Generasi yang Cemas
Bila Marx masih hidup hari ini, ia akan menulis di status FB, “Socmed is opium for the people.”
Generasi yang Cemas
Bila Marx masih hidup hari ini, ia akan menulis di status FB, “Socmed is opium for the people.”
Kita semua (merasa) bahagia dengan media sosial. Media yang menolong menemukan barang, informasi, kerja, sahabat, dan jodoh; membuat pasar dan organisasi politik lebih efisien; memudahkan dalam banyak hal. Sebagian besar kita lebih happy sama medsos ketimbang rokok, alkohol, dan judi. Meski hal-hal yang disebut tadi sama-sama bikin kecanduan.
Beberapa orang dewasa punya masalah adiksi pada media sosial dan aktivitas online lain. Sebagaimana candu pada rokok, alkohol, judi, atau narkose, umumnya kita percaya mereka bisa memutuskan sendiri untuk keluar dari ketergantungannya.
Tapi ini tidak sama pada anak di bawah umur. Frontal korteks (yang mengatur kendali-diri, menunda kepuasan, dan resistensi pada godaan) manusia belum mencapai kapasitas optimal sampai usia pertengahan 20-an, sehingga segala yang adiktif tadi bisa mengusik perkembangan kognitif anak-anak praremaja.
Apa akibatnya? Menapaki pubertas, anak-anak itu rentan insecure, gampang terombang-ambing oleh tekanan teman sebaya, mudah terlena pada apa pun yang bisa memberi validasi sosial. Mereka tidak sama derana dengan milenial dan baby boomer.
Orang dewasa tidak mengizinkan anak-anak membeli rokok atau alkohol, atau bermain judol. Padahal dampak kecanduan media sosial khususnya bagi remaja jauh lebih tinggi daripada pada orang dewasa. Sementara manfaatnya sangat minim.
Tantangan parenting abad ke-21 menjadi lebih runyam: overproteksi di dunia nyata dan kurangnya proteksi di dunia maya. Dua itu alasan besar kenapa yang lahir setelah tahun 1995 tumbuh sebagai generasi cemas dan mencemaskan.
Apa itu cemas? Atau, apa itu gangguan kecemasan?
Beda dengan emosi takut. Ketakutan adalah fitur evolusioner terpenting dalam bertahan hidup. Nenek moyangmu tidak akan pernah hidup bila tidak mendengarkan ketakutan di detak jantungnya ketika berhadapan dengan predator. Husnudzon adalah resep kilat bunuh diri saat itu. Ketakutan memicu alarm di depan ancaman. Segera setelah ancaman itu usai, alarm itu berhenti berdering, hormon stress tak lagi mengalir, dan perasaan aman lambat laun pulih.
Ketakutan memicu respons otak untuk defensif pada hal-hal konkret seperti buaya, sambaran mobil, atau hunusan pisau. Begitupun kecemasan, ia memicu bagian otak yang sama, tapi objeknya lebih abstrak. Semisal kesepian dan ketakutan pada masa depan yang selalu tidak pasti — predator manusia modern. Ketika kecemasan terpicu secara terus-menerus pada ancaman yang tak nyata, maka “cemas” berubah menjadi “gangguan kecemasan”.
Dalam kadar tertentu, cemas itu sehat. Kita hanya perlu mencemaskan gangguan kecemasan. Akar dari gangguan ini adalah tercerabut dari dunia pergaulan dengan sesama. Di era ini, kita mesti lebih khawatir dengan “kematian sosial” tinimbang kematian fisik. Apalagi menengok angka orang yang dibunuh melankolia kian meningkat.
Sejak tahun 2010, banyak hal meningkat dari indeks psikologi generasi baru: level depresi meningkat 106% dan kecemasan 134%. Kecemasan gemar menyerang mereka yang berumur 18 sampai 25 tahun. Yang paling terdampak adalah perempuan karena lebih rentan dengan perbandingan sosial yang diperparah media sosial (di mana semua orang berlomba siapa yang paling bahagia dan siapa yang layak dihakimi atas ketidaksempurnaannya). Sedangkan bunuh diri lebih sering terjadi pada anak laki-laki ketimbang perempuan [mungkin kita perlu mendekonstruksi asumsi “laki-laki tidak bercerita”].
Angka-angka itu lahir pada generasi yang diasuh oleh media sosial dan aktivitas digital lain. Anak-anak telah mencicipi teknologi yang membuat mereka bisa terbang setinggi Icarus. Lalu apa yang bisa dilakukan orang dewasa agar sayap generasi-generasi itu tidak meleleh dan jatuh ke labirin kecemasan?
Dalam Anxious Generation (2024), Jonathan Haidt menganjurkan: pertama, kita perlu membatasi gawai sebelum anak-anak duduk di bangku SMA. Sedangkan di rumah, hengpon diberikan dengan aplikasi terbatas serta tanpa jejaring internet, seenggaknya sampai usia 14 tahun.
Kedua, tidak ada media sosial sampai umur 16. Biarkan anak-anak bermain sebelum mereka masuk ke dunia yang gemar membanding-bandingkan nasib satu orang dengan orang lain.
Ketiga, sekolah bebas gawai. Generasi yang tak cemas adalah generasi yang tak diizinkan terdistraksi oleh banjir informasi di saku mereka.
Keeempat, membiarkan anak-anak bermain tanpa pengawasan, membiarkan mereka lebih independen di dunia nyata. Bermain adalah cara paling alami melatih keterampilan sosial, mengatasi cemas, agar tumbuh sebagai orang dewasa yang mandiri. Bermain adalah belajar. Sekolah secara etimologi juga berarti bermain — sebelum militerisme mengacak-acak makna pendidikan kita.
Keempat itu tidak akan sulit kita praktikkan bila kita semua melakukannya bersama-sama. Kita mesti gotong royong dari tingkatan individual, sosial, hingga institusional. Jonathan Haidt percaya, bila kita melakukannya sejak sekarang, maka indeks kesehatan mental generasi ini akan membaik dalam dua tahun.
Sebelum AI dan komputasi spasial (seperti kacamata Visional pro baru dari Apple) menciptakan dunia virtual yang lebih imersif dan adiktif, mungkin kita bisa mulai sejak hari ini. Bila tidak, barangkali kelak kita butuh kementerian yang lebih penting dari Kementerian Makan Bergizi: Kementerian Kesepian.
hari3
30harinulisburuk
메타데이터
- post_id
- b90468dfd417
- slug
- generasi-yang-cemas-b90468dfd417
- url
- https://medium.com/@tyologi/generasi-yang-cemas-b90468dfd417
- canonical_url
- https://medium.com/@tyologi/generasi-yang-cemas-b90468dfd417
- author_url
- https://medium.com/@tyologi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 12:24:55