Para Perasuk: Cara Individu Melepas Beban dan Strategi Kolektif untuk Bertahan
Saat Kerasukan Bukan Melulu Soal Setan Menyeramkan
Para Perasuk: Cara Individu Melepas Beban dan Strategi Kolektif untuk Bertahan
Saat Kerasukan Bukan Melulu Soal Setan Menyeramkan

Pesta Sambetan di Para Perasuk (IMDB)
Pastikan telah menonton filmnya terlebih dahulu sebelum membaca (kecuali tidak masalah dengan sedikit spoiler cerita)!
Para Perasuk
Setelah merilis Penyalin Cahaya (Photocopier) pada 2021 dan Budi Pekerti (Andragogy) pada 2023 lalu, sutradara Wregas Bhanuteja kembali hadir dengan film terbarunya yang berjudul Para Perasuk (Levitating). Film ini telah tampil di Sundance Film Festival hingga akhirnya tayang di Indonesia pada 17 April lalu.
Para Perasuk bercerita tentang seorang pemuda bernama Bayu (Angga Yunanda) yang hidup di Desa Latas, desa yang memiliki tradisi pesta sambetan di mana para warga merayakan kerasukan. Bayu memiliki keinginan untuk menjadi seorang Perasuk utama yang bisa memimpin pesta. Ketika sebuah korporasi datang dan mengancam keberadaan mata air warga hingga, Bayu bersama warga desa membahu untuk menolaknya.
Dalam usahanya untuk bisa menjadi Perasuk Utama, Bayu bertemu dengan Laksmi (Maudy Ayunda) yang menjadi pelamun dan berlatih bersama. Selain itu, ada Guru Asri (Anggun) sebagai sosok Perasuk Senior yang mampu menggerakkan keinginan Bayu. Hadir pula calon Perasuk Utama lain yaitu Pawit (Chicco Kurniawan) dan Ananto (Bryan Domani) sebagai rival dalam mencapai tujuan Bayu tersebut.
Seperti diceritakan Wregas, karakter Bayu di sini terdapat unsur proyeksi dari dirinya sendiri. Ia yang bergelut dengan dunia film pernah merasa berjarak dengan kehidupan asli dan keluarga. Seperti Bayu yang berambisi penuh untuk menjadi perasuk utama, tetapi hubungan dengan Bapak (Indra Birowo) menjadi renggang. Apalagi, ketika rumahnya juga berencana akan dibeli oleh perusahaan tersebut.
Para Perasuk membangun lore cerita yang mendetail dan unik dengan adanya 20 roh binatang yang ada di desa Latas. Setiap roh binatang ternyata memiliki cara mendapatkannya, keuntungan, hingga konsekuensinya masing-masing. Favoritku sih, pengen kerasukan roh kutu atau roh bulus.
Salah satu bagian paling kreatif adalah cara sutradara melakukan visualisasi pada dimensi internal dari peristiwa kerasukan yang sedang terjadi. Ia menggunakan berbagai macam cara untuk menunjukkannya sehingga bisa memahami kondisi yang tak terlihat, berkecamuk di dalam.
Semakin menuju akhir, film ini menunjukkan banyak kejadian yang cukup mengejutkan dan agak liar atas keputusan dari karakter yang menurutku cukup keluar jalur. Beberapa kekurangan minor lain seperti polesan CGI, dialog, dubbing, dan unsur komedi yang kering.
Tiga Alam Berbeda
Melansir dari Gunnar Nimpuno selaku Pengarah Sinematografi, penggambaran dunia di film Para Perasuk memiliki tiga alam yang berbeda yang didasarkan pada visi sutradara. Setiap alam mewakili visualisasi yang berbeda dan pengalaman karakter dalam situasinya masing-masing.
1. Alam Realita
Alam realita menggambarkan dunia asli di mana semua orang memiliki kesadaran yang sama. Alam ini adalah alam yang bisa disampaikan kepada indera setiap individu di sana.
2. Alam Konsentrasi
Di alam konsentrasi, biasanya lebih mengarah pada pikiran sang Perasuk yang semestinya fokus untuk membuat alam sambetan yang nyaman untuk para pelamunnya. Ketika pikiran Perasuk dihinggapi keraguan dan kekhawatiran pada masalah lain yang berlebihan, maka alam yang dibuat bisa menjadi buyar.
Hal ini terjadi kepada Bayu di alam konsentrasinya ketika bayang-bayang akan masalah pribadinya menghantui pikirannya. Sebuah cara ditemukan oleh karakter ini dengan mengalirkan darahnya ke otak. Bayu memutar badannya di kaki dan kaki di kepala. Dalam Islam, seperti sujud ketika salat
3. Alam Halusinasi
Alam halusinasi ini membawa visualisasi dari pikiran para pelamun. Imajinasi yang muncul sebagai akibat dari pengaruh mantra dan musik sang Perasuk. Pikiran di sini terpisah dari sesuatu yang nyata di mana segala kemungkinan dapat terjadi.
Fungsi Kerasukan
Dalam Para Perasuk, Wregas Bhanuteja membuat fenomena kerasukan bukan sebagai sarana teror dari makhluk halus yang sudah terasa generik di film horor biasanya. Namun, ia membawanya dengan cara yang segar dan cukup mencengangkan. Setidaknya, ada tiga fungsi kerasukan dalam film ini menurut pandangan penulis.
1. Pencarian Kesenangan
Pesta sambetan menghadirkan fantasi dalam pikiran para pelamun sehingga ia bisa merasakan pengalaman menyenangkan yang tak didapatkan di dunia nyata. Para pelamun sejenak dapat mengesampingkan rasa kelelahan yang dipikul, digantikan dengan penawaran kenikmatan yang menggugah.
Bayangkan saja, para pelamun yang dikasih makan sesajen di dunia nyata, tapi dalam bayangan mereka justru makan sushi dan wagyu di alam sambetan. Hal ini seolah menjadi pilihan hiburan paling terjangkau untuk masyarakat kelas bawah.
2. Terapi Jiwa
Dalam film ini, pesta sambetan juga secara tidak langsung dapat menjadikan seseorang untuk bisa merefleksikan dirinya lebih dalam. Pesta sambetan jadi ajang pelarian dari masalah yang sedang dihadapi oleh seseorang yang melakukannya.
Seperti kebutuhan Bayu untuk berkonsentrasi karena terus terbayang akan beragam masalah yang muncul di pikirannya membuat ia sadar akan hal apa yang bisa diusahakan. Guru Asri yang melihat keresahan tersebut pun memberi tanya:
Kalau situ belum seneng bisa nyalurin kesenengan ke orang lain kagak?
Masa lalu bisa berubah kagak?
Udah baikan belum sama masa lalu?
Kalau belum baikan sama masa lalu bagaimana bisa bahagia?
Hal serupa juga terjadi pada karakter Laksmi yang memiliki trauma masa lalu sehingga ia kerap tak memakai alas kaki. Keikutsertaannya pada pesta sambetan adalah sebuah pelarian dari rasa bersalah dan penyesalan yang tak berkesudahan.
3. Resiliensi Kolektif
Lewat roh yang telah dikenalkan di awal film, pesta sambetan justru menjadi kekuatan kolektif dari warga desa ketika terdapat oknum keamanan perusahaan yang menciptakan kekacauan. Para Perasuk tidak melawan kekerasan dengan kekerasan yang sama, tapi lewat pemanfaatan kekuatan roh yang memberi daya tahan, perlindungan, hingga pelukan pada yang dianggap musuh.
Sekian untuk ulasan singkat untuk Para Perasuk ini! Meskipun film ini tidak cukup menarik perhatian banyak penonton ke bioskop yang (katanya ada banyak faktor), semoga dapat bertemu penontonnya nanti!
메타데이터
- post_id
- b82d4a83b080
- slug
- para-perasuk-cara-individu-melepas-beban-dan-strategi-kolektif-untuk-bertahan-b82d4a83b080
- url
- https://medium.com/maratonton/para-perasuk-cara-individu-melepas-beban-dan-strategi-kolektif-untuk-bertahan-b82d4a83b080
- canonical_url
- https://medium.com/maratonton/para-perasuk-cara-individu-melepas-beban-dan-strategi-kolektif-untuk-bertahan-b82d4a83b080
- author_url
- https://medium.com/@amrifaizalm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 21:21:38