← Back to list

Rebo

Jalannya pelan. Kakinya yang telanjang seperti meraba. Tangan kanannya membawa tongkat kayu yang ia tuding-tudingkan ke tanah. Rebo yang…

ahbaskoro · 2020-11-28 10:14 · 0 claps · 2.9 min read
#kekeringan #global-warming #difabel #dhuafa-lansia #kemanusiaan
Open on Medium ↗

Rebo

Jalannya pelan. Kakinya yang telanjang seperti meraba. Tangan kanannya membawa tongkat kayu yang ia tuding-tudingkan ke tanah. Rebo yang kehilangan kedua penglihatannya menuju sumber air di pagi buta.

Ilustrasi. Foto: DKM

Ilustrasi. Foto: DKM

Kekeringan sudah jadi bencana tahunan di desa Getas. Sampai-sampai mereka menganggapnya sebagai kutukan bagi desa yang berada di pinggir Samudera Hindia itu. Rebo paham betul soal ini. Bagaimana tidak, 70 tahun lalu, saat ia dilahirkan di desa ini, kekeringan tengah terjadi di bulan Juli yang panjang. Kata orang-orang, ia menangis sangat keras sambil menendangkan kakinya ke udara saat tubuhnya masih berlumur darah ibunya. Entah, mungkin Rebo kecil marah dilahirkan disini.

Kembali pada usianya kini, ia masih menyaksikan desanya kering dan kesulitan air. Bahkan, saat ini, musim hujan tak bisa diperkirakan kapan akan datang. Hitungan bulan berakhiran mber-mber yang kata orang jawa adalah bulan penuh air, mulai tidak bisa dijadikan patokan. Sekarang, September atau Oktober pun kadang air belum bisa diharapkan jatuh dari langit. Rebo tak tahu, orang-orang di kota menamai hal ini sebagai Global Warming.

Hanya ada satu sumber air berupa sumur besar yang dimanfaatkan warga desa Getas. Kadang, jika alam sedang ngambek, desa-desa sebelah seperti desa Ngalat, Sidodadi, dan Winari juga mengambil air di tempat itu, sebab sumur-sumur di desa mereka juga mengering. Butuh perjuangan untuk mengambil air di sumur besar ini. Sebab, lokasinya jauh dari pemukiman dan medannya berbatu dan terjal.

Pagi itu, selepas subuh, ia sudah keluar rumah membawa dua ember besar warna hitam dan satu ember kecil berwarna biru yang dikaitkan ke bambu dan dipanggulnya. Rencananya, air itu akan dipakai untuk masak dan mandi. Jalannya pelan. Kakinya yang telanjang seperti meraba. Tangan kanannya membawa tongkat kayu yang ia tuding-tudingkan ke tanah. Rebo yang kehilangan kedua penglihatannya menuju sumber air di pagi buta.

Cerita soal Rebo dan matanya yang buta punya cerita sendiri. Saat usianya masih belasan tahun, Rebo sudah membantu keluarganya dengan merawat sapi milik tetangga. Setiap hari ia mencarikan rumput dan air untuk sapi tetangganya itu. Sampai suatu sore, ia tidak menyadari jika kandang tetangganya dalam keadaan tidak terkunci dan sapi yang ia rawat mengamuk. Niat menenangkan sapi tetangganya berujung serudukan sapi pada wajah dekat matanya. Kemiskinan membuat Rebo hanya dibawa ke puskesmas desa. Rebo dibawa pulang dan diberi uang lebih dari tetangganya sebagai “santunan”. Tidak ada yang marah. Wes takdire, kata orang. Mata Rebo awalnya hanya infeksi ringan. Ia masih bisa melihat. Tapi tanpa perawatan medis, lama kelamaan infeksi itu merenggut penglihatan Rebo. Sampai sekarang.

Rebo sudah melatih instingnya melewati medan berbatu dan terjal menuju sumber air selama bertahun-tahun. Ia tahu arah menuju sumber air. Ia tahu medan yang menanjak. Ia tahu letak batu-batu besar tanpa tersandung. Ia menghafal semuanya. Tapi hafalan rute itu bukan tanpa resiko. Pernah beberapa tahun lalu, ia hampir jatuh ke jurang karena tersesat. Untung, ia menyadari dan segera berdiam di tempat yang belum pernah ia hafal itu. Sampai akhirnya ada warga desa yang juga pulang mengambil air bertemu Rebo dan menuntunnya pulang.

Kegiatan membawa air dari sumber air ke rumah adalah yang terberat. Selain ember-ember itu sudah terisi dan membebani panggulan, air di dalam ember harus dijaga. Buat apa membawa air jika pulang semuanya tumpah ke tanah kan? Maka, beban pulang dua kali jauh lebih berat dari saat berangkat.

Di tengah perjalanan, ia berhenti sejenak dan meringis. Kaki kirinya berdarah tergores bebatuan lancip. Ia menengadah ke langit, seolah meminta cahaya masuk ke matanya agar ia bisa melihat.

“Ya Allah. Sabarno kulo gusti.” Ia mendoakan hatinya dan kakinya yang sudah tergores berkali-kali.

Jarak 500 meter atau 1 kilometer jika rute pulang-pergi itu ditempuhnya cukup lama. Satu setengah jam. Di rumah, sang istri sudah siap. Ia menyambut air yang dipanggul Rebo dan segera dipakainya untuk masak. Sayur sop wortel. Tanpa daging. Mereka mencoba bertahan. Itu uang yang diperoleh istrinya dari jasa pijat keliling. Akhir-akhir ini, kadang sehari tidak ada satupun orang yang memakai jasanya. Maka mereka harus bertahan dengan sisa uang yang ada.

“Pak, istirahato sek. Maringene sarapan.”

Rebo tidak benar-benar menantikan sarapan itu. Ia memilih duduk di pinggiran kasur yang terbuat dari kayu tanpa alas apapun. Ia meraba luka di kakinya. Tak lama, sang istri datang membawakan segelas teh tawar hangat. Ia meraba tangan istrinya berusaha mengambil gelas teh tersebut. Ya Allah, bahkan rupa istrinya saja ia belum pernah melihat.


메타데이터
post_id
b92af40e9ca6
slug
rebo-b92af40e9ca6
url
https://medium.com/@ahbaskoro/rebo-b92af40e9ca6
canonical_url
https://medium.com/@ahbaskoro/rebo-b92af40e9ca6
author_url
https://medium.com/@ahbaskoro
status
ok
fetched_at
2026-07-28 17:01:39