TAMU DAN SECANGKIR TEH
Seseorang pernah berkata kepadaku, jika setiap manusia pasti ada masanya. Hal tersebut sama halnya dengan tamu yang datang ke rumah lalu…
TAMU DAN SECANGKIR TEH
Seseorang pernah berkata kepadaku, jika setiap manusia pasti ada masanya. Hal tersebut sama halnya dengan tamu yang datang ke rumah lalu pamit pulang setelah merampungkan keperluannya.

Tetapi, tuan rumah tak akan membiarkan tamunya hanya duduk dengan tangan kosong bukan?
Akan ada secangkir teh hangat yang menemaninya. Bentuk kebaikan sang tuan rumah. Untuk mengobati rasa haus yang dibawa si tamu ketika dalam perjalanan. Terkadang ada tamu yang keberatan dibuatkan teh dengan alasan, “tidak perlu repot-repot” tetapi ketika sudah dibuatkan diteguknya sampai tetes terakhir.
Tamu tersebut diperumpamakan seperti seorang perempuan yang datang di kehidupan lelaki, mengetuk pintu hatinya lalu dipersilakan masuk. Dibuatkan teh pula-tehnya berupa perlakuan spesial, perhatian dan kata-kata manis semanis gula yang kalian campurkan ke dalam secangkir teh. Ketika waktu berganti dan tuan rumah merasa bosan ia mulai melakukan pengusiran halus. Kau akan ditepis dari kehidupannya.
Kata si lelaki, dia punya perumpamaan. Ketika si perempuan main ke rumah sahabatnya sesama perempuan lalu Ibu sahabatnya atau sahabatnya sendiri berkata, “anggap aja rumah sendiri ya, nduk” apakah kira-kira si perempuan akan langsung bebas berbuat apa saja di rumah itu?
Perempuan terkadang sering disalahkan tanpa mempertimbangkan dari dua sudut pandang berbeda. Tentunya perempuan tak akan mudah menaruh harapan pada lelaki jika sang lelaki tidak memberikan keramahan yang berlebih.
Awalnya perempuan akan terkejut dengan perlakuan lelaki yang begitu baik-curiga nantinya akan berubah. Seiring dengan berjalannya waktu dan keluarnya kata ‘nyaman’ dari pihak lelaki, menetaplah perempuan. Tamu pun lancang menganggap rumah yang dia kunjungi sebagai rumah sendiri. Tidak tau diri.
Hingga si lelaki bosan dan melakukan seribu satu cara guna membuat sang perempuan enyah dari kehidupannya. Selamanya. Tamu diusir halus, secangkir teh direbut dari genggaman-harapan dipatahkan. Seakan perempuan yang paling disalahkan, lelaki bahkan tak berpikir dari dua arah.
Andai saja lelaki tidak menyatakan rasa nyaman. Andai saja lelaki tak memberi kabar dan menganggap kegiatan itu penting baginya. Andai saja lelaki tidak memanggil perempuan dengan nama kesayangan. Andai saja lelaki tidak memberikan benda kegemaran perempuan. Andai saja lelaki tidak bernyanyi memenuhi permintaan perempuan. Andai saja lelaki tau kalau perempuan akan luluh hanya dengan hal-hal kecil.
Tamu boleh pulang, tetapi cangkirnya masih berisi teh walau tinggal separuh. Perempuan boleh pergi, tapi rasa sayangnya tetap ada.
Bukankah kepanjangaan benci itu benar-benar cinta?
Jadi sebenarnya tiada yang benar-benar saling membenci dalam dunia ini. Hanya saja hati mereka masih belum sadar akan keberadaan seseorang. Tamu yang menyayangi tuan rumah dan menganggapnya rumah sendiri.
Jadi mulailah memandang dari dua arah ketika dihadapkan suatu persoalan. Jangan mudah menyudutkan salah satu pihak. Bercerminlah.
메타데이터
- post_id
- b699ec5dd9b5
- slug
- tamu-dan-secangkir-teh-b699ec5dd9b5
- url
- https://medium.com/@conicordelia/tamu-dan-secangkir-teh-b699ec5dd9b5
- canonical_url
- https://medium.com/@conicordelia/tamu-dan-secangkir-teh-b699ec5dd9b5
- author_url
- https://medium.com/@conicordelia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 14:25:20