← Back to list

Perkembangan Sektor Energi di Indonesia

Sebagai salah satu dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga memiliki kebutuhan energi yang terus meningkat tiap…

Raka Muhammad Yusuf · 2024-08-12 15:55 · 0 claps · 6.1 min read
#power-plants #energy-transition #pembangkit-listrik #energi #energy
Open on Medium ↗

Perkembangan Sektor Energi di Indonesia

Cooling Tower

Cooling Tower

Sebagai salah satu dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga memiliki kebutuhan energi yang terus meningkat tiap tahunnya. Sektor energi menjadi salah satu tantangan besar pemerintah dalam menghadapi permintaan energi yang terus meningkat, tentu dengan usaha beralihnya ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Lalu apa yang dimaksudkan dengan energi yang lebih ramah lingkungan?. Mungkin dari sebagian dari kita sudah tahu, tetapi masih banyak warga Indonesia yang tidak tahu dan tidak paham dengan hal ini, mengingat jumlah warganya yang banyak, dan tidak semua orang sadar akan pentingnya energi yang ramah lingkungan ini untuk kehidupan Indonesia di masa mendatang.

Energi yang ramah lingkungan, sering disebut juga dengan ‘Energi Terbarukan’, adalah jenis energi yang berasal dari sumber-sumber alam yang dapat diperbarui atau tidak habis, seperti contoh energi matahari, angin, air, panas bumi, dll. Sumber-sumber energi tersebut sangat berbeda dengan dari bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam, di mana jumlahnya yang terbatas dan tidak dapat diperbarui setelah digunakan, dan sebagian besar dari mereka memiliki sisa hasil proses berupa waste (limbah) yang perlu ditangani agar tidak mencemari lingkungan di sekitarnya.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan kita adalah ‘seberapa tinggi peningkatan kebutuhan energi di Indonesia ini?’ dan ‘sumber apa saja yang digunakan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi setiap tahunnya?’. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yang paling mudah, kita ambil data resmi dari pemerintah langsung.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Data yang didapatkan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berupa jumlah produksi energi dari tahun 2013 sampai tahun 2023 berdasarkan jenis pembangkitannya. Namun, agar mudah untuk dibaca dan dipahami, kita bisa membuatnya dengan bantuan Tableau dalam bentuk visualisasi dashboard interaktif dan bisa diakses di link berikut.

Indonesia Energy Production Dashboard

Grafik Produksi Energi di Indonesia Satu Dekade Terakhir

Grafik Produksi Energi di Indonesia Satu Dekade Terakhir

Seperti yang terlihat pada grafik tersebut jumlah energi yang diproduksi di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya, dari tahun 2013 (250,000 GWh) terdapat peningkatan ±40% sampai akhir tahun 2023 (350,000 GWh). Walaupun begitu ada penurunan di tahun 2020 (-1,23%) yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, sehingga banyak industri yang berhenti/dibatasi pergerakannya.

Suatu pembangkit produksinya meningkat jika tidak diimbangi dengan permintaannya, artinya terdapat permintaan yang terus bertambah tiap tahunnya. Walaupun mungkin terjadi produksi yang lebih besar daripada bebannya, pasti ada kerugian yang besar yang diterima dari sisi pembangkit, maka diperlukan manajemen pembangkitan energi yang baik berdasarkan permintaan yang ada.

Produksi Energi Berdasarkan Jenis Pembangkit Listrik

Produksi Energi Berdasarkan Jenis Pembangkit Listrik

Bila kita lihat dari grafik selanjutnya terlihat bahwa yang mendominasi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan total 1,854,399 GWh selama 1 dekade terakhir dan diikuti oleh PLTGU, dan PLTA. Kita tahu bahwa limbah dari PLTU cukup banyak dan berbahaya bagi lingkungan. Bagi yang tidak tahu, limbah utama dari PLTU berupa Abu terbang (Fly Ash), Abu Dasar (Bottom Ash), Gas Buang (Flue Gas: CO₂, SO₂, NOx). Limbah tersebut harus ditangani oleh pengelola pembangkit karena mengandung unsur berbahaya dan memerlukan pengelolaan khusus agar tidak mencemari lingkungan.

Berkaca dari Pemilu tahun 2019, rilis sebuah film dokumenter berjudul ‘Sexy Killer’ yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta sebagai bagian dari proyek “Ekspedisi Indonesia Biru”. Selain dari sisi politik, film ini mengangkat isu-isu lingkungan dan sosial di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan industri tambang batu bara dan dampak negatifnya.

Sehingga bila kita ingin menghilangkan / memperkecil / minimize penggunaan dari PLTU, apakah Indonesia siap dalam kekurangan energi yang dibutuhkan? Tentu saja tidak jika dilihat dari permintaan energi yang terus meningkat. Artinya kita hanya bisa melakukannya secara bertahap, sedikit demi sedikit, sambil beralih ke Energi Terbarukan seperti Air pada PLTA dan Panas Bumi pada PLTP. Maka dari sisi pemerintahan maupun masyarakat baiknya berfokus tidak hanya pada yang sudah ada saja tetapi terhadap energi terbarukan juga.

Proporsi Pembangkitan Listrik

Proporsi Pembangkitan Listrik

Dari dataset yang didapat pun kita mengetahui bahwa energi listrik yang dibangkitkan tidak hanya dikelola oleh pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (PT PLN), tetapi energi juga dibangkitkan oleh pihak swasta, IPP (Independent Power Producer) dan PPU (Private Power Utility). Lagi, dengan bantuan Tableau kita bisa dengan mudah menganalisis dan memvisualisasikan dataset yang didapat dalam bentuk dashboard interaktif.

Listrik yang diproduksi oleh Swasta

Listrik yang diproduksi oleh Swasta

Mereka melakukan perjanjian jual beli listrik dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan bertanggung jawab untuk mengembangkan, membangun, memiliki, dan mengoperasikan pembangkit listrik. Sehingga hal ini memiliki kesan bahwa PLN memonopoli pasar listrik di Indonesia, karena sebagian besar warga Indonesia hanya membeli listrik ke PLN (pemerintah) sementara di luar sana banyak orang yang memiliki perusahaan pembangkit listrik sendiri, walaupun dengan kapasitas kecil dibandingkan dengan perusahaan milik negara.

Tapi hal tersebut memiliki nilai lebih di Indonesia, listrik yang ditransmisikan semua dikelola oleh negara, sehingga hanya ada satu sistem kelistrikan yang kita gunakan dan istilahnya disebut On-Grid (listrik yang terhubung ke jaringan listrik umum). Bila kita lihat ke negara lain, banyak perusahaan swasta yang menjual langsung ke warganya. Bayangkan bagaimana instalasi listrik yang ada di sana karena banyak swasta yang menjual listrik selain pemerintah.

Selain itu ada istilah Off-Grid yang artinya listrik yang tidak terhubung ke jaringan listrik umum. Biasanya, sistem ini menggunakan panel surya (PV: Photo Voltaic), baterai untuk penyimpanan energi, dan inverter. Baterai menyimpan energi yang dihasilkan oleh panel surya untuk digunakan ketika tidak ada matahari, malam atau ketika mendung. Sistem Off-Grid ini sangat cocok di daerah terpencil, atau di mana koneksi ke jaringan On-Grid sulit didapat, karena sistem ini memberikan kebebasan dalam jaringan listrik.

Kekurangan dari sistem Off-Grid ini adalah biaya awal yang lebih tinggi karena membutuhkan baterai dan sistem kontrol tambahan, dan risiko kehabisan daya jika energi yang disimpan tidak mencukupi.

Setelah kita tahu bagaimana perkembangan sistem kelistrikan yang ada di Indonesia, kita juga perlu tahu bagaimana distribusi listrik yang ada di Indonesia. Hal ini dilakukan agar kita tahu pengelolaan energi seperti apa yang kita perlu lakukan di masa depan. Kita bisa mengambil dataset lain dari pemerintah (Badan Pusat Statistik) dan menampilkannya dengan bantuan Tableau.

Distribusi Pembangkit Listrik di Indonesia

Distribusi Pembangkit Listrik di Indonesia

Dari peta Heatmap tersebut bisa kita lihat pembangkit listrik banyak terkonsentrasi di pulau Jawa, di mana jumlah kapasitas terpasang paling besar berada di provinsi Jawa Timur (131,989 MWh) dan diikuti oleh Banten (115,872 MWh). Kasarnya pusat populasi dan industri di Indonesia paling padat berada di pulau Jawa karena listrik di sana lebih mudah didapat.

Lalu apakah sistem kelistrikan ini terkoneksi antar pulaunya karena menggunakan sistem On-Grid? karena menggunakan sistem On-Grid, seharusnya akan jarang terjadi pemadaman listrik bilamana ada maintenance dari pihak pengelola ataupun terdapat kendala seperti contohnya ‘pohon tumbang’ yang merusak sistem kelistrikan. Namun, sayangnya tidak, butuh pembangunan superstruktur untuk menghubungkan kedua pulau atau lebih menggunakan kabel bawah laut dan dikenal dengan sebutan Interkoneksi.

Interkoneksi yang paling besar adalah interkoneksi Jawa-Bali. Sisanya memiliki sistem On-Grid sendiri-sendiri di setiap pulau utama di Indonesia. Namun, sudah ada rencana proyek untuk menghubungkan kedua pulau antara Jawa dan Sumatera dikenal sebagai proyek HVDC (High Voltage Direct Current) Jawa-Sumatera. Proyek tersebut diharapkan dapat membuat pasokan listrik lebih stabil kepada konsumen.

Summary

Indonesia, sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menghadapi tantangan signifikan dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. Dengan pertumbuhan permintaan energi yang pesat, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan untuk beralih dari sumber energi konvensional yang ramah lingkungan.

Dalam satu dekade terakhir, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mendominasi produksi energi, diikuti oleh PLTGU dan PLTA. Namun, limbah dari PLTU, termasuk abu terbang dan gas buang, menimbulkan masalah lingkungan. Sumber energi terbarukan seperti PLTA dan PLTP diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada PLTU, meskipun transisi ini harus dilakukan secara bertahap untuk mengatasi kekurangan energi yang mungkin timbul.

Selain itu, sistem kelistrikan di Indonesia dikelola baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Listrik di negara ini dikelola melalui sistem On-Grid, dengan proyek interkoneksi seperti Jawa-Bali dan rencana HVDC Jawa-Sumatera bertujuan meningkatkan stabilitas pasokan listrik antar pulau.

Dalam menghadapi tantangan energi dan lingkungan, Indonesia perlu fokus tidak terbatas hanya pada sumber daya yang sudah ada tetapi dengan pengembangan energi terbarukan dan manajemen pembangkit yang efisien untuk mencapai masa depan energi yang lebih berkelanjutan.

Indonesia Energy Production Dashboard


메타데이터
post_id
b95d48e4e97f
slug
perkembangan-sektor-energi-di-indonesia-b95d48e4e97f
url
https://medium.com/@RakaID/perkembangan-sektor-energi-di-indonesia-b95d48e4e97f
canonical_url
https://medium.com/@RakaID/perkembangan-sektor-energi-di-indonesia-b95d48e4e97f
author_url
https://medium.com/@RakaID
status
ok
fetched_at
2026-07-23 04:11:16