← Back to list

WENTIRA, LEGENDA KOTA TAK KASAT MATA DI JALUR TRANS SULAWESI

Kalau di Kotabaru, Kalimantan Selatan, masyarakat mengenal legenda kota gaib bernama Saranjana.

Partikel Atom · 2026-03-13 17:29 · 170 claps · 3.3 min read
#cerita-horor #cerita-seram #misteri #horor #hantu
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

WENTIRA, LEGENDA KOTA TAK KASAT MATA DI JALUR TRANS SULAWESI

(Foto oleh Unmyst3 via Pinterst)

(Foto oleh Unmyst3 via Pinterst)

Kalau di Kotabaru, Kalimantan Selatan, masyarakat mengenal legenda kota gaib bernama Saranjana. Di Sulawesi Tengah juga terdapat cerita yang memiliki kemiripan dengan legenda tersebut. Kota gaib itu dikenal dengan nama Wentira. Kisahnya telah lama beredar di kalangan masyarakat, terutama di wilayah Palu dan sekitarnya.

Menurut beberapa artikel yang pernah saya baca di media seperti Liputan6 dan Okezone, Wentira diyakini oleh masyarakat lokal berada di kawasan hutan antara Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong. Wilayah ini berada di jalur Trans Sulawesi yang melintasi kawasan pegunungan serta perkebunan kopi. Di sekitar kawasan tersebut terdapat sebuah tugu berwarna kuning yang dikenal sebagai penanda wilayah Wentira. Pada tugu itu tertulis Ngapa Uwentira.

Dalam bahasa Kaili, kata ngata atau ngapa berarti kampung atau kota, sedangkan uwentira merujuk pada sesuatu yang tidak terlihat. Secara harfiah, istilah Ngapa Uwentira dapat dimaknai sebagai kota yang tidak kasat mata. Penjelasan mengenai istilah ini juga pernah dibahas dalam sejumlah tulisan yang mengangkat legenda Wentira sebagai bagian dari cerita rakyat Sulawesi Tengah.

Dalam beberapa tulisan lain dijelaskan bahwa cerita tentang Wentira telah dikenal sejak masa kolonial. Pada masa Hindia Belanda, kawasan di sekitar jalur tersebut pernah menjadi lokasi pembangunan jembatan pada 1927 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff. Proyek tersebut melibatkan banyak pekerja yang bekerja di kawasan hutan dan lembah di sekitar jalur tersebut. Dalam perkembangannya, kawasan itu kemudian menjadi jalur penting yang menghubungkan Palu dengan wilayah lain di Sulawesi Tengah. Walau demikian, berbagai sumber yang saya baca juga menyebut bahwa kisah mengenai kota gaib Wentira tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi kolonial sebagai sebuah kota nyata.

Beberapa penjelasan juga mengaitkan nama Wentira dengan istilah uventira yang berarti air berwarna merah. Dalam perkembangannya, pengucapan uventira berubah menjadi uwentira lalu menjadi Wentira. Perubahan semacam ini lazim terjadi dalam bahasa daerah yang berkembang secara lisan dari generasi ke generasi tanpa dokumentasi tertulis yang kuat.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Wentira digambarkan sebagai sebuah kerajaan gaib yang dihuni oleh makhluk dari dunia lain. Cerita yang berkembang menyebut adanya seorang raja yang memimpin wilayah tersebut bersama para panglima serta pasukan dalam jumlah besar. Kisah ini hidup dalam tradisi lisan dan terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Meskipun jarak daerah saya dengan kawasan yang sering dikaitkan dengan Wentira cukup jauh, bahkan terpaut beberapa kabupaten, cerita tentang tempat ini tetap sering terdengar. Salah satu kisah yang pernah saya dengar datang dari cerita keluarga sendiri.

Seorang om saya pernah bercerita tentang pengalaman yang menurutnya sulit dijelaskan. Kejadian itu terjadi beberapa hari sebelum Lebaran. Pagi itu ia pergi ke kebun, tetapi sedikit kesiangan. Matahari sudah cukup terik ketika ia berjalan menyusuri jalan setapak di antara kebun-kebun milik warga.

Saat sedang berjalan di tengah perkebunan, tiba-tiba dari semak-semak muncul dua orang gadis remaja. Penampilan mereka seperti mahasiswa pada umumnya. Rambut panjang, pakaian rapi, dan masing-masing menarik koper kecil seperti orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh. Kemunculan mereka di tengah kebun membuat om saya terkejut. Ia tidak pernah melihat mereka sebelumnya, dan jelas mereka bukan warga kampung.

Karena merasa heran, ia kemudian bertanya, dari mana dan hendak pergi ke mana.

Salah satu dari mereka menjawab dengan santai bahwa mereka ingin pulang untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Mereka baru saja pulang dari kuliah.

Om saya kembali bertanya, kuliah di mana.

Gadis yang satunya lagi menjawab singkat, Wentira.

Mendengar jawaban itu, om saya langsung memahami sesuatu. Ia berusaha tetap terlihat tenang dan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Beberapa saat kemudian kedua gadis itu pamit. Mereka mengatakan bahwa kendaraan yang menjemput sudah menunggu. Keduanya kemudian berjalan menyeberang jalan.

Setelah sampai di seberang, mereka tidak terlihat lagi. Hilang entah ke mana.

Om saya tidak melanjutkan perjalanan ke kebun hari itu. Ia memilih berbalik arah dan kembali ke kampung.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita semacam itu, kisah tentang Wentira memang telah menjadi bagian dari folklor masyarakat Sulawesi Tengah. Dalam berbagai cerita rakyat, Wentira sering digambarkan sebagai kota dengan peradaban maju. Kota itu disebut memiliki bangunan megah dengan warna dominan kuning atau emas. Warna kuning kemudian menjadi simbol yang sangat erat dengan legenda tersebut.

Karena itu, masyarakat sekitar mengenal beberapa pantangan ketika melintasi kawasan yang dipercaya sebagai wilayah Wentira, salah satunya tidak mengenakan pakaian berwarna kuning. Selain itu, sebagian pengendara yang melintasi jalur Trans Sulawesi di kawasan tersebut juga memiliki kebiasaan membunyikan klakson beberapa kali sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk tak kasat mata yang diyakini menghuni tempat itu.

Jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, Wentira lebih tepat dipahami sebagai bagian dari folklor atau cerita rakyat. Kisah tentang kota gaib seperti ini juga dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki hutan luas dan sejarah panjang interaksi manusia dengan alam.

Hingga sekarang belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan keberadaan kota gaib Wentira dalam bentuk fisik. Peta modern dan penelitian geografis hanya menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan kawasan hutan dan perbukitan yang dilalui jalur Trans Sulawesi. Walau demikian, legenda Wentira tetap hidup dalam ingatan masyarakat dan terus diceritakan hingga sekarang sebagai bagian dari warisan budaya lisan di Sulawesi Tengah.


메타데이터
post_id
b66c1ba6dbf5
slug
wentira-legenda-kota-tak-kasat-mata-di-jalur-trans-sulawesi-b66c1ba6dbf5
url
https://medium.com/@partikelatom/wentira-legenda-kota-tak-kasat-mata-di-jalur-trans-sulawesi-b66c1ba6dbf5
canonical_url
https://medium.com/@partikelatom/wentira-legenda-kota-tak-kasat-mata-di-jalur-trans-sulawesi-b66c1ba6dbf5
author_url
https://medium.com/@partikelatom
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36