← Back to list

Suara yang Tertinggal

#1280: Menyimpan Duka dalam Pesan Suara

Ivan Lanin in Maratonton · 2026-06-27 03:18 · 923 claps · 3.1 min read paywalled
#ulasan-film #maratonton #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Ulasan

Suara yang Tertinggal

#1280: Menyimpan Duka dalam Pesan Suara

Wes dan Jill (Foto: Diyah Pera/Netflix)

Wes dan Jill (Foto: Diyah Pera/Netflix)

Adegan itu berlangsung singkat. Malam hari yang dingin, Jill duduk sendiri di atas bukit menghadap Jembatan Golden Gate. Kota San Francisco bersinar di bawahnya. Telepon diangkatnya ke telinga, lalu dia mulai bicara kepada Izzy, adiknya yang baru saja meninggal. Pesannya bukan doa, melainkan cerita tentang rindu. Saya menonton adegan itu tanpa bisa bergerak dari tempat duduk.

🔑 **Klik tautan ini untuk melanjutkan membaca. 🔑**

Itulah inti *Voicemails for Isabelle* (2026), film komedi romantis Netflix garapan sutradara Leah McKendrick. Jill (Zoey Deutch) tidak bisa berhenti mengirim pesan suara kepada adiknya, Isabelle, yang akrab dipanggil Izzy (Ciara Bravo), meski Izzy sudah tiada. Tanpa sepengetahuan Jill, nomor itu sudah dialihkan kepada Wes (Nick Robinson), agen properti di Austin yang perlahan jatuh cinta pada suara yang didengarnya hampir tiap malam.

Sebagai komedi romantis, film ini memakai perangkat yang akrab. Ada rahasia, kebetulan, pertemuan yang tertunda, dan laki-laki yang mengenal perempuan sebelum perempuan itu mengenalnya. Namun, film ini menjadi mengharukan karena romansa tumbuh dari sesuatu yang lebih muram: seseorang yang belum sanggup mengakhiri percakapan dengan orang yang sudah pergi.

[embed]Cuplikan film Voicemails for Isabelle

Saya tumbuh bukan dalam budaya pesan suara. Keluarga kami berkomunikasi lewat SMS, lalu WhatsApp. Kalau ada yang sangat penting, kami baru menelepon. Telepon pun terasa formal dan terencana. Tidak ada yang merekam suara untuk bercerita hal-hal kecil, seperti macet di jalan, masakan yang gosong, atau lelucon yang tidak lucu, tetapi tetap ditertawakan bersama.

Ayah saya bukan orang yang banyak bicara soal perasaan. Dia menunjukkan kasih lewat hal-hal kecil, seperti ribut berebut nasi Padang, menghitung jumlah mobil di jalan, dan main gulat di ruang tamu. Kami tidak pernah merekam semua itu. Tidak ada arsip suaranya sedang tertawa, sedang lelah, atau sedang memarahi kami dengan cara yang sebenarnya penuh kasih.

Di sinilah film ini menyentuh saya dari arah yang tidak saya duga. Jill beruntung, dalam artian yang aneh. Dia punya kebiasaan yang tidak saya miliki, yaitu merekam dirinya bicara. Ketika Izzy pergi, kebiasaan itu menjadi arsip yang hidup. Suara membuat kenangan terasa punya tubuh lagi, bukan hanya bayangan yang kian lama kian samar.

Tentu ada sisi yang tidak sepenuhnya nyaman dari premis film ini. Wes mendengar pesan-pesan yang tidak ditujukan kepadanya. Dia mengenal Jill dari ruang yang paling pribadi, sementara Jill tidak tahu bahwa ruang itu sudah dimasuki orang lain. Film ini menyadari ketegangan itu meski tidak selalu mengolahnya sedalam yang mungkin bisa dilakukan.

Namun, justru dari ambiguitas itulah romansanya bekerja. Wes jatuh cinta bukan kepada citra yang disusun, melainkan kepada suara yang tidak disiapkan untuk memikat siapa pun. Suara yang kadang lucu, kadang marah, kadang patah. Suara yang sedang bercakap dengan orang mati.

Voicemails for Isabelle mengharukan bukan karena ceritanya tragis, melainkan karena ia mengingatkan kita pada sesuatu yang sering kita abaikan. Orang-orang yang kita kasihi masih ada sekarang. Suara mereka masih bisa direkam. Kita masih punya waktu untuk menyimpan yang tampak sepele hari ini, sebelum kelak menjadi sesuatu yang mustahil kita dapatkan lagi.

Saya ingin mendengar pesan suara dari Ayah.

Jurnal dan Kenangan

Jumat kemarin, kami melepas delapan pemagang angkatan ke-19. Selama enam bulan, para mahasiswa yang rata-rata seumur anak saya Arka itu bekerja bahu-membahu dengan kami di berbagai divisi. Saya terharu mendengar kesan mereka, terutama ketika mereka memberi masukan tentang birokrasi, alur, promosi, dan program. Perpisahan itu mengingatkan saya bahwa pemagang bukan hanya tenaga bantu, melainkan cermin yang jujur bagi organisasi.

Tahun lalu, saya mengikuti dua sesi diskusi penulisan dengan DMST Bank Indonesia di Gedung Thamrin Selatan. Dari pembahasan kaidah bahasa, LKBI, surat, dan laporan, tampak bahwa menulis bukan sekadar merapikan kalimat, melainkan membangun cara berpikir runtut dan akuntabel. Dalam organisasi besar, dokumen yang jernih membantu koordinasi, mengurangi salah paham, dan memperkuat kepercayaan terhadap lembaga.

[embed]Sesi yang Terjeda #915: Dua Diskusi dengan DMST BI di Gedung Thamrin Selatanivanlanin.medium.com

Dua tahun lalu, saya menulis tentang runtunan menulis harian yang nyaris terputus karena tertidur, tubuh lelah, internet rumah putus, dan ponsel kehabisan daya. Tulisan akhirnya diterbitkan seadanya sebelum tengah malam, lalu dilanjutkan dengan pembahasan kata “nyaris”. Dari pengalaman genting itu, terlihat bedanya “hampir” dan “nyaris”. Yang pertama netral, sedangkan yang kedua lebih bernuansa negatif dan emosional.

[embed]Nyaris #550: Ketika runtunan menulis nyaris terputusivanlanin.medium.com

Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨‍🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.


메타데이터
post_id
b6512085e0b8
slug
suara-yang-tertinggal-b6512085e0b8
url
https://medium.com/maratonton/suara-yang-tertinggal-b6512085e0b8
canonical_url
https://medium.com/maratonton/suara-yang-tertinggal-b6512085e0b8
author_url
https://medium.com/@ivanlanin
status
ok
fetched_at
2026-07-09 16:18:44