Tidur Nyaman Itu Mahal
Catatan dari Seseorang yang Kakinya Nggak Berhenti Gemetar
Photo by Xiangkun ZHU on Unsplash
Tidur Nyaman Itu Mahal
Catatan dari Seseorang yang Kakinya Nggak Berhenti Gemetar
Disclaimer:
Tulisan ini ditulis oleh orang yang dua hari lalu lari keluar rumah dengan setengah badan masih basah karena baru selesai mandi. Jadi kalau ada bagian yang nggak nyambung, anggap aja itu efek samping adrenalin yang belum sepenuhnya turun.
Selasa, 16 Juni 2026. Jam setengah dua belas siang.
Gue baru selesai mandi, dan gue yakin momen itu adalah saat yang paling damai dalam hidup unat manusia, di mana satu-satunya kekhawatiran lo cuma “abis ini mau makan apa”.
Gue rebahan, buka Netflix, dan dengan penuh percaya diri menekan tombol “play” pada sebuah serial yang sudah gue tunda tiga minggu.
Ditengah cerita, tiba tiba terdengar satu bunyi.
Bunyi yang lebih rendah, lebih dalam, yang datang dari arah yang nggak bisa gue tunjuk.
Disusul getaran. Naik-turun.
Keras.
Otak gue, yang sepersekian detik sebelumnya sedang sibuk memilih antara “lanjut episode” atau “tidur siang”, mendadak melakukan satu hal yang sangat primitif: lari.
Gue keluar.
Tetangga keluar.
Semua orang keluar.
Dan satu kompleks mendadak ada acara kumpul dadakan yang nggak ada undangannya, di mana semua orang punya ekspresi wajah yang sama,
ini beneran kejadian, kan?
Dan ya. Beneran kejadian.
Gempa magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah, dengan pusat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu pada kedalaman 10 kilometer.
Tepatnya gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif.
Ini istilah teknis yang baru gue pelajari belakangan, karena pada saat kejadian, satu-satunya “analisis geologis” yang gue lakukan adalah memastikan kaki gue masih menempel ke tanah.
Yang nggak gue ceritakan ke siapa-siapa saat itu adalah kebingungan kenapa kaki gue gemetar, tanpa henti.
Bahkan setelah getarannya reda, kaki gue masih menjalankan program “panik” yang entah kenapa lupa di-uninstall.
Beberapa jam berlalu, gue yakin HP mulai berbunyi.
Keluarga menelepon.
Teman mengirim pesan.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Aman?”
“Astaga baru lihat berita.”
Dan gue, dengan kepura-puraan khas orang Indonesia yang nggak mau bikin orang lain khawatir, membalas,
“Alhamdulillah masih aman kok.”
Padahal kaki gemetar.
Padahal di dalam, gue masih cukup shock.
Malamnya, mungkin karena keputusan brilian untuk minum kopi (jam sebelas malam — sebuah keputusan yang akan gue sesali sampai paragraf terakhir tulisan ini), di tengah gempa susulan yang datang hampir tiap lima menit, gue baru bisa tidur lewat jam setengah satu pagi.
Dan dari malam tanpa tidur yang nyaman itu, gue menyadari beberapa hal.
1. Tidur Nyaman Itu Barang Mahal yang Nggak Ada di Indomaret
Gue baru benar-benar paham nilai sesuatu justru ketika kehilangan akses ke sana.
Sebelum malam itu, “tidur” buat gue cuma kegiatan default yang dilakukan setiap malam, semudah bernapas.
Gue nggak pernah mensyukurinya.
Sama seperti gue nggak pernah mensyukuri tembok rumah yang berdiri tegak, sampai gue sadar tembok itu bisa secara teknis, memutuskan untuk tidak berdiri tegak lagi.
Malam itu gue belajar bahwa
Ketenangan adalah komoditas mewah.
Lebih mahal dari kopi yang gue minum (yang sekali lagi, adalah kesalahan).
Lebih mahal dari Netflix premium.
Lebih mahal dari hampir semua hal yang bisa lo beli, karena ketenangan itu justru nggak dijual di mana-mana.
Dan yang bikin ketenangan mahal bukan cuma karena dia langka. Tapi karena tanpa ketenangan, semua keputusan lo jadi kacau.
Kepala yang dikelilingi rasa was-was itu seperti GPS yang dipasang di dalam blender.
Lo masih bisa jalan, tapi arahnya nggak bisa dipercaya.
Lo akan mengambil keputusan-keputusan yang, kalau diingat besok pagi dalam kondisi waras, bikin lo bertanya,
kemarin gue mikir apa, sih?”
Tidur yang nyenyak bukan kemewahan.
Dia infrastruktur dasar buat jadi manusia yang berfungsi.
Dan baru malam itu gue ngerti.
2. Anxiety Itu Bukan Soal Gempanya, Tapi Soal Informasi yang Gue Nggak Sanggup Cerna
Nah, di sini gue mau jujur soal sesuatu yang agak memalukan.
Yang bikin gue nggak bisa tidur malam itu, ternyata, bukan sepenuhnya gempanya.
Gempanya sendiri sudah selesai dalam hitungan belasan detik. Yang nggak selesai adalah apa yang terjadi di kepala gue setelahnya.
Dan bahan bakarnya adalah satu hal yang sangat modern, informasi yang terlalu banyak.
Gue refresh berita.
Gue scroll grup WhatsApp.
Gue baca thread orang-orang yang tiba-tiba jadi ahli seismologi.
Ada yang bilang bakal ada gempa lebih besar. Ada yang share ramalan entah dari mana. Ada yang nyebar info yang, belakangan gue tahu sama sekali nggak benar.
BMKG sampai harus mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan mengabaikan isu-isu hoaks yang tidak jelas sumber kebenarannya.
Tapi pada saat itu, otak gue nggak punya filter.
Semua informasi masuk dengan bobot yang sama. Kabar resmi BMKG dan postingan banyak akun dianggap setara kredibilitasnya oleh otak gue yang sedang panik.
Dan di sinilah gue menyadari sesuatu tentang anxiety yang selama ini gue salah paham, anxiety gue bukan reaksi terhadap bahaya nyata.
Dia reaksi terhadap banyaknya kemungkinan yang gue bayangkan sendiri.
Gempa susulan yang nyata memang ada, BMKG mencatat puluhan aktivitas gempa susulan dalam beberapa jam pertama, tapi 90% skenario horor di kepala gue malam itu alhamdulillahnya tidak pernah kejadian.
Ketakutan dan kekhawatiran itu seperti film yang diputar di bioskop pribadi bernama “pikiran gue”, dengan gue sebagai satu-satunya penonton, dan tiketnya dibayar pakai jam tidur.
Anxiety, gue sadari, adalah selisih antara jumlah informasi yang masuk dan kemampuan gue untuk mengolahnya.
Kalau informasinya banyak dan kemampuan olah gue rendah, selisihnya itulah yang menumpuk jadi kekhawatiran.
Kekhawatiran yang, sebagian besar, cuma ada di kepala.
3. Stres Berlebihan Itu Mahkluk yang Dulu Nggak Gue Kenal
Ini bagian yang paling personal, dan butuh sedikit perjalanan waktu untuk dijelaskan.
Dulu, gue nggak pernah benar-benar memahami stres.
Bukan karena gue manusia super tanpa beban, tapi karena — jujur saja — dulu hidup gue lebih sederhana. Kerjaan gue biasa aja. lingkupan gue dikerjaan lebih ringan.
Stres itu sesuatu yang gue dengar dari orang lain, kayak penyakit yang cuma menyerang “orang dewasa beneran”, bukan gue.
Jadi dulu, kalau ada orang ngeluh stres, diam-diam gue mikir,
“ah, lebay.”
Namun sekarang perkenankan gue untuk minta maaf, ke semua orang yang dulu gue cap lebay.
Karena ternyata stres itu bukan soal lo lemah atau kuat.
Dia soal beban yang lo pikul versus kapasitas lo saat ini.
karena ketika beban hidup seorang bertambah atau tanggung jawabnya lebih besar, serta ekspektasi lebih tinggi, hal-hal yang di pikirkan akan ikut menjadi lebih banyak — stres yang dulunya abstrak mendadak jadi sangat konkret.
Dia punya wujud.
Dia punya rasa.
Dan rasanya nggak enak.
Malam gempa itu cuma membuka tutup botolnya.
Stres yang sudah menumpuk pelan-pelan dari hari-hari biasa, ditambah guncangan 6,7 magnitudo, dan kopi sialan itu, tumpah satu malam tanpa tidur.
Dan untuk pertama kalinya, gue paham kenapa orang bilang “kesehatan mental itu serius”.
Karena ketika lo mengalaminya sendiri, lo nggak lagi bisa menyebutnya lebay.
Penutup: Yang Gue Pelajari (Selain Jangan Ngopi Malam-Malam)
Tiga hal di atas datang dari satu malam yang nggak gue rencanakan dan nggak gue inginkan.
Tapi mungkin begitulah cara hidup ngajarin sesuatu — nggak pakai silabus, nggak pakai pemberitahuan, langsung ujian.
Gue nulis ini bukan karena gue sudah “sembuh” atau sudah punya jawaban.
Gue masih orang yang sama, yang kalau ada getaran kecil sekarang langsung waspada, yang tidurnya masih belum sepenuhnya pulih, karena getaran itu masih terus berlanjut.
Tapi setidaknya, sekarang gue ngerti beberapa hal yang dulu nggak gue ngerti.
Bahwa tidur nyaman itu mahal, dan harus disyukuri tiap malam dia datang.
Bahwa anxiety gue sering kali lahir dari informasi yang gue konsumsi tanpa filter dan kadang, hal paling sehat yang bisa gue lakukan adalah menutup HP dan berhenti membaca.
Bahwa stres itu nyata, dan menertawakan stres orang lain adalah salah satu hal paling nggak berempati yang pernah gue lakukan.
Lebih lanjut, buat yang juga punya anxiety, atau kakinya juga suka gemetar, kepalanya suka memutar film horor tanpa diminta, gue cuma mau bilang lo nggak sendirian, dan lo nggak lebay.
Otak kita memang kadang bekerja terlalu keras menjaga kita dari bahaya yang bahkan belum tentu ada.
Dan buat semua yang terdampak gempa kemarin yang rumahnya rusak, yang kehilangan, yang masih ketakutan semoga lekas pulih.
Gempa memang terkadang menyisakan duka yang nyata buat banyak orang, dan tulisan receh gue ini sama sekali nggak bermaksud mengecilkan itu.
Sekarang, kalau lo nggak keberatan, gue mau coba tidur siang. Tanpa kopi.
Doakan.
Jakarta, Juni 2026
Taufik
메타데이터
- post_id
- b727dff5d62e
- slug
- tidur-nyaman-itu-mahal-b727dff5d62e
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/tidur-nyaman-itu-mahal-b727dff5d62e
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/tidur-nyaman-itu-mahal-b727dff5d62e
- author_url
- https://medium.com/@taufikismailhusain
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01