Walked Me Through The Fire, You Were There.
Dengan perasaan yang gusar, River tanpa celah menyambar kunci mobilnya di meja yang tersedia di kamar hotel yang sedang ia tempati. Ia…
Walked Me Through The Fire, You Were There.

Dengan perasaan yang gusar, River tanpa celah menyambar kunci mobilnya di meja yang tersedia di kamar hotel yang sedang ia tempati. Ia menyetir dengan kecepatan yang cukup kencang, menerobos angin Tokyo siang itu, pikirannya tak karuan. Antara rindu dan sesak, lalu berubah menjadi sedih, dan berakhir kalut tak berbentuk.
Ibunya, wanita yang paling ia sayangi. Ibunya, pilar yang selalu menjadi kekuatan terbesar alasan ia untuk terus menggapai mimpinya. Ibunya, yang selalu siaga kala River selalu meminta diantar untuk pergi ke toilet saat malam hari, di tengah tidurnya. Ibunya, yang selalu menjawab pertanyaan River mengenai berapa jumlah dinosaurus yang sebetulnya, tentang mengapa superman memakai celana dalam di luar pakaiannya, tentang mengapa sebagai warga sipil, kita wajib membayar pajak.
River yang selalu bersikap dewasa di depan orang lain, tak lagi menunjukan sisinya yang itu, ketika bersama sang Ibu. River hanyalah anak laki-laki bungsu yang selalu ingin diusap punggungnya kala tertidur, disuapi ketika makan, dan menangis bila merasa kesakitan. River yang berhati lembut seperti sang Ibu, tak bisa mendapatkan tekanan ketika dirinya tidak sanggup. Namun, apa boleh buat? Ayahnya adalah Januar Harkadi, darah tegas dan keras nya itu mengental menjadikan sikapnya tidak disukai anaknya. Dapat dikatakan, tidak mudah bagi River atau pun Janitra untuk hidup dengan mengemban nama Harkadi sepanjang hayatnya. Kabar baiknya, Kedua anak Rachel Inggita dan Januar Harkadi mewarisi sifat sang Ibu.
River menginjak pedal rem, membuka sabuk pengaman, dan memarkirkan mobilnya dengan rapi, lalu melangkah keluar. Joel Robuchon Restaurant, menjadi tempat makan yang ia datangi ke-3 selama berada di Tokyo, layaknya mimpi, River tidak pernah bermimpi, akan bertemu Ibunya disini. Apalagi, dengan fakta Ivy yang membawanya bertemu dengan sang Ibu. Sepertinya Tuhan memberkatinya melalui wanita yang ia cintai.
“River!”
Matanya menangkap pergerakan perempuan berambut panjang yang selama ini ia kenal sebagai wanitanya sedang melambaikan tangan, sontak dadanya bergemuruh, berdebar karena gugup. Karena di balik dinding berwarna gading dengan lampu-lampu mewah yang menyita atensinya, ada satu presensi yang sedang membelakangi, dan jauh lebih membuatnya penasaran dan bertanya-tanya.
Presensi tersebut mulai membalikan tubuhnya, satu tahun kurang River tidak melihat perawakan ringkih dan lembutnya sang Ibu, membuat ia melangkahkan kakinya, berderap cepat, memeluk sang Ibu dengan rasa sesal yang mendalam. Ia menghirup aroma sang Ibu yang tak pernah asing dan akan selalu terasa seperti rumah. Tanpa sadar, River sudah menangis dan membasahi pundak sang Ibu.
“River, nangisnya jangan kebanyakan sayang. Malu dilihat Ivy tuh?” Sang Ibu meledeknya untuk mengurangi rasa sedih sang Putra.
Ivy hanya bisa diam dan berkaca-kaca, ketika melihat interaksi Ibu dengan anak di hadapannya. Kehangatan terpancar, yang tak pernah ia rasakan sedari kecil, pelukan yang ia lihat kali ini juga sudah ia lupakan karena sudah terlalu lapuk dan terlalu usang untuk berada di memorinya. Tentu saja ia bersyukur, karena River mendapatkannya.
“Biarin.” River mengataknnya dengan suara yang parau.
“I’m sorry Mom, for ignoring you, being a bad son, and for letting you survived alone.” Terdengar banyak jeda di kalimatnya.
“That’s okay baby, kalau kamu bad son, aku bad mom dong? I’m sorry River, I’m the one who ruined our family.”
River menggeleng cepat di pelukan, dan mengundang tawa sang Ibu.
“There is nothing bad between us, you are my precious child, we are all just in the process. Remember son, mama selalu bilang, kalau pun ada seorang anak yang gagal jadi manusia seutuhnya, yang patut disalahin pertama kali itu orang tuanya. Dan kamu gak pernah kecewain mama River. Aku bangga, karena berarti aku berhasil besarkan anakku.”
Rachel melepas pelukannya, membiarkan River duduk bersebrangan dengannya, dan berdampingan dengan Ivy.
Ivy mengaitkan jarinya dengan milik River di bawah meja, mengusap punggung tangan River, guna menyalurkan dukungannya secara diam-diam.
“So, How’s New York lately?” Rachel mengeluarakan naluri ke-ibuannya. memanggil pelayan untuk menambah pesanan.
“I’d like to add my order, a Wagyu steak.” Pelayan yang mendatangi meja mereka menganguk dan melangkah pergi.
“Gitu aja sih Mom, sibuk.” River memainkan tangannya yang masih berpegangan di bawah.
“Kakak, kasih tau aku katanya kamu udah lebih sering tinggal di Harlem dan bukan apartnya lagi ya?”
Pesanan River sampai dengan cepat.
“Thank you.” River menatap kekasihnya, nampak ragu.
“Iya …”
Ivy merasakan ketegangan yang River rasakan seolah terbagi melalui genggamannya. Ia juga takut jika fakta bahwa mereka tinggal bersama walaupun niat pada awalnya bukanlah seperti itu akan terungkap, rasa cemasnya sangat kuat, takut sebagai Ibu, Rachel akan menentang keputusannya dengan River.
“Kalian mau sampai kapan sih itu pegangan tangan di bawah? Kaya pickpocket aja, diem-diem begitu.” Rachel tertawa melihat ekspresi Ivy yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri, terkejut reflek mengangkat tangannya ke atas.
“Eh … gini Tante … Aku sama River tuh — ”
“We’re dating Mom.” River memotong pembicaraan River, melihat Ivy yang gugup untuk berterus terang.
“Ya … Yaudah? Aku juga udah tau kok Vy, Janitra cerita waktu terakhir ke Bali.”
Ivy terkejut setengah mati, sedang River hanya tertawa merasa rasa cemasnya sia-sia karena sang Ibu begitu santai dan tampak menyetujui keputusannya dengan Ivy.
“Tante, I’m sorryyy.” Dengan putus asa, Ivy melemaskan bahunya menaikkan bibirnya, merasa bersalah.
“You don’t have to!” Ibu dan anak itu kompak bersamaan menjawab pernyataan Ivy.
“You’re dating my son, I should be grateful, why are you apologizing instead? Dia baik kan Vy?” Rachel mengerling, berusaha menangkan Ivy.
“He is, I do love him Tante, maaf ya dulu aku ngilang dari kalian semua.”
“That’s okay baby, I know you’re struggling a lot. Yang gak okay itu River, dia galau nya gak habis-habis.” Rachel mengusap lenga Ivy, berbicara dengan aksen Australia-nya yang kental.
River meletakkan pisau makannya, “Nggak ya, don’t make it up Mom.”
Rachel terkekeh geli, “Loh? Hahaha, yaudah nggak. Kalian kan emang udah cocok dari kecil, Mama seneng kalau River dating with you Ivy.”
Dengan hati-hati, River meletakan kembali garpunya. Terlihat sorot matanya menjadi lebih serius.
“We live together, Ma, you’re not mad, are you? please don’t be mad, Janitra often lives together with Kak Thania too, because their apart is next door.” Bagaikan rapper, River berbicara sangat cepat tanpa jeda.
“You’re really funny. No, I’m not crazy ya. You’ve both grown up, aku kan open-minded. That’s your right, as long as you guys hati-hati Mama gak ada masalah River.
Ketiganya melanjutkan kegiatan makannya, dan hanya terdengar derit garpu dan pisau yang beradu dengan piring.
“River.”
“Yeah?”
“Jangan terlalu benci papa ya sayang, that’s my job, jangan sampai kamu kehilangan sosok Ayah, even though he’s a bad husband, but he’s a good father. He always puts his children first, even the last time we fought.”
River tidak bereaksi apapun, hanya mengangguk, memotong daging di hadapannya, bak tertanam dengan segala perasaanya.
“Kalian habis ini langsung ke Bali?”
“Nggak Tante, we’ll go back to NYC first kayanya sekitar tiga harian, then after that we’ll go to Bali.”
“Kamu nanti Shopping sama aku ya Vy, atau pilates bareng gitu, aku punya kenalan, selalu pilates disitu.”
“Ih mau banget! Biasanya aku pilates sendiri tau Tan.”
“Tuh, yaudah nanti sama aku ya.”
Ivy terlihat sangat bersemangat, karena hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat ia sangat senang, ia merasakan rasa kasih sayang seorang Ibu kepada anak perempuannya dari bagaimana Rachel mengajaknya berbincang, dan memperlakukanya.
“Aku nanti chat kamu ya Vy.”
“Iyaaa, boleh banget!”
River hanya melihat interaksi kedua wanita yang ia sayangi, tengah berbincang seolah menghiraukan kehadirannya.
“Kok sekarag kayanya pacarku diambil Mama ya?”
“Jesus … River I’m only with her hari ini aja, kamu sama dia bisa 24 jam loh? Bener-bener deh, anak muda kalo udah jatuh cinta kaya gini nih.”
Ketiganya tertawa, menikmati waktu yang tersisa, dengan piring kosong dan kehangatan yang tak kalah manis dari secangkir teh di pagi hari. Rachel yang mulanya berada di Kyoto, berpindah lokasi ke Tokyo karena memiliki urusan, mau tak mau hari ini harus terbang kembali menuju Indonesia dan berpisah dengan anaknya yang akan kembali ke Amerika Serikat, tepatnya di kota New York. Pertemuan yang singkat dan mengharukan ini, akan selalu membekas dan tak pernah lapuk layaknya kenangan lain yang tak lagi Ivy ingat di otaknya.
메타데이터
- post_id
- b7d6bc71afe8
- slug
- walked-me-through-the-fire-you-were-there-b7d6bc71afe8
- url
- https://medium.com/@seagultii/walked-me-through-the-fire-you-were-there-b7d6bc71afe8
- canonical_url
- https://medium.com/@seagultii/walked-me-through-the-fire-you-were-there-b7d6bc71afe8
- author_url
- https://medium.com/@seagultii
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 20:42:47