Buku dan Selat Hormuz
Buku dan Selat Hormuz
Untuk usia yang baru menginjak 2 dasawarsa, sepertinya abad 21 sudah cukup kenyang akan perang. Iraq Amerika, Afganistan Pakistan, konflik Suriah, Rusia Ukraina, penjajahan Palestina, hingga akhir2 ini perang iran vs Amerika dan masih banyak konfik bersenjata lainnya yang tidak bisa disebutkan. Semuanya tersaji begitu cepat, tanpa memberi napas damai pada bumi.
Cukup menarik kalau kita bahas Iran dan Amerika, sebuah konflik yang ternyata berdampak langsung sekaligus besar pada dunia terkhusus indonesia. Tak kala Iran menutup selat hormuz (salah satu jalur penting distribusi minyak keluar masuk negara teluk) membuat dunia terguncang bukan main. Harga minyak naik, kelangkaan minyak mulai terasa (Filipina contohnya), bahkan diperkirakan akan berdampak ke faktor ekonomi lainnya.
Okeey, saya tak akan bahas terlalu dalam, cukup pusing bahas persoalan diatas.
Fokus saya sebanarnya bagaimana buku menyelesaikan persoalan itu..
Ternyata per Februari 2026 (saat pertama kali selat ini ditutup) tak ada satu buku-pun yang menerangkan bagaimana cara mengatasi penutupan selat ini.
Lantas apakah tak perlu membaca buku untuk mencari solusinya? Dan karena tak ada satupun buku yang menjelaskan, apakah persoalan perang atau konflik tak bisa diselesaikan dengan buku? Apakah membaca buku tidak lagi relevan dengan zaman modern?
MarKiDah (Mari Kita beDah)
Akhir abad 15, terbitlah perjanjian Tordesillas, kira2 isi perjanjian tersebut membagi dunia menjadi 2 bagian, setengah milik spanyol, setenga milik portugis. Singkat cerita portugis berhasil menemukan rempah-rempah di Ternate, Tidore, Maki, Makian dan pulau2 kecil lainya yang kita kenal dengan kepulauan Maluku. Disisi lain, Kapten Magelan selaku perwakilan spanyol mencoba berlayar menemukan pulau tersebut (karena saat itu belum ada peta Dunia yang konkrit seperti sekarang). Sesampainya di Maluku, konflik pecah antara spanyol dan portugis demi memperebutkan wilayah rempah-rempah, batas garis pembagian wilayah pada perjanjian Tordesillas mulai diperdebatkan. Konflik ini pun akhirnya berakhir di meja perundingan, satu dari banyak solusi nya ialah Kaisar Portugis kala itu, Kaisar Karl, menikahi adik perempuan dari Raja Spanyol, Isabel.
Apakah masa itu ada buku yang menjelaskan spesifik cara mengatasi konflik rempah2, atau cara menyelesaikan sengketa garis demarkasi (garis yang membagi wilayah Spanyol dan Portugis), Pastinya tidak ada.
Dulu ketika Hitler berhasil menguasai Warsawa (Polandia) dan bahkan berhasil masuk hingga ke starlinlard (Uni Soviet) apakah strateginya didapat dari buku?. Ya jelas tidak
Dewasa ini ketika Wakil Presiden Indonesia ke-10, pak Jusuf Kalla menyelesaikan konflik Ambon, Poso hingga GAM di Aceh itu ada buku tuntunanya, Mustahil
Semua kejadian di atas itu pertama kali terjadi di dunia, termasuk penutupan Selat Hormuz. Jadi pasti tidak ada buku yang secara spesifik menuntun kita.
Namun apakah membaca buku tidak berguna untuk penyelesaian konflik, ini salah besar.
Dalam hal konflik atau perang, membaca buku bukan membuat kita mendapatkan solusi spesifik apalagi hal-hal teknis (cara menutup Selat Hormuz contohnya), tapi membaca buku membentuk pola pikir kritis dan solustif, dan satu hal yang penting, sejarah itu cendrung berpola, apalagi dalam skema konflik, latar belakang hingga solusi nya akan punya alur yang serupa dengan konflik2 sebelumnya. Nahh disinilah buku mengambil peran.
Pernikahan politik (yang dilakukan Kaisar Karl), Pengepungan di Warsawa (yang dilakukan Jerman), hingga penyelesaian konflik berdarah (yang dilakukan Jusuf Kalla), itu berhasil karena bacaan dari tokoh2 ini, ide2 brilliant itu muncul karena buku2 mereka tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang alurnya mirip dengan yang mereka hadapi saat itu.
Sebelum 1945, tak ada satu bukupun yang mengajarkan bagaimana caranya merdeka dari Belanda ataupun jepang, tapi tokoh bangsa kita punya ribuan buku yang bisa menciptakan solusi nya, mereka pelajari bagaimana Belanda, pelajari bagaimana Jepang, baca buku2 politik dunia, baca situasi geopolitik saat itu. Semua pengetahuan itu tak lain pastinya dari membaca buku, sehingga momen proklamasi berhasil tercipta.
Saya ingat ketika anak Bung Hatta bercerita tentang bagaimana usaha Bung Hatta membawa buku2 nya pulang dari Belanda, total buku yang ia bawa adalah 7 kontainer besi penuh akan buku. Bayangkan betapa banyak buku yang ia punya.
Membaca buku akan selalu relevan dengan zaman. Membaca buku membentuk pola pikir, bukan tuntunan teknis. Membaca buku melahirkan Ide, bukan solusi spesifik akan masalah. Membaca buku menciptakan poin2 imajinasi, bukan poin2 janji.
So, Mari Membaca..
메타데이터
- post_id
- b568d96f79aa
- slug
- buku-dan-selat-hormuz-b568d96f79aa
- url
- https://medium.com/@astagondor03/buku-dan-selat-hormuz-b568d96f79aa
- canonical_url
- https://medium.com/@astagondor03/buku-dan-selat-hormuz-b568d96f79aa
- author_url
- https://medium.com/@astagondor03
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13