← Back to list

Khidir Sang Manusia Hijau

Nama ‘Khidir’ kadang dieja lain: ‘Khadir’, ‘yang hijau’. Khidir memang dikenal sebagai ‘Manusia Hijau’. Bukhārī meriwayatkan hadis (no…

Wawan Kurnia · 2022-09-22 12:24 · 2 claps · 2.0 min read
#khidr #tasawuf #islam #esoteric #symbolism
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Khidir Sang Manusia Hijau

Lukisan oleh Sejiwa Semesta Studios

Lukisan oleh Sejiwa Semesta Studios

Nama ‘Khidir’ kadang dieja lain: ‘Khadir’, ‘yang hijau’. Khidir memang dikenal sebagai ‘Manusia Hijau’. Bukhārī meriwayatkan hadis (no. 3402) bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Dia disebut ‘Khadir’ karena dia duduk di tanah gersang putih, lalu tiba-tiba tanah itu menjadi subur kehijauan.”

Warna hijau termasuk warna yang paling sering disebut (delapan atau sembilan kali) oleh al-Quran. Dalam penggunaan itu, hijau menyimbolkan kesegaran dan kemewahan. Al-Quran menyebutkan dua surga berwarna hijau tua (mudhāmmatān) dan para penghuninya bertelekan pada bantal-bantal hijau (Q.S. al-Raḥmān [55]:64, 76) . Pun, para penghuni surga ‘Adn (Eden) mengenakan pakaian hijau dari sutra (Q.S. al-Kahf [18]: 31; juga al-Insān [76]: 21).

Dalam suatu hadis riwayat Muslim (no. 3611) Nabi menyatakan bahwa roh mereka yang mati di jalan Tuhan (sabīlillāh) — yang al-Quran sebut tidak mati dan, sebaliknya, terus hidup bahagia dan menerima rezeki dari Tuhan (Q. S. al-Baqarah [2]: 154; Āli ‘Imrān [3]: 169) — berada dalam (atau, sebagaimana dalam riwayat-riwayat lain, berada di atas, atau berbentuk, atau menjadi) tubuh burung hijau yang terbang bebas di pepohonan surga.

Dalam tradisi sufi, warna hijau punya tempat istimewa. Najm al-Dīn al-Kubrā, seorang syekh sufi abad ke-13, menerangkan dalam Fawā’iḥ al-Jamāl bahwa warna secara umum adalah tanda ‘kondisi-kondisi’ jiwa (aḥwāl) dalam perjalanan rohani. Saat mengalami kondisi rohani tertentu, si salik melihat pula cahaya berwarna yang menandai, memvisualisasi sekaligus memverifikasi pengalaman tersebut. Hijau adalah warna kalbu dan kehidupannya. Jika si salik terus menerus dan konsisten melihat warna hijau, itu berarti dia telah tamkīn, yakni, dia telah ‘sampai’ dalam perjalanannya. Jadi, kata Syekh Najm, warna hijau merupakan warna terakhir yang langgeng. Dalam skema yang agak berbeda, ‘Alā’ al-Daulah al-Simnānī, syekh sufi abad ke-14, merinci tujuh tingkat pusat halus (lathīfah) dalam diri manusia dan masing-masing dia identifikasi dengan seorang nabi tertentu dan warna tertentu. Tingkat terdalam adalah lathīfah haqqiyyah, yaitu pusat yang ilahi atau sang Diri Sejati. Pusat ini disebut Muhammad-wujudmu dan warnanya adalah hijau terang, warna “yang paling pantas untuk rahasia misteri segala misteri”.

Dipahami dalam sinaran semua ini, hijau Khidir adalah simbol kehidupan, kesegaran dan keabadian. Khidir, dengan kata lain, adalah manusia surgawi di dunia ini, manusia ilahi yang bertugas menginisiasi mereka yang layak ke dalam misteri segala misteri: sang Diri Sejati.


Bacaan

Al-Quran.

Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‛īl. Shaḥīḥ al-Bukhārī, ed. Muḥammad Fuād ‘Abd al-Bāqī. Kairo: Dār al-Ḥadīts, 2011.

Corbin, Henry. The Man of Light in Iranian Sufism, terj. Nancy Person. New Lebanon: Omega, 1994.

Al-Kubrā, Najm al-Dīn. Fawā’iḥ al-Jamāl wa Fawātiḥ al-Jalāl, ed. Yūsuf Zaidān. Kuwait: Dār Su‛ād al-Shabāḥ, 1993.

Muslim, Abū al-Ḥusain. Shaḥīḥ Muslim. Maktabah Syamilah Online.

Rippin, Andrew. “Colors”, dalam Encyclopedia of Quran, ed. Jane D. McAuliffe. Leiden: Brill, 2001.


메타데이터
post_id
b529440ef547
slug
khidir-sang-manusia-hijau-b529440ef547
url
https://medium.com/@waone89/khidir-sang-manusia-hijau-b529440ef547
canonical_url
https://medium.com/@waone89/khidir-sang-manusia-hijau-b529440ef547
author_url
https://medium.com/@waone89
status
ok
fetched_at
2026-07-26 15:41:44