← Back to list

Secuil Kisah tentang Jesse

Jesse merasa bahwa ia salah membuat pilihan. Perguruan tinggi negeri adalah hal yang tidak cocok baginya. Senioritas, tugas ospek yang…

lila · 2023-06-26 12:17 · 13 claps · 4.8 min read
#haobin #usa #zhanghao #hanbin
Open on Medium ↗

Secuil Kisah tentang Jesse

Jesse merasa bahwa ia salah membuat pilihan. Perguruan tinggi negeri adalah hal yang tidak cocok baginya. Senioritas, tugas ospek yang dibebankan, serta lingkungannya membuat Jesse harus berusaha keras dalam beradaptasi.

Dahulu, di sekolahnya tidak ada satupun yang meneriaki telinganya ataupun murid lainnya, termasuk guru. Namun di sini, beberapa orang dengan almamater yang membalut tubuhnya dan name tag yang menggantung di leher bertuliskan "Komisi Disiplin" memaki-makinya seolah Jesse telah berbuat dosa besar.

Mereka beramai-ramai mengerubungi Jesse yang saat ini tengah memejamkan matanya takut lalu mengatainya lelet bak putri solo. Telunjuk mereka dengan lantang menunjuk tepat ke wajah Jesse hingga Jesse mengira telunjuk itu akan menusuk bola matanya.

Jesse sendiri sudah berusaha semampunya saat orang-orang tersebut meneriaki mahasiswa dengan toa untuk pergi ke lapangan, bahkan-bahkan sampai tubuhnya terjatuh dan bajunya kotor. Tapi mereka tak peduli. Asalkan tidak ada luka serius di tubuh Jesse, hal itu tidak akan dianggap masalah bagi mereka.

Tidak sampai di situ. Saat menjalani masa ospek, Jesse sangat kesulitan dalam mencari teman. Mahasiswa baru di sini kebanyakan hanya berteman dari sekolah yang sama dengan mereka. Dan kebanyakan mereka semua berasal dari sekolah negeri. Berbeda dengan Jesse yang berasal dari sekolah swasta dimana murid-muridnya kebanyakan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri maupun kampus swasta bergengsi.

Jesse menjalani masa sulit selama 4 hari ospek. Sejujurnya ia ingin mengadu, tapi ia takut kalau Papinya akan bertindak dan memindahkannya ke kampus lain.

Di hari terakhir ospek, untuk pertama kalinya Jesse menginjakkan kaki di kantin kampus. Sebelumnya Jesse hanya makan makanan yang disediakan oleh pihak fakultas. Menurutnya makanan yang disediakan fakultas kurang memuaskan. Nasinya sedikit mengeras dan sayurnya terasa aneh di lidahnya. Mereka menyebutnya sayur bayam, tapi Jesse lebih suka menamainya dengan sayur hambar.

"Mau makan apa?" Tanya sang ibu kantin saat Jesse tengah berdiri sembari menatap kikuk ke arah stand-nya

"Salmon ada miss?"

"Hahaha, panggil ibuk aja." Ah Jesse merasa malu karena ia terbiasa memanggil ibu kantin di sekolahnya dengan sebutan miss atau madam. "Di sini gaada salmon-salmonan, adanya ikan lele." Kata ibu kantin itu melanjutkan.

Jesse terlihat mengernyit. "Hah? ikan lailai?"

"Iya, ikan lele." Ibu kantin menunjuk ke arah ikan lele yang masih segar, dengan kumis yang masih menempel di sekitaran mulutnya. "Kayak gitu. Nanti ikannya ibu goreng."

Jesse terperangah akan wujud ikan itu. Kulitnya yang licin serta geliatnya yang lincah membuat Jesse berpikir pasti ikan tersebut dibiakkan dengan sepenuh hati.

"Boleh deh bu ikan yang tadi." Kata Jesse setelah ia menceritakan eksistensi ikan tersebut pada kedua adiknya yang juga sama-sama tidak tahu.

"Kalau sepaket sama nasi, tahu, tempe, 15 ribu ya."

Jesse mengangguk sembari tangannya merogoh kantong, mengambil dompetnya dan menelisik isinya.

"Astaga, aku lupa bawa uang tunai lagi."

Jesse mulai merutuki dirinya dalam hati. Salahnya sendiri sebelum ospek ia menukar dompet yang biasa ia pakai yang mana sebulan lalu dibawakan sang mami dari kota Roma dengan dompet lama miliknya.

Jesse hanya tidak mau terlihat mencolok, terlebih saat ospek ini senior-seniornya sangat menekankan tentang kesederhanaan. Padahal mereka sendiri terlihat mencolok dengan make-up dan baju warna-warninya.

Jesse hampir membatalkan niatnya untuk memakan lailai goreng. Lagipula masih ada kesempatan lain supaya Jesse bisa mencicipi rasanya. Atau bisa juga sepulang dari kampus ia meminta tolong kepada asisten papi untuk mencari ikan lailai segar dan meminta chef-nya untuk mengolah ikan tersebut.

"Kok diem aja?"

Baru saja Jesse hendak menutup dompetnya, seseorang tiba-tiba menghampirinya. Jesse sendiri tak mengenalnya siapa. Tapi Jesse bisa membaca namanya di name tag.

Sabian Dinanta Fakultas Teknik

Jesse cukup tertegun. Ini pertama kalinya seseorang di kampus ini menyapa Jesse duluan. Meskipun bukan berasal dari fakultas yang sama, Jesse merasa cukup terharu hingga matanya berbinar. Sampai-sampai ia refleks menceritakan masalahnya kepada orang asing yang baru menyapanya itu.

"Eung ituㅡ uangku nggak cukup buat bayar makanan kantin." Kata Jesse spontan.

Jesse sebetulnya hanya berniat untuk menceritakan masalahnya saja. Ia tak mungkin menceritakan hal ini pada kedua adiknya. Bisa-bisa mereka melakukan hal yang tak Jesse inginkan. Kedua adiknya benar-benar overprotective terhadapnya.

"Kalau gitu biar gue aja yang bayarin."

Ucapan pria bernama Sabian itu sontak membuat Jesse terkejut. Binar di matanya semakin meruah. Jesse tak menyangka masih ada orang baik di sini. Padahal ini pertama kalinya mereka berbicara.

Jesse juga merasa Sabian atau Bian ini bisa menghidupkan suasana di antara mereka. Bian banyak mengajaknya bicara saat dirinya tengah menunggu pesanannya datang.

Jesse tak tahu lagi harus sesenang apa. Pria di hadapannya ini adalah orang yang Jesse butuhkan di tengah rasa kesepiannya di kampus ini.

Dan Jesse menetapkan bahwa Sabian Dinanta adalah teman pertamanya di kampus ini.

Jesse sudah tidak peduli lagi untuk mencari teman. Ia mungkin hanya akan duduk diam di kelas dan memperhatikan penjelasan dosen. Kemudian akan pulang saat kelasnya selesai.

Namun skenario yang ia pikirkan mulai pupus kala kelas pertamanya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi berlangsung. Saat itu, dosen Pengantar Ilmu Komunikasi tengah mengabsen mahasiswanya satu-persatu. Namun saat rungunya berhenti pada nama Jesse, dosen dengan rambut yang digerai ikal itu pun mempertanyakan nama belakangnya.

"Jesse Adhikari Zenn. Kamu dari keluarga Zenn ya?"

Saat itu semua mata tertuju pada Jesse. Beberapa ada yang berbisik-bisik kepada teman di sebelahnya. Jesse tidak tahu apa yang mereka bicarakan, akan tetapi Jesse yakin mereka semua tengah membicarakan perusahaan keluarganya.

Zenn Group sendiri merupakan salah satu induk perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Akan sangat wajar bila orang-orang disekitarnya kaget dengan entitas keturunan Zenn di sini.

Dan Jesse tak menyangka anggukan kecil yang ia lemparkan berhasil mengubah kehidupan kampusnya. Dari yang awalnya tidak ada mahasiswa yang mengajaknya bicara, kini semua mahasiswa mulai mengerubunginya untuk mengajak berkenalan.

"Hi Jesse, Gue Evan. Nanti mau main ke restoran punya keluarga gue ya. Makanan di sana enak-enak dan dijamin higienitasnya. Ya walaupun nggak sebesar usaha keluarga lo, tapi siapa tau salah satu anak perusahaan lo ada niatan mau kerjasama sama restoran keluarga gue."

"Jesse, padahal kita kemarin sekelompok tapi kok aku baru tau ya kamu dari keluarga Zenn. Kamu sih kemaren diem-diem aja. Btw kamu masih inget aku nggak? Aku Arin."

"Jesse, kita sekelompok bareng nih. Kalau kerkomnya di rumah lo gimana?"

Jesse juga tak tahu mengapa informasi itu menyebar hingga seluruh angkatan teratas Ilmu Komunikasi. Sampai-sampai senior yang memakinya dulu saat ospek, kini dengan senyum cerahnya menyapa Jesse duluan.

"Jesse, gue lagi mau nyari tempat magang nih. Kira-kira lo bisa bantu senior lo ini buat magang di salah satu anak perusahaannya Zenn group nggak?"

Jesse sungguh muak. Di pikiran Jesse, semua orang di sini ingin berteman dengannya karena Ia membawa nama Zenn di ujung namanya.

Hingga satu nama mulai muncul di otaknya. Sabian Dinanta.

Dia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Jesse tanpa melihat nama belakangnya. Bahkan Bian dengan sukarela membayarkan makanannya hingga Jesse bisa merasakan lailaiㅡ ralat, lele goreng untuk pertama kalinya

Dan Jesse harus mengingatkan dirinya untuk meminta kontak Bian di pertemuan mereka selanjutnya.

Sudah terhitung 3 bulan semenjak Jesse mengenal Bian. Saat itu juga Bian mengenalkan 2 temannya yang lain pada Jesse. Abin dan Malik.

Sejujurnya Jesse tidak terlalu sering berbicara dengan mereka. Namun Jesse tahu bahwa mereka adalah orang baik yang tidak melihat nama belakang Jesse. Setidaknya itulah yang Jesse pikirkan hingga saat ini.

Dan Jesse semakin yakin dengan pikirannya saat Malik tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan ingin memberikan sembako kepadanya. Kata Bian, sembako adalah tanda persahabatan yang hendak Malik berikan untuknya.

Jesse senang tentu saja. Ia bahkan menantikan sembako tersebut.

Jesse kemudian berpikir bahwa ia harus memberikan sembako juga kepada 3 temannya sebagai tanda persahabatan. Dengan itu, mereka pastinya resmi menjadi sahabat.

Kira-kira kasih ke mereka apa ya?

©haonorable, 2023


메타데이터
post_id
b97e42faab35
slug
secuil-kisah-tentang-jesse-b97e42faab35
url
https://medium.com/@haonorable/secuil-kisah-tentang-jesse-b97e42faab35
canonical_url
https://medium.com/@haonorable/secuil-kisah-tentang-jesse-b97e42faab35
author_url
https://medium.com/@haonorable
status
ok
fetched_at
2026-07-25 14:52:35