← Back to list

(Sedap (Malam) Kemenangan)

Izinkan aku untuk menceritakan sedikit tentang cinta ku dengan malam kemenanganku.

regtards · 2026-04-19 13:52 · 1 claps · 3.2 min read
#bunga #lebaran #cinta
Open on Medium ↗

(Sedap (Malam) Kemenangan)

Izinkan aku untuk menceritakan sedikit tentang cinta ku dengan malam kemenanganku.

Bersyukur aku untuk bisa kembali ke bulan suci Ramadan ini, walaupun memang diriku tidak pernah se-relijius itu tapi nuansa bulan Ramadan ini memang magis rasanya untukku. Itupun kurasa dengan keadaan di rumah, entah bagaimana keadaan di rumah ini rasanya pun “berbeda”. Tentu, bukan dengan makna yang buruk tapi sesuatu yang menyenangakan juga menenangkan rasanya di hati.

Sebagai gambaran awal, rumah selalu terasa penuh saat bulan puasa ini. Nampaknya akibat dari seringnya kita berada dirumah ketika waktu buka tiba. Walaupun tak pernah ada aturan atau paksaan untuk harus berbuka di rumah. Namun, rasa-rasanya berbuka tidak lengkap saja apabila tidak dilakukan di rumah. Itupun tetap apa yang kurasakan saat waktu merantau ini, kuhitung-hitung sudah hampir tiga kali aku kembali ke rumah dalam jangka waktu tiga minggu di bulan Ramadan ini — hanya untuk hadir dan buka di rumah, walaupun rasanya seperti mengkhianati akademiku hehe.

Tapi dari yang dibahas sebelumnya, menurutku hal yang paling memorable adalah momen memasuki 10 (sepuluh) hari terakhir dari bulan puasa. Menurutku rasanya seperti sebuah fenomena endemik di seluruh belahan bumi ini, dimana secara seksama seluruh rumah tangga melakukan bersih-bersih atau deep-cleaning.

Itupun juga terjadi di rumahku ini, sebenarnya tidak janggal untuk bapakku membersihkan rumah karena ia pun sering untuk melakukannya di hari-hari biasa, tapi menjadi janggal ketika secara mendadak beliau mengelap kaca yang bahkan tidak kotor, atau merogoh-rogoh pojok langit-langit yang bahkan debunya hampir nihil. Tak lupa juga tiba-tiba ia membenahi tumpukan bukunya yang kita tahu sudah dibaca olehnya semua dan jarang olehnya untuk disentuh lagi.

Lain lagi dengan ibuku, biasanya yang ia persiapkan untuk menyambut hari-hari terakhir ini adalah menyiapkan dekorasi-dekorasi yang cocok untuk lebaran dan menyesuaikan tema outfit yang akan dikenakan saat lebaran nanti. Tapi, satu hal yang paling kusuka dari kebiasan men-decor ini adalah bagaimana kebiasaannya untuk membeli beberapa kuntum bunga dan diletakkan olehnya di pojok-pojok rumah.

Beragam jenis bunga sering ia letakkan di seluruh rumah, dari yang jenisnya kutahu seperti Bunga Krisan (Chrysanthemum), Bunga Aster, dan bunga-bunga kecil seperti Baby’s Breath — sejujurnya aku tidak tahu ini penyebutan yang benar atau tidak — sampai jenis bunga yang aku tak pernah tau apa namanya itu, tetapi dari seluruh bunga yang sering diletakkan terdapat satu bunga yang selalu kusuka wanginya, pun nampaknya menjadi bunga favorit ibuku pula setiap menuju lebaran.

Namanya, Sedap Malam. Sejak awal aku merasa ini nama yang indah pun janggal karena entah mengapa menurutku nama itu selalu melekat kepada satu lagu dangdut. Tapi, semenjak dewasa dan mulai menyukai wanginya yang amat semerbak itu aku merasa bunga ini menjadi ladang nostalgia bagi ku, atau paling tidak menjadi bunga yang mengingatkan ku dengan Ibu. Karena entah kenapa bunga ini bisa menjadi amat semerbak dan walaupun hanya diletakkan di beberapa titik saja, wanginya bisa tersebar ke penghujung rumah ku yang tak begitu besar ini.

Namun, sampai beberapa lebaran kemarin sekitar 1–2 lebaran lalu, kebiasaan ini mulai jarang mungkin ada alasan karena aku dan kakakku jarang dirumah ketika ramadan kemarin — aku tidak bisa sesering itu untuk kembali ke rumah dan kakakku sedang persiapan untuk programnya ke Eropa, sehingga tidak ada yang membantunya membersihkan rumah sehingga orang tua ku hanya berfokus kepada membersihkan rumah dan tidak berniat untuk mendekor sebegitunya.

(Beberapa Bunga yang Kakakku bawa dari Kantornya)

(Beberapa Bunga yang Kakakku bawa dari Kantornya)

Sampai kemarin, setelah pulang dari kantornya kakakku membawakan beberapa bunga yang warnanya cukup indah-indah, dan ia taruh di dalam wadah dan diletakkannya di ruang tengah. Dan, sungguh bagiku langsung terasa nuansa menuju lebaran itu, nampaknya itupun juga apa yang ibuku rasa saat melihat itu sehingga tak lama ia pun membeli beberapa bunga untuk melengkapi bunga-bunga yang kakakku bawa itu.

Dan, tentu bunga-bunga yang ia beli tak jauh dari Sedap Malam, atau malahan sejauh yang kulihat hanya Sedap Malam yang ia beli. Menurutku, tidak pernah kukecewa apabila hanya bunga itu yang ia beli. Setelahnya, langsung dengan telaten ia menyiapkan bunga-bunga itu, ada tangkainya yang sedikit ia potong untuk bisa ditancapkan dengan medium tanamnya — sejujurnya aku tidak tau apa namanya benda itu yang layaknya sebuah sponge hijau — dan setelah rampung segera ia letakkan di ruang tengah, dan ruang tamu.

(Sedap Malam yang disiapkan oleh Ibu)

(Sedap Malam yang disiapkan oleh Ibu)

Dengan sekejap, magisnya aroma Sedap Malam ini segera menyelusuri segala sudut rumah, dan tak bisa kuhiraukan bagaimana aku jatuh cinta dengan wanginya bunga ini. Dengan bentuknya yang unik dan wanginya yang entah mengapa begitu “berbeda” membuatku tak bisa tidak jatuh cinta padanya. Sungguh, kuharap bisa terus menghirupnya bunga itu, terutama yang disiapkan oleh Ibu.


메타데이터
post_id
b5f161c2e5e1
slug
sedap-malam-kemenangan-b5f161c2e5e1
url
https://medium.com/@alg99866/sedap-malam-kemenangan-b5f161c2e5e1
canonical_url
https://medium.com/@alg99866/sedap-malam-kemenangan-b5f161c2e5e1
author_url
https://medium.com/@alg99866
status
ok
fetched_at
2026-06-22 19:40:15