← Back to list

Tiada Satu Pun yang Luput — Refleksi KKR Risen for a Reason 2026

Perjalanan pertobatanku dimulai ketika aku berada di komunitas ini — sebuah keluarga-tidak-sempurna yang selalu jadi rumah untuk pulang…

Eleazar Evan Moeljono · 2026-04-20 18:40 · 1 claps · 7.8 min read
#transformasi #kebangunan-rohani #kristen #gereja #pertobatan
Open on Medium ↗

Tiada Satu Pun yang Luput — Refleksi KKR Risen for a Reason 2026

Perjalanan pertobatanku dimulai ketika aku berada di komunitas ini — sebuah keluarga-tidak-sempurna yang selalu jadi rumah untuk pulang, seberapapun jauh aku dan teman-temanku pergi.

Panggil aku beruntung sebab semasa remaja aku dikelilingi teman-teman yang mau berbagi hidup lewat komunitas Remaja GKI Ambarawa. Setiap Sabtu kami berkumpul untuk persekutuan, dimulai dari dalam gedung gereja dan (seringnya) berakhir di suatu tempat makan malam yang dingin tapi dihangatkan canda tawa dan obrolan personal sepulang gereja.

Namun aku akan berbohong jika mengatakan bahwa masa remajaku adalah yang paling sempurna-dan-suci sebagaimana banyak orang berusaha membayangkannya.

Di waktu-waktu inilah untuk pertama kalinya aku dan teman-teman sekitarku mengenal pornografi, pacaran yang tidak sehat, kesempatan untuk lebih banyak berbohong, dan yang paling parah — mempraktikkan hidup menjadi seorang hipokrit yang terlihat suci di weekends dan bejat di weekdays.

Suasana Ibadah Remaja GKI Ambarawa (2015).

Suasana Ibadah Remaja GKI Ambarawa (2015).

Harus diakui, kontrasnya terang panggung remaja saat itu dengan gelapnya tempat duduk kami adalah gambaran yang tepat untuk kehidupan remajaku.

Tidak ada satu pun yang tahu, betapa dalamnya aku telah jatuh dalam dosa.

Dari luar, pelayananku terlihat baik. Dari samping, keramahanku terasa hangat. Dari belakang, pembawaanku terlihat enerjik.

Dari dalam, aku rusak dan hilang arah.

Photo by LARAM on Unsplash

Photo by LARAM on Unsplash

Sampai di sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di tahun 2014 mencelikkan mataku. Dipandu oleh Ev. Carmia Margaret yang saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat satu di sebuah seminari di Malang, aku menyerahkan diriku untuk bertobat dari dosa-dosaku. Aku sebutkan secara lantang, bahwa aku ingin lepas dari kecemaran pornografi, kepahitan dan sakit hati, serta keinginan untuk menjadi pusat perhatian.

Namun saat itu aku tidak tahu bahwa ternyata komitmen yang aku buat sebagai respons dari altar call di KKR tersebut justru menjadi sarana Iblis untuk menipuku.

Tidak lama setelah KKR berakhir, aku kembali jatuh dalam dosa. Rasa malu yang muncul menyelimuti pikiranku, dan di situlah Iblis berbisik, “Tuh kan? Buat apa kamu nangis-nangis di KKR kemarin? Buktinya kamu sekarang jatuh lagi…”

Aku takut.

Dakwaan yang Iblis berikan ternyata tidak terjadi sekali dua kali. Setiap kali aku diizinkan TUHAN untuk ikut dalam KKR, di saat itu pula aku harus pulang bergulat dengan konflik batin sebab penguasaan diriku lemah.

Dia seperti preman yang sudah menunggu di ujung gang untuk menyerangku — setiap kali aku habis membawa pulang satu benih Injil dari KKR.

Sebagai pattern-loving creature, aku melihat kejadian-kejadian ini sebagai sebuah siklus yang akhirnya harus diantisipasi.

Aku berdosa → aku tersadar lewat Firman → aku berkomitmen untuk bertobat → semangat membara dalam hatiku → aku jatuh → dakwaan Iblis menyelimutiku.

Dalam upayaku memutus rantai yang tidak berujung ini, aku menggunakan berbagai cara praktis untuk tidak lagi jatuh dalam dosa. Uninstall aplikasi. Pasang aplikasi pelindung untuk memfilter konten. Membagikan cerita ke rekan akuntabilitas (saat itu namanya belum KTB).

Tidak ada satu pun cara yang aku upayakan sendiri membuahkan hasil jangka panjang.

Dalam hitungan hari, godaan kembali menghampiri dan menghasutku untuk jatuh.

…dan lagi-lagi, aku takut.

Photo by Marvin Zi on Unsplash

Photo by Marvin Zi on Unsplash

KKR Risen for a Reason (2026).

KKR Risen for a Reason (2026).

Empat belas tahun berselang sejak aku mulai menyadari keberdosaanku — dan dua belas tahun sejak aku mengikuti KKR yang mengubahkan cara pandangku — seorang pengurus mengajakku untuk berbagian dalam KKR Risen for a Reason yang diselenggarakan di GKI Ambarawa.

Saat itu aku sudah tinggal jauh di Malang, tidak lagi mengikuti perkembangan komunitas yang selama ini aku anggap rumah. Aku sudah tidak tahu kabar satu-satu orang yang berbagian di dalamnya, meski aku sadar betul bahwa dulu ketika aku di sana, aku adalah salah satu dari mereka yang menutup-nutupi keberdosaanku dengan kesibukan pelayanan.

TUHAN begitu baik. Dalam percakapan meluruskan ajakan untuk berbagian dalam KKR Risen for a Reason ini, Dia mengizinkan aku dan seorang pengurus tadi untuk mendiskusikan kembali tujuan diadakannya KKR ini. Lebih dari sekadar program rutin tahunan, KKR ini menjadi ruang pertempuran rohani antara TUHAN Allah Semesta Alam dengan Iblis dan pasukannya yang sudah menipu daya setiap anak muda dengan berbagai cara.

Akhirnya kami berdua sepakat untuk mengawali persiapan KKR ini dengan doa secara serius. Tidak hanya sebagai formalitas “minta izin” untuk memperoleh kelancaran dalam persiapan, kami menaikkan doa yang berbahaya: selidiki kami, hancurkan kami, utuslah kami.

Persiapan teknis musik pun dilanjutkan dengan pemilihan lagu — yang harus diakui, juga dipilih dengan alasan pragmatis: sesuai dengan apa yang ada di YouTube Sari Simorangkir supaya menghemat waktu dan tenaga untuk aransemen.

Namun lagi-lagi TUHAN mengajak kami untuk melihat lebih dalam.

Tidak hanya sekadar meringankan beban aransemen, lagu-lagu yang terpilih adalah lagu-lagu yang mengisi masa remajaku (secara pribadi memiliki tempat istimewa dalam hatiku) serta pesannya masih setia pada apa yang ditulis di Alkitab. Seluruh pelayan menyepakati pilihan lagu ini dan kemudian secara antusias melatih diri dengan latihan larut malam sepulang sekolah, kerja, persiapan paduan suara, serta pekerjaan rumah.

Aku yang berada jauh di Malang hanya mengandalkan rekaman tiap latihan untuk dapat mengikuti urutan lagu yang sudah disepakati. Jujur, latihan jarak jauh ini ternyata tidak mudah karena KKR ini bukan pekerjaan utama. Ingatan yang terbatas membuat aku sering lupa bagian-bagian penting dalam urutan lagu ini.

Hingga tiba harinya aku berkesempatan pulang ke Ambarawa dan berlatih secara tatap muka dengan mereka yang sudah 7x berlatih secara intens sebelumnya.

KKR Risen for a Reason (2026).

KKR Risen for a Reason (2026).

Kamu harus tahu: persiapan pelayanan musik KKR ini ajaib. Musik, WL, dan singer bisa sangat kompak dan tidak ada ‘masalah yang berarti’. Tidak ada satu pun yang jatuh sakit (kecuali Syallom yang terkilir di rumah). Hampir semua bisa dengan sukacita terhubung dengan TUHAN selama pelayanan. Di WhatsApp group, kami selalu diingatkan untuk melekat pada TUHAN.

Setelah dipikir-pikir lagi, ini bukan hasil kerja keras koordinator maupun WL. Ini murni pemberian TUHAN, sebab tidak pernah terbayang bahwa kami akan bisa melayani dalam satu tim yang rasanya sudah sama seperti keluarga ini.

Hal yang lebih ajaib lagi adalah ketika Ivana, Wakil Ketua Komisi Pemuda-Remaja, mengingatkan setiap kami bahwa ini bukan tentang hingar-bingar acara maupun megahnya panggung. Ini adalah tentang TUHAN, di mana setiap orang yang terlibat juga diundang untuk menikmati Dia dalam Firman.

Tidak ada satu pun yang diizinkan untuk menghindar dan disibukkan pelayanan sehingga tidak mendengarkan Firman.

Alhasil, khotbah bisa berlangsung dengan khidmat dan serius.

KKR Risen for a Reason (2026).

KKR Risen for a Reason (2026).

Pdt. Michael Teng membuka khotbah dengan rangkaian kisah kematian. Kematian karena janggut, kematian karena mukbang, kematian karena putus asa, kematian yang menyebabkan duka yang mendalam. Getirnya kita memandang kematian pun diikuti dengan kenyataan bahwa 1 dari 3 anak muda Indonesia memiliki masalah kesehatan mental.

Ini membuat Pdt. Mike menekankan bahwa kita tidak hidup baik-baik saja.

Dunia yang kita harap indah serasa runtuh ketika menyadari bahwa segala pegangan hidup kita tidak ada yang bisa diandalkan.

Jesus crucified.

Jesus crucified.

Untuk itulah Kristus hadir ke bumi. Dia mati untuk menebus manusia dari dosa yang mematikan. Dia ingin mengingatkan manusia akan pesan kasih TUHAN yang sudah tergaung dari sejak Perjanjian Lama:

Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu.

Dia ingin semua yang termasuk dalam umat pilihan-Nya bisa menyadari kisah kasih TUHAN ini, sehingga hidupnya bisa berubah dan menyebarkan pesan kasih ini kepada lebih banyak orang.

Inilah kabar baik itu, bahwa tidak ada satupun yang luput dari karya kasih TUHAN.

KKR Risen for a Reason (2026).

KKR Risen for a Reason (2026).

Maka ketika Pdt. Mike mengundang anak-anak muda yang tergerak untuk maju dan didoakan, puluhan pasang kaki berderap maju dan berlutut di depan altar. Orang-orang dewasa yang mendampingi digerakkan TUHAN untuk mendoakan mereka yang masih muda — agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Mereka yang mau meninggalkan dosa — TUHAN undang untuk maju. Mereka yang mau mengakui Yesus sebagai TUHAN — Dia undang untuk maju pula. Mereka yang mau menyerahkan diri menjadi hamba TUHAN — Dia undang untuk ikut berlutut.

Suasana haru menyelimuti gedung ibadah tanda keseriusan doa. Air mata tak kuasa tertahan, mengalir deras di pipi sebagian anak muda di sana.

Sekali lagi: Tiada satupun yang luput dari karya kasih-Nya.

WarungSaTeKamu.org (2014).

WarungSaTeKamu.org (2014).

Sayangnya, seremoni KKR itu harus berakhir karena malam sudah menunjukkan geliatnya. Ratusan orang berbondong-bondong keluar dari gedung untuk berfoto bersama di photobooth dan menerima kelezatan konsumsi setelah 2,5 jam berjingkrak dan bertekun dalam Firman.

Pertanyaannya, apakah ini tandanya karya-Nya sudah berakhir?

Alih-alih berakhir, karya TUHAN justru baru dimulai dari KKR itu.

Beberapa jam selepas KKR usai, aku melangkahkan kaki mengelilingi Ambarawa hendak membagikan box konsumsi yang masih tersisa. Terlintas di benak pola-pola KKR lama yang sudah mudah diprediksi. Namun, kali ini aku melangkah dengan berbeda.

KKR Risen for a Reason (2026).

KKR Risen for a Reason (2026).

Sebab, di usiaku yang sudah melewati 25 ini, aku akhirnya bisa menyadari bahwa apa yang TUHAN izinkan lakukan dalam hidupku adalah untuk membautku semakin bergantung pada-Nya. Aku tidak lagi bergantung pada usahaku sendiri untuk bertobat. Aku tidak lagi bergantung pada sesamaku saja untuk berubah. Aku menyerahkan diriku kepada-Nya untuk secara leluasa bekerja di dalam dan melaluiku.

Bapa, Engkau mengenalku Lebih dari siapa pun Engkau tahu ceritaku Dan isi hatiku

‘Tak peduli masa lalu Engkau tetap memilihku Ubahkanku, sempurnakan Jadi karya yang indah

Kini aku percaya Tiada yang mustahil bagi-Mu Kuasa-Mu kuatkanku Dasarku berharap

Kini aku berserah Pada rancangan-Mu bagiku Kuikuti panggilan-Mu Ku’kan setia sampai akhir hidupku

Meski tidak ada jaminan bahwa tahun 2026 ini akan dilalui dengan mulus, TUHAN secara gamblang menyatakan kesediaan-Nya untuk ikut berjalan sertaku dalam setiap musim kehidupan. Di tengah kecemasan, ketakutan, godaan, maupun kejatuhan, Dia tetap ada di sisiku untuk mendekapku dengan hangat. Dia tahu ceritaku, dan meski rusak akibat dosa, hidupku tetap Dia bentuk untuk semakin hari semakin serupa dengan Dia.

Malam ini di Salatiga, 3 hari selepas KKR itu berlangsung, aku duduk dengan tenang. Menyadari bahwa setelah ini badai hidup akan kembali datang, tetapi dapat dihadapi dengan tenang sebab Dia ada di dalam kapal.

Kiranya pertobatan ini dapat menjadi wujud transformasi diri untuk kemuliaan-Nya di akhir nanti.


메타데이터
post_id
b7a76df50c0d
slug
tiada-satu-pun-yang-luput-refleksi-kkr-risen-for-a-reason-2026-b7a76df50c0d
url
https://medium.com/@el22ezer/tiada-satu-pun-yang-luput-refleksi-kkr-risen-for-a-reason-2026-b7a76df50c0d
canonical_url
https://medium.com/@el22ezer/tiada-satu-pun-yang-luput-refleksi-kkr-risen-for-a-reason-2026-b7a76df50c0d
author_url
https://medium.com/@el22ezer
status
ok
fetched_at
2026-07-11 03:00:40