki SIM. Sedang saya lebih gawat, SIM tidak punya, motor juga cuma satu, itu juga dipakai ayah kerja. Kami memutar otak sebentar, lalu memutuskan keliling komplek rumah Riza untuk mencari teman-teman yang kami kenal. Sekadar meminjam motor, jika diizinkan.
Namun tidak ada yang bersedia. Kami jelas tidak mau rencana ini gagal, padahal hari sudah semakin sore. Saya punya ide, saya ambil handphone dan mengontak salah satu teman sekelas bernama Awan. Awan bersedia, tak lama ia datang dengan membawa motor. Masalah selesai? Oh, tentu tidak dong. Motor satu dan kita bertiga, kalau nekat berbonceng tiga kami bisa disikat Pak Polisi. Apalagi kota Malang di waktu Ramadan dan akhir pekan seperti ini pasti banyak razia. Kami sempat berdebat sebentar. Sejujurnya yang paling ingin belanja ke distro adalah saya dan Riza, Awan tidak terlalu. Tapi sayang sekali motor satu-satunya yang tersedia adalah miliknya.
Langit sudah semakin gelap, kami tidak memiliki jalan lain. Hompimpa alaium gambreng, saya dan Riza keluar sebagai juaranya. Awan harus merelakan motornya kami bawa. Walaupun dengan berat hati, ia akhirnya hanya bisa pasrah dipermainkan nasib. Riza menyetir di depan, saya duduk belakang meminjam helm Riza. Sepanjang jalan kami bersenda gurau seperti bajingan tak punya dosa pada Awan. Bagi kami baju distro lebih penting buat Hari Raya dibanding perasaan nelangsa kawan kami. Riza tak henti menceritakan dan menyebut satu persatu nama-nama distro top di kota Malang. “Kita nanti coba ke Revolver 99 dulu, terus ke Inspired27, Realizm 87, terakhir ke favoritku, Heroine Exp.”
Saya tidak bisa melihat rautnya, tapi saya sangat yakin ia sedang antusias. “Emang cukup waktunya Za? Kita kan nggak bisa terlalu malam.” Saya tentu tidak bisa pulang larut. Riza yakin waktunya cukup. Perjalanan kami lancar jaya tanpa gangguan. Sampai di distro pertama, Revolver 99. Aroma khas ruangan penuh fashion kekinian langsung semerbak tercium saat kami masuk. Riza tidak menunggu lama, langsung menuju ke bagian kaos dan jaket. Matanya awas sekali memilah dan memilih pakaian. Seperti anak kecil di toko mainan. Saya masih kikuk, celingukan sedikit malu karena baru pertama.
Tapi tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk segera menyesuaikan diri. Desain-desainnya berbeda dari pakaian yang selama ini saya beli di Department Store. Namun harganya memang cenderung lebih mahal. Kaos, polo shirt, kemeja, jaket, rompi, celana denim, sampai pernak-pernik aksesoris semua tersedia. Setelah beberapa saat Riza mengajak saya keluar, kami belum menemukan yang diinginkan. Tujuan selanjutnya daerah Sukarno-Hatta (Suhat). Saya terpesona ketika melewatinya. Riuh sekali. Biasanya saya diajak ortu saat ke Malang paling ke daerah Kayutangan, alun-alun, sampai pasar besar. Saya lupa apakah pernah ke daerah Sukarno-Hatta.
Saat lewat daerah tersebut mata saya mengelilingi semuanya. Benar-benar suasananya berbeda sekali. “Ini dekat kampus, ada UB, ada Poltek dan masih banyak lagi, itu kenapa ramai sekali.” Riza menjawab keheranan saya. Wah begitu ternyata, pantas saja. Saya ingat pernah ke daerah Poltek ketika kakak sepupu saya wisuda beberapa tahun sebelumnya. Hanya tidak terlalu mengawasi keadaan Suhat. Di Suhat ada distro Inspired27, tokonya besar dengan didominasi warna hitam. Saat seorang shopkeeper membukakan pintu, kami langsung disambut scream vokalis metal dari sound dalam toko. Distro juga identik dengan nuansa itu. Di Inspired27, pakaian yang dijajakan juga sangat beragam, bahkan lebih banyak.
Kaos-kaos mayoritas berwarna hitam dan putih, dengan sablon desain tengkorak. Saya sampai bingung mau ambil yang mana. Ada jaket warna abu-abu yang menarik perhatian saya, modelnya sangat saya suka. Hanya saja kok mirip dengan milik si Riza yang pernah dibawa ke sekolah pikir saya. Saya pastikan lagi ke dia dan benar memang mirip, Riza juga baru membeli minggu lalu. Jaket itu baru dipakai sekali ke sekolah. Kalau saya beli ini maka saya akan punya jaket mirip dengan Riza, hanya beda sablon saja. Saya tentu tidak mau dong, niat pindah haluan ke distro kan karena tidak ingin bertemu yang sama. “Kalau begitu beli saja punyaku, masih bagus belum ada lecet, dipakai juga baru sekali.” Katanya saat itu. Saya berpikir sejenak, lalu kemudian mengiyakan ide Riza. Walau dalam hati berpikir, kalau begini sih sebetulnya yang benar-benar belanja di distro ya cuma Riza.
Harganya turun sedikit, beberapa puluh ribu. Uang dari saya dia buat tambahan untuk membeli polo shirt hitam berlogo kepala alien. Kalau tidak salah produk Rock Bandit, sepertinya distro itu sudah tidak ada sekarang. Sisanya sebuah kaos bergambar band metal dari Inspired27. Setelah antri membayar kami segera tancap gas pulang. Maghrib sudah datang dari tadi ketika kami sedang asyik memilih pakaian, perut keroncongan tidak kami hiraukan. Setibanya di rumah Riza, ternyata Awan sudah menghilang, ia tidak lagi terlihat di pos ronda depan rumah. Ada sebuah SMS, ia pulang naik angkot ke rumah. Kami masih bajingan, belum ada rasa kasihan. Riza mengajak saya ke kamarnya, saya mengecek kondisi jaket baik-baik, tak ada cacat, masih seperti barang baru, hanya sudah wangi parfum Riza.
Belum sempat berbuka kami sudah menyalakan motor untuk segera mengembalikan tunggangan itu ke rumah Awan. Di jalan saya minta Riza untuk berhenti, sisa uang beberapa lembar kami peruntukkan untuk memenuhi bensin motor Awan. Nah, mungkin saat itu rasa kasihan kami baru muncul. Ada sebuah kios pinggir jalan daerah Patal Lawang, kami berhenti membeli bensin. Si penunggunya adalah bocil yang lagi bermain game di handphone. Ia tidak menghiraukan saya, ya sudah kalau begitu. Satu botol bensin kami jejalkan ke perut motor Supra Awan. Lalu saya cepat-cepat membayar bensin selagi Riza menutup jok motor. Saya kemudian ambil dua botol air kelapa di kulkas samping kios. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kunci kami tiba-tiba saja hilang.
Kami cari sampai membongkar belanjaan. Hasilnya nihil. Saya cari ke dalam kios dan tanya si bocil, ia jawab tidak tahu. Lebih ke tidak peduli. Kami mulai panik, Riza menaikkan standar samping. Terdengar bunyi krincing yang membuat hati kami mencelos seketika. Benar, kunci kami masuk ke bagasi motor. Kami merasa jadi orang paling tolol sedunia. Saya meminta bantuan pada si bocil, ia meninggalkan saya tanpa ragu. Untungnya stang motor tidak terkunci, jalan satu-satunya kami harus menuntun motor mencari pertolongan. Barangkali ada bengkel terdekat yang masih buka. “Ya sudah dituntun aja Za,” kata saya melihat Riza yang masih ragu.
Kami menuntun motor, Riza dan saya bergantian mendorong. Lewat pinggir jalan raya yang ramai kendaraan, kami hanya berharap kesialan ini segera berakhir. Harapan kami sirna saat mengetahui tidak ada satu pun bengkel yang buka. Sambil jalan, saya membuka satu botol air kelapa untuk diminum berdua. Kami lupa belum berbuka dari tadi. Air kelapa itu membasahi kerongkongan saya dan Riza. Sudah lewat sekitar satu kilo kami belum melihat tanda-tanda keajaiban dari Tuhan. Mendekati wilayah apotik Lawang ada seorang ibu-ibu bersama anak kecil yang menanyakan keadaan kami.
“Kenapa Mas motornya? Mogok ya? Apa kehabisan bensin?” tanya sang ibu sangat ramah. Riza awalnya malu untuk menjawab, namun akhirnya keluar juga kata-katanya, “Emm, kuncinya ketinggalan di dalam bagasi Bu,” disertai ketawa ingah-ingih. Raut muka sang ibu langsung berubah, ia tak lagi menoleh pada kami. Ia mempercepat langkahnya seraya menutup telinga anaknya. Saya sempat dengar kata-kata yang keluar dari sang ibu, “Ayo nduk cepet, ojo cedak-cedak mengko melu bodo!” — Ayo nak cepat, jangan dekat-dekat nanti ketularan tolol. Geregetan rasanya dikatain tolol setelah melakukan tindakan tolol. Di dalam pasar Lawang kami mendorong lebih kuat, karena jalur yang mulai menanjak. Nafas kami tinggal Senin-Kamis, tenaga sudah terkuras habis, harga diri makin tipis.
Melewati sebuah pangkalan ojek ada seorang bapak-bapak yang sedang menunggu penumpang. Ia menyapa kami, “Kenapa Mas? Mogok?” suaranya juga ramah dan malah membuat kami trauma. “Ojo dijawab! Ojo dijawab!” Riza berbisik. Tapi bapak tukang ojek kembali bertanya pada kami. Saya sudah tidak tahan, dan menjawab sekenanya, “Kunci ketinggalan dalam jok, Pak!” sembari terus mendorong. Bapak tersebut lalu memanggil kami mendekat, sebetulnya Riza sudah malas tapi tenaganya tidak bisa berbohong. Bapak ojek memeriksa motor Awan, ia mencoba membuka dan kami yakin tidak bisa. “Punya kunci 10?” tanya dia, kami menggeleng. Bukan hanya tidak punya tapi kami juga tidak tahu kunci 10 itu apa.
Bapak ojek lalu menanyakan ke pengemudi lain yang ada di sana, kebetulan ada yang bawa kunci cadangan satu slop penuh di dalam bagasi. Ia memilih yang namanya kunci 10, kami perhatikan bentuknya. Lalu bapak ojek membuka baut jok motor pada bagian depan. Baut terbongkar, jok terangkat. Tangan kecil saya segera menyelinap, merogoh dengan serampangan. Eureka! Bunyi tadi tidak menghianati kami. Kunci motor Awan terasa di ujung jari saya. Saya ambil dan kami mengucap syukur tidak terkira. Saya berterima kasih pada sang pahlawan. Riza segera mengeluarkan dompet untuk memberikan selembar-dua lembar sebagai tanda terima kasih.
Hebatnya bapak ojek menolak dengan sangat halus. “Tidak usah Mas, bawa saja, kalian kelas berapa?” tanyanya lagi. Kami jawab kelas tujuh SMA, ia menyarankan kami untuk segera pulang karena malam mulai datang. Saya dan Riza kembali berterima kasih berkali-kali. Saya memutuskan untuk pulang, Riza akan bertanggung jawab mengembalikan motor Awan di daerah Sumber Waras. Waktu bersiap untuk berpisah, kami mendengar suara perempuan memanggil dari warnet dekat pangkalan ojek. Itu teman kami Deta, ia bingung mengapa kami ada di pasar Lawang malam-malam begini. Riza tak kuasa untuk bercerita. Deta tertawa ngakak sampai hampir menangis, ia hanya berujar singkat, “Lagian puasa-puasa zalim sama orang, kualat kan.” Sambil kembali meneruskan tawa.
메타데이터
- post_id
- b520c7b3dab2
- slug
- kualat-gara-gara-distro-b520c7b3dab2
- url
- https://medium.com/@capt.pravna/kualat-gara-gara-distro-b520c7b3dab2
- canonical_url
- https://medium.com/@capt.pravna/kualat-gara-gara-distro-b520c7b3dab2
- author_url
- https://medium.com/@capt.pravna
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 23:02:18