← Back to list

5 Kunci untuk Cerita yang Melekat

#877: Lokasi, aksi, pikiran, emosi, dan dialog

Ivan Lanin · 2025-05-20 16:05 · 1,578 claps · 2.3 min read paywalled
#bercerita #penceritaan #storytelling #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing

Jurnal

5 Kunci untuk Cerita yang Melekat

#877: Lokasi, aksi, pikiran, emosi, dan dialog

Ilustrasi: Theo Crazzolara/Unsplash

Ilustrasi: Theo Crazzolara/Unsplash

Saya duduk di depan TV ruang tengah, memilih video YouTube sambil mengudap jeruk—kebiasaan sebelum tidur. Sebuah video berjudul Give me 9 min, and I’ll improve your storytelling skills by 176% melintas menarik perhatian. Saya memang selalu bersemangat untuk meningkatkan keterampilan bercerita (storytelling).

🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.

Video dibuka dengan satu pernyataan sederhana: Bercerita itu tidak rumit, asal kita tahu apa yang penting. Philipp Humm, sang narator, menunjukkan contoh cerita 20 detik dari John Krasinski yang singkat, lucu, dan mengena. Kuncinya? John tidak merangkum kejadian. Dia membawa kita masuk ke momen itu, membuat kita seolah ikut berdiri di depan petugas imigrasi dan mendengar dialog mereka secara langsung.

Dari sana, saya mengenal lima teknik bercerita yang bisa langsung diterapkan: lokasi, aksi, pikiran, emosi, dan dialog. Kelimanya bisa diringkas dalam satu jembatan keledai (mnemonik) yang mudah: LAPEDI.

[embed]Jembatan Keledai #442: Alat bantu mengingat yang menyenangkanivanlanin.medium.com

Lokasi adalah titik mula. Cerita yang baik butuh tempat berpijak. Tak perlu detail panjang. Kita cukup menyebut “di ruang tamu” atau “di bandara” dan otak audiens akan langsung membentuk visualisasi mereka sendiri.

Aksi membuat cerita bergerak. Daripada menjelaskan konteks, langsung saja pada gerakan: membuka pintu, duduk di kursi, atau menatap layar. Setiap tindakan menuntun audiens ke langkah berikutnya.

Pikiran memberi kedalaman. Apa yang terlintas di kepala tokoh? Ungkapkan pikiran mentah, bukan narasi yang terdengar resmi. Pikiran yang jujur, bahkan absurd, justru lebih mengena.

Emosi sebaiknya ditampilkan, bukan hanya disebut. Show, don’t tell. Jangan hanya bilang, “Saya gugup.” Sebaliknya, tunjukkan dengan lebih kuat lewat, misalnya, “Saya meremas tangan sendiri dan melirik jam tiap lima detik.”

Dialog menghidupkan suasana. Ucapan langsung lebih efektif daripada ringkasan. Kalimat seperti “Kamu serius?” lebih tajam daripada “Dia meragukan saya.”

[embed]

Pada akhir video, Philipp menampilkan satu contoh utuh dari Sarah Willingham, seorang CEO yang disangka sekretaris saat masuk ruang rapat. Sarah menyebut lokasi, menunjukkan aksi, mengungkap pikirannya, menampilkan emosi, dan menutup dengan dialog. Dalam satu menit, ceritanya menancap dalam.

Saya suka kesederhanaan konsep ini. Cerita bukan soal panjang-pendek, bukan pula soal struktur tiga babak. Yang penting adalah momen. Dengan LAPEDI, momen itu dipotret dan dibagikan dengan lebih hidup.

Jurnal dan Kenangan

Senin kemarin, saya membuat video promosi kelas publik “Menulis Jurnal untuk Menjaga Kesehatan Mental”. Kelas ini mengajak peserta mulai belajar menulis jurnal sebagai kebiasaan harian yang menenangkan, menyembuhkan, dan memperkuat daya lenting emosional. Bahannya tentu saja dari pengalaman pribadi saya menulis setiap hari di Medium. Tunggu pengumuman dari Narabahasa, ya.

Tahun lalu, saya membahas dua jenis kata pengisi (filler word), yaitu jeda terisi (filled pause) dan penanda wacana (discourse marker). Jeda terisi tidak memiliki makna, misalnya “eee”, “mmm”, atau “er”. Sebaliknya, penanda wacana—seperti “jadi”, “begitu”, dan “like”—memiliki makna, tetapi sering digunakan tanpa tujuan yang jelas. Kedua jenis kata pengisi tersebut dapat muncul tanpa disadari ataupun disengaja.

[embed]Kata Pengisi #512: Maksud saya, eee, begituivanlanin.medium.com

Dua tahun lalu, saya menceritakan pengalaman mengubah cara berbahasa ketika beralih profesi dari pemrogram menjadi konsultan kepada 110 peserta webinar MUC Consulting. Konsultan harus dapat berbahasa efektif secara lugas, jelas, dan santun. Mereka harus mampu menguraikan perkara pelik dengan bahasa sederhana. Mereka juga perlu menjaga bahasa yang digunakan guna menghadirkan citra positif di mata klien.

[embed]Bahasa Konsultan #146: Uraikan perkara pelik dengan bahasa sederhana.ivanlanin.medium.com

Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨‍🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.


메타데이터
post_id
b65c6c4fa1fa
slug
5-kunci-cerita-yang-melekat-b65c6c4fa1fa
url
https://medium.com/@ivanlanin/5-kunci-cerita-yang-melekat-b65c6c4fa1fa
canonical_url
https://medium.com/@ivanlanin/5-kunci-cerita-yang-melekat-b65c6c4fa1fa
author_url
https://medium.com/@ivanlanin
status
ok
fetched_at
2026-09-03 23:32:02