← Back to list

Auman Kucing dan Eongan Singa

Sungguh paradoks. Seiring masa yang terus bergulir, kita tahu bahwa sejak dahulu, setiap makhluk memiliki prilaku dan suara masing-masing…

sheemra · 2025-09-08 22:24 · 18 claps · 2.6 min read
#singa #kucing #rakyat #maja
Open on Medium ↗

Auman Kucing dan Eongan Singa

Photo by Geranimo on Unsplash

Photo by Geranimo on Unsplash

Sungguh paradoks. Seiring masa yang terus bergulir, kita tahu bahwa sejak dahulu, setiap makhluk memiliki prilaku dan suara masing-masing. Kucing mengeong dengan gerakan-gerakan manjanya. Burung terbang dengan lihainya sambil bercuit-cuit ria. Pun singa, Si Raja Rimba dengan auman yang memesona serta langkahnya nan penuh wibawa.

Namun siapa sangka, adagium “kucing mengaum singa mengeong” telah mendarah daging dalam siklus perjalanan hidup manusia, tidak terkecuali bagi rakyat Indonesia. Namun kita tidak bisa menilai paradoks ini dengan asal-asalan. Kita bisa menggerayanginya dari dua sisi sekaligus, tanpa harus menghakimi dengan ugal-ugalan apa yang terlihat dari luar. Baik yang terlihat itu makna positif maupun negatif. Sayangnya, dewasa ini tidak semua orang berfikir secara terbuka atau objektif. Bahkan kini terjadi minimnya toleran dan diskriminatif gede-gedean. Onde Mande!

Sisi positif dari ungkapan di atas dapat kita temukan ketika ungkapan “kucing mengaum” disandarkan pada masa kolonialisme misalnya. Hal itu bisa merepresentasikan semangat juang dan keberanian rakyat kecil melawan penjajah. Padahal, dari segi militer, tentu mereka jauh lebih lemah dibanding kubu penjajah kejam yang keinginannya memenuhi nafsu dengan 3G (Gold, Glory dan Gospel). Sementara singa mengeong merujuk pada sebagian kecil kaum elit atau pun penguasa pribumi, yang berkesadaran penuh merelakan diri menjadi komplotan bahkan budak bagi para penjajah. Tunduk patuh dihadapannya. Demi apa? Hanya demi kepentingan pribadi atau pun suatu kelompok. Wah, boleh tepuk jidat.

Jika adagium tersebut ditarik ke masa kini mungkin akan lebih menarik dan lebih nge-feel. Karena yang melihat dan menyaksikan adalah mata kepala kita sendiri -meskipun dari balik layar,xixi. Auman kucing ibarat kevokalan rakyat biasa atau kelompok masyarakat sipil yang semakin meningkat. Tak segan-segan menyuarakan kritik. Begitu gencar menuntut keadilan. Tak gemetar melawan ketidakadilan dari pihak berkuasa. Dan singa mengeong menggambarkan suatu oknum yang seharusnya menjaga kedaulatan rakyat tetapi justru terlibat dalam kepentingan suatu kelompok tertentu, oligarki bahkan juga korupsi.

Sementara negatifnya, kalimat paradoks di atas merupakan bentuk representasi kuat dari krisis identitas. Tidak jarang seseorang merasa dirinya tertekan untuk menjadi orang lain. Sementara, meniru prilaku sebagaimana orang lain yang tidak sesuai dengan diri sendiri, bukan hanya menghilangkan keaslian, tetapi juga menyebabkan sebuah potensi sejati tak dapat dimaksimalkan. Kucing yang mengaum mungkin terdengar menakutkan, tetapi ia tidak akan pernah seefektif singa dalam menjaga wilayah. Singa yang mengeong mungkin terasa lucu, tetapi dengan begitu ia akan kehilangan taringnya sebagai predator puncak.

Tidak hanya krisis identitas, gagasan tersebut juga menyoroti ironi ekspektasi dan realitas bukan? Seseorang acapkali berekspektasi terlampau jauh melebihi hal-hal realistis, terhadap diri sendiri juga orang lain. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi, timbullah kekecewaan. Kucing yang mencoba mengaum mungkin akan melukai tenggorokannya sendiri, sementara singa yang mengeong akan kehilangan rasa hormat dari kawanannya. Ini mengajarkan kita untuk menghargai setiap individu sesuai dengan fitrahnya, dengan mengakui kekuatan dan keterbatasan yang melekat pada mereka.

Namun di balik semua keabsurdan itu, ada pula pelajaran tentang potensi dan pertumbuhan. Meskipun seekor kucing tidak akan pernah menjadi singa sejati, metafora ini mendorong kita untuk bertanya: apakah ada “auman” tersembunyi yang belum ditemukan dalam diri kita? Apakah ada “kelembutan” yang perlu kita latih bahkan jika kita adalah sosok yang kuat? Ini bukan tentang mengubah identitas dasar, melainkan tentang menjelajahi spektrum ekspresi dalam batas-batas yang masuk akal. Mungkin kucing belajar mengeluarkan suara yang lebih dalam dari biasanya. Dan singa belajar mengomunikasikan kebutuhannya dengan cara yang lebih tenang. Keduanya adalah bentuk adaptasi dan evolusi yang positif.

Selain itu, “auman kucing dan ngeongan singa” adalah pengingat yang kuat. Mengingatkan bahwa makhluk, termasuk manusia, memiliki tempatnya sendiri di dunia dengan suara dan potensinya yang unik. Jadilah singa jika merasa memiliki potensi singa. Jadilah kucing jika yang dimiliki adalah potensi sebagai kucing. Jangan memaksa untuk mengaum jika fitrah yang diberikan adalah mengeong, begitu pun sebaliknya.

*seperti benang kusut? abaikan. karena yang terpenting bagi pemula adalah berani mencoba, mencoba memulai dan memulai👻🙈


메타데이터
post_id
b62df799087e
slug
auman-kucing-dan-eongan-singa-b62df799087e
url
https://medium.com/@sheemra03/auman-kucing-dan-eongan-singa-b62df799087e
canonical_url
https://medium.com/@sheemra03/auman-kucing-dan-eongan-singa-b62df799087e
author_url
https://medium.com/@sheemra03
status
ok
fetched_at
2026-06-24 13:29:15