← Back to list

Menuju Keutuhan Agung: Rainer Maria Rilke

[Tulisan ini merupakan kata pengantar untuk buku kumpulan puisi Rainer Maria Rilke Kedalaman Terarah Padamu (dieditori oleh Agus R. Sarjono…

Berthold Damshäuser (Pak Trum) · 2026-04-27 12:45 · 0 claps · 29.4 min read
#puisi-indonesia #puisi-jerman #rainer-maria-rilke #agus-r-sarjono #seri-puisi-jeman
Open on Medium ↗

Menuju Keutuhan Agung: Rainer Maria Rilke

[Tulisan ini merupakan kata pengantar untuk buku kumpulan puisi Rainer Maria Rilke Kedalaman Terarah Padamu (dieditori oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser), yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2013 oleh Komodo Books dan kemudian dipublikasikan kembali dalam edisi baru pada tahun 2020 oleh Diva Press. Lihat: https://divapress-online.com/book/kedalaman-terarah-padamu ]

Menuju Keutuhan Agung: Rainer Maria Rilke

(Berthold Damshäuser)

Kita mesti menyatu dengan getaran universum, lalu melalui tindakan ruhani jangan cuma mencipta hal-hal ruhani, melainkan –barangkali– bahkan mencipta bintang- bintang baru. (Rilke)

Pada tahun 1875 di kota Praha lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama René Maria. René berarti “lahir kembali”, sehingga kombinasi nama René dan Maria tersebut dapat dipahami sebagai “lahir kembali sebagai perempuan bernama Maria”. Nama yang tidak lazim itu dipilih oleh ibunya, Sophie Rilke, yang sangat mengharapkan lahirnya seorang anak perempuan, karena anaknya yang pertama –perempuan bernama Zesa– meninggal dunia beberapa hari setelah dilahirkan. Sophie Rilke berharap René Maria dapat menggantikan anak perempuannya yang telah tiada sehingga putranya diperlakukan dan dididik sebagai perempuan sampai sang putra berumur enam tahun. Maka, René Maria kecil pun diberi busana perempuan, dijadikan semacam boneka manis dengan rambut panjang yang dikucir, dan jarang dibolehkan bermain dengan anak lain. Dengan pendidikan seperti itu, dapat diduga akan ada dampak tertentu pada perkembangan mental René Maria. Meski begitu, ibunya berjasa menumbuhkan minat René terhadap sastra. Sebagai pencinta susastra, juga penulis, ia memperkenalkan sastra dan seni kepada anaknya. Bukan hanya itu, ia bahkan menanamkan harapan di benak anaknya untuk pada satu saat menjadi seniman besar. Siapa duga harapan itu kelak terwujud dan René Maria dikenal luas sebagai sastrawan sangat berarti di abad ke-20, sebagai sastrawan besar Rainer Maria Rilke.

Sophie Rilke memang cukup ambisius. Tak puas dengan kehidupan burjuisnya di kelas menengah bawah, ia senantiasa mendambakan dirinya berada di tengah kaum terdidik atau bergaul dengan kaum bangsawan. Anaknya ternyata cukup dipengaruhi oleh obsesi aneh itu, hingga saat dewasa –bahkan setelah menjadi sastrawan terkenal– Rilke gemar menimbulkan kesan, terutama pada teman-teman bangsawannya, bahwa ia pun seorang berdarah bangsawan, meskipun tentu tak pernah dapat ia buktikan.

Sebagai sastrawan Rainer Maria Rilke jelas tokoh fenomenal pada abad ke-20. Karya-karyanya diterjemahkan ke puluhan bahasa. Jumlah buku tentangnya pun hampir tak terhitung, termasuk ratusan disertasi maupun penelitian ilmiah. Ia pun disebut sebagai penyair yang paling banyak dibaca. Hal ini kiranya tidaklah berlebihan mengingat keberhasilan Rilke di negara-negara berbahasa Jerman (Austria, Swiss, dan Jerman). Buku puisinya sempat menjadi bestseller, misalnya Duineser Elegien (Elegi-elegi Duino) yang hingga tahun 1948 saja telah mencapai tiras 48.000 jilid. Sampai sekarang, puisi Rilke masih sangat diminati. Karya-karya penyair yang pada tahun 1920 menjadi warga negara Cekoslowakia ini, tentu menjadi bacaan wajib di sekolah Jerman, Austria, dan Swiss, serta dikutip pada bermacam-macam kesempatan, mulai pada surat undangan pernikahan sampai pemberitahuan tentang wafatnya seseorang. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa Rilke bukan saja dianggap penyair, melainkan –paling sedikit oleh kalangan tertentu– sebagai semacam nabi, pencetus pandangan hidup yang baru, dan pemberi pedoman untuk manusia modern. Belum pernah dalam sejarah sastra Jerman seorang penyair melalui puisinya menimbulkan dampak demikian besar, dan dalam skala internasional pun kiranya cukup fenomenal.

Ini semua tentu tidak dapat diduga saat Rilke –sekitar tahun 1894– baru mulai menjadi sastrawan terkenal di Praha menyusul diterbitkannya buku puisinya yang pertama, Leben und Lieder (Kehidupan dan Puisi). Buku ini pada tahun berikutnya disusul oleh kumpulan puisi yang lain, selain berbagai sandiwara. Karya-karya tersebut semuanya tak bermutu, sangat trivial dan epigonal. Rilke baru mulai matang sebagai sastrawan justru setelah ia meninggalkan kota Praha dan pindah ke München pada tahun 1896. Di kota itu ia, yang saat itu berumur 21 tahun, berkenalan dengan Lou Andreas Salomé (1861–1937) dan jatuh cinta kepada perempuan istimewa yang telah menikah dan saat itu berumur 36 tahun. Cendekiawati dari keluarga Rusia-Jerman yang menjadi terkenal dengan bukunya tentang filosof Friedrich Nietzsche –yang lamarannya untuk menikah sempat ia tolak– membalas cinta Rilke. Selama beberapa tahun Andreas Salomé menjadi kekasih sekaligus penasehat Rilke. Andreas Salomé lah yang mendesak Rilke untuk mengganti namanya menjadi Rainer Maria Rilke, selain mempengaruhi proses kreatif kepenyairannya.

Di bawah bimbingan Lou, Rilke mulai menjauh dari epigonalitas dan patos berlebihan sambil mulai semakin menemukan gaya bahasa sendiri yang khas dan baru. Mereka sempat tinggal serumah dan dua kali mengadakan perjalanan bersama ke Rusia. Hubungan erotis diputuskan Lou pada tahun 1901 karena Lou merasa bahwa Rilke –yang secara mental agak labil– terlalu menggantungkan diri kepadanya. Namun, hubungan mereka sebagai sahabat (yang mulai mirip hubungan antara seorang ibu dengan anaknya) tak pernah putus. Peranan Lou dalam perkembangan Rilke, baik sebagai manusia maupun sebagai seniman, sangat besar. Berkat Lou, Rilke mengetahui filosofi Friedrich Nietzsche, mengetahui budaya dan sastra Rusia (mereka dua kali bertemu dengan pujangga Rusia Leonid Tolstoy), dan mempelajari ilmu psikoanalisa setelah Lou pada tahun 1912 memperkenalkan Sigmund Freud kepadanya.

Auguste Rodin (1840–1917) adalah tokoh lain yang sempat memainkan peranan penting dalam kehidupan Rilke. Karena kagum kepada pematung besar Prancis itu, pada tahun 1902 Rilke pindah ke Paris. Ia sempat menjadi sekretaris pribadi Rodin dan menulis buku tentangnya. Hubungan sangat erat antara Rilke dan Rodin berlangsung sampai tahun 1906 dan cukup berbuah bagi Rilke. Saat ditanya Rilke tentang cara hidup yang terbaik, Rodin menjawab: Berkarya, terus-menerus berkarya! Kata-kata sederhana itu –tentu juga cara hidup Rodin yang sesuai dengan ucapannya– sangat mengesankan Rilke dan menyebabkan ia memutuskan untuk memilih kehidupan sebagai seniman sejati, tak lagi memikirkan karier di bidang lain. Padahal sebelumnya Rilke tidak mengecualikan kemungkinan untuk hidup secara burjuis. Ia sempat berkuliah di berbagai universitas, di berbagai jurusan, termasuk jurusan hukum, namun tak satupun yang diselesaikannya. Ia sempat juga bekerja sebagai penulis atau wartawan lepas. Pada tahun 1901 ia menikah dengan perupa Clara Westhoff (1875–1954) yang pada tahun yang sama melahirkan anak perempuan mereka bernama Ruth. Namun, kehidupan berkeluarga di satu rumah hanya berlangsung selama satu tahun dan mereka pun berpisah, walau tetap bersahabat dan tidak pernah bercerai secara resmi. Rilke jarang bertemu dengan anaknya, bahkan juga tidak pernah mengurusnya sebagaimana lazimnya diharapkan dari seorang ayah.

Mulai tahun 1903, cara hidup Rilke diwarnai oleh perjalanannya ke sekian banyak tempat: Itali, Perancis (berkali-kali), Skandinavia, Spanyol, Afrika-Utara, dan lain-lain. Hampir di semua tempat menarik dan indah yang dikunjunginya, Rilke menjadi tamu terhormat para bangsawan, diberi tempat tinggal yang mewah, dan tak jarang dipersilahkan berdiam di istana atau kastil mereka. Banyak di antara bangsawan pengagum Rilke –yang sejak tahun 1900 sudah harum namanya sebagai sastrawan– bersedia menjadi maesenasnya yang setia, misalnya Marie von Thurn und Taxis, perempuan bangsawan kaya yang juga menjadi sahabat keibuan sang sastrawan manja yang masyhur ini. Impian Rilke rupanya terwujud: hidup seolah-olah bangsawan. Dengan ironi diri –sikap yang jarang menonjol padanya– Rilke pernah mengatakan: Saya memang pujangga istana.

Mestinya Rilke hidup bahagia. Apalagi di antara para bangsawan yang mengerumuninya ada cukup banyak perempuan muda yang jatuh cinta kepada penyair penuh pesona ini. Salah satunya adalah Magda van Hattingberg yang menulis tentang Rilke sebagai berikut:

Bagi saya, dia suara Tuhan, sang jiwa abadi, segala sesuatu yang melebihi dunia ini, dia luhur, tinggi dan suci, bukan manusia.

Hubungan erat dengan perempuan sering terjadi, namun selalu saja hubungan itu putus setelah beberapa minggu atau bulan. Rilke terlalu individualistis dan tak sanggup menyesuaikan diri kepada individu lain. Ia pun mencintai kesendirian, sikap yang sejak masa kanak menonjol padanya. Jarang ia bahagia, malah cenderung apatis-depresif, terutama jika tak produktif dalam berkarya. Sering ia merasakan bahwa tujuannya, yakni menghasilkan sintesis optimal antara hidup dan mencipta tak berhasil ia wujudkan. Ia pun menyadari bahwa ada unsur-unsur tak sehat dalam jiwanya, sebuah labilitas yang mengganggunya. Pernah, atas desakan Lou Andreas Salomé, ia mempertimbangkan untuk menjadi pasien Sigmund Freund, tapi akhirnya ia menjauh dari rencana itu dengan alasan bahwa jiwa terganggu lah yang justru menjadi ilham dalam berkarya. Berkarya bagi Rilke adalah terapi diri. Untuk berkarya ia mencari kesendirian di bagian terpisah di istana atau kastil para maesenasnya, memilih disajikan makanan vegetarian di kamar terpisah yang ia santap dengan berpakaian jas dan dasi. Ia memang unik, dan seorang temannya pernah mengatakan: Pada dasarnya ia seorang snob.


Rainer Maria Rilke menghasilkan oeuvre yang mengesankan. Selain lebih dari seribu puisi –ada juga yang ditulis dalam bahasa Perancis– ia menulis prosa, di antaranya dua bestseller, yaitu cerita liris Die Weise von Liebe und Tod des Cornets Christoph Rilke (Dendang Tentang Cinta dan Maut Pembawa Bendera Christoph Rilke) dan novel Die Aufzeichnungen des Malte Lauridge Brigge (Catatan Malte Lauridge Brigge). Esai-esainya tentang budaya dan seni serta ribuan suratnya patut juga dihitung sebagai karya sastra karena ditulis dalam bahasa yang indah dan mengesankan. Di bidang drama, Rilke menghasilkan berbagai sandiwara dan teks untuk opera (libretto), tapi karya-karya itu tidak dianggap istimewa. Ia pun penerjemah yang rajin, terutama penerjemah puisi, khususnya dari bahasa Perancis.

Yang membuat Rilke menjadi sastrawan terkenal di seluruh dunia jelas prestasinya di bidang puisi. Buku-buku puisinya yang berjudul Mir zur Feier (Bagiku demi Perayaan, 1899);** **Das Stunden-Buch (Buku Doa, 1905); Das Buch der Bilder (Buku Citra-citra, 1906); Neue Gedichte (Sajak-sajak Baru, 1907); Der Neuen Gedichte anderer Teil (Bagian Lain dari Sajak-sajak Baru, 1908), sangatlah terkenal, apalagi setelah ia menerbitkan Sonette an Orpheus (Soneta-sonteta Kepada Orpheus), dan Duineser Elegien (Elegi-elegi Duino), yang keduanya terbit tahun 1923. Buku-buku tersebut sampai sekarang masih sangat populer.

Mengingat jumlah puisi yang ditulis Rilke seumur hidupnya, sudah barang tentu empat puluh satu puisi yang disajikan dalam buku ini tidak dapat disebut representatif. Sekalipun demikian, kami berupaya sedapat mungkin dapat menyajikan kesan yang agak utuh dan cukup dalam mengenai tema dan bentuk yang kerap dipilih Rilke dalam menulis puisi-puisinya. Kami juga memuatkan puisi-puisi Rilke yang paling terkenal seperti: Herbsttag (Hari Musim Gugur), Der Panther (Macan Kumbang), Schlußstück (Akhirul Kalam) dan lain-lain. Juga tidak lupa kami muatkan puisi dari kumpulan master piece-nya Sonette an Orpheus (Soneta-soneta Kepada Orpheus) dan Duineser Elegien (Elegi-elegi Duino). Untuk memudahkan pembaca, urutan puisi kami atur secara kronologis dengan memilih puisi dari berbagai fase kepenyairan Rilke yang disajikan dalam bentuk bab yang berkaitan dengan judul kumpulan puisi Rilke dan/atau masa puisi itu ditulis.

Dalam bab Mir zur Feier (Bagiku Demi Perayaan), terdapat beberapa puisi dari kumpulan sejudul yang terbit pada tahun 1899 dan dianggap kumpulan pertama yang berisi puisi-puisinya yang sudah matang. Dua di antara puisi yang kami pilih mengangkat tema “malaikat“, tema yang dominan dalam semua fase perpuisian Rilke. Malaikat –makhluk spiritual yang memainkan peranan penting dalam agama Nasrani, khususnya Katolik– oleh Rilke dijadikan lambang yang kehilangan konteks kenasraniannya, karena malaikatnya Rilke sama sekali bukan utusan Tuhan. Melalui tahap-tahap pengembangan yang memuncak pada tokoh malaikat di Duineser Elegien (Elegi-elegi Duino), lambang itu digunakan Rilke sebagai gambaran kemutlakan dan keutuhan, contoh eksistensi yang melampaui kekerdilan manusia yang menderita oleh keterpecahan jiwanya. Inilah kiranya yang melatari pendapat filosof Martin Heidegger yang pernah membandingkan malaikatnya Rilke dengan Übermensch (purnamanusia) Friedrich Nietzsche. Yang jelas, Rilke cenderung menampilkan malaikat sebagai sebuah ideal yang tak tercapai namun perlu dikejar. Membaca kedua puisi bertemakan “malaikat“ dalam bab Mir zur Feier barangkali tidak sepenuhnya sesuai dengan keterangan di atas, terutama dalam puisi Ich ließ meinen Engel lange nicht los (Malaikat Lama Tak Kulepaskan). Puisi ini berisi unsur kompetisi antara manusia dan malaikat yang menjadi papa dalam pelukan si aku liris. Memang, simbol atau lambang malaikat oleh Rilke digunakan secara variatif dengan aspek-aspek yang tidak selalu sama.

Selain malaikat, ada hal menonjol lain pada perpuisian Rilke, yakni Ding. Puisi Ich fürchte mich so vor der Menschen Wort (Betapa Tutur Manusia Membuatku Gundah), yang juga terdapat dalam bab Mir zur Feier, mengangkat unsur lain yang menonjol itu:

Ingin kuperingatkan: Jagalah jarak.

Nyanyian benda semesta gemar kusimak.

Kalian genggam: mereka bisu kejang.

Kalian pembunuh segala benda tersayang.

Pada bait terakhir, Rilke menyebut kata Ding yang umumnya berati “benda” atau “barang”. Namun, kata Ding dalam bahasa Rilke jauh melampaui makna harfiah sekedar “benda“ sebagai sesuatu yang bersifat materiil. Ding atau benda itu bagi Rilke merupakan sesuatu yang sakral, bahkan transendental. Ia adalah lambang hakekat keberadaan, sehingga tidak terlalu mengherankan bila Rilke kerap menggunakannya sebagai pengganti kata “Tuhan“ atau paling sedikit sebagai fenomena yang berkaitan dengan keillahian.

Dalam bab berikutnya kami sajikan beberapa puisi dari kumpulan Das Stundenbuch (Buku Doa) yang terbit pada tahun 1905 dan berisi puisi yang ia tulis antara tahun 1899 dan 1903. Stundenbuch (harfiah: Buku Jam-jam) adalah istilah yang berasal dari kata Latin horarium yang oleh gereja Katolik dipakai untuk buku berisikan teks-teks doa yang patut dibacakan setiap saat atau setiap jam. Rilke sendiri pernah menyebutkan puisinya dalam kumpulan itu sebagai doa. Dan memang, saat kita baca puisi-puisi itu, kita teringat akan doa, karena unsur keagamaan terkesan cukup kental. Ini terasa misalnya dalam puisi terkenal Ich lebe mein Leben (Kuhidupi Kehidupanku) yang berakhir sebagai berikut:

Kukisari Tuhan, sang menara purba,

berkisar aku, beribu tahun lamanya.

Belum kutahu: elangkah aku, topan

ataukah dahsyat nyanyian.

Banyak puisi dalam Das Stundenbuch membicarakan Tuhan, bahkan langsung dialamatkan kepada Tuhan (“kau“). Namun, “doa-doa“ Rilke bersifat khas, karena konsepnya tentang Tuhan sangat berbeda dari –misalnya– agama Nasrani. Ini kentara jika kita perhatikan puisi Rilke “Was wirst du tun, Gott, wenn ich sterbe?” (Tuhan, kau akan berbuat apa, bila saya mati?) yang mengandung kalimat berikut: […] mit mir verlierst du deinen Sinn. (Dengan tiadanya lagi aku, kau kehilangan maknamu). Jelas ini sangat profokatif dan bertentangan dengan kepercayaan Nasrani bahwa Tuhan tentu sama sekali tidak tergantung dari manusia. Tuhan dalam puisi Rilke memang bukan Tuhan Nasrani, juga bukan Tuhan seperti digambarkan dalam agama-agama Abrahamitis yang lain, bukan saja karena unsur panteistis atau panenteistis yang sangat terasa pada banyak puisi Rilke. Hal ini, juga “kepercayaan“ Rilke pada umumnya, masih akan dibicarakan lebih lanjut dalam pengantar ini.

Sikap hati-hati cukup penting dalam menafsir puisi Rilke yang oleh kalangan tertentu suka dianggap sebagai penyair yang sangat “beragama“. Tafsiran keliru –misalnya– sering terjadi dalam hal puisi Lösch mir die Augen aus (Padamkan Mataku), puisi terkenal dari Das Stundenbuch yang juga kami muatkan dalam buku ini.

Padamkan mataku! Kau sanggup kupandangi,

sumbatlah telingaku. Kau sanggup kusimak,

tanpa kaki, kau sanggup kusambangi,

tanpa mulut, padamu kusanggup tetap teriak.

Tebaslah lenganku, kau kugapai

dengan jiwaku menjelma tangan,

remaslah jantungku, otak kan berdenyut,

dan jika otak kau ledakkan,

dengan darah kau kupagut.

Banyak pembaca yakin, bahwa si “kau“ dalam puisi ini adalah Tuhan. Interpretasi imanen memang memungkinkan tafsiran demikian. Namun, Rilke sendiri pernah mencatat bahwa puisi itu dialamatkan kepada kekasihnya, Lou Andreas Salomé.

Gaya dan bentuk puisi-puisi dalam Das Stundenbuch semakin khas, semakin merilke. Ditulis dalam metrum ketat, Rilke bagai mencetuskan “petasan api“ rima dalam dan akhir, yang dibumbui metafor unik dan memesonakan. Dalam hal ini, Rilke adalah seorang maestro yang sangat mengagumkan dan tak tertandingi oleh penyair Jerman manapun. Terutama metrum dan rima yang menjadikan puisi Rilke bagaikan karya musikalis yang terdiri dari nada dan irama. Dalam puisinya yang sungguh kuat –jumlahnya ratusan– terdapat keserasian antara isi dan bentuk yang demikian tinggi sehingga puisi-puisi itu dapat dipandang sebagai puncak puisi sedunia. Sedangkan puisi-puisinya yang kurang berhasil terkesan manieristis, karena Rilke secara berlebihan mencari rima dan cenderung menaklukan isi demi bentuk.

Dalam sejarah gaya seni, Das Stundenbuch dan juga Das Buch der Bilder (Buku Citra-citra) dianggap mewakili Jugendstil atau Art Nouveau (gaya yang berkembang di Eropa pada awal abad ke-20) yang salah satu ciri khasnya adalah kecenderungan untuk bertolak dari bentuk-bentuk berbelit di alam tumbuhan yang ditransfer atau ditiru dalam karya seni rupa. Struktur bunyi dan irama yang “melingkar-lingkar“ dalam puisi-puisi Rilke memang memiliki kesamaan tertentu dengan gaya Art Nouveau di bidang seni rupa.

Dalam bab berikutnya buku ini kami sajikan dua belas puisi dari Das Buch der Bilder (Buku Citra-citra) yang versi lengkapnya terbit pada tahun 1906 dan memuatkan puisi Rilke yang ditulis dalam kurun waktu 1899–1906. Sebuah edisi pertama telah terbit pada tahun 1902.

Segala benda itu ada untuk menjadi citra-citra kita. Ucapan Rilke tersebut menandai proses yang dialaminya pada awal abad ke-20 yang bermuara pada puisi-puisinya yang terkumpul dalam Das Buch der Bilder. Rilke sendiri menganggap terbitnya buku ini sebagai “langkah maju”. Dengan teliti ia menggambarkannya sebagai berikut:

Langkah Maju

Dan kembali hidupku yang dalam menggelegar,

seolah menyusuri tepian pantai yang melebar.

Denganku segala benda kian berkerabat kini,

dan segala citra gambaran kian terpandangi.

Sang tiada bernama kini makin kuakrabi:

Dari pohon eik, berindera burung pingai,

aku menjulang, menyentuh lelangit berbadai,

dan, bagai bersandar pada ikan, batin yang pekat

terbenam perlahan di hari kolam yang tak tamat.

Rilke ingin menjadi adik segala benda, lalu menjadikannya bagian dari apa yang ia sebut sebagai Weltinnenraum (harfiah: ruang-dalam sang dunia), sebuah ruang batiniah di mana dunia luar dan dunia dalam bertemu, sebuah tempat di mana citra-citra lahir melalui seni bahasa, lalu menjadi milik sang penyair juga pembaca. “Benda” yang ia jadikan citra boleh berbentuk apa saja: Manusia, alam, suasana, musim, maut, cinta, dan sebagainya. Dengan begitu, puisi Rilke menjadi “puisi renungan” yang merefleksikan keberadaan, termasuk diri sendiri, walaupun ia semakin cenderung untuk mengurangi penggunaan “aku liris”.

Dalam Das Buch der Bilder terdapat berbagai puisi Rilke yang paling terkenal, termasuk Herbsttag (Hari Musim Gugur), yang pernah diterjemahkan secara bebas oleh Chairil Anwar), dan Schlußstück (Akhirul Kalam). Di Jerman, puisi tentang maut itu sering sekali dikutip dan banyak orang menghafalnya. Karena maut merupakan sebuah tema yang sangat penting dalam perpuisian Rilke, maka Rilke kerap juga disebut “penyair maut”. Kami kutip kutip di sini sebagai gambaran,

Akhirul Kalam

Akbar lah maut.

Kita, bergelak tertawa,

semata-mata miliknya.

Saat kita sangka dalam hidup tengah berada,

di tengah diri kita, tak bermalu,

ia pun meratap pilu.

Neue Gedichte (Sajak-sajak Baru) adalah judul bab berikutnya dalam buku ini, sama dengan judul kumpulan puisi Rilke yang terbit pada tahun 1907. Di antara puisi-puisi dalam buku ini yang diambil dari kumpulan puisi tersebut, puisi Buddha merupakan contoh paling representatif bagi gaya puitis yang dikembangkan Rilke dalam Neue Gedichte. Puisi itu ditulis saat Rilke menjadi sekretaris Rodin di Paris. Di taman pematung itu, ia melihat sebuah patung Budha yang mengilhaminya menulis puisi dengan cara berseni yang ia pelajari dari Rodin. Dari Rodin ia menerima ide kesejatian, yang berarti sang seniman wajib menciptakan karya yang sama “sejati” dengan isi alam. Menurut Rodin, keterasaan alam melalui seni perlu ditingkatkan menjadi kesadaran yang maksimal. Ide Rodin itu, yang penerapannya disaksikan sendiri oleh Rilke dalam cara kerja Rodin sebagai pematung, ingin ia tiru. Dengan demikian, ia ingin berkarya seolah ia seorang pelukis atau pemahat. Untuk itu, ia bahkan bertolak dari sebuah karya seni rupa sebagaimana dilakukannya pada puisi Buddha. Sebuah contoh lain dalam buku ini adalah puisi Der Engel (Sang Malaikat) yang juga ditulis dengan bertolak dari sebuah patung. Tentu saja puisi-puisi itu bukan sebuah deskripsi, karena sang patung terutama dilihat sebagai simbol yang mulai kentara melalui cara memandang yang teliti dan obyektif.

Dalam ilmu sastra Jerman (Germanistik) terdapat istilah Dinggedicht (harfiah: sajak-benda) untuk jenis puisi yang bertemakan benda. Dalam sejarah sastra Jerman Dinggedicht semakin populer pada abad ke-19. Sedangkan Rilke dianggap salah seorang penulis Dinggedicht yang paling subur dan berarti. Dinggedicht Rilke yang sering disebut sebagai contoh paling baik adalah puisi “Der Panther” (“Macan Kumbang”), yang sangat terkenal itu.

Tatapannya lelah, letih oleh wira-wiri jeruji,

hingga pegangan baginya tiada lagi.

Seakan jeruji berjumlah selaksa,

dan di seberangnya dunia tak ada.

Langkahnya yang anggun dan perkasa

berputar-putar di sempit lingkarannya,

bagai tari kekuatan mengitari sumbu,

tempat berdiri tekad akbar terbelenggu.

Cuma kadang tirai anak mata

menyingkap bisu –. Menyusuplah citra,

rasuki senyap nan tegang di raga,

lalu sirna dalam jiwa.

Puisi “Der Panther” ini juga merupakan contoh untuk cukup banyak puisi Rilke dalam Neue Gedichte yang tidak bertolak dari patung, melainkan dari “benda”, dalam hal ini hewan. Berkaitan dengan istilah sastra Dinggedicht, sangat penting untuk menyadari bahwa konsep Rilke tentang Ding (benda) sebenarnya jauh lebih luas dan tidak terbatas pada materi, seperti telah kami terangkan di atas ini.

Dalam bab Der Neuen Gedichte Anderer Teil (Bagian Lain dari Sajak-sajak Baru), kumpulan puisi Rilke sejudul yang terbit pada tahun 1908 dan memuatkan jenis puisi yang pada dasarnya banyak kesamaan dengan puisi dalam Die Neuen Gedichte, kami memuatkan puisi Rilke berjudul Mohammeds Berufung (Penasbihan Muhammad). Bunyinya sebagai berikut:

Saat masuki tempat berkhalwat

Sang Agung, Tak Tertukarkan: Malaikat

menyala benderang, suci, tegak tegap,

Muhammad tak meminta. Berharap

boleh tetap menjadi si pedagang,

meski perjalanan niaga kacaukan jiwa.

membaca, ia tak pernah — kini dipaksa

mengeja firman, bagi cendekia pun tak gampang.

Tegas menuntut, Sang Malaikat tak lelah-lelah

sodorkan tulisan, seperti tuan pada hambanya,

tak kenal ampun dan tegas menuntun: Bacalah!

Ia pun menyatu dengan bacaan,

bisa dan ada dalam membaca. Dan firman

pun diwujudkan. Malaikat keder, takjub, terdiam.

Puisi yang ditulis pada tahun 1907 ini adalah petanda bahwa Rilke cukup tertarik kepada agama Islam. Perhatian dan simpati kepada Islam kemudian bahkan meningkat, saat Rilke mengadakan perjalanan ke Aljazair dan Tunisia (1910), ke Mesir (1911), dan terutama ke Andalusia pada (1912). Surat-surat yang ia tulis –antara lain ke Lou Andreas Salomé dan Marie von Thurn und Taxis– dari kawasan Spanyol-Selatan yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari tamadun Islam itu membuktikannya:

Sejak berkunjung ke Cordoba saya punya perasaan anti-Nasrani yang kejam. Saya membaca al Quran. Nabi Muhammad bagai sungai yang menebus pergunungan purba berhasil mencari jalan ke Tuhan yang satu, yang bisa disapa tiap hari, tanpa menggunakan pesawat telepon bernama Christus.

Agama Nasrani, pikirku, memotong Tuhan seolah itu kueh yang lezat. Tetapi Allah itu utuh, Allah itu selamat.

Di sini saya membaca al Quran, dan kitab itu memiliki nada, di mana saya tenggelam sepenuh tenaga, bagai angin dalam orgel.

Sepertinya, simpati Rilke terhadap Islam berkaitan dengan penolakannya terhadap ajaran Nasrani, yakni trinitas dan kejuruselamatan Kristus sebagai anak Tuhan. Bagaimanapun, simpati itu perlu dicatat sebagai sebuah fenomena yang tidak terlalu sering terjadi dalam sejarah sastra Jerman. Contoh utamanya adalah pendahulu Rilke, yakni Johann Wolfgang von Goethe, yang terbukti dekat sekali dengan agama Islam, khususnya karena ajaran tauhid. Dibandingkan dengan Rilke, Goethe ternyata jauh lebih sungguh-sungguh mempelajari dan menghayati Islam, juga memiliki konsep tentang ketuhanan yang jauh lebih Islami daripada konsep Rilke yang masih akan dibicarakan lebih lanjut. Rilke terkesan “main-main” dengan simpati terhadap Islam. Paling sedikit, ia sering tidak mengelaborasikan pernyataanya. Sebuah contoh: Mengenai malaikat yang menjadi tokoh dalam Duineser Elegien Rilke mengatakan: Malaikat di Elegi-elegi Duino harus dibayangkan sebagai makhluk berjenggot. Mereka bukan malaikat Nasrani, mereka lebih mirip malaikat dalam agama Islam. Keterangan ini menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk mengenai apakah yang sebenarnya diketahui Rilke tentang malaikat dalam agama Islam.

Puisi-puisi Rilke yang kami muatkan di bab-bab berikutnya menunjukkan perubahan formal yang drastis dalam kepenyairan Rilke. Kecuali di soneta-sonetanya, ia hampir tidak lagi menggunakan rima akhir, tidak lagi mengejar rima dalam, juga menjauh dari metrum ketat. Gaya Art Nouveau yang “manis“ ditinggalkannya, dan ia sanggup menemukan gaya yang dalam ilmu sastra Jerman disebut hoher Ton (harfiah: nada tinggi) yang juga terdapat pada puisi Yunani purba serta puisi pujangga Jerman Friedrich Hölderlin (1770–1843) yang sangat dikaguminya. Ini mulai kentara pada puisi di bab “Dua Puisi Tahun 1914“, misalnya pada Die große Nacht (Malam Akbar), dan memuncak pada siklus Duineser Elegien (Elegi-elegi Dunio), yang boleh disebut sebagai karya Rilke paling besar, dan umumnya diakui sebagai salah satu karya paling berarti dalam sejarah sastra dunia di abad ke-20, bahkan segala zaman.

Dalam buku ini, kami sajikan dua elegi dari siklus legendaris itu yang berisikan sepuluh elegi yang cukup panjang. Tentu diharapkan bahwa pada satu saat akan tersedia terjemahan Indonesia yang lengkap dari kesepuluh elegi memesonakan itu. Duineser Elegien mulai ditulis Rilke pada tahun 1912 di Kastil Dunio dekat kota Trieste (Italia) yang saat itu masih menjadi bagian dari kekaisaran Austria-Hongaria. Siklus itu baru rampung pada tahun 1922 ketika Rilke tinggal di Muzot (Swiss), dan terbit pada tahun 1923.

Interpretasi siklus Duineser Elegien merupakan tantangan bagi tiap penafsir, dan puluhan penelitian ilmiah telah menghasilkan puluhan hasil interpretasi yang berbeda. Saat mengomentari karya itu, Rilke sendiri mengakui bahwa: Saya sendiri –tahap demi tahap– baru mulai memahami ruh dari apa yang dikirim kepada saya. Ia memang merasa bahwa ia menuliskan elegi-elegi itu setelah menerima wahyu. Khususnya mengenai “lahirnya“ awal elegi Duino yang pertama:

Andai aku berteriak, ada kah di tatanan malaikat itu

yang berkenan menyimak? Bahkan andai ada

dari mereka berkenan mendekapku ke kalbu:

oleh dahsyat kehadirannya aku kan sirna,

sebab keindahan sekadar awal kengerian […]

Rilke menerangkan, bahwa pada saat itu ia berjalan-jalan di tepi laut dekat Duino, lalu mendengar suara dari badai laut yang meneriakkan teks itu kepadanya. Kata-kata itu langsung ia catat dan secara otomatis ia juga menyusun bait-bait berikutnya sehingga elegi pertama rampung pada hari itu juga.

Para penafsir Duineser Elegien sepakat mengenai tema-tema dasar dari karya yang diwarnai oleh beragam-ragam pesan itu. Elegi-elegi itu dianggap sebagai upaya Rilke untuk memberi makna baru kepada kehidupan manusia modern, terutama berdasarkan keyakinan Rilke bahwa tiada batas antara hidup dan mati, tiada batas antara dunia dan akhirat. Yang ada hanyalah sang keutuhan agung, tempat bermukimnya makhluk yang mengatasi kita: para malaikat. Malaikat itu simbol, yakni simbol kemutlakan, sifat yang perlu dikejar. Ajaran yang cukup kabur itu disampaikan Rilke, sang penerima wahyu, dengan gaya kenabian, tetapi dengan hampir tidak menggunakan “aku liris”. Rilke sepertinya berupaya menciptakan sebuah mitos baru yang bersifat pribadi dengan menjauh dari semua tradisi Barat, baik tradisi Nasrani maupun tradisi filosofi Yunani yang mengedepankan logos atau rasio. Tokoh-tokohnynya adalah para malaikat, para pencinta, dan mereka yang sudah mati. Selain keutuhan sebagai prinsip keberadaan, Rilke menyampaikan sebuah ide atau pesan utama yang lain, yakni keperluan untuk mengiyakan kehidupan, mengiyakan segala sesuatu yang mungkin terjadi kepada manusia. Prinsip pengiyaan ini sangat mengingatkan kita pada filosofi Friedrich Nietzsche, dan merupakan contoh nyata bagi pengaruh Nietzsche atas Rilke yang memang banyak membaca buku-buku filsuf itu.

Dalam elegi pertama –yang terjemahan Indonesianya disajikan dalam buku ini– Rilke membandingkan manusia dengan malaikat. Manusia jauh dari kesempurnaan malaikat, khusunya karena tiada rumah tuk berpijak di dunia tafsiran ini. Di mana saja manusia terancam oleh kefanaannya yang terutama ia rasakan saat bercinta. Rasa sakit selalu berkaitan dengan cinta, tapi penderitaan itu perlu diberi manfaat:

Tidakkah segala derita terpurba

mesti lebih subur bagi kita? Bukankah tiba saatnya

dengan cinta merdekakan diri dari kekasih,

gemetar bertahan: bagai panah yang bertahan pada busur,

agar saat melesat sanggup melebihi diri.

Karena untuk menetap tiada tempat apapun.

Justru derita yang berasal dari cinta yang tak sampai atau putus –berkat intensitas perasaan itu– adalah prasyarat untuk meningkatkan kehidupan, untuk mengabaikan kefanaan. Maka, mereka yang membunuh diri karena sakit cinta tak patut dikutuk, mereka telah berhasil tiba di puncak perasaan. Suara merekalah yang patut didengar, juga dalam rangka membuka diri terhadap maut. Maut dan cinta, itulah yang dirayakan Rilke dalam elegi pertama. Terhadap itu, manusia diharap menjadi lebih peka, juga terhadap suara alam. Sedangkan bagi Tuhan atau konsep keagamaan yang tradisional, tiada tempat lagi. Rilke menuntut santo-santo yang bersikap baru:

Suara dan suara. Dengarkan, kalbuku, gunakan telinga

para santo: seruan dahsyat bangkitkan mereka;

namun mereka –kaum mustahil– tetap berlutut, tak peduli:

begitulah mereka jadi pendengar. Bukan supaya

kau menahan suara Tuhan. Bukan itu!

Dengarkan lah suara angin, warta

yang tak putus-putus, yang tersuling dari sunyi.

Secara tematis, elegi pertama tentu ada kaitan dengan elegi kedelapan yang juga kami sajikan dalam bentuk terjemahan Indonesia. Elegi itu membicarakan nasib manusia sebagai mahkluk yang sadar, yang karena itu senantiasa terpaksa melihat ke masa depan, takut kepada maut, sehingga seluruh kehidupannya adalah keberadaan yang mengarah ke maut. Ini berbeda dengan hewan yang bebas dari maut karena mereka hanya hidup dalam kekinian dan menjadi bagian dari keutuhan. Cuma si anak, para pencinta, atau dia yang menjelang mati saja yang terkadang sanggup melihat Sang Murni. Manusia terpisah dari alam, dari kesejatian, walau ia sanggup berharap untuk menjadi bagian dari keutuhan, untuk kembali ke rahim segalanya. Obsesi manusia untuk berpikir ke depan menjadi takdirnya, sehingga di mana pun manusia tak sanggup merasa di rumah, senantiasa merasa terpaksa untuk berangkat, tiada henti berpamit:

Dan kita: penonton, selalu dan dimanapun

menatap ke, bukan dari semua itu.

Kita luber. Kita menatanya. Ia berkecai.

Kita tata kembali dan kita berkecai sendiri.

Siapakah gerangan yang telah memutarbalikkan kita?

Sehingga kita, dalam apapun yang kita lakukan,

selalu bersikap seolah hendak berangkat? Ibarat

orang yang berdiri di atas bukit penghabisan,

sekali lagi boleh memandang lembahnya,

lalu berpaling, berhenti, tertegun sejenak –,

begitu kita hidup, tiada henti berpamit.

Dalam Duineser Elegien Rilke menyampaikan credonya: manusia perlu menyatu dengan alam, segala jarak dan perbedaan mesti dihapus. Tentu ini mirip konsep unio mystica, juga konsep-konsep kesufian. Cuma, Rilke menginginkan manunggaling kawula dengan alam (universum), bukan dengan gusti atau Tuhan. Pernah ia catat:

Adalah tugas manusia untuk menghafali bumi sementara ini, supaya hakekatnya bangkit dalam diri kita secara tak tampak. Kita adalah lebah-lebah ketaktampakan. Kita mesti menyatu dengan getaran universum, lalu melalui tindakan ruhani jangan cuma mencipta hal-hal ruhani, melainkan –barangkali– bahkan mencipta bintang-bintang baru.

Pemikiran yang melatari Duineser Elegien semacam ini terkesan cukup esoteris, barangkali agak berlebihan atau “romantis”. Namun, dan bagaimana pun, siklus itu merupakan karya sastra luar biasa, sebuah paduan gemilang dari renungan yang kaya dan dalam dengan bahasa puitis yang menakjubkan.

Setelah merampungkan Elegi-elegi Duino, Rilke pada bulan Februari tahun 1922 menghasilkan sebuah siklus lain yang juga merupakan puncak perpuisian dalam bahasa Jerman: Die Sonette an Orpheus (Soneta-soneta kepada Orpheus). Siklus ini terdiri dari 55 soneta yang terbagi dalam dua bagian. Bagi Rilke sendiri, soneta-soneta itu berkaitan dengan pesan Duineser Elegien, dan ia mengaku menulisnya sebagai ucapan terima kasih atas keberhasilan merampungkan elegi-elegi itu. Interpretasi soneta itu dianggap lebih sulit lagi daripada interpretasi siklus sebelumnya, karena bentuk soneta dengan metrum dan rima mengakibatkan munculnya superioritas atau keunggulan bentuk atas isi atau semantika, seperti dikeluhkan berbagai penafsir yang juga merasa terganggu oleh sifat taksa bahasa soneta itu.

Siklus itu dialamatkan kepada Orpheus, tokoh mitologi Yunani yang dianggap pujangga/penyair pertama. Namun, Orpheus sendiri atau tema-tema dari mitos “Orpheus dan Eurydice”, hampir tidak ditampilkan dalam 55 soneta itu. Orpheus digunakan Rilke sebagai lambang puisi dan kesenian pada umumnya, dan dianggapnya sebagai tuan di wilayah kehidupan dan wilayah maut, sebagai juru selamat kosmos. Dengan demikian, ia merayakan kepenyairan sebagai sikap utama manusia yang ingin dan sanggup menuju kesempurnaan.

Dalam buku ini kami menyajikan dua terjemahan Indonesia dari Die Sonette an Orpheus. “Soneta IV” membuktikan kaitan tematis dengan Duineser Elegien. Dalam bait ketiga dan keempat –kedua terset yang mengakhiri soneta ini– Rilke kembali mengangkat tema “keutuhan” dengan memohon kepada benang sutera dalam permadani untuk merasakan diri sebagai salah satu unsur dalam keseluruhan atau keutuhan:

Di permadani sudah terjalin, wahai engkau si benang sutera,

maka jangan salah sangka, tiada ada susah derita

oleh yang kau putuskan: putusan mengada!

Apapun citra yang menyatu denganmu di jiwa, jangan peduli

(meski itu citra detik sengsara hidupmu sendiri),

rasakan keutuhan jalinan megah sang permadani.

Dalam bab terakhir buku ini terkumpul lima puisi Rilke dari tahun 1922–1926. Puisi-puisi yang mulai ditulis Rilke empat tahun sebelum wafat (1926) membuktikan kematangannya sebagai penyair. Mutunya tak kalah dengan Duineser Elegien atau Die Sonette an Orpheus, terkadang bahkan terasa lebih meyakinkan lagi karena tidak terlalu dibebani pesan atau ajaran. Bahasanya semakin padat, sedangkan suasana puisi-puisi itu sering melankolis dan meditatif, misalnya dalam puisi Kepada Musik. Sedangkan puisi berjudul Soneta merupakan sesuatu yang unik dalam perpuisian Rilke yang hampir tidak pernah mengangkat tema yang berkaitan dengan konteks keadaan masyarakat pada zamannya. Kedua kuatrin yang mengawali soneta ini berbunyi sebagai berikut:

Yang baru itu, wahai kawan, bukanlah

mesin-mesin mengusir tangan.

Jangan resah oleh zaman yang berubah,

pemuji “sang baru“, kelak kan terdiam.

Karena Sang Utuh jauh lebih baru

ketimbang kawat dan pencakar langit.

Lihatlah bintang, ia nyala sejak dulu,

dan nyala yang baru kan tamat terbit.

Dari puisi ini terlihat bahwa Rilke ternyata agak skeptis dengan modernitas yang ditentukan oleh teknologi dan materialisme.

Pada tahun-tahun menjelang wafatnya, Rilke cukup menderita. Penyakit leukemianya diiringi oleh rasa nyeri yang pada zaman itu belum bisa diobati. Dalam puisinya Datanglah kau, penghabisan yang rela aku terima, puisi terakhir yang ditulis Rilke (1926), ia membicarakan penderitaannya (nyeri tak berkeselamatan). Ia sadar bahwa maut sudah dekat, rela untuk menyirna, menjadi seorang atau sesuatu yang tak dikenal siapapun.

Datanglah kau, penghabisan yang rela aku terima,

wahai nyeri tak berkeselamatan di sekujur jalinan badan:

Lihatlah! Sebagaimana dulu dalam ruh aku menyala,

kini aku menyala-nyala dalam dirimu; semula lama bertahan

kayu-kayu enggan menyerah kepada api yang kaukobarkan,

tapi kini aku menyusuimu, berkobar menyala dalam dirimu.

Dalam murkamu, murah hati duniawiku

menjelma murka neraka yang tak berasal dari sini.

Begitu murni: Tanpa rencana, merdeka dari masa depan,

telah kudaki kayu sungsang pembakar mayat sang derita,

demikian yakin, bahwa aku, di mana pun tak sudi

membeli bahan masa depan apapun demi jiwa ini,

yang di pusat dalamnya segala bekal membisu.

Masih aku kah itu, yang –tak bisa dikenali– menyala di situ?

Kenangan apa pun tiada kuseret ke dalam kobaran.

O kehidupan, kehidupan: Mengada di luar.

Dan aku menyala berkobaran. Yang mengenal, tiada.


Perihal pandangan hidup atau “kepercayaan” Rilke sebenarnya sudah disinggung dalam komentar mengenai puisinya di atas. Berikutnya kami akan mencoba meringkaskan dan melengkapinya. Harus diakui bahwa perumusan pandangan hidup Rilke bukan sesuatu yang terlalu mudah, karena penyair itu tidak pernah memaparkannya seperti yang dilakukan para filosof yang menggunakan cara rasional atau ilmiah. Rilke menyampaikan renungan atau gagasannya dalam karya susastranya, juga dalam surat-suratnya, tentu secara tak teratur dan tidak selalu secara konsisten. Seorang kritikus pernah menyebutkan Rilke sebagai “pemikir lemah, tapi ahli dialektika yang canggih”. Kiranya, penilaian demikian mengandung kebenaran tertentu.

Rilke hampir tidak pernah mengurus perihal masyarakat atau ekonomi, juga tidak menyibukkan diri dengan ideologi atau politik. Kalaupun ia mengomentari tema politik, ia memperlihatkan sebuah naivitas yang mengejutkan. Ia, misalnya, sempat mengagumi fasisme Itali dan memuji Mussolini sebagai sang arsitek kehendak bangsa Itali. Barangkali ini disebabkan oleh rasa skeptisnya terhadap modernitas Barat yang diwarnai ideologi materialistis. Masalah sosial, terutama kemiskinan yang ia saksikan di kota Paris pada awal abad yang lalu, pernah ia jadikan tema, pernah ia keluhkan, tapi akhirnya ia mendefinisikannya sebagai keadaan dekat Tuhan yang dianugrahi oleh Tuhan.

Sebagai manusia apolitis, Rilke dalam hal kesastraan tentu cenderung pada konsep l’art pour l’art. Manusia, maut, malaikat, kesenian, Tuhan etc., itulah tema-temanya yang ia urus dengan penuh semangat dan sepenuh jiwa. Ia sangat terbuka kepada spiritualitas, dan dalam usia muda sempat merasa dekat dengan agama resmi, dalam hal ini agama Nasrani. Oleh ibunya ia memang dididik menjadi seorang Katolik yang saleh. Saat berkunjung ke Rusia, ia sangat terpesona oleh kehidupan agama kristen-ortodoks sehingga dia dengan takzim dan bergairah mengikuti perayaan paskah di gereja ortodoks. Namun, setelah meresapi filosofi Friedrich Nietzsche –sang pembenci agama Nasrani– Rilke tidak saja menjauh dari agama itu, tetapi mulai menyusun sebuah konsep pribadi tentang Tuhan atau keillahian. Konsep itu ia paparkan secara samar dalam puisinya, di mana kata “tuhan” merupakan kata kunci yang sangat sering digunakannya. Banyak puisinya yang bertemakan “tuhan” menimbulkan kesan seolah-olah Rilke memang seorang pemuja Tuhan yang biasa. Sedangkan dalam bukunya Geschichten vom lieben Gott (Cerita-cerita tentang Tuhan) yang terbit pada tahun 1900 sangat kentara bahwa konsep Rilke tentang Tuhan sama sekali berbeda dari konsep kenasranian yang –misalnya– didasarkan kepada keyakinan bahwa Tuhan adalah Sang Mahakuasa. Dalam cerita-cerita pendek dalam buku tersebut, Rilke menyampaikan bahwa eksistensi Tuhan tergantung dari kehendak dan kesediaan manusia. Ia menulis: Tuhan sedang menjadi. Tuhan adalah karya seni paling purba, keadaannya sudah rapuh. Atau: Manusia telah berkata: Tuhan, jadilah! Kini ia mesti mengupayakan penjadiannya. Melalui kita ia dapat tumbuh …”

Kukisari Tuhan, sang menara purba […], demikian bunyi larik terkenal dari puisi Rilke berjudul Ich lebe mein Leben (Kuhidupi Kehidupanku) yang sudah kami kutip di atas. Rilke memang pengisar Tuhan, namun bukan Tuhan sebagai kenyataan transendental, melainkan sebagai hakekat keillahian dari keanekaan “benda-benda” (fenomena) yang terdapat dalam ruang-jiwa manusia. Oleh sebab itu, bagi Rilke, proses manusia dalam menjadi “matang” adalah mematangnya Tuhan. Dan Tuhan baginya adalah Segalanya, adalah alam semesta. Transendalitas Tuhan ditenggelamkan Rilke dalam lautan “benda-benda”-nya.

Bertolt Brecht, sastrawan marxis dan ateis terkenal itu, pernah menyindir Rilke dengan mengatakan, bahwa konsep Rilke tentang Tuhan bersifat banci. Sindiran ini dapat dipahami kalau menyadari bahwa tuhannya Rilke bukan “pribadi” yang berkehendak, apalagi mencipta dan mengatur. Tuhannya Rilke sekedar ide abstrak, dan dengan demikian konsepnya sebenarnya cenderung ke ateisme. Dalam rangka diskusi dengan kalangan Nasrani, Rilke memang pernah mengatakan dengan kesal dan emosi tinggi: Panggil saja saya ateis!

Namun, Rilke tak pernah dengan serius menyebutkan diri ateis dan tak mungkin akan menerima sebutan itu bagi dirinya. Dalam karya-karyanya, ia membuktikan diri sebagai mistikus atau sufi, dan sama sekali bukan sebagai seorang materialis yang menafikan transendentalitas. Bukankah ia yakin bahwa Duineser Elegien “dibisikkan” kepadanya? Bukankah ia merasa sebagai penerima wahyu? Bersama teman-teman bangsawannya, ia sering mengadakan “rapat spiritistis” dan memanggil ruh-ruh mereka yang mati. Yakinlah ia bahwa ia didatangi ruh-ruh itu. Pernah ia ceritakan bahwa pada satu malam ia melihat seorang laki-laki berpakaian kuno duduk di kamarnya yang tiba-tiba menghilang begitu saja setelah “mentransfer” berbagai puisi ke benak Rilke.

Kalimat kunci yang telah kami kutip di atas, yakni tiada batas antara hidup dan mati, tiada batas antara dunia dan akhirat; yang ada hanyalah sang keutuhan agung kiranya merupakan inti agama pribadi yang telah Rilke kembangkan, di samping prinsip pengiyaan kehidupan yang ia kedepankan dalam Duineser Elegien. Barangkali Rilke dapat disebut sebagai “sufi tak bertuhan”, walaupun istilah seperti itu kurang tepat juga. Seandainya ada kebenaran dalam istilah itu, Rilke pada dasarnya dapat dihubungkan dengan ajaran agama budha (theravada), dan ternyata ada kalangan Budha yang melihat kaitan antara karya-karya Rilke dengan agama mereka.

Bagaimana pun, barangkali kita tidak perlu terlalu obsesif dalam merumuskan atau mendefiniskan “agamanya” Rilke. Lebih baik kita mendekati dia sebagai seniman bahasa yang menghasilkan sebuah ouevre yang maha besar, sekaligus sebagai perenung yang menawarkan kepada kita ratusan ide atau pikiran menarik yang akan memperkaya kita.


Selama bulan-bulan terakhir dalam kehidupannya, Rilke tinggal di kastil Muzot di Swiss. Ia tetap sakit dan cukup menderita. Pada awal bulan Desember, saat keadaan semakin buruk, ia dibawa ke sanatorium di Vamont. Di situ ia meninggal dunia pada tanggal 29 Desember 1926. Tiga hari kemudian –sesuai dengan permintaanya– ia dikubur di desa Raron (Swiss). Dia dimakamkan di kuburan Katolik dekat gereja desa, namun letaknya di pinggiran areal kuburan itu. Saat itu, izin hanya diberikan untuk posisi pinggiran, tidak boleh di tengah atau tempat terhormat karena agama Rilke “tak jelas”. Banyak dari para peziarah ke makam Rilke di zaman sekarang tidak mengetahui perihal aturan/larangan aneh itu.

Pada batu nisannya tertulis kalimat legendaris yang sengaja Rilke susun untuk diukir di situ. Tentu, kalimat atau puisi itu pun mengalami banyak tafsiran. Kata Rose (mawar) umumnya dianggap berkaitan dengan mawar sebagai simbol unio mystica dalam mistik Nasrani. Sedangkan kata terakhir Lider pada dasarnya punya dua makna, yakni “kelopak” dan “lagu/puisi”. Menurut interpretasi kami sendiri, inti kalimat ini menandakan relanya Rilke untuk menyirna, namun tetap mengada, yaitu dalam bentuk telah menyatu dengan sang keutuhan, yang berarti melepaskan sang Aku. Teks asli Jerman dan terjemahan Indonesianya mengakhiri pengantar ini:

Rose, oh reiner Widerspruch, Lust, Niemandes Schlaf zu sein unter soviel Lidern.

Mawar, wahai pertentangan sejati, hasrat tuk menjelma kelelapan yang tak dimiliki siapapun di bawah begitu banyak kelopak, begitu banyak puisi.

(Bonn, Januari 2014)

Kepustakaan

Guardini, Romano. 1953. Rainer Maria Rilkes Deutung des Daseins. Eine Interpretation der Duineser Elegien, München 1953

Gross, Ahmad. 2002. Rilke und der Islam, Band 12 der Schriftenreihe der Gesellschaft muslimischer Geistes-und Sozialwissenschaftler e.V., Verlag GMSG.

Engel, Manfred/ Lauterbach, Dorothea (Hrsg.). 2004. Rilke Handbuch. Leben — Werk — Wirkung. Stuttgart/Weimar.

Hecker, Hellmut. 2007, Buddhistischer Umgang mit Rilke — Eine existentielle Suche, Stammbach.

Holthusen, Hans Egon. 1958. Rilke, Hamburg

Martens, Gunter/Post-Martens, Annemarie. 2008. Rainer Maria Rilke. Reinbek.

Rilke, Rainer Maria. 1996. Werke. Kommentierte Ausgabe in vier Bänden. (Hg. v. Manfred Engel u.a.), Frankfurt am Main.

Schiwy, Günther. 2006. Rilke und die Religion. Frankfurt am Main.

Rainer Maria Rilke: Biografi Singkat

1875

· 4 Desember, Rilke lahir di Praha. Ayahnya Josef Rilke, seorang pegawai jawatan kereta api, dan ibunya Sophie. Kini Praha adakah ibu kota Republik Ceko, pada masa itu Praha termasuk wilayah kekaisaran Austria-Hongaria. Rilke adalah penutur asli bahasa Jerman, tapi ia juga menguasai bahasa Ceko. Keluarga Rilke beragama Katolik.

1882–1884

· Rilke bersekolah di Sekolah Dasar katolik di Praha.

1886

· Orang tua Rilke berpisah dan ia tinggal bersama ibunya.

· Masuk Sekolah Menengah Kemiliteran di St. Pölten (Austria).

1891

· Berhenti bersekolah di St. Pölten. Kesehatan Rilke yang terganggu tidak memungkinkannya berkarier di bidang kemiliteran.

· Masuk Sekolah Perdagangan di Linz (Austria).

1892

· Tidak menamatkan pendidikan di Linz. Kembali ke Praha, mengambil les privat.

1894

· Kumpulan puisi Leben und Lieder, buku Rilke yang pertama, terbit.

1895

· Tamat Sekolah Menengah Atas, Rilke mendaftarkan diri di Universitas Praha, Jurusan Filosofi dan Sejarah Seni.

1896

· Rilke pindah kuliah ke Jurusan Hukum.

· Dramanya Jetzt und in der Stunde unseres Todes dipentaskan di Praha.

· Pindah ke München (Jerman) untuk kuliah di bidang sejarah seni dan estetika. (Rilke tak pernah menamatkan kuliah apapun.)

1897

· Rilke melakukan perjalanan ke Italia (Arco dan Venezia) dan berkenalan dengan Lou Andreas Salomé yang selama beberapa tahun akan menjadi kekasihnya (kemudian sahabatnya yang terbaik).

· Pindah ke Berlin, Rilke berkenalan dengan sastrawan Jerman Stefan George dan Gerhart Hauptmann.

1898

· Rilke melakukan perjalanan ke Itali (Arco dan Florence), lalu ke Hamburg dan Worpswede, kota kecil di Jerman-Utara yang saat itu menjadi pusat seni rupa dan seni lukis modern.

1899

· Melakukan perjalanan ke Arco, Praha dan Wina. Di sana Rilke bertemu dengan sastrawan Arthur Schnitzler dan Hugo von Hofmannsthal.

· Melakukan perjalanan ke Rusia bersama Lou Andreas Salomé dan suaminya. Di sana ia bertemu dengan pelukis Rusia Leonid Pasternak dan sastrawan besar Leo Tolstoy.

· Merampungkan novel pendek Die Weise von Liebe und Tod des Cornets Christoph Rilke. Buku ini, setelah terbit tahun 1906, menjadi bestseller.

1900

· Pergi ke Rusia bersama Lou Andreas Salomé untuk kedua kalinya.

· Menjadi tamu pelukis Heinrich Vogeler di Worpswede dan di sana ia berkenalan dengan pelukis Paula Modersohn-Becker serta perupa Clara Westhoff yang kemudian menjadi isterinya.

1901

· Rilke mengunjungi ibunya yang tinggal di Arco (Italia).

· Pindah ke Worpswede dan menikah dengan Clara Westhoff. Ruth, anak mereka, lahir pada bulan Desember.

1902

· Pada bulan Agustus, Rilke pindah ke Paris. Sejak itu sering hidup terpisah dari isteri dan anaknya, namun tidak pernah bercerai secara resmi dengan istrinya yang kemudian lebih berlaku sebagai sahabatnya. Di Paris, Rilke berkenalan dengan Auguste Rodin, seorang perupa besar Perancis.

· Kumpulan puisi Das Buch der Bilder terbit.

1903

Rilke melakukan perjalanan ke Viareggio (Italia). Di musim panas ia berdiam di Worpswede dan akhir tahun di Roma. Bukunya tentang Rodin terbit.

1904

· Melakukan perjalanan dari Roma ke Swedia lewat Kopenhagen (Denmark).

· Pada bulan Desember tinggal di rumah mertuanya di Oberneuland dekat kota Bremen bersama isteri dan anaknya (sampai Februari 1905).

1905

· Melakukan perjalanan ke berbagai kota di Jerman. Di Göttingen ia bertemu dengan kekasihnya Lou.

· Mulai September, Rilke tinggal di rumah Rodin di Paris.

· Ia berceramah tentang Rodin dan seni rupa modern di Köln, Dresden, Praha, dan Leipzig.

· Kumpulan puisi yang kedua, Das Stundenbuch, terbit. Buku puisi yang didedikasikannya kepada Lou ini membuatnya sangat terkenal.

1906

· Dari Januari sampai Mei Rilke menjadi sekretaris pribadi Rodin di Paris. Pada bulan Maret, ayahnya meninggal.

· Rilke melakukan perjalanan ke Belgia, Berlin, dan Capri (Italia).

1907

· Rilke berceramah di Praha, Breslau, dan Wina.

· Melakukan perjalanan ke Venecia.

· Membangun hubungan cinta dengan Mimi Romanelli, perempuan Italia.

· Menerbitkan kumpulan puisi Neue Gedichte.

· Hubungan dengan Rodin pecah.

1908

· Melawat ke Berlin, München dan Roma.

· Mulai bulan Mei tinggal di Paris kembali.

1909

· Melawat ke Provence (Perancis-Selatan), antara lain ke Nizza dan Avignon.

· Berkenalan dengan perempuan bangsawan Marie von Thurn und Taxis yang akan menjadi maesenas dan sahabat keibuannya.

1910

· Melakukan perjalanan ke Roma, Duino, dan Venezia.

· Berkenalan dengan sastrawan Perancis André Gide di Paris.

· Mengunjungi keluarganya di Oberneuland pada musim panas.

· Melakukan perjalanan ke Afrika Utara, Algier dan Tunis.

· Die Aufzeichnungen des Malte Lauruds Brigge, novelnya yang otobiografis terbit dan menjadi bestseller.

1911

· Melakukan perjalanan ke Mesir.

· Melakukan perjalanan naik mobil dari Paris ke Italia bersama Marie von Thurn und Taxis pada akhir tahun. Di kastil sang maesenas itu, di Duino, ia menjadi tamu hingga bulan Mei 1912. Di situ Rilke mulai menuliskan Elegi-elegi Dunio yang legendaris itu.

1912

· Menghabiskan musim panas di Venezia.

· Pada bulan November pergi ke Spanyol (Toledo, Madrid, Sevilla, dan Ronda) hingga Februari 1913.

1913

· Tinggal di Paris selama beberapa bulan.

· Berhubungan cinta dengan bangsawati Magda von Hattingberg (Benvenuta). Surat-menyuratnya dengan Madga terbit beberapa tahun yang lalu dalam bentuk buku setebal 200 halaman.

· Pada bulan Oktober menghadiri Kongres Psikoanalisa di München bersama Lou dan berkenalan dengan Sigmund Freud.

1914

· Perang Dunia Pertama meletus. Rilke mulai tinggal di München.

· Melakukan perjalanan ke Duino, Milan, dan Paris.

1915

  • Rilke ditarik ke dinas kemiliteran dan ditempatkan di Bohemia. Dengan bantuan kenalannya yang berpengaruh ia berhasil dicutikan.
  • Tinggal di tempat Marie von Thurn und Taxis, di München.
  • Mengunjungi Sigmund Freud.

1916

  • Mulai Januari, Rilke diwajibkan bekerja sebagai sekretaris di Arsip Perang Kekaisaran Austria-Hongaria di Wina selama beberapa bulan, akhirnya dibebastugaskan.

1917

  • Sempat tinggal di rumah seorang maesenas di Westfalia. Selepas perang Rilke kembali ke München.

1918

  • Di München ia mengalami suasana revolusi sosial. Pada awalnya ia setuju, namun kemudian menolaknya.

1919

  • Bertemu Lou di München.
  • Berkeliling Swiss untuk acara ceramah.
  • Pada bulan Desember meninggalkan Jerman dan mulai tinggal di Locarno (Swiss) hingga Februari 1920.

1920

  • Melakukan perjalanan ke Swiss dan Itali, juga sempat ke Paris.
  • Sejak November tinggal di kastil seorang maesenas dekat Zurich sampai bulan Mei 1921

1921

  • Pindah dan bermukin di kastil Muzot (Swiss) sebagai tamu seorang maesenas. Di kastil itu ia menetap sampai akhir hidupnya.

1922

  • Mengurung diri di kastil Muzot untuk merampungkan Elegi-elegi Duino dan Soneta-soneta kepada Orpheus, dua buku puisi yang menjadi master piece-nya.

1923

  • Elegi-elegi Duino dan Soneta-soneta kepada Orpheus terbit.
  • Melakukan perjalanan ke Paris, di mana ia disambut dan dielu-elukan sebagai pujangga besar.
  • Kesehatan Rilke mulai menurun, dan pada bulan Desember ia diobati di sebuah sanatorium di Valmont (Swiss).

1924

  • Rilke mulai sakit-sakitan. Upaya pengobatan di berbagai tempat kurang berhasil. Ternyata ia menderita sejenis leukemia yang tak tersembuhkan.
  • Clara, isterinya, datang mengunjunginya.
  • Berkenalan dengan penyair Perancis Paul Valéry. Rilke kemudian menerjemahkan puisi-puisinya.

1925

  • Kembali ke Paris untuk terakhir kalinya. Ia tinggal di sana selama beberapa bulan.
  • Bulan Desember ia kembali diobati di sanatorium Valmont (sampai bulan Mei 1926).

1926

  • Pada bulan Juni ia kembali ke kastil Muzot.
  • Karena semakin lemah dan menderita nyeri akibat leukemia, pada bulan Desember ia dibawa lagi ke sanatorium Vamont. Di situ Rainer Maria Rilke, pada umur 51 tahun, meninggal dunia pada tanggal 29 Desember. Tiga hari kemudian ia dikubur di desa Raron, Swiss. Kuburannya sampai sekarang menjadi tempat ziarah bagi pengagum Rilke yang berasal dari mancanegara.

메타데이터
post_id
b5ca029d282c
slug
menuju-keutuhan-agung-rainer-maria-rilke-b5ca029d282c
url
https://medium.com/@paktrum/menuju-keutuhan-agung-rainer-maria-rilke-b5ca029d282c
canonical_url
https://medium.com/@paktrum/menuju-keutuhan-agung-rainer-maria-rilke-b5ca029d282c
author_url
https://medium.com/@paktrum
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13