Sang Puspa Beracun
Aku tidak tahu, apakah yang membuatmu beranggapan bahwa bunga ini mirip denganku? Kau hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku waktu itu.
Sang Puspa Beracun

Azalea dan Rembulan
Kau tahu, sejujurnya, aku tidak pernah melihat bunga ini seumur hidupku — Azalea. Itu sungguh nama yang indah, pikirku, tepat setelah kau mengatakannya. Aku tidak tahu, apakah yang membuatmu beranggapan bahwa bunga ini mirip denganku? Kau hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku waktu itu.
“Carilah,” katamu.
Aku segera mencarinya melalui perambahan internet. Sekali saja melihatnya, dapat kusimpulkan bahwa bunga itu sangat cantik. Namun dari puluhan bunga nan indah, mengapa kau memilih Azalea? Aku masih tidak paham?
Tiba-tiba saja, senyuman menyebalkan mengembang di wajahmu. Aku memutar bola mata, ah, sialan, cengiran itu lagi. Pasti maknanya yang bukan-bukan.
Entah dengan baik hati atau meledek total, kau akhirnya menarik napas dan menjelaskan kepadaku. Bunga itu, sesungguhnya, rapuh. Penampilannya anggun dan menawan, sementara kelopaknya lembut. Sekali genggam, bunga itu akan hancur. Azalea diwarnai Tuhan dengan warna-warna yang indah. Di bawah langit nan cerah, mata akan segera tertuju padanya. Mencolok dan sungguh menarik, ucapmu.
Aku tersipu, tetapi berusaha menyembunyikannya. Kau menyengir, memamerkan barisan gigi putihmu. Ah, entah mengapa, kau senang sekali membuatku malu. Tanganmu membelai puncak kepalaku, “Kau tahu, dulu seseorang memberikan bunga itu sebagai hadiah untukku. Dalam budaya asalnya, Azalea melambangkan keindahan, kebahagiaan, dan kesuburan. Sama seperti dirimu di mataku. Ah, dia juga sangat rapuh sepertimu. Butuh perawatan khusus untuk menjaganya agar tetap hidup.”
Kurasa, wajahku semakin memerah dan aku tidak kuasa lagi menyembunyikannya. “Satu lagi, aku lupa,” tiba-tiba, seringai menyebalkan kembali menghiasi wajahmu, “aku lupa bilang kalau keseluruhan bunga itu beracun, termasuk madunya. Sama sepertimu.” Aku melotot mendengarnya sementara kau terbahak.
Dasar, cibirku sembari bersiap memukul lenganmu. Namun tiba-tiba, ciuman lembut mendarat di pipi kananku. Mataku melebar.
“Sudahlah, toh, benar ‘kan?” bisikmu.
메타데이터
- post_id
- b5f165ac9985
- slug
- sang-puspa-beracun-b5f165ac9985
- url
- https://medium.com/@nocturnazalea/sang-puspa-beracun-b5f165ac9985
- canonical_url
- https://medium.com/@nocturnazalea/sang-puspa-beracun-b5f165ac9985
- author_url
- https://medium.com/@nocturnazalea
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 11:08:55