Mindscrews
1995 Jono anak Mang Darmo, seorang tukang becak. Budi anak Pak Eman, seorang guru SD. Made anak Pak Ketut, seorang pelukis. Tommy anak…
Mindscrew

1995 Jono anak Mang Darmo, seorang tukang becak. Budi anak Pak Eman, seorang guru SD. Made anak Pak Ketut, seorang pelukis. Tommy anak seorang pengusaha. Pak Gunawan Sastro Wardhoyo Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Dicokot Ulo Mboten Nopo Nopo namanya. Fatimah anak Pak Haji Arifin, seorang ulama terkenal di kota mereka. Dan Lusi, anak seorang pelacur. Tidak ada yang tahu siapa ayahnya. Bisa jadi ayah Lusi adalah Mang Darmo, Pak Eman, Pak Ketut, Pak Gunawan, atau Pak Haji Arifin. Hanya tuhan yang tahu.
Mereka murid-murid kelas lima SD Harapan Bangsa. Mereka berteman baik. Suatu ketika, Bambang, murid kelas enam yang berbadan besar menghina Jono. “Haha.. dasar anak tukang becak. Mau jadi apa lu?” Bambang adalah anak sopir bajaj. Jono tertunduk malu. Ia hanya terdiam dan merenung, “kenapa ayahku seorang tukang becak?”
Selama berhari-hari, Jono hanya melamun. Teman temannya turut prihatin. “Udah lah, Jon. Ga usah dipikirin, santai aja. Si Bambang itu emang kalo ngomong ga disaring dulu”, kata Made. “Pasti dia ga punya ayakan juga”, tambah Tommy. “Lho, maksudnya?”, Budi yang juara kelas bertanya penuh selidik. “Ya kalo ngomong ga diayak dulu!”, Made dan Tommy serempak menjelaskan. “Tapi gw sakit hati, men”, Jono terisak. “Sabar ya Jon, biar Allah yang membalasnya”, Fatimah menasehati Jono persis seperti ayahnya kalo lagi ceramah. “Bales gimana?! Masa Allah ngatain Bambang? ‘Haha.. Dasar lu anak sopir bajaj. Gih sana, narik aja lu!’, Masa gitu?!”, Jono bicara penuh emosi. “Ya ngga lah Jon. Allah punya cara sendiri untuk membalas umat-Nya yang kalo ngomong engga disaring dulu”, Fatimah memberi penjelasan. Lagi lagi mirip ayahnya yang tukang ceramah itu. “Iya jon, misalnya bokapnya Bambang pas lagi narik bajaj ketabrak KRL gitu, mampus kan!”, Lusi yang dari tadi sibuk merapihkan rambut angkat bicara. “Kampret tuh orang emang!”, lanjutnya.
Akhirnya, setelah ditenangkan, dibujuk, dan ditraktir teman-temannya, Jono pun kembali ceria. Namun ternyata, setiap malam Jono selalu berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT, semoga ayah Bambang mati tertabrak kereta Argo Lawu dan mayatnya ditutup koran Lampu Merah.
Seminggu berlalu. Suasana SD Harapan Bangsa siang itu begitu panas. Namun keadaan bertambah panas ketika dua orang murid berkelahi. Bambang vs Lusi.
“Eh, bangsat! Lo punya mulut di sekolahin dong. Ngemeng asal jeplak. Anjing lo!”, Lusi bicara sambil mendorong Bambang. “Memek lu tuh jagain. Mo jadi pecun juga kayak emak lu?!!”, seru Bambang sambil balas mendorong Lusi hingga terjatuh. “Eh, banci! Lu kalo berani jangan ama cewek dong!”, Made mencoba membela Lusi sementara Fatimah sambil beristighfar menolong Lusi bangun dari jatuhnya. “Ooh.. Lu mo jadi jagoan, njing?!!”, tantang Bambang.
Tiba tiba…
“Ada apa ini ribut ribut?!!” Pak Eman datang bersama Tommy dan Budi yang melaporkan kejadian ini. “Dia ngejek saya, Pak” “Dia yang mulai duluan” Mereka saling menuduh. “Sudah sudah! Kalian ikut bapak ke kantor!” Anak anak pun bubar. Beberapa anak masih membicarakannya.
2015 Sekolah itu tidak banyak berubah, kecuali pengajarnya yang sekarang didominasi guru guru muda. Siang itu suasana SD Harapan Bangsa begitu meriah. Di tengah lapangan ada panggung, tenda, balon-balon, pita, dan banyak pernak pernik lain. Anak anak duduk rapih di atas bangku yang berjajar menghadap panggung. Di atas panggung itu ada sebuah podium lengkap dengan microphonenya. Di belakangnya terbentang spanduk bertuliskan “Selamat Datang Kak Bambang Satriadji, MT”.
Setelah Bu Irma, kepala sekolah yang baru dua tahun menjabat, memberikan sambutan, beliau mempersilakan Kak Bambang Satriadji naik ke atas podium.
Pria itu belum tua. Usianya baru sekitar 30an. Berdiri tegap dengan setelan jas yang rapih, sepatu handmade bermerek dari Italia berwarna hitam mengkilap, dan Blackberry yang selalu dikeluar-masukkan dari dan ke dalam kantong celananya setiap tiga menit.
Setelah tepuk tangan sambutan yang sangat meriah mereda, pria itu mulai angkat bicara. “Ehem. Kangen sekali rasanya. Kakak ingat masa kecil kakak dulu di sekolah ini. Dulu kakak suka bermain bola di lapangan ini. Kakak selalu jajan macaroni di warung Mang Ujang di pojok sana”.
Pria itu adalah Bambang. Si Mulut Tanpa Saringan. Bambang kini menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan telekomunikasi ternama di negeri ini. Hari itu ia dan perusahaan tempatnya bekerja sedianya akan menyumbangkan puluhan unit komputer beserta jaringan internet untuk almamaternya itu.
Kenakalan masa kecilnya ia sadari merupakan sebuah kenangan dan pelajaran yang tak ternilai. Kesadaran akan kemiskinan dan keterbatasan membuatnya menjadi Bambang, anak sopir bajaj yang sukses.
Bagaimana dengan Jono dan kawan-kawannya?
Jono Masih mendekam di penjara karena perampokan toko perhiasan yang direncanakannya gagal total. Hidup susah sejak kecil, terlebih setelah ditinggal mati sang ayah yang tewas tersambar kereta Argo Bromo di perlintasan kereta api.
Made Bakat seni yang dimiliki rupanya kurang didukung kondisi finansial dan peta industri musik yang semakin aneh. Belasan band ia bentuk. Ratusan lagu ia ciptakan. Puluhan label rekaman ia datangi. Namun semuanya tidak mengubahnya menjadi bintang. Ia hanya Made. Seorang pengamen jalanan.
Budi Selalu menjadi ranking 1 semasa SD memang indah. Tapi seiring waktu ia sadar bahwa Pak Eman, ayahnya lah yang menjadikannya nomor 1. Dan yang terpenting, ia sadar bahwa ia tidak pandai. Kini, Budi hanya seorang pengangguran yang mengaku enterpreneur. Hari-harinya ia habiskan untuk menemui satu demi satu kenalannya, ngobrol ngalor ngidul sebelum akhirnya melancarkan aksi prospek, menjanjikan helikopter dan liburan di kapal pesiar. Luar Biasa.
Lusi Kehamilan di usia 17 tahun memaksanya untuk menikah dengan Joseph, pria hitam kekar yang bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Untuk menambah penghasilan, sesekali ia dibooking tante tante pemburu kepuasan. Lusi memang tidak mengikuti jejak karir ibundanya. Well, her husband does.
Tommy Perceraian orang tua, perselingkuhan Ibunya, serta kebangkrutan sang ayah, perlahan mengubah Tommy menjadi seseorang pecandu narkoba. Ia juga telah meracuni wanita baik baik yang sangat mencintainya dengan hal hal yang negatif, mengubahnya 180 derajat, kemudian mempermainkannya, meninggalkannya, dan akhirnya membuat wanita itu bunuh diri dengan cara mengenaskan.
Fatimah Tewas mengenaskan di sebuah kamar hotel dengan tubuh membiru, mulut berbusa, dan hanya mengenakan pakaian dalam. Keterangan polisi menyebut ia overdosis, mengakhiri hidupnya sendiri. Fatimah diketahui pernah dekat dengan Tommy, teman masa kecilnya, putra mantan pengusaha kaya raya yang bangkrut karena krisi ekonomi global.
Semoga kisah anak-anak ini menjadi inspirasi.
메타데이터
- post_id
- b5863d2a4aae
- slug
- mindscrews-b5863d2a4aae
- url
- https://medium.com/@janzuar/mindscrews-b5863d2a4aae
- canonical_url
- https://medium.com/@janzuar/mindscrews-b5863d2a4aae
- author_url
- https://medium.com/@janzuar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13