← Back to list

Kesetiaan itu masih ada ditengah kita semua (part 1)

blaxcat · 2024-05-11 18:33 · 0 claps · 2.9 min read
#cinta #ketulusan #kesetiaan #pasangan #pasangan-hidup
Open on Medium ↗

Kesetiaan itu masih ada ditengah kita semua (part 1)

Perselingkuhan sudah ada dari dulu, hanya saja dengan kemudahan informasi yang kita dapatkan dari sosial media, kasus-kasus perselingkuhan banyak yang diangkat dan tanpa sengaja menjadikan sebagian dari kita berpikir bahwa tidak ada lagi manusia yang bisa dipercaya dalam hal kesetiaan.

Disini saya tidak menulis untuk menyalahkan pelaku perselingkuhan apa lagi korban perselingkuhan, dan tidak pula ingin mengkritik tentang bagaimana orang-orang menggunakan sosial medianya.

Saya hanya mau sharing apa yang saya lihat, yang mengubah pikiran saya yang awalnya penuh dengan pertanyaan “kenapa sulit sekali mencari yang setia?” menjadi kalimat pernyataan “ternyata kesetiaan itu banyak dan ada dimana-mana.”

Saya bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit khusus kanker.

Tanpa bermaksud menyudutkan para penderita kanker, saya mau sedikit mendeskripsikan bagaimana situasi biasanya di ruang rawatan tanpa mengurangi maupun melebihkannya.

Pasien kanker dengan luka terbuka atau dengan luka perdarahan biasanya akan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, sebagai contohnya, pasien kanker usus yang buang air besar berdarah, pasien kanker serviks yang perdarahan, pasien kanker payudara yang sudah penuh nanah, dan lainnya. Aroma ini bisa tercium dari dekat, atau parahnya bisa tercium hingga bermeter-meter jaraknya. Tidak semua, namun tidak sedikit pula.

Sebagai orang yang bertugas di dunia kesehatan, kami terbiasa untuk mengontrol ekspresi agar tidak menyinggung pasien tersebut, dan tetap bekerja secara profesional.

Tak jarang aroma itu menyebar sampai kelorong padahal selalu ada O.B. yang bertugas membersihkan setiap sudut rumah sakit selama 24 jam penuh ganti-gantian, sama halnya dengan dokter dan perawat, dan tenaga kesehatan dan petugas kesehatan lainnya. Para O.B. ini yang akan memastikan toilet bersih, lantai bersih, bebas dari cairan infeksius, ruangan harum, dan lainnya.

Stop, jangan menyalahkan mereka karena seakan tidak mengurus diri. Siapa juga sih yang mau mengalami hal tersebut?! Sejujurnya, mereka sudah terlalu lelah sehingga terkadang tidak sadar atau semata karena mereka sudah tidak berdaya dengan keadaan yang mereka alami.

Jangankan pasiennya, bahkan keluarga atau pendamping pasien pun harus standby terus-menerus selama beberapa hari, itu tentu melelahkan.

Kenapa saya membahas hal ini?

Begini, sering sekali pemikiran “selingkuh” terjadi karena pasangan lelah, pasangan tidak dimengerti, pasangan tidak bisa mengurus diri, pasangan begini dan begitu. Yang pada akhirnya mencari alasan untuk membenarkan prilaku selingkuh.

Disini saya mendeskripsikan situasi ruang rawatan dan pasien tadi dengan tujuan agar saya bisa menjelaskan lebih jauh tentang ketulusan cinta dan kesetiaan.

— — —

Seorang pria usia 60-an, rambut yang penuh uban, baju yang sudah ia pakai selama dua hari dua malam, wajah lelah, duduk disebuah kursi yang berada disamping tempat tidur istrinya. Sebut saja Pak Ajis, dan istrinya Ibu Ajis.

Ibu Ajis seorang pejuang kanker payudara, payudara kanannya membengkak hingga sebesar bola basket, meskipun sudah dibalut perban, rembesan nanah dan darah masih terlihat membasahi perban, dan mengeluarkan aroma yang menyengat. Tangan kananya bengkak dua kali lipat dari ukuran tangan sebelumnya. Wajahnya pucat, rambutnya yang hitam jadi berkilau karena sudah tidak keramas beberapa hari, dan tubuhnya terlihat sangat kurus sekali.

Ketika saya memasuki ruangan, Pak Ajis lantas berdiri, tersenyum dan menyambut saya dengan ramah. Sembab matanya menunjukkan betapa lelahnya dirinya, meskipun begitu sorot matanya menunjukkan ketulusan. Ia menggenggam sebuah pena dan buku tulis berwarna hijau.

“Pagi dokter..”

“Pagi pak, bagaimana? apakah ibu ada keluhan lagi?”

Sembari saya memeriksa Ibu Ajis menggunakan stetoskop, saya melirik Pak Ajis sedang sibuk membuka bukunya, saya mengintip sedikit kedalam bukunya, ternyata dibuku tersebut ia mencatat setiap urine yang keluar, keluhan istrinya, obat-obat yang dikonsumsi lengkap beserta jamnya, dan pesan-pesan setiap perawat dan dokter yang mengunjungi istrinya.

Melihat itu saya pun bertanya, “Ibu sudah berapa lama pengobatan pak?”

“Sudah 6 bulan dokter..” jawabnya dengan semangat dan penuh harapan.

Enam bulan bukan waktu yang singkat, apa lagi mengurus orang sakit.

“Istri saya malas makan dokter, gimana caranya supaya dia mau makan ya dokter?”

Percakapan terus berlanjut, hingga akhirnya saya berjalan meninggalkan ruangan. Sebelum benar-benar keluar dari pintu, saya berbalik sedikit untuk melihat sekali lagi pemandangan yang hangat ditengah keadaan hidup yang kejam.

Pak Ajis kembali duduk, menghadap ke istrinya, mengelus rambut istrinya.

Saya berjalan di lorong dengan berbagai pikiran yang campur aduk, bagaimana Pak Ajis memberikan saya sebuah pelajaran tentang cinta dan kesetiaan.

Ketulusan Pak Ajis menemani istrinya menjalani pengobatan berbulan-bulan, ketulusan Pak Ajis merawat istrinya, mengganti popok istrinya, ketulusan Pak Ajis mencatat dan memperhatikan setiap detail pengobatan dan asupan istrinya, kesetiaan Pak Ajis menemani istrinya berjuang melawan kanker dari hari ke hari, kesetiaan Pak Ajis dalam menyemangati istrinya, kesetiaan Pak Ajis dalam menunggu istrinya untuk kembali pulang kerumah bersamanya.

Kita terlalu sering melihat kasus perselingkuhan yang ada di media, padahal masih banyak cinta yang tulus dan setia yang memberikan kita harapan.

— — —

*nb : nama disamarkan


메타데이터
post_id
b97038cc26f7
slug
kesetiaan-itu-masih-ada-ditengah-kita-semua-part-1-b97038cc26f7
url
https://medium.com/@blaxcat/kesetiaan-itu-masih-ada-ditengah-kita-semua-part-1-b97038cc26f7
canonical_url
https://medium.com/@blaxcat/kesetiaan-itu-masih-ada-ditengah-kita-semua-part-1-b97038cc26f7
author_url
https://medium.com/@blaxcat
status
ok
fetched_at
2026-07-20 06:18:42