Sebuah Trauma, Kejadian Masa Lalu yang Menghampiri
Rantai luka itu biarlah berhenti di kamu oleh mu
Sebuah Trauma, Kejadian Masa Lalu yang Menghampiri
Rantai luka itu biarlah berhenti di kamu oleh mu
- Teman kita yang selalu tampak riang. Apakah dia baik-baik saja? Bisa jadi.
- Teman kita yang selalu menyapa kedatangan kita. Apakah mungkin dia tidak baik-baik saja? Bisa jadi.
- Teman kita yang selalu menyempatkan waktunya untuk membantu kita, kapanpun itu. Apakah mungkin dia sedang berhadapan dengan masalah? Bisa jadi.
Ya. Jawabannya selalu "Bisa jadi". Bisa jadi iya, dan tidak. Segala kemungkinan memang menunjukkan ketidakpastian. Akan tetapi, bila kita lihat dan peduli dengan hati maka kita pun akan tahu kepastiannya.
Terlihat bahagia dari luar belum menjamin bahagia dari dalam. Sudah saatnya kita tidak menutup mata lagi akan hal tersebut. Mereka-mereka tidak membutuhkan hal macam - macam. Mereka hanya butuh tempat. Tempat untuk mencurahkan isi hatinya. -Oleh Yudi Adhiguna-
Pengalaman seseorang dalam hidup tentu sangat berharga nilainya. Karena pengalaman memanglah guru terbaik, sebaik pemberian orang tua kepada anaknya. Kalau kita melihat "kebaikan" yang didapat. Bagaimana dengan keburukan yang didapatnya?
Selama menjalani hidup ke depan, pasti (kebaikan dan) keburukan itu selalu ada. Butuh suatu kekuatan dalam diri untuk yakin bahwa diri sendiri bisa berubah, mengubah penerimaan yang terjadi di masa lalu untuk diterima dan di-ikhlas-kan untuk hidup di masa kini. Namun, apakah semudah membalikkan telapak tangan?
Seperti sebuah kisah yang sering kita dengar sebagai bahan pembelajaran. Sudah terlalu banyak diceritakan kembali, sampai (aku sendiri) tidak tahu siapa kali pertama yang memberikan cerita ini. Kurang lebihnya begini.
Seorang anak yang diberi pelajaran istimewa oleh orang tua. Bahwa ketika dia berbuat salah satu kali pada satu hari, maka tusukanlah satu paku ke batang pohon pisang. Satu kesalahan untuk satu tusukkan paku. Begitu seterusnya untuk kesalahan yang diperbuatnya di satu hari selama beberapa hari. Selang beberapa hari, orang tua itu pun menghampiri anak tersebut dan memintanya mencabuti paku-paku yang ada. Sang anak menuruti dan melihat jelas bekas paku di batang pohon pisang yang seperti mengarat. Orang tua pun menjelaskan pelajaran akan hal yang telah diperbuatnya tersebut.
Pelajaran yang diambil yaitu apa yang kita beri akan mengeluarkan dampak pada orang lain. Baik atau buruknya berdasarkan apa yang kita beri. Tidak mudah hilang perbuatan baik yang diberikannya, dan juga luka yang diterima. Keduanya membekas dan selalu ada.
Kita bicara mengenai luka sebagai trauma masa lalu.
Luka itu seharusnya memang bukan untuk diterima sepenuhnya. Melainkan, menambalnya dengan suatu hal yang baik. Tidak untuk menghilangkannya, tapi menutupinya dengan yang baik. Luka itu tetap ada, tapi yang terlihat (keluar) adalah kebaikan yang telah menutupinya.
Apa sih luka itu?
Suatu hal buruk, ketakutan, kecemasan, ketidakpedulian, dan hal lain yang menyayat sedih di hati. Beberapa pola pengasuhan sedari kecil bisa memberi luka itu. Atau suatu perlakuan dari keluarga dan orang sekitar, yang mana orang tua kita tidak bisa selalu mengontrol kondisi kita, anaknya.
Aneh memang, ketika kita sendiri belum tahu apa itu takut, cemas, dan tidak peduli. Namun, kita seperti disalahkan oleh keadaan, dibuatnya takut dan cemas serta rasa ketidakpedulian, sehingga membuat luka itu muncul. Menjalani hidup sebagai anak kecil yang riang, menginginkan kedamaian menjalani yang ada, hidup penuh keharmonisan, tetapi luka itu malah diberi.
Sulit untuk melupakan, karena sudah tertanam, itu pasti. Kita, korbannya, menjadi tahu betul apa dan bagaimana luka itu bermula.
Untuk mu yang menjadi korban!
Ingatlah cerita di atas. Luka itu bisa kamu tutupi, cukup kamu saja yang mengalaminya. Sakit mu itu cukuplah kamu yang mendapatkannya. Sudah terlalu banyak beragam rasa sakit yang ada di dunia ini, jangan kau tambahi cerita sakit mu itu. Jangan kau umbar, jangan kau ungkap kembali, jangan kau sesali hari itu, jangan pula kau dendam dengan yang ada.
Kamu sudah tahu betul penyebabnya kan?
Maka aku memohon, jaga anak-anak mu kelak. Jangan kau beri mereka luka yang sulit hilang dan sejatinya disembunyikan itu. Aku berharap kamu kuat dan kamu menjadi penyelamat untuk anak mu kelak.
Kuatkan diri mu!
Kalau kamu butuh sandaran, maka carilah aku (lagi). Aku hadir bersama dengan peduli untuk berusaha menumbuhkan ketenangan di hati mu. Aku ada, berharap kamu selalu berusaha menjaga hati itu, agar yang keluar adalah cinta dan kasih sayang. Aku akan selalu ada untuk mu, pertama kali dan yang seterusnya. Aku tidak tahu dengan cara apa kamu akan kuat, cerita saja dan aku akan mendengar mu.
Tidak ada yang salah. Hanya pembelajaran sebagai bentuk karunia dari Sang Khalik. Maka syukur adalah kunci selamat dalam hidup. Kelak, akan ada berjuta keajaiban dengan kuatnya diri mu.
From the bottom of my heart, I love you.
Big Love from Umii<
메타데이터
- post_id
- b715bf8a4ef6
- slug
- bagaimana-pola-di-dalamnya-b715bf8a4ef6
- url
- https://medium.com/@widiyatun.uminur/bagaimana-pola-di-dalamnya-b715bf8a4ef6
- canonical_url
- https://medium.com/@widiyatun.uminur/bagaimana-pola-di-dalamnya-b715bf8a4ef6
- author_url
- https://medium.com/@widiyatun.uminur
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 15:02:43