Pilihanmu, Bukan Pilihanmu
[259] Coba cek lagi seberapa kamu didikte oleh ponselmu

Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash
Pilihanmu, Bukan Pilihanmu
[259] Coba cek lagi seberapa kamu didikte oleh ponselmu
Pernahkah kamu pikirkan, seberapa banyak dari apa yang kamu sukai, kamu yakini, dan kamu beli hari ini adalah murni hasil pemikiranmu sendiri?
Coba ingat-ingat lagi rutinitasmu biasanya.
Kamu bangun di pagi hari, mengambil ponsel, dan membuka aplikasi marketplace. Ada deretan barang yang kebetulan sedang diskon.
Kebetulan juga, barang-barang itu adalah hal yang baru saja dibicarakan bersama rekan kerjamu kemarin sore. Kamu merasa mendapatkan penawaran yang bagus, lalu menekan tombol beli.
Kamu merasa memegang kendali penuh atas keputusan itu.
Tapi apakah benar begitu?
Kenyataannya, manusia hidup di era di mana ilusi pilihan atau illusion of choice adalah komoditas utama. Konsep ini bukan hal baru.
Puluhan tahun lalu, psikolog bernama B.F. Skinner sudah merumuskan teori ***operant conditioning***.
Sebuah metode di mana perilaku bisa dibentuk melalui penguatan positif atau negatif.
Dulu, subjek eksperimennya adalah tikus dan merpati di dalam laboratorium. Sekarang, subjek eksperimennya adalah manusia.
Imajinasikan layar ponselmu seperti sebuah mesin slot kasino mini.
Setiap kali kamu melakukan refresh pada feed media sosial, ada tuas mesin virtual yang sedang ditarik.
Kadang kamu mendapatkan konten yang membosankan. Kadang kamu melihat konten yang memancing amarah.
Tapi sesekali, kamu akan menemukan satu video yang sangat lucu atau sangat sesuai dengan isi kepalamu.
.
Lonjakan dopamin kecil terjadi di otak. Ada rasa senang sesaat. Dan tanpa sadar, swipe pada layar itu berlanjut selama berjam-jam.
Algoritma di balik semua aplikasi modern dirancang dengan satu tujuan yang sama: menahan perhatian penggunanya selama mungkin.
Perhatian adalah uang.
Semakin lama mata tertuju pada layar, semakin banyak iklan yang bisa disisipkan, dan semakin tebal kantong perusahaan teknologi tersebut.
Fenomena ini sering disebut sebagai ***algorithmic determinism***.
Sebuah kondisi di mana mesin tidak lagi hanya menebak apa yang kamu suka, tapi perlahan-lahan mulai membentuk apa yang kamu suka.
.
Mari ambil contoh platform streaming film, seperti Netflix.
Kamu mungkin merasa telah memilih film yang ditonton pada malam hari secara mandiri.
Padahal, platform tersebut sudah menyaring ribuan judul, mengatur desain poster yang paling memancing emosi spesifik dari kamu, dan menaruhnya di baris paling atas.
Pilihan yang ada sebenarnya sudah dibatasi sejak awal pada apa yang algoritma anggap akan membuat kamu terus menonton.
Lalu, bagaimana dengan opini dan cara pandang terhadap isu-isu di dunia nyata?
Ini jauh, jauh, lebih mengerikan.
Ketika seseorang terus-menerus disuapi oleh konten yang menyetujui pendapatnya, orang tersebut sedang dimasukkan ke dalam echo chamber atau ruang gema.
Algoritma membaca bahwa ada interaksi, amarah, atau rentetan komentar pada isu politik tertentu. Maka, feed-nya akan dipenuhi oleh konten sejenis tanpa henti.
.
Perlahan tapi pasti, dunia terasa sempit.
Timbul perasaan bahwa semua kelompok lain memusuhi kelompokmu, atau bahwa opini pribadimu adalah kebenaran mutlak yang diakui mayoritas.
Padahal, yang terjadi hanyalah algoritma sedang memancing emosi agar aplikasi tersebut tidak pernah ditutup.
Opini yang kamu pertahankan mati-matian di kolom komentar, belum tentu murni berasal dari nalar pribadimu.
Seringkali, itu adalah benih kebencian atau kecemasan yang sengaja ditanamkan oleh algoritma demi mendongkrak metrik interaksi.
Manusia modern selalu mengagungkan kebebasan dan kehendak bebas.
Tapi di saat yang bersamaan, rela menyerahkan kendali atas isi kepalanya kepada algoritma yang tidak memiliki kehidupan.
Apakah ada cara untuk lepas dari jerat ini? Tentu ada.
.
Pertama, kamu harus sadar bahwa permainan ini sedang berlangsung di depan mata.
Setiap kali ada dorongan kuat untuk membeli barang yang tidak penting, atau hasrat menggebu untuk ikut campur dalam keributan di media sosial, berhentilah sejenak.
Tarik napas panjang.
Tanya ini pada dirimu sendiri: “Apakah ini benar-benar sebuah kebutuhan nyata, atau hanya sekadar reaksi emosional yang sudah diprediksi oleh sistem?”
.
Kedua, berikan kejutan pada algoritma. Jangan menjadi makhluk yang terlalu mudah ditebak polanya.
Sesekali, carilah informasi yang berlawanan dengan keyakinan pribadimu.
Baca sudut pandang yang berbeda secara sengaja. Matikan notifikasi yang tidak penting.
Jangan biarkan sebuah aplikasi mendikte kapan kamu harus menatap layar.
Teknologi adalah alat pendukung, bukan pengambil keputusan.
Sama seperti sistem navigasi GPS di kendaraan. Kalau tujuan akhirnya jelas, GPS akan membantu mencari rute paling efisien.
Tapi kalau kamu sendiri tidak tahu ingin ke mana dan hanya mengikuti setiap instruksi GPS secara buta, jangan heran kalau akhirnya kamu diarahkan ke jalan buntu.
.
AI, algoritma, dan media sosial tidak akan pernah bisa memaksakan kehendaknya, kalau kamu punya kesadaran penuh atas nalar dan pikiranmu sendiri.
Mulai sekarang, rebut kembali kendali tersebut.
Karena jika kamu tidak mendesain isi pikiranmu sendiri, ada ribuan insinyur di belahan dunia lain yang dengan senang hati akan mendesainnya untukmu.
메타데이터
- post_id
- b625233a8d5d
- slug
- pilihanmu-bukan-pilihanmu-b625233a8d5d
- url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/pilihanmu-bukan-pilihanmu-b625233a8d5d
- canonical_url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/pilihanmu-bukan-pilihanmu-b625233a8d5d
- author_url
- https://medium.com/@SaintMichael
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 20:33:08