← Back to list

Mencatat dan Membuat Penganggaran Bulanan

#052: Dampak mencatat terhadap persepsi keuangan

Rafza Ray Firdaus · 2024-10-27 14:02 · 101 claps · 3.0 min read
#artikel-bahasa-indonesia #rencana-anggaran-biaya #mencatat-keuangan
Open on Medium ↗

Mencatat dan Membuat Penganggaran Bulanan

#052: Dampak mencatat terhadap persepsi keuangan

Photo by Wim van 't Einde on Unsplash

Photo by Wim van 't Einde on Unsplash

TL;DR

Dengan rajin mencatat pengeluaran dan membuat anggaran biaya bulanan, saya jadi lebih sadar kalau: Uang saya terbatas. Tanpa hadirnya kebiasaan mencatat pengeluaran, ada kecenderung untuk abai dengan sisa uang yang ada dan tak jarang, berakhir dengan pembengkakan pengeluaran.

Oh ya, berikut ini template yang saya gunakan untuk mencatat pengeluaran yang saya dapatkan dari Mas Gogo (@\lwastuargo) kamu bisa mengunduhnya melalui tautan yang ada di utas X (dulunya Twitter) Mas Gogo berikut: Template Monthly Budget.

Masih awal minggu, tapi saya sudah bertanya, “Kok rasanya duit saya sudah tinggal sedikit ya?”, well ternyata itu gara-gara kebiasaan saya dalam menggunakan uang secara tidak bijak dan buah dari kebiasaan tidak mencatat pengeluaran.

Ya, seperti kebanyakan orang yang tidak mencatat pengeluaran, saya merasa mencatat pengeluaran itu merepotkan. Sudah mencoba berbagai aplikasi pencatat keuangan, tak ada satu pun yang saya rasa cocok dengan kebutuhan penggunaan saya. Ribet. Beberapa aplikasi yang direkomendasikan banyak orang menyaratkan untuk berlangganan untuk membuka fitur kunci yang krusial, saya mundur pelan-pelan, sadar metode pembayaran semacam itu tidak cocok dengan saya.

Meskipun begitu, saya sebetulnya sudah sejak lama sadar pentingnya memiliki kebiasaan mencatat pengeluaran dan membuat anggaran biaya. Namun, pengetahuan saja ternyata tidak cukup untuk membuat kita tergerak mengakuisisi kebiasaan baru. Apalagi dengan keribetan tadi, rasanya mustahil.

Saya jadi teringat dengan konsep akusisi kebiasaan baru dari buku “Atomic Habits”-nya James Clear. Dari buku tersebut, saya menarik satu kesimpulan: Kebiasaan baru perlu sistem yang mempermudah. Semacam insentif, guna memperpendek jarak antara kita dengan kebiasaan baru tersebut. Misalnya, jika hendak punya kebiasaan lari pagi, maka sebaiknya simpan baju dan sepatu di dekat ranjang supaya pagi harinya bisa langsung berlari pagi. Atau ketika kita hendak punya kebiasaan membaca sebelum tidur, maka simpanlah perangkat membaca seperti kindle atau buku di dekat tempat tidur.

Karena sering beralasan dengan ribetnya aplikasi dan terlalu kompleks bagi pemula seperti saya, saya mulai mencari cara yang paling sederhana dan banyak template berseliweran: Google Sheet.

Ada beberapa alasan mengapa Google Sheet cocok dengan kebutuhan saya, berikut di antaranya:

  1. Bisa diakses di mana saja, sebab Google Sheet berbasiskan penyimpanan awan (cloud storage).
  2. Ia ditenagai dengan fungsionalitas yang bisa mendukung otomatisasi dan pemrograman sederhana antara kotak sel.
  3. Bisa diintegrasikan dengan Google AppSheet dan Google Form untuk proses yang lebih kompleks, maupun Google Looker untuk visualisasi jika diperlukan.

Saya biasanya tidak langsung mencatat pengeluaran saat itu juga, tetapi lebih seringnya merekap di malam hari. Mencatat pengeluaran sehari ini dan berefleksi “Ini segini masih aman atau tidak dengan anggaran biaya yang telah saya sepakati dengan diri sendiri sebelumnya?”, jika ternyata masih terlalu boros, saya akan mencoba bereksperimen dengan mengatur kembali penganggaran atau mengeliminasi pengeluaran tidak perlu. Dengan cara ini saya jadi lebih sadar dengan kondisi keuangan saya sebagai mahasiswa.

Semua ini terjadi berkat utas yang diterbitkan oleh Mas Gogo (@\lwastuargo) di X (dulunya Twitter). Saya menemukan template yang cocok dengen keresahan saya selama ini. Template anggaran biaya yang beliau kembangkan tidak terlalu rumit bagi pemula seperti saya, terlebih template ini tetap memberikan kemudahan dengan konektivitas antar laman yang ada.

Template Monthly Budget (credit to: @\lwastuargo)

Template Monthly Budget (credit to: @\lwastuargo)

Beliau bahkan repot-repot membuat video untuk menerangkan template dan pengantar yang cukup filosofis mengenai uang dan pentingnya mencatat pengeluaran. Saya sertakan videonya di bawah ini dan link ke templatenya di sini. Saya rekomendasikan untuk ditonton.

[embed]

Setelah mengerjakan kebiasaan ini, apakah pola pengeluaran saya otomatis berubah? Tentu saja, tidak! hanya saja jika hendak melakukan perubahan yang berarti, kita tetap perlu mencatat, mengukur, dan berefleksi. Sebab, tanpa mengukur (dan tentunya perlu dicatat) kita tidak bisa memperbaiki kesalahan kita yang telah lalu.

[embed]You Can’t Improve What You Don’t Measure: Sebuah Pertobatan Merampungkan tulisan dalam 2 sesi pomodoromedium.com

Memunculkan kebiasaan mencatat memang tidak mudah. Terlebih ini adalah game yang lebih mirip marathon daripada lari sprint 200 meter. Perlu kesungguhan dan konsistensi. well, it is an infinite game after all. Namanya ananta (infinite), pemenangnya bukan ia yang menjadi juara satu, dua atau tiga. Tapi, Pemenangnya ialah mereka yang bisa bertahan selama mungkin di dalam game bernama kehidupan ini.

Nantikan tulisan lainnya yang tidak kalah menarik! Membahas mengenai teknologi, pengalaman hidup, refleksi, hingga berbagi bacaan.

Berikan komentar 💬, tepukan 👏🏻 jika merasa tulisan ini beresonansi denganmu. Terima kasih. 🙏🏻


메타데이터
post_id
b6bf5ba09b37
slug
mencatat-dan-membuat-penganggaran-bulanan-b6bf5ba09b37
url
https://medium.com/@rafzarf/mencatat-dan-membuat-penganggaran-bulanan-b6bf5ba09b37
canonical_url
https://medium.com/@rafzarf/mencatat-dan-membuat-penganggaran-bulanan-b6bf5ba09b37
author_url
https://medium.com/@rafzarf
status
ok
fetched_at
2026-07-16 00:55:23