BUKTI KITA BUTUH TUHAN
Adalah para penutur berkata, Tuhan itu ada sejarahnya, yaitu ketika manusia yakin ada kekuatan Maha yang menentukan. Jadi, narasinya adalah…
BUKTI KITA BUTUH TUHAN
Adalah para penutur berkata, Tuhan itu ada sejarahnya, yaitu ketika manusia yakin ada kekuatan Maha yang menentukan. Jadi, narasinya adalah Tuhan ada, karena manusia ada, koplak!
Manusia, sehebat-hebatnya, ketika logika dan sains telah menguasai kehidupannya, semakin mendekati kekuasaan Tuhan (khalifatul fil ardh = pengganti Tuhan di muka bumi).
Setiap muslim diajari, bahwa jabatan Khalifah pun Tuhan yang beri, masyarakat logic (kini gak hanya kaum Barat saja) percaya bahwa Tuhan, kalau pun ada, tidak akan banyak campur tangan, Ia hanya membuat skema hukum (sunnatullah), jika - maka, sepenuhnya kekuatan Manusia yang mengelola dunia ini.
Alkisah jaman Nabi Musa a.s. rakyat Yahudi diganggu oleh banjir, belalang, kutu, katak, limbah berbau anyir dan busuk, dikarenakan kurangnya rasa bersyukur dan ketauhidan (mereka takut bukan karena Allah). Padahal tak kurang pakar dan praktisi teknologi saat itu yang bisa mengatasi secara teknis keseharian masalah mereka.
Kini, jaman berganti di mana negara-negara maju dengan pongahnya mempertontonkan kekuatan mereka, rakyat yang sejahtera, rumah sakit yang modern dan sistem kesehatan yang canggih, justru paling pertama terkena imbas pandemi covid19.
Musibah berikutnya menimpa rakyat religius di India yang tidak mau beradaptasi karena keyakinan sempit, mandi bareng2 di sungai gangga yang berujung pada pemakaman massal. Di India orang dibakar ketika mati, ini menyulitkan keadaan karena keterbatasan kremasi dan energi untuk menghilangkan jenazah. Bau busuk menyengat, lagi-lagi hukum Tuhan tidak bisa ditawar.
Tatkala kekuasaan begitu pongah di negeri ini, kekuatan penguasa mencoba menguasai banyak lini, kritik tak berguna, maka makhluk yang tidak bisa disebut hidup atau mati (virus) ini menguasai sendi2 kehidupan kita.
di manakah Tuhan?
Ia adalah dekat, sedekat urat leher kita.
Betapa banyak manusia kokoh, kaya, baik paras dan rupa, berseliweran di media, jatuh terjerembab oleh ganasnya corona. Ia tak memilih miskin dan kaya, tak terdata bagaimana penyebaran sebenarnya. Ia ada seperti dikomando sebuah hukum, keniscayaan Tuhan.
Saat pandemi menepi, manusia lupa lagi. Tuhan mengingatkan lagi, dan kita berharap dan mendekati-Nya lagi. Kita butuh Tuhan, tapi tidak sebaliknya.
M. Sirod Juni 25, 2021
메타데이터
- post_id
- b669e376accd
- slug
- bukti-kita-butuh-tuhan-b669e376accd
- url
- https://medium.com/@msirod/bukti-kita-butuh-tuhan-b669e376accd
- canonical_url
- https://medium.com/@msirod/bukti-kita-butuh-tuhan-b669e376accd
- author_url
- https://medium.com/@msirod
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29