← Back to list

Tunjukkan, Jangan Nyatakan

#1218: Mengapa Banyak Tulisan Terasa Kurang Hidup?

Ivan Lanin in Ruang Kontemplasi · 2026-04-25 22:56 · 2,433 claps · 3.6 min read paywalled
#penceritaan #yusi-avianto-pareanom #ruang-kontemplasi #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

Jurnal

Tunjukkan, Jangan Nyatakan

#1218: Mengapa Banyak Tulisan Terasa Kurang Hidup?

Ada tulisan yang memberi tahu. Ada tulisan yang membuat kita melihat. (Ilustrasi: ChatGPT)

Ada tulisan yang memberi tahu. Ada tulisan yang membuat kita melihat. (Ilustrasi: ChatGPT)

Saya sudah lama mengenal prinsip show, don’t tell. Tahun lalu saya bahkan menulis tentang pentingnya menampilkan emosi lewat konsep LAPEDI, singkatan dari lokasi, aksi, pikiran, emosi, dan dialog. Karena itu, saya datang ke kelas Yusi Avianto Pareanom bukan untuk mencari istilah baru. Saya datang untuk melihat kembali gagasan lama yang ternyata masih terus menantang banyak penulis, termasuk penulis nonfiksi.

🔑 Terhalang payar? Klik tautan teman ini. 🔑

Di sela penjelasan Mas Yusi, pikiran saya berbelok ke soal padanan. Show, don’t tell sudah lama beredar, tetapi padanannya belum mapan. Saya memilih “tunjukkan”, bukan “gambarkan”, karena makna show lebih luas, bisa memuat gerak, dialog, suasana, dan detail kecil. Untuk pasangannya, saya memilih “nyatakan”, bukan “jelaskan”, karena tell lebih dekat pada menyebut keadaan secara langsung atau memberi label cepat, bukan menguraikan sebab, proses, atau perincian.

Kelas Sabtu sore itu membahas menulis deskriptif. Prinsip dasarnya sederhana. Jika ingin pembaca merasakan sesuatu, penulis perlu menunjukkan keadaan yang melahirkan rasa itu. Jika pembaca hanya perlu mengetahui informasi, penulis boleh menyatakannya secara ringkas. Rumus itu tampak mudah saat diucapkan. Ia segera menjadi rumit ketika kita diminta menulis tanpa bersandar pada kata seperti lapar, sepi, takut, malu, atau marah.

[embed]5 Kunci untuk Cerita yang Melekat #877: Lokasi, aksi, pikiran, emosi, dan dialogivanlanin.medium.com

Momen paling berkesan justru datang ketika para peserta membacakan hasil latihan mereka. Saya memilih menutup mata dan mendengarkan. Saya ingin tahu apakah kalimat-kalimat itu sanggup berdiri tanpa bantuan wajah, gerak tangan, atau ekspresi pencerita. Saat unsur visual hilang, kata-kata diuji dengan cara berbeda. Kalimat yang lemah terasa datar. Kalimat yang kuat segera membangun ruang, jarak, gerak, dan suasana.

Latihannya cerdik. Peserta diminta menggambarkan orang kelaparan di depan kedai roti tanpa memakai kata lapar. Mereka juga diminta menggambarkan kesepian tanpa memakai kata sepi serta ketakutan tanpa menyebut takut. Tantangan seperti itu membuka kebiasaan lama kita. Ternyata kita sering mengandalkan label cepat. Begitu label dilarang, kita dipaksa mencari detail yang benar-benar hidup.

Saya membayangkan seseorang berdiri lama di depan etalase roti sambil menelan ludah dan menghitung receh di saku yang tidak cukup. Tidak ada kata lapar di sana, tetapi rasa itu hadir lebih kuat. Saya membayangkan rumah yang televisinya menyala hingga larut malam hanya agar ada suara di dalamnya. Tidak ada kata sepi, tetapi kehampaan terasa masuk perlahan ke ruang tamu.

Banyak tulisan yang kalah justru karena terlalu cepat memberi nama.

Di materi yang dibagikan sore itu, Mas Yusi juga menampilkan contoh dari *The Great Gatsby*. Fitzgerald tidak memperkenalkan Gatsby dengan kalimat bahwa dia memesona atau karismatik. Dia menghadirkan senyum yang memberi rasa tenteram dan sulit dilupakan. Dari satu detail kecil, pembaca menyusun watak tokoh itu sendiri. Penulis besar sering percaya bahwa pembaca mampu menarik simpulan tanpa harus terus dituntun tangan demi tangan.

Meski demikian, gaya menyatakan bukan musuh. Ia kerap diperlukan untuk merangkum waktu, menjembatani gagasan, atau menegaskan simpulan. Tidak semua hal perlu dipanggungkan menjadi adegan. Jika setiap kalimat dipaksa menjadi deskripsi, tulisan bisa melebar dan kehilangan tenaga. Masalahnya bukan pada pernyataan, melainkan ketika ia menggantikan semua pengalaman konkret. Penulis perlu tahu kapan harus menunjukkan dan kapan cukup menyatakan.

Contoh-contoh itu memang berasal dari fiksi, tetapi pelajarannya tidak tinggal di sana. Banyak tulisan nonfiksi di Medium dibuka dengan kalimat besar seperti pentingnya disiplin, beratnya kesepian, atau cepatnya perubahan zaman. Semua bisa benar. Namun, pembaca kerap lebih mudah percaya pada alarm yang dimatikan tiga kali, meja makan untuk satu orang, atau AC yang tak mampu melawan malam panas.

Pelajaran sore itu membuat saya kembali sadar bahwa deskripsi bukan soal menumpuk kata sifat. Deskripsi adalah seni memilih detail yang bekerja. Satu jemari yang terus mengetuk meja bisa lebih kuat daripada kalimat “dia gelisah”. Satu pintu yang dicek tiga kali bisa lebih tajam daripada pernyataan “dia cemas”. Detail yang tepat menyalakan kerja sama antara penulis dan pembaca.

Ketika peserta selesai membaca, saya merasa tiap orang sebenarnya sedang memperlihatkan cara mereka memandang dunia. Ada yang memilih bunyi. Ada yang memilih gerak kecil. Ada yang tertarik pada bau, cahaya, atau jarak. Latihan yang sama menghasilkan gambaran berbeda-beda. Deskripsi rupanya bukan sekadar teknik, melainkan juga cermin perhatian tiap penulis.

Saya pulang tanpa membawa konsep baru. Saya membawa pengingat lama yang terdengar segar kembali. Menulis yang baik sering bukan perkara mencari kata yang hebat, melainkan kesediaan tinggal sedikit lebih lama di sebuah adegan. Saya belum selalu bisa melakukannya. Sore itu, setidaknya, saya tahu di mana saya harus kembali berdiri.

[embed]Saya Ingin Jadi Naturalis #1190: Seribu Tulisan, Belum Tentu Seribu Penemuanmedium.com

Jurnal dan Kenangan

Tahun lalu, saya menuliskan diskusi kebahasaan bersama Inanti Diran yang mengulas dunia penjurubahasaan. Dari paparan itu tampak bahwa tugas juru bahasa bukan memindahkan kata demi kata, melainkan menjaga pesan tetap utuh dan alami. Profesi ini menuntut penguasaan bahasa, kepekaan budaya, kelincahan berpikir, serta kemampuan menyampaikan emosi pembicara dalam waktu nyata. Penjurubahasaan adalah seni menjembatani makna antarmanusia.

[embed]Setia pada Pesan, Bukan Kata #853: Menyingkap penjurubahasaan bersama Inanti Diran (Lisan #21)ivanlanin.medium.com

Dua tahun lalu, saya menulis tentang keluarga kata berakhiran -onim yang berasal dari unsur Yunani bermakna “nama”. Tulisan itu merangkum puluhan istilah dalam KBBI, dari akronim, sinonim, antonim, hingga meronim dan patronim. Saya juga menyinggung beberapa bentuk bahasa Inggris yang belum resmi diserap. Dari sana terlihat bahwa penamaan kata dapat membuka jejaring makna, sejarah, dan hubungan antarkonsep.

[embed]Onim #488: Kata-kata berakhiran -onimivanlanin.medium.com

Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨‍🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.


메타데이터
post_id
b7de0afee72a
slug
tunjukkan-jangan-nyatakan-b7de0afee72a
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/tunjukkan-jangan-nyatakan-b7de0afee72a
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/tunjukkan-jangan-nyatakan-b7de0afee72a
author_url
https://medium.com/@ivanlanin
status
ok
fetched_at
2026-09-03 23:32:02