Ilusi Rakus
Secara default manusia memiliki naluri mempertahankan diri (Al-gharizah al baqa’). Naluri ini mengarahkan manusia ingin dianggap ada. Marah…
Ilusi Rakus
Photo by Marija Zaric on Unsplash
Secara default manusia memiliki naluri mempertahankan diri (Al-gharizah al baqa’). Naluri ini mengarahkan manusia ingin dianggap ada. Marah atau merasa terpinggirkan jika tidak disebut di depan publik. Cenderung ingin eksis dan diakui keberadaannya. Naluri ini bagian fitrah manusia. Ia tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikendalikan. Salah dalam pengaturan atas naluri ini, ia akan menjadi sosok manusia rakus, tidak mengenal kata cukup, selalu ingin dan ingin, hingga liang lahat dan tanah pekuburan menutup jasadnya.
Naluri mempertahankan diri ini yang oleh Maslow disebut sebagai self-actualization, self-esteem, kadang memicu manusia untuk iri, dengki, mudah panas, bersaing dengan sekitarnya. Insting manusia akan cenderung fight or flight, berkelahi untuk mendapatkan sesuatu jika ia pandang berpeluang menang, atau menghindar jika lawannya lebih kuat.
Manusia merasakan lega, menghirup nafas panjang, plong, tenang, seiring keluarnya hormon endorfin (hormon senang dan bahagia) dan dopamin (hormon tenang, nyaman), saat naluri tersebut dapat ia penuhi. Itulah mengapa dalam banyak kasus kekuasaan “memabukkan”. Manusia dapat menjelma seperti Firaun, Namruz, saat kekuasaan yang ia pegang tanpa aturan dan kontrol dari publik.
Rakus merupakan laten. Ia dapat muncul kapanpun dan kepada siapapun, karena itu penting bagi manusia untuk waspada agar “rakus” hanya diarahkan pada ilmu, pahala dan ampunan Sang Pencipta. Sementara, rakus terhadap dunia sejatinya ilusi. Rakus adalah ilusi.
Manusia memiliki rumah mewah berpuluh-puluh, mobil mewah dari mulai LCGC (Low Car Green Car) hingga super car, jam tangan branded bernilai milyaran rupiah. Uang di simpan di banyak bank dalam dan luar negeri dengan angka tak terkira. Namun apakah manusia dapat menikmati dan menghabiskan seluruh harta yang ia dapatkan?
Satu piring makan siang semewah dan semahal apapun menu yang kita pesan, tetap terbatas. Tidak akan mencapai jutaan rupiah dalam satu piring makan tersebut. Mobil berjejer di garasi berpuluh-puluh, saat dipakai hanya satu saja. Ia tidak akan menggunakan mobil berpindah-pindah dalam satu waktu yang bersamaan. Rumah mewah seluas lebih dari lapangan bola, yang ia tempati dan tidur di dalamnya, hanya seukuran tubuhnya saja. Bahkan semakin luas ruangan dan kasur yang digunakan, semakin tidak nyaman untuk ia tempati dan tidur di atasnya. Semakin luas ruangan yang ia huni, rasa sendiri (loneliness) semakin menyapa.
Uang yang ia miliki baik secara cash, maupun yang tersimpan dalam sejumlah aset, dengan jumlah triliunan, dipastikan tidak akan habis ia gunakan untuk mencukupi kebutuhannya. Ini karena kebutuhan manusia terbatas. Kebutuhan manusia seperti sandang, pangan dan papan jelas hitungan besaran rupiahnya. Biaya hidup yang dihabiskan dalam satu hari sangat bisa dihitung secara presisi. Tinggal dikali satu bulan.
Artinya, jika kebutuhan satu harinya satu juta rupiah, dikali 30 hari, dalam satu bulan ia membutuhkan tiga puluh juta rupiah. Dalam satu tahun ia menghabiskan 360 juta. Anggap ia hidup 100 tahun ke depan, total uang yang akan ia habiskan 36 milyar. Tidak mencapai 100 milyar!
Belum lagi faktor usia. Semakin tua, manusia lebih malas untuk melakukan mobilitas. Termasuk juga konsumsi, jumlah kalori yang ia butuhkan, membuat biaya per-harinya akan lebih banyak digunakan untuk kesehatan dibandingkan makanan, hiburan.
Lawan dari rakus, merasa “cukup”. Enough is enough. Kita perlu menentukan angka rupiah untuk cukup itu. Nominalnya bervariasi bergantung jenis kemewahan apa yang ingin ia habiskan untuk mencukupi kebutuhannya. Kenyang perut dapat dengan nasi goreng pinggir jalan seharga 15 ribu rupiah. Bisa juga dengan 50 ribu rupiah, nasi goreng dari kafe ternama. Saran saya, tetapkan angka yang wajar. Standar BPS tentang pengeluaran 20 ribu/hari dapat dijadikan acuan. Bisa juga menggunakan upah minimum kabupaten/kota/provinsi, dibagi 30 hari.
Angka cukup ini yang memangkas potensi rakus. Ia harus dimiliki oleh manusia yang tidak ingin terjebak sifat rakus. Jika kebutuhan atas rumah dan kendaraan, cukup terpenuhi dengan satu saja, kenapa harus banyak. Begitu pula dengan uang yang dimiliki. Saat uang yang ia peroleh tidak lagi mempertimbangkan halal dan haram, legal dan ilegal, dipastikan ia terseret dalam rakus.
Sayangnya, sedikit manusia yang memahami dan mulai mengkalkulasi berapa rupiah cukup yang ia harus peroleh untuk memenuhi kebutuhannya. Tentunya, uang yang diperoleh dengan cara yang halal, legal. Padahal ini penting untuk menangkis rakus atas dunia.
Photo by Aaron Burden on Unsplash
Rakus itu ilusi. Ia sebenarnya tidak dinikmati oleh fisik manusia. Namun lebih pada menikmati pujian, pengakuan, validasi orang lain atas dirinya, yang itu pun tidak menambah apapun secara harta. Kepuasan atas keakuan diri yang tidak terhingga. Paradoksnya, semua manusia tidak suka sifat rakus ini.
Rakus adalah ilusi. Ia tidak dapat memulihkan fisik tua-renta manusia. Ia terkikis waktu dan zaman. Saat itu bisa saja ia sangat rakus. Tidak ada yang berani mengingatkan, saking berkuasanya. Namun, tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Perlahan tapi pasti, waktu merengut setiap kenikmatan yang dulu ia reguk. Hingga sampai satu saat waktu yang tersedia untuk dirinya di dunia telah habis. Ajal menjemput. Harta yang tidak mampu ia habiskan menjadi rebutan. Ia pun dilupakan.
Selain rakus adalah ilusi. Ia pun mengganggu kesehatan mental. Rasa tidak pernah puas, memicu detak jantung semakin dan semakin cepat di atas ambang batas normal. Hormon endorfin, dopamin dan oksitosin dikeluarkan secara berlebihan yang ujungnya membuat dirinya tidak tenang, gelisah. Lingkungan yang ia ciptakan hanyalah dunia fatamorgana. Semua orang menghormati, tersenyum pada dirinya karena transaksional, ada keuntungan di balik itu. Tidak ada kata tulus, ikhlas. Ia dihormati bukan karena personalnya, melainkan harta yang ia miliki. Rakus menciptakan kesemrawutan, toksik pada lingkungan dan persahabatan.
Seandainya semua orang paham bahwa rakus hanyalah ilusi. Mustahil juga.
Denny Kodrat, penulis, tinggal di Sumedang Jawa Barat.
메타데이터
- post_id
- b8ef9ba1c6a1
- slug
- ilusi-rakus-b8ef9ba1c6a1
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ilusi-rakus-b8ef9ba1c6a1
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ilusi-rakus-b8ef9ba1c6a1
- author_url
- https://medium.com/@dennykodrat
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 07:44:09