← Back to list

Diagnosis yang Tak Ingin Didengar

tw // accident trauma, critical injury, death of a loved one, grief, mental health deterioration, hallucinations, psychiatric assessment

ciaa☆ミ · 2026-05-25 15:10 · 0 claps · 5.4 min read
#alternative-universe #fiction #fiction-writing
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment CLI · Clinical Medicine PSY · Mental Health & Psychiatry LIT · Literature & Writing 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships 🧠 · Mental Wellness ✍️ · Writing & Creative 💭 · Philosophy of Spirit

Diagnosis yang Tak Ingin Didengar

tw // accident trauma, critical injury, death of a loved one, grief, mental health deterioration, hallucinations, psychiatric assessment

Sejak Cherry tiada, waktu Geovan seperti berhenti di satu titik. Dua tahun berlalu, tapi bagi Geovan dunianya masih mengenang aroma tubuh, terutama aroma rambut Cherry setiap pagi. Humming lembut yang dulu menjadi kebiasaan wanitanya, entah kenapa kini sering terdengar dari arah studio setiap malam pukul 10. Padahal ruangan itu kosong.

Dan lagi, hanya Geovan yang mampu mendengarnya. Suaranya kadang samar, kadang bisa berupa bisikan halus yang seolah sedang memanggil namanya.

Dua tahun berlalu — tapi tubuh Geovan seperti tidak pernah benar-benar ikut melanjutkan waktu.

Semakin hari, ia semakin sulit membedakan mana kenangan dan mana halusinasi yang pelan-pelan menyatu dalam hidupnya.

Akhirnya, ketiga sahabatnya — Ananta, Satya, dan Gilang menyatukan pendapat. Salah satu dari mereka berkata, “Van, lo nggak baik-baik aja,” kata Ananta saat pertama kali mereka duduk berempat di ruang tamu. “Kalau ini dibiarkan, lo bisa tenggelam beneran.”

Geovan hanya menatap meja. Pandangannya kosong. “Gua cuma kangen dia, ges. Gua masih belum bisa relain dia pergi dari hidup gua.”

“Kangen boleh,” sahut Satya, “Tapi lu udah nyeret diri lu sendiri ke tempat gelap selama dua tahun.”

Perkataan Satya pun dibalas dengan tangisan Geovan. Ia sangat paham apa yang dimaksud. Ia tahu bahwa sudah saatnya bangkit dari tempat gelap yang dihuninya.

Untuk pertama kalinya, Geovan tidak menolak saat sahabatnya menyebut kata “berobat”.

Dua minggu setelah pertemuan pertama, Geovan datang lagi bersama Ananta. Satya dan Gilang sibuk bekerja. Meskipun begitu, mereka sempat melakukan video call bersama saat di perjalanan agar memastikan Geovan mau diajak untuk konsultasi dan masuk ke ruangan dokter tanpa berniat untuk kabur.

Dokter Gracia tersenyum ramah. “Halo Geovan, gimana kabarnya selama dua minggu terakhir? All is good?”

“Masih suka muncul, Dok… humming itu,” Geovan meremas jarinya, “Tapi frekuensinya tidak sesering dulu.”

“Halusinasi visualnya?” tanya sang psikiater.

“Rasanya saya seperti melihat dia ada–bukan yang benar-benar terlihat jelas, tapi itu cukup membuat saya merasa bahwa ia belum pergi. Selain itu, saya mendengar suara yang familiar. Kadang, saya sadar hal itu tak mungkin terjadi, tapi tetap saja rasanya seperti nyata.”

Dokter pun mencatat progres nya Geovan lalu berkata,”Obat bantu tidur kamu belum cukup efektif. Saya juga sudah membaca laporan dari psikolog kamu. Ada pola grief yang kuat ya disini.”

Geovan terdiam. Sudah lama ia tahu itu. Hanya saja mendengarnya dari orang lain terasa seperti ada tangan tak terlihat yang menarik tirai penyangkalannya.

“Saya melihat adanya pola duka yang cukup dalam dan menetap,” katanya sambil melihat ke arah Geovan, “Tapi saya belum bisa kasih diagnosis sekarang, kita masih perlu beberapa sesi lagi ya.”

Berat, tapi setidaknya masih ada kelegaan sedikit dalam hatinya.

Setidaknya, apapun yang terjadi di kepalanya, dia memiliki jawaban dari sisi medisnya. Jadi, ia tahu bahwa ia tidak akan kehilangan akal sehatnya.

Ananta menepuk bahunya, “Pelan-pelan, Van. Kita hadapi ini bareng-bareng ya. Jadi lo nggak akan sendirian.”

Tiga bulan setelah awal terapi. Lima kali ke psikiater, hampir sepuluh sesi psikolog. Hari itu ketiga sahabatnya menemani Geovan bertemu dengan psikiaternya. Mereka duduk menunggu — tidak banyak bicara, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Kini Dokter Gracia membuka map tebal seraya berkata, “Oke, Geovan. Hari ini saya ingin memberitahukan hasil diagnosa dan merangkum progres kamu ya.”

Geovan menelan ludah. Jantungnya seperti berdetak di tenggorokan.

“Jadi, berdasarkan dari hasil konsultasi dan pemeriksaan, halusinasi kamu sudah lebih baik, namun memang masih butuh penanganan khusus,” katanya sambil menatap Geovan, “Sudah tiga bulan berlalu dan kamu sudah mulai menunjukkan keteraturan disini, dimulai dari makan dan minum, lalu pola tidur juga yang sudah lebih baik dari sebelumnya.”

“Akan tetapi, jika dilihat dari pola dukanya…” Suara Dokter Gracia melambat.

“Kamu kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidup kamu. Hubungan kalian baik-baik saja, dalam artian tidak ada cekcok atau berantem dan tiba-tiba kamu harus bisa menerima kepergiannya yang mendadak. Saya paham hal ini sangat traumatis buat kamu, Geovan. Dan satu hal yang pasti, untuk sembuh dari luka ini tidak bisa instan, melainkan butuh waktu yang saya sendiri juga tidak bisa prediksi kapan kamu bisa kembali seperti semula,” kata Dokter Gracia sambil menatap Geovan dengan tatapan yang lembut.

Hening tiba-tiba merayap pelan ke ruangan itu. Gilang menggenggam pinggir kursinya, seakan takut jatuh.

Dokter Gracia perlahan menarik napasnya dan berkata, “Dari pola yang kamu alami… ada rasa kehilangan yang sangat kuat, berlangsung lama dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari kamu. Dalam hal medis, kondisi ini disebut Prolonged Grief Disorder.”

Geovan menunduk. Hasil diagnosisnya seperti menghantam dadanya dengan keras.

“Jadi saya…” suaranya gemetar, “Saya bener-bener nggak bisa pulih dari rasa kehilangan ini?”

“Bisa, Geovan. Tapi tidak bisa cepat karena semuanya butuh waktu untuk pulih,” jawab psikiater itu lembut.

“Ini respon psikologis yang bisa terjadi pada kehilangan traumatis. Otak kamu masih bekerja keras untuk mempertahankan keterikatan dengan dia. Itu cara alami manusia dalam menghadapi kehilangan. Tapi, jika dilihat dari kondisi kamu, proses ini jadi tertahan begitu lama.”

Mata Geovan memerah, tapi ia tidak menangis. Bukan karena ia kuat, tapi karena tubuhnya sudah lama terlalu lelah untuk itu.

Satya angkat bicara, suaranya serak, “Dok… ini bisa sembuh kan?”

“Bisa, sangat bisa, tapi prosesnya tidak cepat. Melakukan terapi dengan rutin akan jadi kunci untuk kesembuhannya. Kami akan bangun kembali fungsi hidupnya, sekaligus membantu untuk dia untuk berdamai atas kehilangan itu, tanpa harus menghapus Cherry dari hidupnya.”

Kalimat itu perlahan yang membuat fokus Geovan pecah, seperti ada kepanikan dalam dirinya.

“Saya takut…” Geovan hampir berbisik.

“Kalau saya sembuh… Cherry akan menghilang selamanya.”

Dokter pun menggeleng pelan.

“Kamu nggak pernah kehilangan dia. Kamu cuma belajar berhenti menyiksa diri sendiri dengan cara yang kamu kira satu-satunya bentuk cinta.”

Tangis Geovan membasahi wajahnya. Tidak hingar bingar. Tidak meledak. Hanya tetesan pelan yang mengalir seperti seseorang yang akhirnya diberi izin untuk bernapas setelah lama menahan.

Ananta merangkul bahunya, “Lu harus ingat bahwa kita ada disini. Kita akan bantu lo berproses sampai pulih, kita bantu agar lu bisa menemukan terangnya hidup lu lagi, Van.”

Gilang menepuk punggungnya, “Loe nggak harus kuat sendiri dari awal, Van. Itu cuma ada di film-film.”

Dan untuk pertama kalinya sejak Cherry meninggalkannya, Geovan merasakan sesuatu yang asing, mungkin pertanda bahwa ia masih punya harapan untuk bangkit dari dunianya yang gelap.

Bukan kesedihan. Bukan kehilangan. Bukan halusinasi.

Tapi… harapan kecil yang muncul, seperti lampu kuning redup di ujung lorong gelap yang selama ini ia masuki sendirian.

Catatan mengenai Prolonged Grief Disorder

Duka adalah pengalaman manusia yang universal setelah kematian orang yang dicintai. Meskipun sebagian besar orang berhasil melewati masa duka yang mendalam yang secara bertahap mereda seiring berjalannya waktu, sebagian kecil yang signifikan mengalami bentuk duka yang berkepanjangan dan intens sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari (Ungar J & Sargon, 2025).

Gangguan duka berkepanjangan (PGD) atau Prolonged Grief Disorder adalah suatu kondisi kesehatan mental yang baru-baru ini diakui, yang ditandai dengan duka yang berkepanjangan dan intens yang berlangsung melampaui batas-batas yang dianggap wajar secara budaya dan menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan (Ungar J & Sargon, 2025).

Menurut ICD-11, PGD ditandai dengan respons duka yang menetap dan meluas melampaui norma-norma sosial, budaya, atau agama yang lazim, yang biasanya berlangsung setidaknya enam bulan setelah kematian. Gejala inti meliputi kerinduan yang mendalam terhadap almarhum atau keasyikan yang terus-menerus terhadapnya, disertai dengan rasa sakit emosional yang intens (misalnya, kesedihan, rasa bersalah, kemarahan, penyangkalan, menyalahkan, kesulitan menerima kematian, perasaan telah kehilangan sebagian diri sendiri, ketidakmampuan untuk merasakan suasana hati yang positif, mati rasa emosional, dan kesulitan terlibat dalam kegiatan sosial atau lainnya) (Ungar J & Sargon, 2025).

Berikut ciri-ciri dari ICD-11 Prolonged Grief Disorder menurut Jordan and Litz, 2014:

A. Kematian orang terdekat

B. Merindukan almarhum setiap hari atau hingga tingkat yang mengganggu aktivitas sehari-hari

C. Lima atau lebih dari gejala berikut ini terjadi setiap hari atau hingga tingkat yang mengganggu aktivitas sehari-hari:

  1. Kebingungan tentang peran dalam hidup atau berkurangnya rasa identitas diri
  2. Kesulitan menerima kehilangan
  3. Menghindari hal-hal yang mengingatkan pada kenyataan kehilangan
  4. Ketidakmampuan mempercayai orang lain sejak kehilangan
  5. Kepahitan atau kemarahan terkait kehilangan
  6. Kesulitan melanjutkan hidup (misalnya, membuat teman baru, mengejar minat)
  7. Kebekuan emosional sejak kehilangan\
  8. Merasa bahwa hidup tidak memuaskan, hampa, atau tidak bermakna sejak kehilangan
  9. Merasa terkejut, linglung, atau syok akibat kehilangan

D. Setidaknya 6 bulan telah berlalu sejak kematian

E. Gangguan tersebut menyebabkan gangguan yang secara klinis signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya

F. Gangguan tersebut tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan depresi mayor, gangguan kecemasan umum, atau gangguan stres pasca trauma.

Daftar Pustaka:

Jordan AH and Litz BT. 2014. Prolonged Grief Disorder: Diagnostic, Assessment, and Treatment Considerations. Professional Psychology: Research and Practice. Vol 45(3): 180–187.

Julian Ungar-Sargon. 2025. Prolonged Grief Disorder: Treatment Approaches and the Spiritual Dimensions of Healing. Addict Res. 9(1): 1–7.


메타데이터
post_id
b82b6c1f98ef
slug
diagnosis-yang-tak-ingin-didengar-b82b6c1f98ef
url
https://medium.com/@azalevia/diagnosis-yang-tak-ingin-didengar-b82b6c1f98ef
canonical_url
https://medium.com/@azalevia/diagnosis-yang-tak-ingin-didengar-b82b6c1f98ef
author_url
https://medium.com/@azalevia
status
ok
fetched_at
2026-06-17 10:21:25