Mengenali Jejak Rahasia dalam Hujan yang Tidak Bernama
Di antara gulungan derasnya jeram, Aku terbangun bersama butiran buih air lainnya. Aku tersadar bahwa mereka serupa wujudnya dengan diriku.
Di antara gulungan derasnya jeram, Aku terbangun bersama butiran buih air lainnya. Aku tersadar bahwa mereka serupa wujudnya dengan diriku. Aku hanyut dalam kebingungan dengan penuh seruak tanya: Mengapa diriku hadir di sini? Dengan segala pertanyaan yang mengintai, Aku mencoba berjalan melawan arus sungai. Bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai, melainkan untuk mengetahui: Di mana letak hulu sungai itu dan dari batu mana pertama kali Aku mengalir?

/aliran sungai (foto: dokumen pribadi)/
Dalam perjalanan ke hulu, Aku temukan bebatuan yang kusebut hasrat, lumpur yang kusebut luka, cerukan-cerukan yang kusalahkan sebagai tabir. Hingga akhirnya sungai mulai kehilangan sebutannya. Tak ada lagi nama dan sifat yang menempel di tubuhnya; semuanya luruh bersama tanah yang mengendap. Semakin dekat dengan hulu, semakin asing suara yang selama ini kusebut diriku. Tidak banyak yang bisa Aku bawa menuju ke sana. Butiran kedamaian, endapan kebahagiaan, sisa-sisa ketakutan, bahkan bayangan tentang diriku sendiri, perlahan mulai tenggelam ke dasar sungai.
Dan tibalah Aku di hulu sungai dengan mata air sunyi. Di sana tak ada arus, tak ada perjalanan, tak ada pengelana. Tempat tetes-tetes pertama menjatuhkan diri ke dalam riuh perjalanan.
Di tengah diam yang tak bersuara itu, muncullah tetes demi tetes air dari balik langit yang Aku sebut sebagai hujan; yang berjatuhan dengan irama tak senada ke hulu itu. Jutaan dari mereka turun tanpa memperkenalkan diri, tanpa nama, tanpa gelar. Dan membuatku sadar bahwa hulu bukanlah permulaan, ia hanya tempat bernaungnya hujan — deretan air yang tak pernah kutemukan ujung asal mulanya. Dan hingga kini menjadi rahasia bagaimana Aku bermula; seolah hujan hanyalah cara yang dipilih oleh rahasia untuk menyatakan keberadaannya. Aku hanya mampu menyaksikan bahwa diriku berasal dari kerahasiaan yang tak terbayang nama, bentuk, dan rupanya.
Kebersaksian itu yang membuatku memahami mengapa diriku harus hadir dalam rangkaian panjang hulu-hilir sungai itu. Kembali mengalir ke hilir sungai sudahlah menjadi takdirku. Aku lepaskan segala yang melekat padaku, bebatuan yang pernah kusebut hasrat, lumpur yang pernah kusebut luka, cerukan-cerukan yang pernah kusalahkan sebagai tabir. Laku yang Aku jalani hanyalah mengingat rahasia yang menemani perjalananku, dan memelihara rindu untuk pulang ke rahasia itu. Setelah menggenang panjang di sungai itu, tiba waktunya Aku di muara lautan sebagai tanda hilir sungai. Dan membuatku mengerti: bahwa Aku, sungai, dan lautan berasal dari hujan yang sama. Dan akan menguap entah ke mana, kembali menjadi rahasia, atau mungkin suatu hari akan turun kembali sebagai hujan.
Hujan yang selalu kukenal kehadirannya, namun tak pernah kutemukan asal namanya.
메타데이터
- post_id
- b8d6c2d37323
- slug
- mengenali-jejak-rahasia-dalam-hujan-yang-tidak-bernama-b8d6c2d37323
- url
- https://medium.com/@gilangp831/mengenali-jejak-rahasia-dalam-hujan-yang-tidak-bernama-b8d6c2d37323
- canonical_url
- https://medium.com/@gilangp831/mengenali-jejak-rahasia-dalam-hujan-yang-tidak-bernama-b8d6c2d37323
- author_url
- https://medium.com/@gilangp831
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 05:11:55