AKULTURASI HINDU-ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR MASJID GEDHE MATARAM KOTAGEDE TAHUN…
Kotagedenya Senapati
AKULTURASI HINDU-ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR MASJID GEDHE MATARAM KOTAGEDE TAHUN 1586–1618 SEBAGAI WARISAN BUDAYA
Kotagedenya Senapati
Yogyakarta merupakan jantung peradaban Jawa yang telah tumbuh dari akar Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan dan putranya Danang Sutawijaya pada tahun 1577. Kerajaan Mataram Islam pertama kali berdiri dengan ibukotanya atau kuthanegara di Kotagede yang saat ini berada di tenggara Kota Yogyakarta. Nama Kotagede berasal dari kata Kutha, yang artinya benteng, sementara gede adalah besar, kemudian digabung menjadi benteng yang besar (Wawancara Inajati Adrisijanti, Mei 2022).
Tata ruang kuthanegara Kerajaan Mataram yang rancang oleh Panembahan Senopati, mempunyai berbagai komponen bangunan, seperti taman, keraton, alun-alun, benteng, pasar, dan masjid. Kotagede mempunyai benteng Cepuri bagian dalam dan Baluarti bagian luar untuk melindungi kompleks Kerajaan Mataram Islam (Wawancara Inajati Adrisijanti, Mei 2022). Pasar dan alun-alun sebagai tempat masyarakat berkumpul dan hiburan. Pasar Kotagede salah satu pasar kuna di Kotagede yang besar dan masih hidup sampai sekarang. Alun-alun yang ada di Kotagede hanya satu, yakni alun-alun Lor (utara), tetapi sekarang sudah tidak ada, hanya terdapat kampung bernama kampung alun-alun yang diduga sebagai alun-alun Keraton Kotagede (Adrisijanti, t.th.: 56).
Masjid Gedhe Mataram Kotagede sebagai tempat ibadah yang didirikan Panembahan Senapati lokasinya diperkirakan berada di dalam kompleks keraton Mataram Islam. Arsitektur bangunan yang bentuk akulturasi Hindu-Islam dan menyerap kearifan lokal pada Masjid Gedhe Mataram Kotagede memiliki keunikan yang khas.
Dari Alas Mentaok hingga Kuthanegara
Alas Mentaok merupakan tanah yang dihadiahkan Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang kepada anak angkatnya, Danang Sutawijaya atau dikenal Panembahan Senopati yang sebelumnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang penguasa dari Jipang tahun 1550-an. Mentaok merupakan jenis tanaman yang sekarang sudah langka ditemukan pada saat ini. Sementara itu, nama Mataram diambil dari kata Mentaok Arum artinya tumbuhan atau pohon mentaok berbau harum. Kemudian sering dilafalkan menjadi Mentara(u)m, lalu lazim disebut dengan Mataram yang menjadi cikal bakal lokasi keraton Mataram (Zubair dkk., 2009: 91). Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutawijaya, memulai membangun Kerajaan Mataram pada tahun 1577 yang menempatkan Kotagede sebagai kuthanegara Mataram Islam (Ricklefs, 2008: 78).
Sebagaimana halnya kota-kota pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam pada umumnya, di Kotagede juga dibangun masjid kerajaan yang berada di barat alun-alun. Pembangunan keraton hampir bersamaan dengan masjid sebagai tempat ibadah terutama shalat berjamaah. Di dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa Panembahan Senapati memerintahkan untuk membuat benteng kota dari bata dan membuat parit yang lebar, dalam proses pembangunan Kotagede, Ki Ageng Pemanahan wafat dan dimakamkan di sisi barat Masjid Kotagede (Olthof, 2021: 87). Di dalam Babad Momana, disebutkan bahwa pembangunannya selesai pada tahun 1589 M. Di halaman belakang Masjid Kotagede terdapat Makam Agung, tempat pemakaman para peletak dasar Kerajaan Mataram Islam, di antaranya: Ki Pemanahan, Panembahan Senapati, Penembahan Hanyakrawati, dan keluarga kerajaan (Adrisijanti, t.th: 55–56).

Gambar 1. Foto Masjid Gedhe Mataram Kotagede (Sumber: Travel Kompas)
Panembahan Hanyakrawati sebagai penerus kekuasaan Mataram tahun 1601–1613 masih melanjutkan pembangunan fisik Kotagede, antara lain melengkapi pembangunan kompleks keraton, prabayaksa, Prabayaksa, taman Danalaya, Segaran, lumbung di Gading, taman berburu (Krapyak), dan penyempurnaan kompleks makam agung di dekat Masjid Gedhe Mataram (Inajati dalam Nugraho, 2020: 26).
Pada zaman Sultan Agung menambahkan tembok pembatas masjid dengan menggunakan air aren sebagai bahan perekat batu sehingga lebih kuat. Sementara tembok pada sisi lain terbuat dari batu bata yang berwarna lebih muda, berukuran lebih kecil, dan polos merupakan tembok hasil renovasi atas perintah Paku Buwono X (Putra dkk., 2015). Pada masa kejayaan Sultan Agung ibukota Mataram dipindahkan dari Kotagede ke Karta pada tahun 1618 dengan pertimbangan untuk memperluas dan mempermegah keraton baru sebagai simbol kekuasaan yang besar (Nugroho, 2020: 27; Wawancara dengan S. Margana, Mei 2022; lihat posisi Kotagede dan Karta pada Gambar 2). Dengan perpindahan kuthanegara ke Karta termasuk dengan membangun Masjid Agung Karta yang baru sehingga memposisikan Masjid Gedhe Mataram di Kotagede bukan sebagai masjid kerajaan, meskipun tetap digunakan oleh masyarakat sekitar serta para peziarah sebagai tempat ibadah.

Gambar 2. Peta Kotagede dan Karta (Sumber: KITLV Leiden)
Harmoni Citra Hindu-Islam dalam Arsitektur Masjid Gedhe Mataram
Masjid Kotagede mengacu pendapat G.F. Pijper (1992: 24). yang mencirikan masjid kuna atau tradisional di Nusantara, antara lain, (1) Fondasi bangunan yang berbentuk persegi; (2) Berdiri di atas dasar yang padat; (3) Memiliki atap yang meruncing ke atas (atap tumpang); (4) Memiliki ruang tambahan di sebelah Barat atau Barat Laut yang digunakan sebagai mihrab (tempat imam memimpin shalat); (5) Masjid mempunyai serambi di depan dan kedua sisinya; (6) Halaman di sekeliling masjid dibatasi oleh tembok dengan satu pintu masuk di depan yang disebut gapura; dan (7) denah (utama) masjid kuna pada umumnya berbentuk bujur sangkar. Dari ciri-ciri masjid kuna tersebut, Masjid Gedhe Mataram dapat dikategorikan sebagai masjid kuna karena terdapat kesusuaian unsur-unsurnya (lihat Gambar 3).

Gambar 3. Denah Masjid Gedhe Mataram (Sumber: Zubair, Achmad Charis dkk. 2009)
Arsitektur bangunan Masjid Gedhe Mataram memperlihatkan perpaduan gaya antara Hindu-Islam yang tidak lepas dari masa pembangunan masjid ini ketika awal kerajaan Islam di Jawa, sebagai peralihan Hindu ke Islam yang masih kental. Alhasil Arsitektur Masjid Gedhe Mataram Kotagede merupakan bentuk akulturasi budaya Hindu ke dalam nilai-nilai Islam, seperti gapura depan berbentuk kori (Santosa, 2014: 37–38; lihat Gambar 4), yang tidak langsung melihat suasana masjid, tetapi dihadapkan dengan tembok penghalang yang berbelok kanan atau disebut Kelir (Sholihah, 2016: 26; lihat Gambar 5).

Gambar 4. Gapura Bentar Masjid Gedhe Kotagede sekitar abad ke-19 (Sumber: KITLV Leiden)

Gambar 5. Kelir pintu masuk sebagai bentuk akulturasi Hindu-Islam di Masjid Gedhe Mataram (Foto koleksi Penulis)
Atap tumpang tiga pada atap dan puncaknya terdapat mustoko berupa Gada Kluwih pada Masjid Kotagede merupakan akulturasi arsitektur Hindu-Islam (Santosa, 2014: 36). Hal ini mirip dengan Masjid Agung Demak sebagai acuan atau disebut tipe “Demakan” (javanese vernacular) (Wismantara, 2014: 32; lihat Gambar 6). Atap tumpang tiga mengingatkan bangunan Hindu yang berupa meru yang masih dijumpai di Bali dengan atap tumpang bilangan ganjil.


Gambar 6. Atap tumpang dan Hiasan atap (mustoko) pada Masjid Gedhe Mataram (Foto koleksi Penulis)
Asal muasal Masjid Kotagede dengan bentuk akulturasi Hindu-Islam dapat dilacak dari kepercayaan Panembahan Senopati kepada Senopati Kediri dari keturunan yang lebih tua di Daha (Kediri, Jawa Timur). Penunjukan Senopati Kediri yang memiliki pemahaman ugahari dan undagi yang baik dari pusat kebudayaan yang lebih tua (pengaruh peradaban Hindu) sehingga bangunan-bangunan awal Mataram Kotagede dipengaruhi oleh gaya arsitektur Hindu-Jawa Timuran (Nugroho dkk. 2020: 25). Untuk mendirikan bangunan dari bahan kayu, pihak kerajaan juga memboyong orang-orang Kalang (berasal dari Kalangbret sekitar daerah Tulungagung, Jawa Timur) yang juga masih dipengaruhi budaya Hindu (Wawancara dengan Inajati, Mei 2020). Demikian, pola bangunan yang memadukan unsur Hindu dan Islam terjadi karena pihak yang membangun dalam hal ini Panembahan Senopati seorang muslim dan para undagi (tukang bangunan dna kayu) dari Kediri dan Kalang sebagai pewaris budaya Hindu terpadu dalam wujud arsitektur akulturasi Hindu-Islam.
Kecerdasan Setempat pada Arsitektur Masjid Gedhe Mataram
Kearifan lokal dengan kata lain Kecerdasan setempat, menurut Quaritch Wales (Rosidi, 2011: 29) bahwa kemampuan budaya setempat menghadapi pengaruh budaya asing, ketika kedua budaya tersebut saling berhubungan sehingga kebudayaan asli tetap dominan dalam menampilkan identitasnya. Hal ini tampak pada bentuk eksterior (arsitektur) dan interior Masjid Gedhe Mataram dengan menyerap kearifan lokal sebagai identitas bangunan masjid.
Arsitektur Masjid Kotagede yang beratap tumpang dan menggunakan mustoko adalah wujud kearifan lokal (tradisional) yang ramah terhadap budaya setempat dan selaras dengan lingkungannya. Setiap masyarakat termasuk masyarakat tradisional, dalam konteks kearifan lokal, pada dasarnya terdapat suatu proses untuk menjadi pintar dan berpengetahuan (Makmur ed., 2011: ix-x). Kearifan lokal yang diserap sebagai identitas kelokalan dalam Masjid Kotagede terlihat pada kolam yang mengelilingi depan dan samping masjid, pintu pembatas ruang serambi dan ruang utama, bedug dan kentongan, dan empat saka di ruang utama dan serambi (Lihat Gambar 6).


Gambar 7. Serambi Masjid Gedhe Mataram yang dilengkapi Bedug dan Kentongan (Foto koleksi Penulis)
Kegunaan kolam air yang dangkal di sekeliling masjid (depan dan samping) dipakai sebagai tempat menyuci kaki dari luar karena pada zaman dulu belum semua orang menggunakan alas kaki (lihat Gambar 8). Setelah mencuci kaki kemudian mengambil air wudhu di padhasan (Wawancara dengan M. Arsyad, November 2021). Keberadaan bedug dan kentongan apabila dibunyikan dengan disusul suara adzan sebagai pertanda masukknya waktu shalat. Kekuatan bunyi bedug dan kentongan lebih nyaring dan jangkauannya lebih luas dari suara manusia.

Gambar 8. Kolam air yang di samping dan depan Masjid Gedhe Mataram (Foto koleksi Penulis)
Pintu pembatas ruang serambi dan ruang utama dapat dimaknai bahwa serambi sebagai ruang profan untuk urasan dunia dan ruang utama sebagai ruang sakral untuk mendekatkan kepada Ilahi. Pembatas ini juga sebagai simbolisme sankan paran manusia yang seolah-olah dalam perjalanan hidup. Perjalanan sangkan paran adalah perjalanan menuju prinsip la illaha Illallah (Wismantara, 2014: 113; lihat juga Gambar 9).

Gambar 9. Konsep ruang pada Masjid Gedhe Mataram (Sumber: Wismantara, 2014)
Saka di ruang utama dan serambi serambi mempunyai perbedaan, yakni saka pada serambi memiliki ukiran dan hiasan, sementara saka yang berada di ruang utama lebih polos yang mendukung kekhusukan shalat (Wawancara dengan M. Arsyad, November 2021; Lihat Gambar 10).


Gambar 10. Saka ruang utama dan serambi Masjid Gedhe Mataram (Foto koleksi Penulis)
Masjid Kotagede sebagai Warisan Budaya
Masjid Gedhe Mataram Kotagede merupakan bagian dari sejarah berdirinya Kuthanegara Mataram Islam di Kotagede yang diprakarsai oleh Ki Ageng Pamanahan dan Danang Sutawijaya (Penembahan Senopati) dengan nempati alas mentaok melalui perhitungan yang matang dan strategis. Pembangunan kuthanegara kerajaan mempertimbangkan komponen kota yang terdiri atas jalan, pasar, alun-alun, kedaton, dan masjid. Masjid Gedhe Mataram dibangun sekitar tahun 1686 hampir bersamaan dengan kedaton (dalem) karena masjid sebagai tempat ibadah merupakan elamen penting dalam kehidupan selain tempat tinggal.
Masjid Gedhe Mataram dengan arsitektur yang akulturatif Hindu Islam tidak terlepas dari proses pembangunannya yang mendatangkan undagi yang dipimpin Senopati Kediri dan orang-orang Kalang yang berlatar belakang budaya Hindu yang kental. Dengan demikian unsur Hindu dan Islam diadaptasi dalam bentuk bangunan yang mencitrakan keharmonisan terdapat pada pintu gerbang masjid yang berbentuk kori, pagar pembatas (kelir), pagar halaman yang bernuansa Hindu, atap masjid bersusun tiga, seperti Masjid Agung Demak, dan puncak atapnya diberi mustoko (kepala).
Eksistensi Masjid Gedhe Mataram yang mengambil nilai-nilai kearifan lokal merupakan bagian dari perwujudan pelestarian nilai-nilai luhur dan selaras dengan kehidupan masyarakat. Kearifan lokal terlihat hingga kini, antara lain adanya kolam yang mengelilingi depan dan samping masjid, pintu pembatas ruang serambi dan utama, bedug dan kentongan, dan empat saka di ruang utama dan serambi menjadi bagian yang integral dengan bangunan masjid sebagai tempat ibadah tanpa mengurangi kekhusukkan dalam shalat, bahkan bangunan yang ramah lingkungan ini menambah keteduhan dan keimanan yang berada di dalamnya.
Nilai historis, akulturasi Hindu-Islam arsitektur, dan daya serap kearifan lokal pada Masjid Gedhe Mataram Kotagede tidak hanya sebagai kebanggaan, tetapi sebagai warisan budaya adiluhung yang harus dilestarikan oleh generasi muda.
Daftar Pustaka
Adrisijanti, Inajati. t.t. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela.
Ashadi. (2018). Kearifan Lokal dalam Arsitektur. Jakarta: UMJ Press.
Graaf, H.J. de dan Pigeaud, T. H. (2003). Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Mayangkara: Buletin Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. Edisi 3/2016. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan D.I. Yogyakarta.
Murtini, Titin. (2017). “Akulturasi Budaya pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta”, Prosiding Seminar Heritage IPLBI. Hlm. 1–12.
Pijper, G.F. (1992). Penelitian tentang Agama Islam di Indonesia 1930–1950. Jakarta: UIP.
Putra, Widihasto Wasana., dkk. (2015). Masjid Kagungan Dalem dan Masjid Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi D.I. Yogyakarta.
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.
Rosidi, Ajip. (2011). Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda. Bandung: Kiblat.
Santosa, B. Revianto., dkk. (2014). Kotagede: Khasanah Arsitektur dan Ragam Hias. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan D.I.Yogyakarta.
Sasongko, Wahyu Indro., dkk. (2015). Masjid Kagungan Dalem dan Masjid Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan D.I. Yogyakarta.
Wismantara, Pudji Pratitis. (2014). Eksistensi dan Rekontekstualisasi Aristektur Masjid Nusantara. Malang: UIN Maliki Press.
Winardi, Uji Nugroho., dkk. (2020). Atlas Mataram. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan D.I. Yogyakarta.
Zubair, Achmad Charis., dkk. (2009). Ensiklopedi Kotagede. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi D.I. Yogyakarta.
Daftar Narasumber
- Inajati Adrisijanti (77 tahun); Dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada.
- Sri Margana (53 tahun); Dosen Sejarah Universitas Gadjah Mada.
- Muhammad Arsyad (61 tahun); Sekretaris Kamasjidan Masjid Gedhe Mataram Kotagede.
메타데이터
- post_id
- b8a4ac21c7a4
- slug
- akulturasi-hindu-islam-dan-kearifan-lokal-pada-arsitektur-masjid-gedhe-mataram-kotagede-sebagai-b8a4ac21c7a4
- url
- https://medium.com/@karangjimbaran/akulturasi-hindu-islam-dan-kearifan-lokal-pada-arsitektur-masjid-gedhe-mataram-kotagede-sebagai-b8a4ac21c7a4
- canonical_url
- https://medium.com/@karangjimbaran/akulturasi-hindu-islam-dan-kearifan-lokal-pada-arsitektur-masjid-gedhe-mataram-kotagede-sebagai-b8a4ac21c7a4
- author_url
- https://medium.com/@karangjimbaran
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-06 19:50:18