← Back to list

Masih Bertanya

“Kapan aku merasa bahwa aku dicintai?”

Athana · 2025-12-15 10:17 · 1 claps · 3.0 min read
#love #when #asking-questions #topics #self
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Masih Bertanya

Photo by benjamin lehman on Unsplash

Photo by benjamin lehman on Unsplash

“Kapan aku merasa bahwa aku dicintai?”

​Pertanyaan yang cukup sering muncul tanpa aba-aba.​ Pertanyaan itu tidak selalu muncul saat aku sendirian atau di malam hari — kadang justru datang di tengah keramaian dunia ini. Di mana semua orang sedang tertawa, berbincang, dan tampak begitu hidup. Di situasi indah seperti itu, aku malah membatin — mempertanyakan diriku sendiri.

Apakah aku benar-benar diinginkan oleh mereka atau hanya sebatas toleransi saja?

Sebagian besar yang ada dalam diriku lebih percaya bahwa banyak orang yang tak menyukaiku. Bahkan, mungkin sampai membenci diriku. Rasa itu terus tumbuh secara perlahan, bukan karena kejadian besar, melainkan potongan-potongan kecil yang kulihat semakin menumpuk. Tatapan tanpa rasa, nada yang terkadang berubah menjadi ganjal, tingkah mereka. Entah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana — tapi di situ, aku langsung menyimpulkan, “Aku hanyalah beban bagi mereka.”

Orang yang hanya bisa minta tolong.

Tak bisa diandalkan.

​Pengganggu.

Menyusahkan.

Tak bisa diharapkan.

Kata-kata itu memang tak pernah kudengar dari mereka. Justru hal-hal itu malah lebih sering lahir di kepalaku sendiri. Aku memang berusaha menyangkalnya, memperjelasnya dengan posisiku di sana. Namun entah kenapa, pemikiran negatif itu lebih masuk akal bagiku dibandingkan dengan kemungkinan aku diterima apa adanya — bahkan oleh diriku sendiri.

Aku sering merasa gagal menjadi seseorang yang “cukup”. Aku tidak cukup kuat, tidak cukup mandiri, tidak cukup pemberani, tidak cukup berguna. Melihat orang lain yang bisa berdiri sendiri dan bahkan membantu orang lain untuk bangkit itu — jujur saja sedikit menyayat hatiku. Mengingat fakta bahwa aku terus-menerus memerlukan bantuan dari mereka untuk bangkit. Dari situlah, rasa bersalahku pada mereka terus muncul.

​ Namun di saat yang sama, aku justru dibingungkan oleh sikap mereka dan bahkan oleh diriku sendiri.

Aku selalu merasa bahwa ada orang-orang yang menaruh perhatian lebih padaku. Mereka merangkulku, menemaniku, mendengarkan ceritaku, bahkan membantuku dalam hal yang tak bisa kulakukan sendiri. Mereka tidak kelihatan keberatan, meski ada raut lelah yang sesekali lolos dari wajah mereka. Mereka tidak menampakkan rasa lelah mereka padaku, setidaknya di depanku.

Terkadang, aku merasa senang akan hal itu. Rasanya hangat, nyaman, sampai aku sama sekali tidak ingin melepaskannya. Mungkin, mereka itu benar-benar peduli padaku. Tapi, perasaan itu tak selalu berlangsung lama. Setelahnya, selalu muncul kebingungan lain.

Kenapa mereka sebaik ini padaku?

Apakah tidak apa-apa jika aku menerima semua ini?

Tidakkah mereka akan lelah dengan diriku ini?

​Aku sering merasa canggung ketika pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi kepalaku. Di satu sisi, aku ingin menikmati kenyamanan yang mereka berikan — rasanya hangat, menenangkan, dan membuatku ingin bertahan di sana lebih lama. Namun di sisi lain, ada kewaspadaan yang tak pernah benar-benar pergi. Takut jika kenyamanan itu hanya sementara. Takut jika suatu hari mereka lelah, atau sadar bahwa aku tak sebanding dengan kebaikan yang mereka berikan.

Karena rasa takut itulah, aku mulai mewajarkan banyak hal. Aku menoleransi ketidaknyamanan, mengiyakan, mengalah, dan memilih diam, hanya karena aku takut kehilangan perhatian itu. Aku takut jika aku menolak atau menetapkan batasan, mereka akan pergi. Dan jika itu terjadi, aku akan semakin yakin bahwa aku memang tidak layak dipertahankan.

Aku sadar ini bukan pola yang sehat. Tapi aku juga tahu, saat aku belum yakin pada nilai diriku sendiri, perhatian sekecil apa pun terasa seperti sesuatu yang harus kugenggam erat — bahkan jika genggaman itu perlahan menyakitiku.

​ Kadang aku bertanya-tanya, apakah rasa dicintai seharusnya membuat seseorang merasa aman? Karena yang kurasakan justru sebaliknya. Aku merasa cemas. Aku merasa harus terus “layak”, terus berguna, jangan merepotkan yang lain. Seolah-olah kasih sayang itu bersyarat, dan aku harus bekerja keras agar tidak kehilangannya.

Aku ingin percaya bahwa dicintai itu tidak selalu harus sempurna. Tapi anehnya, hati ini malah berkata lain. Diri ini dengan mudahnya berusaha membuat orang lain percaya akan hal itu — padahal dirinya sendiri sedang kesulitan untuk memercayainya.

Mungkin aku sendiri masih belajar membedakan hal yang namanya dicintai itu. Antara rasa peduli yang tulus dan ketakutan ditinggalkan. Aku masih belum paham semua itu, hingga aku sendiri tersesat di antara rasa syukur dan rasa bersalah.

​Jadi, jika sekarang aku berkata, “Tolong teruslah seperti ini. Teruslah perhatikan diriku.”

Itu bukan karena aku ingin selalu bergantung. Tapi karena aku ingin kalian menemani dan membimbingku yang masih belajar percaya akan hal ini. Percaya bahwa aku bisa diterima, bahkan jika diriku belum utuh sepenuhnya.

​ Mungkin, di masa mendatang, pertanyaan yang sama akan muncul kembali.

”Kapan aku merasa bahwa aku dicintai?”

Mungkin di saat itu terjadi aku bisa menjawab, “Aku selalu dicintai oleh orang-orang. Kapan pun dan di mana pun.”

Menyatakan bahwa aku layak dicintai tanpa mengorbankan diriku sendiri.


메타데이터
post_id
b623e6d363fd
slug
masih-bertanya-b623e6d363fd
url
https://medium.com/@athna_yvn/masih-bertanya-b623e6d363fd
canonical_url
https://medium.com/@athna_yvn/masih-bertanya-b623e6d363fd
author_url
https://medium.com/@athna_yvn
status
ok
fetched_at
2026-06-22 00:24:50