Benar dan Salah yang Bias
Membangun pondasi iman tidak lah mudah terasa seperti menanam benih di atas batu, apalagi hidup di tengah zaman yang gaduh oleh sorak sorai…
Benar dan Salah yang Bias
Membangun pondasi iman tidak lah mudah terasa seperti menanam benih di atas batu, apalagi hidup di tengah zaman yang gaduh oleh sorak sorai dosa. Hidup dikelilingi oleh normalisasi atas maksiat maksiat yang ada. Sulit tumbuh, apalagi bertahan, ketika sekitar kita justru menertawakan kebenaran dan memeluk kesalahan.
Maksiat kian dinormalisasi, bukan karena orang tak tahu itu salah… tapi karena mereka memilih bersembunyi di balik kata “hak”. Menegur dianggap mencampuri hidup orang. Mengingatkan disebut merampas kebebasan.
Mengikuti syariat dicap kaku. Menjauhi dosa dianggap tak asyik. Seolah-olah dunia sedang memainkan ulang naskah lama: kebenaran dibungkam, kesalahan dijadikan standar.
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan:63)
“Wajar masih muda”. Itu kalimat pembenaran paling sering terdengar — seolah-olah usia menjadi tameng untuk bebas berbuat salah. Padahal, siapa yang bisa menjamin umur? Jika terus diwajari, salah akan menjelma jadi kebiasaan, dan amal buruk pun tanpa sadar menumpuk.
Jujur… Berbicara itu mudah. Bahkan aku sendiri tak tahu, apakah langkah-langkahku selama ini benar-benar berpijak di atas iman… Ataukah hanya sekadar belum sempat tergoda, lalu kusebut ini sebagai iman?
Yang kuyakini hanya satu, aku berusaha untuk tidak tergoda dan semoga Allah tetap menjagaku agar tidak tergoda, sehingga langkah ini bukan hanya dibungkus iman palsu.
Tapi Allah Maha Tahu. Maha Baik. Dia perintahkan malaikat mencatat niat baik meski belum terlaksana. Tapi tak memerintahkan mencatat niat buruk sebelum dilakukan. Itu bentuk cinta yang tak layak kita abaikan.
Jadi biarlah… Jika harus dikata kolot, ketinggalan zaman, bahkan aneh… hanya karena tak ikut menormalisasi kesalahan, Maka biarlah begitu.
“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim)
Karena mempertahankan iman di tengah gemerlap dunia, adalah bentuk jihad yang Allah pasti pandang indah, meski dunia menertawakan kita dari segala arah.
메타데이터
- post_id
- b753e5a7a50f
- slug
- benar-dan-salah-yang-bias-b753e5a7a50f
- url
- https://medium.com/@0801.lnc/benar-dan-salah-yang-bias-b753e5a7a50f
- canonical_url
- https://medium.com/@0801.lnc/benar-dan-salah-yang-bias-b753e5a7a50f
- author_url
- https://medium.com/@0801.lnc
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 17:30:23