Menjadi Medioker: Sebuah Seni untuk Menjadi Biasa Saja
Kemarin aku membayangkan menjadi orang dengan kekuasaan terbesar, kekayaan yang melimpah, atau diberkahi kecerdasan yang luar biasa. Namun…
Menjadi Medioker: Sebuah Seni untuk Menjadi Biasa Saja

ilusrasi dibuat dengan Gemini AI karena saya medioker
Kemarin aku membayangkan menjadi orang dengan kekuasaan terbesar, kekayaan yang melimpah, atau diberkahi kecerdasan yang luar biasa. Namun sesaat kemudian muncul pertanyaan yang sederhana: untuk apa semua itu?
Hari ini dunia dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menjadi sesuatu. Menjadi yang paling kaya, paling berpengaruh, paling cerdas, paling dikenal. Bahkan Elon Musk masih bernafsu untuk menorehkan namanya dalam sejarah manusia lewat proyek-proyek yang terdengar seperti fiksi ilmiah: pergi ke Mars, membangun koloni di sana, dan mungkin suatu hari membuat manusia lupa bahwa mereka berasal dari Bumi.
Aku tidak sedang menyalahkan ambisi. Ambisi mungkin adalah salah satu alasan mengapa manusia terus bergerak. Namun ketika semua orang ingin menjadi luar biasa, aku justru penasaran dengan nasib orang-orang yang biasa saja.
Bagaimana dengan mereka yang hidup tanpa obsesi untuk menguasai dunia? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak ingin menjadi legenda?Bagaimana dengan mereka yang setiap pagi bangun, bekerja, bercengkerama dengan keluarga, membayar tagihan, lalu tidur tanpa pernah berpikir untuk mengubah sejarah?
Mungkin mereka adalah orang-orang medioker. Kata “medioker” sendiri sering terdengar seperti hinaan. Ia ditempatkan berdekatan dengan kegagalan. Seolah-olah hidup yang biasa adalah hidup yang kurang berhasil. Padahal, aku mulai berpikir bahwa mediokritas justru memiliki fungsi yang amat penting.
Apa jadinya sebuah liga sepak bola tanpa tim-tim medioker? Tanpa klub-klub yang jarang juara, papan klasemen akan kehilangan bentuknya. Tidak ada ruang tengah. Hanya ada juara dan pecundang. Tidak ada pertandingan hari Minggu yang membosankan tetapi tetap ditonton karena seseorang mencintai klub kotanya.
Mediokritas mengisi ruang-ruang yang sering tidak diperhatikan. Ia adalah jembatan antara yang sempurna dan yang sial. Antara yang tampan dan yang buruk rupa. Antara yang sangat kaya dan yang sangat miskin. Antara mereka yang selalu berhasil dan mereka yang terus gagal. Ia adalah ruang antara. Dan justru karena berada di ruang antara itulah mediokritas sering luput dari perhatian.
Mungkin seperti nama “Agus”. Bayangkan saja ada perkumpulan orang bernama Agus. Tidak ada yang terlalu istimewa dari nama itu. Ia terdengar umum, mudah diingat, dan mungkin lahir dari keputusan sederhana orang tua yang tidak sedang berusaha menciptakan keunikan. Bisa jadi karena lahir bulan Agustus. Bisa jadi karena alasan lain yang jauh lebih sederhana.
Namun justru karena keumumannya, nama seperti Agus menjadi penanda bahwa tidak semua hal harus luar biasa untuk memiliki makna. Bayangkan jika seluruh nama di Indonesia harus unik dan spektakuler. Kita akan hidup dalam perlombaan tanpa akhir untuk menjadi berbeda. Padahal kadang-kadang dunia membutuhkan sesuatu yang cukup biasa agar kita masih memiliki titik acuan tentang apa itu normal.
Pikiran ini muncul setelah aku bertemu dengan teman-teman di Ruang Dengar. Komunitas itu bahkan lahir bukan dari perencanaan strategis yang rapi. Tidak ada proposal yang tebal. Tidak ada visi-misi yang ditulis dengan bahasa korporat. Ia lahir begitu saja. Orang datang, duduk, ngobrol, mendengar, lalu pulang. Di sana muncul banyak pertanyaan tentang masa depan. Tentang mimpi. Tentang ambisi. Tentang cita-cita yang konon harus dimiliki semua orang. Aku mendengar banyak orang kesulitan menjawab pertanyaan sederhana: “Apa mimpimu?” Mungkin masalahnya bukan karena mereka tidak punya mimpi. Masalahnya adalah kita hidup di zaman yang membuat mimpi selalu harus terdengar spektakuler. Kita diajarkan bahwa hidup harus memiliki tujuan besar. Harus meninggalkan jejak. Harus menjadi sesuatu.
Padahal bisa jadi ada seseorang yang mimpinya hanya ingin hidup tenang. Membesarkan anak dengan baik. Memiliki rumah kecil yang cukup. Punya teman untuk diajak mengobrol. Atau sekadar tidak terlalu cemas ketika bangun pagi.
Sayangnya mimpi-mimpi seperti itu sering dianggap kurang ambisius. Kurang megah. Kurang layak dipamerkan di media sosial. Padahal siapa tahu justru di situlah letak keberanian yang sebenarnya. Sebab hidup yang biasa-biasa saja sering kali jauh lebih sulit dijalani daripada hidup yang penuh slogan motivasi.
Jangan-jangan kehidupan yang kita anggap medioker ini sesungguhnya sangat spesial di mata orang lain. Jangan-jangan ada seseorang yang memandang hidup kita dan diam-diam berharap bisa memiliki apa yang kita miliki. Ketenangan yang kita anggap biasa mungkin adalah kemewahan bagi orang lain. Waktu luang yang kita keluhkan mungkin adalah impian bagi mereka yang selalu sibuk.
Mungkin ada satu hal lagi yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang ambisi dan mediokritas. Kita mengira bahwa manusia selalu ingin menjadi luar biasa. Kita mengira bahwa hasrat terbesar setiap orang adalah menjadi yang paling sukses, paling kaya, paling berpengaruh, atau paling dikenang. Namun semakin sering aku bertemu dengan orang-orang, semakin aku merasa bahwa yang dicari manusia sebenarnya jauh lebih sederhana dari itu. Barangkali kita tidak benar-benar ingin menjadi luar biasa. Kita hanya ingin diakui keberadaannya.
Seorang anak ingin didengar oleh orang tuanya. Seorang pekerja ingin usahanya dihargai. Seorang guru ingin tahu bahwa apa yang ia ajarkan meninggalkan bekas dalam diri muridnya. Seorang teman ingin merasa kehadirannya berarti bagi orang lain. Bahkan dalam bentuknya yang paling sederhana, manusia selalu mencari pengakuan bahwa dirinya ada dan memiliki arti.
Persoalannya, kita hidup di zaman yang sering mengajarkan bahwa pengakuan hanya bisa diperoleh melalui pencapaian yang spektakuler. Seolah-olah seseorang baru layak dilihat ketika berhasil menjadi sesuatu yang besar.
Padahal bisa jadi sebagian besar pengakuan yang kita butuhkan justru hadir dalam ruang-ruang yang sangat biasa. Dalam sapaan tetangga setiap pagi. Dalam obrolan yang berlangsung tanpa tujuan jelas. Dalam teman-teman yang masih mengingat nama kita ketika lama tak bertemu. Dalam murid yang beberapa tahun kemudian berkata bahwa satu kalimat yang pernah kita ucapkan ternyata membekas dalam hidupnya.
Tidak ada yang viral dari peristiwa-peristiwa itu. Tidak ada penghargaan yang diberikan. Tidak ada panggung yang disediakan. Namun di situlah manusia sering menemukan bahwa dirinya ternyata berarti bagi orang lain.
Mungkin karena itulah aku mulai curiga pada obsesi zaman ini terhadap keistimewaan. Kita terlalu sibuk mengejar hal-hal yang luar biasa sampai lupa menikmati hal-hal yang cukup. Kita mengejar pengakuan dari dunia yang begitu besar, sementara sering kali pengakuan yang kita butuhkan sudah hadir dalam lingkaran kecil kehidupan kita sendiri. Kita ingin dikenang oleh sejarah, padahal ada kemungkinan yang jauh lebih indah: dikenang oleh beberapa orang yang pernah berjalan bersama kita.
Maka mungkin persoalannya bukan bagaimana menjadi luar biasa, melainkan bagaimana belajar menghargai yang biasa. Karena dunia hari ini terlalu sering memuja puncak gunung dan lupa bahwa sebagian besar kehidupan justru berlangsung di lerengnya.
Persoalan mediokritas ini bahkan bisa dibaca dalam kehidupan sosial kita. Contohnya saja, ketika harga Pertamax naik, misalnya. Itu bukan semata persoalan kelas bawah. Itu juga bukan persoalan orang-orang yang sangat kaya. Itu adalah persoalan kelas menengah. Golongan yang selalu berada di tengah. Tidak cukup miskin untuk mendapatkan banyak bantuan. Tidak cukup kaya untuk kebal terhadap kenaikan harga.
Mereka hidup di ruang antara. Sebuah posisi yang sering dianggap membosankan, tetapi justru menjadi fondasi dari banyak hal. Mereka adalah kelompok yang jarang menjadi headline berita. Tidak cukup menderita untuk mendapatkan simpati massal, tetapi juga tidak cukup berkuasa untuk menentukan arah kebijakan. Mereka seperti jeda dalam sebuah lagu: tidak menarik perhatian, tetapi tanpanya musik akan kehilangan ritmenya. Dan mungkin memang begitulah mediokritas bekerja. Ia tidak gemerlap. Ia tidak viral. Ia tidak menjadi headline. Namun tanpanya, struktur kehidupan kehilangan penyangga.
Karena pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang menjadi yang terbaik. Kadang-kadang hidup hanya tentang bertahan di ruang antara. Menjalani hari-hari yang begitu-begitu saja. Bangun, bekerja, bercanda, kecewa, jatuh cinta, lalu mengulanginya lagi esok hari.
Membosankan? Mungkin. Tetapi bukankah sebagian besar kehidupan memang berlangsung di sana? Di wilayah yang tidak heroik. Tidak tragis. Tidak spektakuler. Hanya manusia yang sedang berusaha hidup sebaik yang ia bisa.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus memaksa kita untuk menjadi istimewa, keberanian terbesar justru adalah menerima bahwa hidup yang biasa-biasa saja pun layak untuk dirayakan. Sebab bisa jadi, yang kita cari selama ini bukanlah keistimewaan, melainkan pengakuan bahwa keberadaan kita memiliki arti. Dan ketika pengakuan itu ditemukan — dalam keluarga, dalam persahabatan, dalam percakapan sederhana, atau bahkan dalam keheningan yang dibagikan bersama orang lain — maka hidup yang tampak medioker itu tidak lagi terasa biasa. Ia menjadi sebuah kehidupan yang utuh. Tidak sempurna, tetapi cukup. Tidak luar biasa, tetapi bermakna.
메타데이터
- post_id
- b7a47dec6f5f
- slug
- menjadi-medioker-sebuah-seni-untuk-menjadi-biasa-saja-b7a47dec6f5f
- url
- https://medium.com/@minkemellema/menjadi-medioker-sebuah-seni-untuk-menjadi-biasa-saja-b7a47dec6f5f
- canonical_url
- https://medium.com/@minkemellema/menjadi-medioker-sebuah-seni-untuk-menjadi-biasa-saja-b7a47dec6f5f
- author_url
- https://medium.com/@minkemellema
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36