Pengamat Dan Pemikir
Elegi tentang persepsi
Pengamat Dan Pemikir
Elegi tentang persepsi

Mengamati.
Kemudian berdiam diri.
Semilir angin mengalir rendah. Melambai dengan lembut tiap abstraksi yang dijumpainya. Melewati medan yang angkat senjata, unjuk kebolehan memamerkan yang dimiliki. Membawanya menepi pada dua insan kecil yang elok nan mempesona sedang menanti semesta dinamis yang belum juga saling bertukar pandang sejak tadi.
Gadis kecil berusia dua belas tahun itu bergeming. Disampingnya duduk seorang bocah laki-laki antara enam sampai tujuh tahun (spekulasinya) yang sedang bersandar pada bangku kayu rapuh sembari memainkan kuku jarinya yang hitam. Menatap kedepan. Seperti dirinya.
Keduanya saling berpandangan sesaat. Selanjutnya mengalihkan.
Yang muda menatap kaki polosnya yang menggantung di bangku kayu sore itu. Penuh luka. Kotor. Lecet. Sakit. Teramat sakit tentu jika ditekuk sedikit saja jemarinya. Entah diam merupakan sebuah alternatif dirinya enggan menangis tak seperti bocah seusianya yang merengek setengah mati bila ada sedikit goresan di tubuhnya. Adik kecil ini menantang medan gagasan manusia. Bibirnya yang merah jambu banyak sekali terkelupas. Kepalanya yang pelontos dipenuhi luka. Agaknya didapati beberapa hari lalu sebab terlihat belum terlalu kering. Walau memiliki wajah yang bulat, tubuhnya ringkih. Rasa-rasanya bila disentuh sedikit saja ia akan berteriak melonglong luar biasa. Rapuh. Kaus dan celananya yang bermotif kelopak kamboja terlihat usang. Yang terlihat darinya hanya bahwa ia telah melewati ruang waktu yang meliuk tajam.
Cengkraman gadis itu pada bangku kayu menguat seiring surainya disapu angin yang cukup kencang.
Penampilannya tak jauh beda dari bocah kecil tadi. Malang. Nasib yang mendua.
Rambut yang tidak senada potongannya, poni yang terlampau pendek, dan daster putih yang bau lumpur. Tak beralas kaki, kuku penuh tanah, goresan luka sana sini di sekujur tubuh porselennya. Yah. Terlihat menyedihkan untuk mata siapapun.
Lantas apakah keduanya hanya mengamati helaian daun pohon yang berisik sebab saling beradu bersama angin? Setidaknya sampai saat ini, ya.
Terus mengamati. Berdiam lagi.
Terdengar.
Ah, suara sihir pertama.
Diam lagi. Cukup lama. Hingga-
Suara sihir kedua.
"Siapa namamu?"
Alih-alih menjawab dengan bibirnya yang merah jambu, bocah lelaki itu tampak menggerakkan tangannya. Membentuk alfabet dengan sederhana. Menatap sang gadis dengan mata bulat nan jernih bak embun yang meletup akan harapan.
Ren.
Gadis itu hanya mengangguk. Kembali menoleh pada kerikil tajam yang ia mainkan dengan kakinya yang lecet berulang kali.
Suara sihir ketiga.
Sudah dekat. Semakin dekat. Semakin memekakkan telinga.
"Kamu... " Sekar-nama gadis itu- tak lagi sanggup melanjutkan kalimatnya. Air mata semakin menggenang hingga pandangannya kabur. Tak berani berkedip. Menyadari mengapa keduanya bisa berakhir disini ketika Ren mulai berdiri ketika suara sihir keempat terdengar.
Sekar bangkit. Netra polos Ren mendongak. Sama sekali tak melepas pandangannya bahkan ketika Sekar menautkan jemari kecil keduanya. Bocah ini tersenyum. Sekar meringis. Haruskah ia tersenyum pula?
"Bersama" Ucap Sekar.
Suara sihir kelima.
Suara sihir terakhir yang terdengar oleh keduanya.
Dentingan besi yang bergesekkan semakin dekat. Semakin memekakkan telinga. Diiringi lonceng yang bagai gong pertanda bahwa keduanya harus berlari. Genggaman tangan keduanya menguat, diiringi langkah kaki yang beriringan. Terus berlari hingga menapaki besi yang dingin. Saling berpandangan dan melempar senyuman terbaik sebelum gerbong itu menghantam tubuh keduanya.
Mereka menantang Sang suara sihir. Yang terus meneriaki agar tak lagi masuk kedalam pergumulan kedewasaan. Yang beranggapan keduanya terbelenggu hal bodoh. Faktanya, mereka berusaha. Berusaha merangkai titik menjadi garis bak bilangan maya.
Pada semua pemikir yang menganggap bocah seperti mereka adalah kerikil dalam sepatu. Maka sebagai pengamat, memutuskan untuk usai adalah titik awal elegi. Teruntuk semua insan.
221231
메타데이터
- post_id
- b7905ffb7d6
- slug
- pengamat-dan-pemikir-b7905ffb7d6
- url
- https://medium.com/@moonlvie/pengamat-dan-pemikir-b7905ffb7d6
- canonical_url
- https://medium.com/@moonlvie/pengamat-dan-pemikir-b7905ffb7d6
- author_url
- https://medium.com/@moonlvie
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-21 02:51:34