← Back to list

Selanjutnya adalah Mimpi-Mimpi di Siang Terik

Perihal-perihal pelik yang dipintakan oleh harap.

Amelia Azira · 2026-06-13 15:02 · 0 claps · 4.0 min read
#live #tragic #mimpi
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval

Selanjutnya adalah Mimpi-Mimpi di Siang Terik

Perihal-perihal pelik yang dipintakan oleh harap.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Saat umurku lima aku kerap bertanya, mengapa manusia dewasa sering terlihat merengut dan penuh amarah di raut dan kerut keningnya. Acap pula mereka menguarkan semerbak kebencian baik pada kehidupan atau pada tetangga yang menyebalkan.

Ayah dan Ibuku ku golongkan pula ke dalam kategori ‘dewasa’ itu. Namun, dalam banyak pengamatan, kesimpulan paling lumrah buatku yang belum lancar membaca adalah: ayahku cenderung lebih sabar, sedang ibuku lebih jenuh dan berapi-api. Pada sudut pikir yang sempit aku mengutarakan opini rumpang perihal: perbandingan pada sepasang itu sepenuhnya menjadi urusan mereka, aku yang belia tiada punya kuasa untuk turut campur atau turut memberi cela.

Saat umurku sepuluh, sejumlah jemari pada kedua tangan jika dihitung dengan sewajarnya (berbeda kasus jika punya kelainan polidaktili). Ada banyak pengetahuan lain yang dibentuk menjadi konsep abstrak di bagian paling sudut prefontral cortex milikku yang masih belum berkembang sempurna. Perihal argumen berkepanjangan tentang urusan rumah tangga, cinta, sanak saudara yang tidak tahu diri, kiamat, dan harga sembako yang setiap hari berfluktasi yang tak sudi memaklumi kemiskinan struktural dan ketidakmampuan fakir-miskin yang hampir setiap hari bergelut dengan pikir dan perut keroncongan.

Salah satu dari sepupuku hampir mati sebab mengidap busung lapar berkepanjangan tubuhnya meranggas seperti dedaunan kering di pohon yang dihinggapi benalu hampir di seluruh cabangnya, ibunya tiada punya upaya untuk mencari rezeki untuk 5 anaknya yang masih teramat kecil, sedang bapaknya adalah pecandu janda dan judi, meskipun luaran yang melekat pada tubuh lelaki berbau sangit itu adalah seorang alim yang beribadah dengan taat, ikut pengajian majelis di mesjid, dan pegawai sipil dengan gaji tetap. Baginya yang hanya memikirkan kepuasan birahi dan lembar uang pada nomor togel, anak-anak yang mati kelaparan dan istri yang dibungkam dengan biru lebam di sekujur tubuh adalah lumrah sebagai perwujudan patuh kepada suami (padahal jelas segala miris ini adalah kekerasan tak berujung atas praktik patriarki).

Tetanggaku adalah contoh dari bayang kehidupan yang tak kalah miris, sejak ayahnya mati tertindih sapi kurban yang mengamuk, ibunya yang malang menyusul tak lama kemudian sebab tak sanggup menahan perih pada hati dan perutnya (ibunya mengidap gastroenteritis akut). Maka, jadilah ia yatim piatu. Kemalangan yang menimpanya tidak menetap sampai pada itu saja, sanak saudara yang tamak adalah perihal lain yang lebih menyayat hati dan mematikan batang otak. Tak ayal serta merta jadilah ia fakir miskin pula, ditempatkan di panti asuhan yang overcrowded dengan pendanaan minim. Umurnya masih dua belas lebih enam bulan kala itu, namun di tahun selanjutnya dipaksa ia melalui jalur akselerasi sehingga jadilah ia anak umur tiga belas dengan mentalitas seorang paruh baya.

Saat aku lima belas, memasuki fase pubertas yang penuh gejolak dan keinginan untuk memberontak, fluktasi emosi dan pertumbuhan logis kurasa agak terlambat hadir pada pikirku. Aku sering berdebat bodoh (jelas aku yang bodoh) dengan ibu, salah satu sebabnya adalah perihal berbagai macam larangan yang muncul sebagai hasil dari rasa khawatir yang jika ku ingat kembali, cukup beralasan dan masuk akal.

Teman sekolahku juga pada dasarnya kebanyakan adalah remaja normal yang menikmati kebebasan mereka dengan kadar secukupnya, beruntung pula aku sebab teman-teman dekatku adalah remaja yang punya rasa syukur dan tahu diri, maka istilah ‘kenakalan remaja’ sama sekali tidak singgah dalam bagian masa remaja itu. Namun, tiada pula keberuntungan menyambangi setiap orang dalam kehidupan ini. Sebagian remaja lainnya yang kurang dalam ‘beruntung’ seringkali menemui nasib yang lebih tragis daripada yang lainnya.

Karakter manusia tentu terbentuk berlandaskan pada berbagai faktor yang menyertainya, rumah yang penuh dengan kasih cenderung jarang menghasilkan seorang anak yang penuh dendam (dalam berbagai kejadian demikian, tapi tidak menutup kemungkinan ada berbagai kasus yang bisa menjadi pengecualian pada perumpamaan ini).

Teman satu kelasku sebagai contoh, alasan absennya yang terlalu sering dari jadwal kelas, mulai dari senin sampai sabtu yang seharusnya dihadiri lengkap 8 sampai 9 jam sehari, tidak satupun ia menampakkan pucuk hidungnya. Kadang memang ada wajah lusuhnya terpampang di dalam kelas, tapi sebagian besar dibubuhi keterlambatan atau omelan berkepanjangan dari guru BK yang terkenal galak dan kurang berempati.

Tapi yang patut disalahkan atas kejadian ini? jikapun nasib baik adalah milik teman sekelasku itu, barangkali ia ingin pula berangkat ke sekolah setelah sarapan dengan rasa kenyang di perutnya (aku tahu perasaan ini karena dia pernah cerita padaku, entah apa alasannya barangkali sebab wajahku seperti seorang yang punya empati). Namun, hidup baginya tidak bisa menjadi ‘selayaknya’ remaja yang ia kehendaki, atau guru-guru di sekolah kehendaki. Bapaknya seorang candu dan bandar narkoba, ibunya korban kekerasan rumah tangga, ia dan tiga adiknya juga sering menjadi sasaran bogem bapaknya, biru-biru yang kelak menjadi ungu kerap ditutupi dengan sembarang dengan seragamnya yang kusut.

Begitulah ia menjalani hidup, tidak ada waktu untuknya pergi ke sekolah, sebab dari pagi hingga petang harus pula ia bermandi lumpur untuk mencari belut atau keong di sawah, jika jumlahnya cukup maka ia jual pada pengepul ikan (ayahku salah satunya), jika tak cukup maka dibawanya hasil yang sedikit itu untuk memberi makan adik-adiknya yang masih kecil, (sebagian dari mereka tumbuh dengan gejala stunting).

Namun, dari sekian banyak derita yang dijatuhkan pada pundaknya yang pada dasarnya tak cukup kokoh, derita lainnya adalah rasa perih yang tumbuh seiring dengan keyataan atas ketidakhadiran sosok orang tua yang tidak bertanggung jawab, keluarga disfungional yang kelak menghadirkan sosok pengedar dan pecandu narkoba pada dirinya. Maka, berputar pada lingkaran setan. Pernah ia berkata padaku “tiada ingin aku menjadi seperti bapak”. Namun, atas derita yang tak terpungkiri, ia menjadi seperti yang ia benci.

Selanjutnya, adalah mimpi-mimpi di siang terik. (Buram, tak jelas pangkal dan ujungnya, tak berakar dan tanpa tuju). Demikanlah aku mendeskripsikan segala fenomena yang masih tersimpan rapi dalam ingatku yang barangkali tak cukup baik.

Sebagian besar manusia akan senantiasa berharap pada penghidupan yang layak, kasih yang cukup untuk hidup dengan nyaman, harga sembako yang masuk akal, harga bbm yang juga harusnya masuk akal, terbebas dari krisis ekonomi dan inflasi mata uang, atau derita dan mimpi-mimpi buruk dikejar pocong. Namun, harap dan pinta tak dapat senantiasa terwujud sepenuhnya, tidak pada yang bernasib malang, tidak pada seorang anak yang mengidap gizi buruk, tidak pula pada seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga pecandu narkoba.

13/06/2026


메타데이터
post_id
b6e8c6a38b95
slug
selanjutnya-adalah-mimpi-mimpi-di-siang-terik-b6e8c6a38b95
url
https://medium.com/@ameliaazira18/selanjutnya-adalah-mimpi-mimpi-di-siang-terik-b6e8c6a38b95
canonical_url
https://medium.com/@ameliaazira18/selanjutnya-adalah-mimpi-mimpi-di-siang-terik-b6e8c6a38b95
author_url
https://medium.com/@ameliaazira18
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16