DUNIA SANTRI : DISKURSUS ANTARA DISIPLIN DAN HUKUMAN DI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR PONOROGO
Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan dan tidak ada disiplin tanpa keteladanan
DUNIA SANTRI : DISKURSUS ANTARA DISIPLIN DAN HUKUMAN DI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR PONOROGO
Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan dan tidak ada disiplin tanpa keteladanan
-Falsafah PM. Gontor-
A. Pendahuluan
Pondok modern Darussalam Gontor (PMDG) atau yang sering dikenal pondok Gontor adalah pondok modern pertama yang didirikan di Indonesia. Berdirinya Gontor pada 20 september 1926 adalah upaya untuk memajukan pendidikan pesantren khas Indonesia dengan kemajuan zaman. (Suharto, 2023. 9) Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam dengan system asrama, kyai sebagai sentral figurnya, masjid seabgai titik pusat yang menjiwainya. (Zarkasyi, 2020. 1–9) Gontor mendapat gelar modern bukan karena penasbihan pendirinya kepada lembaga pendidikan ini. ‘Julukan’ modern diberikan saat akademisi Belanda hadir ke Gontor pada kisaran tahun 1930 sampai 1950-an dan melihat system pendidikan yang diterapkan di sini. (Suharto, 2023. 11–12) Gontor terkenal juga dengan pondok disiplin, pondok dengan disiplin yang tinggi bertujuan untuk mencetak kader-kader pemimpin umat yang berloyalitas, dedikasi, dan komitmen kuat. (serba serbi PMDG, 1997. 38) Berbarengan dengan disiplin yang tinggi penanaman falsafah Islam dan falsafah Gontory panca jiwa, (serba serbi PMDG, 1997. 3) panca jangka, dan motto pondok. (Pekan Perkenalan, 1939. 11)
Dalam mencetak kader pemimping umat Gontor memberikan pendidikan kepada santrinya berupa penerapan disiplin yang kuat dan pemberian materi Pelajaran yang tidak dikotomi. (Pekan Perkenalan, 1939. 21, serba serbi PMDG, 1997. 38) Sebagai upaya menjalankan disiplin Gontor memiliki komitmen untuk tegas tapi tidak keras, lembut tapi tidak lemah. Disiplin di Gontor sudah terkenal di khalayak pesantren se Indonesia, alumni-alumni hasil didikan Gontor sudah banyak berkiprah di Masyarakat. Melihat hebatnya kiprak alumni Gontor dan antusiasme Masyarakat, penulis mengajak untuk melihat disiplin Gontor dari sudut pandang baru. (Pekan Perkenalan, 1939. 37)
Teori disiplin dan hukuman yang dikemukakan Foucault dalam bukunya berjudul Dicipline and Punishment; The Birth of Prison menjelaskan bagaimana penerapan disiplin sebagai wajah baru modernitas. Hukuman terhadap fisik yang berubah menjadi pemberdayaan mental, aturan yang menakut-nakuti berubah menjadi pembentukan lingkungan dan lainnya. Penerapan teori ini sangat luas dan bisa dilakukan di mana pun termasuk di pesantren.
Focus tulisan ini ingin melihat sejauh mana dengan teori discipline and punishment diterapkan dalam disiplin Gontor. Apakah relevan dan ada perbedaan, bagaimana system, struktur dan penerapannya, sejauh mana itu dapat diterapkan. Teori discipline and punishment cocok dengan penelitian yang akan penulis sajikan dalam penulisan tugas akhir.
B. Pembahasan
a. Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo
Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor. (gontor.ac.id/latar-belakang/)
Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk.
Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari.
Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Mereka adalah; KH. Ahmad Sahal (1901–1977), KH. Zainuddin Fanani (1908–1967), dan KH. Imam Zarkasyi (1910–1985). (Forbis IKPM Gontor, 2023)
Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal. Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah. (Zarkasyi, 1936)
Dalam perjalanannya, sebuah perguruan tinggi bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) didirikan pada 17 November 1963 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1383. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Saat ini ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab, FakultasUshuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama, dan Akidah dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, dan jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam. Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus sendiri di Demangan, Siman, Ponorogo. (gontor.ac.id/latar-belakang/)
Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo saat ini dipimpin oleh: KH. Hasan Abdullah Sahal, Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., dan Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. (Tim Redaksi, 2020)
b. Teori discipline and Punishment sebagai pisau analisis
Michel Foucault dalam Discipline and Punish: The Birth of the Prison mengungkapkan perubahan besar dalam praktik kekuasaan dari era pra-modern ke era modern. Pada masa pra-modern, hukuman dilakukan secara publik dan brutal, seperti eksekusi di depan umum, yang bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan absolut raja. Namun, di era modern, hukuman bergeser menjadi lebih tersembunyi melalui praktik disiplin seperti penjara. Hukuman modern berfokus pada pengendalian tubuh dan pikiran individu secara halus melalui pengawasan, normalisasi, dan eksaminasi. Konsep Panoptikon, desain penjara oleh Jeremy Bentham, dijadikan Foucault sebagai metafora untuk menggambarkan bagaimana individu merasa diawasi terus-menerus sehingga mengontrol perilaku mereka sendiri tanpa pemaksaan langsung. (Foucault, 1995; Sudirman, 2021)
Selain itu, Foucault menyoroti bahwa kekuasaan modern bekerja langsung pada tubuh manusia untuk membentuknya sesuai kebutuhan sosial dan ekonomi. Hal ini terlihat pada institusi seperti militer, sekolah, dan pabrik, di mana tubuh dilatih untuk bertindak teratur dan efisien. Kekuasaan modern didukung oleh hubungan erat antara pengetahuan dan kekuasaan, di mana institusi seperti psikologi, kriminologi, dan kedokteran menciptakan definisi “normalitas” yang mendukung kontrol sosial. Proses normalisasi ini menanamkan standar tertentu dalam masyarakat, sehingga individu yang dianggap tidak sesuai dicap menyimpang dan memerlukan koreksi. Foucault menegaskan bahwa disiplin bukan sekadar kepatuhan yang dipaksakan oleh orang lain, tetapi lebih sebagai pengendalian diri individu atas kehendaknya sendiri. (Foucault, 1995; Sudirman, 2021)
Lebih jauh, Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan modern tidak lagi terpusat pada raja atau pemimpin tunggal, melainkan tersebar melalui berbagai institusi yang bekerja secara halus melalui aturan, praktik, dan teknologi. Kekuasaan ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan, seperti pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan, sehingga membentuk masyarakat disipliner. Dalam perspektif Foucault, kekuasaan modern menciptakan individu yang produktif sekaligus patuh dengan pengendalian yang tidak terlihat tetapi efektif. Teori ini menjadi kritik tajam terhadap cara institusi modern beroperasi dan pengaruhnya dalam membentuk perilaku serta identitas individu. (Foucault, 2017)
c. Disiplin Santri : Pendidikan 24 Jam
Pondok Modern Darussalam Gontor (selanjutnya; Gontor) menerapkan kurikulum 24 jam. Kurikulum ini adalah kurikulum yang digagas oleh pendiri Gontor lama yaitu Trimurti dalam rangka disiplin santri. Lembaga pendidikan modern kental dengan disiplin dan kemandirian. (serba serbi PMDG, 1997; 4) Kurikulum 24 jam ini adalah kurikulum dari bangun tidur hingga tidur lagi. Artinya dari santri bangun tidur, melakukan aktifitas pagi, belajar dari pagi hingga sore, berolahraga di sore hari, belajar malam terbimbing, hingga tidur lagi masih dalam naungan pendidikan. Pendidikan ini diterapkan untuk medisiplinkan santri sebagai upaya penguatan mental, kemandirian, agar berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan mampu berfikir kritis. (serba serbi PMDG, 1997; 31–35. Suharto, 2023; 46)
Gontor membedakan antara pendidikan dan pengajaran, biasanya kurikulum dekat dengan pengajaran. Pendidikan menurut Gontor adalah keseluruhan kegiatan santri selama 24 jam adalah pendidikan. Sedangkan pengajaran adalah representasi kurikulum yang diterapkan di dalam kelas, yaitu 100% ilmu agama dan 100% ilmu umum. (Pekan Perkenalan, 1939; 21) Menurut Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), pendidikan dan pengajaran adalah sarana untuk ibadah thalabul Ilmi, bukan untuk mendapatkan ijazah. (Suharto, 2023; 19)
Disiplin ala Gontor atau yang sering disebut juga pendidikan memiliki beberapa ciri khas yang membedakan dengan institusi lain; pendidikan Gontor adalah pendidikan yang holistic, semua kegiatan baik dalam kelas maupun luar kelas sama-sama berperan penting dalam proses pendidikan. (Pekan Perkenalan, 1939. 33) Pengembangan karakter, santri dididik untuk menjadi insan yang memiliki karakter yang ideal, bertujuan agar dapat mengabdi di Masyarakat tanpa membeda-bedakan. (Pekan Perkenalan, 1939. 37) System pendidikan klasikal, yaitu system pendidikan yang terorganisir dalam bentuk penjenjangan kelas. (serba serbi PMDG, 1997; 33) Pendekatan guru kepada murid dan interaksinya. Guru tidak hanya memperhatikan murid dalam Pelajarannya saja namun juga perkembangan murid secara keseluruhan. Bukan hanya interaksi di dalam kelas namun hingga mencakup aspek sosial dan psikis emosional. (Abdan, 2014)
Dilarangnya Pemukulan dan Lahirnya Disiplin Baru
Sejak awal Gontor melarang pemukulan sebagai bentuk hukuman fisik. Kasus yang sering terjadi di pesantren akhir-akhir ini adalah pemukulan yang berujung pada kecatatan hingga kematian. Satu kejadian pada tahun 2022, terjadi pemukulan oleh santri senior kepada santri yang lebih junior yang berakibat pada kematian santri junior. (Alawi & Kurniat, 2022) Hukuman fisik tersebut dilakukan lantaran santri junior tidak mengikuti disiplin yang ada. Reaksi yang berlebihan terjadi, bukan lagi pemukulan namun lebih ke arah penyiksaan. Walhasil, santri senior tersebut dihukum secara institusional dan masuk ke ranah meja hijau.
Karena kejadian ini, Gontor melakukan evaluasi besar-besaran dalam hal disiplin. Mekanisme hukuman yang sebelumnya bersifat fisik dan di depan umum mengalami perubahan — sebagai catatan bahwa hukuman fisik di Gontor memang tidak diperbolehkan sejak awal, namun masih ada oknum yang melanggar. Evaluasi ini menyangkut materi disiplin dan hukuman di seluruh kehidupan 24 jam santri. Hukuman ini akhirnya bersifat individu dan tidak diperlihatkan secara umum. Organisasi santri sebagai pendisiplin tidak lagi memfokuskan pada hukuman fisik (push up, lari, sit up, dll) melainkan menargetkan koreksi diri dan menyadarkan pelanggar akan kesalahannya. (Wahyudi, 2022)
Hal ini sejalan dengan teori discipline and punishment yang menyatakan bahwa hukuman cenderung bersifat fisik dan dilakukan di depan umum (seperti penyiksaan, eksekusi publik). Namun, di era modern, hukuman berfokus pada reformasi individu melalui mekanisme disiplin. Dengan indikatornya, Hukuman publik digantikan oleh hukuman yang lebih tertutup, seperti penjara. Fokus bergeser dari “membalas kejahatan” ke “mengoreksi perilaku.” Kekuasaan tidak lagi menargetkan tubuh secara langsung, tetapi jiwa atau subjektivitas individu. (Permadi, 2018; Foucalt, 1995)
Pengawasan terstruktur
Foucault memperkenalkan konsep panopticon sebagai metafora untuk pengawasan modern. Desain arsitektur ini memungkinkan seorang penjaga untuk mengawasi banyak individu tanpa mereka tahu kapan mereka sedang diawasi. Akibatnya, individu mulai mengawasi diri sendiri. Indikatornya: Pengawasan sebagai bentuk kekuasaan yang tidak terlihat tetapi tetap efektif, Individu menjadi objek kekuasaan sekaligus subjek yang mematuhi aturan karena internalisasi pengawasan, Contoh modern: kamera CCTV, sistem pengawasan digital, atau praktik pengawasan kerja. (Sudirman, 2021; Foucalt, 1995)
Sejak awal berdirinya Gontor menerapkan system organisasi yang rapi. Para santri diawasi oleh pengurus organisasi. Pengawasan ini berlapis, dari yang terkecil yaitu ketua kamar, wali kamar (santri kelas 5), pengurus asrama (kelas 5), pembimbing asrama (guru dan santri kelas 6), staf pengasuhan santri, dan yang tertinggi adalah pimpinan pondok (Kyai). Hadirnya pengurus adalah wujud penugasan kyai kepada santri yang lebih senior dan guru sebagai reperesntasi kyai di Tingkat yang paling kecil yaitu kamar. (Suharto, 2014; 74. Wahyudi, 2022)
Konsep panopticon yang ditawarkan foucalt sejalah dengan apa yang diterapkan oleh Gontor. Gedung asrama dan tata letak kamar didesain sedemikian rupa untuk mempermudah pengawasan. Bahkan di Gontor pusat, Ponorogo tidak memiliki pagar di sekeliling pondok. Uniknya, tidak ada santri yang kabur karena mekanisme pengawasan dan pembentukan lingkungan (biiah) (Suharto, 2023; 21) yang ada menjadikan santri mawas diri tanpa harus diberi cctv atau system pengawas digital lainya. (serba serbi PMDG, 1997; 24)
Aturan tertulis dan tidak Tertulis
Dalam tradisi pesantren terdapat istilah “aturan tertulis dan tidak tertulis”. Dalam artian bebas adalah aturan tertulis adalah aturan yang sudah tercatat dalam buku peraturan secara terstruktur dan jelas. (Wahyudi, 2022) Sedangkan aturan tidak tertulis adalah aturan atau norma yang ada di lingkungan pesantren yang harus ditaati meski tidak ada dalam buku aturan. Adanya dua hal ini mengindikasikan bahwa kekuatan pimpinan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di lingkungan pesantren memiliki kekuatan untuk mengatur jalannya kehidupan di daerah kekuasaannya. (Wahyudi, 2022) Wawasan keilmuan dan pengalaman menjadi pokok untuk memberikan suri tauladan dalam upaya menciptakan lingkungan yang taat disiplin. “bagaimana bisa santri berdisiplin jika saya tidak menaati peraturan” ujar kyai dalam ceramahnya. (serba serbi PMDG, 1997. 24) keteladanan adalah kunci kedisiplinan, jika ingin santrinya berdisiplin maka kyai harus memberikan contoh bagaimana berdisiplin itu. (Suharto, 2023. 28) Keteladanan ini sebagai upaya menyebarkan pengetahuan dari seorang pemimpin ke anggotanya. Tidak berhenti melalui kata-kata namun jika aksi dan pemberian contoh.
Ihwal ini juga ditekankan oleh Foucault , ia menyoroti hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan: kekuasaan tidak hanya menekan tetapi juga menciptakan pengetahuan untuk mengatur individu. Institusi seperti sekolah, rumah sakit, dan penjara memainkan peran dalam menciptakan norma dan menyebarluaskan pengetahuan tentang “yang normal” dan “yang menyimpang.” Indikatornya: Pencatatan perilaku individu untuk menciptakan kategori seperti “sehat”, “gila”, atau “criminal,” Normalisasi perilaku melalui disiplin yang berasal dari pengetahuan, seperti psikologi atau kriminologi. Kekuasaan beroperasi melalui diskursus yang memproduksi kebenaran sosial. (Almas, 2024)
Hasil dari Aturan, Disiplin Diri dan Lingkungan
Saat santri baru pertama kali memasuki pesantren, mereka mendapat pengarahan/perpeloncoan mengenai disiplin dari satu lembaga ke lembaga lainnya. (Pekan Perkenalan, 1939. 72) Karena dalam lingkungan pondok Gontor memiliki banyak lembaga yang menaungi kehidupan santri. Sedari awal santri diarahkan untuk memahami peraturan yang ada agar tidak hanya ‘sekedar’ menjalankan namun juga menghayati apa yang dikerjakan. (wahyudi, 2022) Dari pemahaman ini muncul penghayatan dan akan berefek pada produktifitas santri. Santri menjadi taat dengan aturan dan disiplin yang ada karena tau makna dibalik aturan dan adanya pembiasaan. (Suharto, 2023. 23) Maka santri yang tidak taat aturan biasanya akan sakit karena tubuhnya tidak productif. Hebatnya disiplin di Gontor adalah pembentukan lingkungan yang optimal. (serba serbi PMDG, 1997. 24) Santri yang tidak sesuai dengan lingkungan akan paling menonjok diantara teman-temannya, maka secara tidak langsung akan tersingkir karena berbeda.
Fenomena di atas disebut juga sebagai Disiplin modern. Menurut Foucault, disiplin modern bertujuan mengatur tubuh individu untuk membuatnya lebih produktif sekaligus patuh. Tubuh tidak lagi dihancurkan melalui hukuman fisik, tetapi dibentuk melalui latihan, kebiasaan, dan aturan. Dapa tdilihat dari beberapa aspek; Regulasi waktu dan ruang individu, seperti jadwal kerja, aturan sekolah, atau pola hidup di penjara. (Permadi, 2018; Foucalt, 1995) Pemantauan perilaku melalui laporan, catatan, dan evaluasi. Pembentukan “tubuh yang berguna” (productive body) melalui mekanisme seperti pelatihan militer, pendidikan, atau latihan kerja.
Santri Taat dan Santri Nakal
Institusi seperti penjara, sekolah, rumah sakit, dan pabrik menjadi ruang utama di mana disiplin diterapkan. Foucault menyebut institusi ini sebagai “mesin disiplin.” Hal tersebut dapat dilihat dari; Struktur hierarki yang mengatur individu (seperti kepala sekolah, dokter, atau penjaga penjara), pembagian ruang yang ketat untuk mengontrol perilaku (contoh: ruang kelas, sel penjara, atau ruang kerja), dan mekanisme penghargaan dan hukuman yang memotivasi individu untuk mematuhi aturan.
Disiplin yang ada di Gontor adalah bersifat menyeluruh dan tidak menjurus pada satu orang atau golongan. (Suharto, 2023. 19) Menyeluruh artinya bahwa disiplin tersebut diterapkan dari yang paling bawah santri hingga yang paling atas Pimpinan pondok. Tidak ada dikotomi antara satu dengan lainnya, Ketika salah dan berhak dihukum maka akan dihukum dengan hukuman yang sesuai. Ketika kedisiplinan itu baik dan berjalan sesuai yang diinginkan maka perlu diberi apresiasi. Di hari jumat Setiap minggunya akan ada pengumuman apresiasi bagi asrama terbersih, paling berdisiplin dan taat dengan kriteria yang telah ditentukan. Juga sebaliknya ada peringatan untuk asrama terkotor, paling banyak melakukan pelanggaran dan paling banyak catatan merah. (Wahyudi, 2022) Asrama merepresentasikan individu santri dan kesatuan serta Kerjasama para pengurus, jika baik maka satu asrama akan dianggap baik. Sebaliknya, jika tidak ada Kerjasama dan suri tauladan yang baik maka semua anggota dan pengurus asrama perlu mendapat peringatan supaya berubah dan jera.
Mengatur diri Sebagai Wujud Taat Disiplin
Pengarahan, pelatihan,penugasan, pengawalan, evaluasi, pemberdayaan dan uswah hasanah/keteladanan. (Zarkasyi. 2020. 27) Kelima ini adalah upaya Gontor untuk membuat lingkungan disiplin modern. (serba serbi PMDG, 1997. 24–26) Dari pembiasaan tersebut diharap santri dapat Dengan suka rela mengatur dirinya sendiri tanpa paksaan. Meski masih ada ungkapan “Terbiasa karena terpaksa” artinya penyesuaian diri terhadap disiplin tidak bisa dipaksakan dari luar harus dari dalam. Kembali lagi bahwa kesadaran dan pemahaman akan makna dari sebuah disiplin akan mendorong santri untuk taat dan patuh.
Foucault mengungkapkan bahwa dalam sistem disiplin modern, kekuasaan tidak lagi dipaksakan dari luar, tetapi diinternalisasi oleh individu. Mereka mematuhi aturan karena merasa selalu diawasi atau diatur, meskipun tidak ada pengawasan langsung. Perilaku individu diatur tanpa paksaan langsung, melalui rasa malu, rasa tanggung jawab, atau rasa takut melanggar aturan. Contoh: seorang siswa belajar bukan karena pengawasan guru, tetapi karena internalisasi bahwa “belajar itu baik.” (Almas, 2024, Foucault, 1995)
Jadwal Harian Sebagai Upaya Disiplin Diri
Jadwal harian yang diterapkan dalam kurikulum 24 jam adalah disiplin waktu Masyarakat pesantren. (Suharto, 2023. 27) Dari bangun tidur hingga tidur lagi semua santri memaksa diri untuk produktif dan bergerak. “Menjadi manusia kuat iman dan fisik bukan menjadi manusia lemah iman dan fisik” begitulah ungkapan yang sering digaungkan ke telinga semua santri. karena berdisiplin maka hidup akan teratur, disiplin waktu tidak mengenkang justru menjadikan seseorang produktif. Di Gontor ada 4 macam jadwal yaitu jadwal harian, mingguan, bulanan, dan tengah tahunan. (Pekan Perkenalan, 1939. 52) Pergerakan santri menjadi lebih sat set dan tidak klemar-klemer bekerja dengan pengaturan waktu (efisien) dan pembagian tugas yang berkualitas. Perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, aktif, dinamis, dan selalu bergerak. (Zarkasyi. 2020. 146) Kegiatan yang padat dengan disiplin yang ketat semakin membuat santri memiliki kepribadian yang mandiri. (Suharto, 2023. 26)
Foucault menjelaskan bahwa disiplin modern berfokus pada pengelolaan waktu individu untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Penjadwalan aktivitas sehari-hari secara ketat, seperti waktu kerja, waktu belajar, atau waktu ibadah dan Pelatihan dan latihan rutin untuk membiasakan tubuh mematuhi aturan waktu adalah dua indicator ukuran disiplin itu berjalan dengan baik. (Almas, 2024; Sudirman, 2021; Foucalt, 1995)
C. Kesimpulan
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) adalah institusi pendidikan Islam yang unik dengan sistem pendidikan modern yang menekankan pada disiplin dan pembentukan karakter. Dalam sejarahnya, Gontor telah berkembang menjadi lembaga yang tidak hanya mengintegrasikan pendidikan agama dan umum, tetapi juga menerapkan disiplin yang mencakup seluruh aspek kehidupan santri melalui kurikulum 24 jam. Sistem ini bertujuan untuk mencetak individu yang mandiri, berkarakter, dan mampu berkontribusi di masyarakat.
Melalui analisis teori Discipline and Punishment karya Michel Foucault, disiplin di Gontor dapat dipahami sebagai bentuk kekuasaan modern yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga produktif. Hukuman fisik yang sejak awal dilarang di Gontor telah digantikan dengan pendekatan koreksi diri dan pembentukan kesadaran individu, sejalan dengan gagasan Foucault tentang pergeseran dari hukuman fisik ke mekanisme pengawasan yang lebih halus. Sistem pengawasan yang diterapkan di Gontor, baik melalui struktur organisasi santri maupun desain fisik lingkungan, mencerminkan konsep panopticon Foucault yang menciptakan kontrol melalui internalisasi disiplin.
Lebih jauh, keberadaan aturan tertulis dan tidak tertulis di Gontor menunjukkan bagaimana kekuasaan tidak hanya mengatur perilaku melalui peraturan formal, tetapi juga menciptakan norma dan nilai yang diterapkan secara kolektif. Kombinasi pendekatan ini menempatkan Gontor sebagai institusi yang tidak hanya mendidik tetapi juga membentuk individu secara holistik, menjadikannya model pendidikan pesantren modern di Indonesia. Analisis ini memperlihatkan bahwa praktik disiplin di Gontor relevan dengan konsep modernitas, sekaligus tetap mengakar pada tradisi Islam dan nilai-nilai pesantren.
Referensi
__. 1939. Diktat Khutbatul Arsy Pekan Perkenalan Pondok Modern Darussalam Gontor. Ponorogo. Trimurti Press.
__. 1997. Serba Serbi Pondok Modern Darussalam Gontor. Ponorogo. Darussalam Press.
Abdan, Syamsul Hadi. 2014. Embun Keikhlasan. Ponorogo. Darussalam Press.
Alawi, Muhlis Al & Kurniat, Pythag. 2022. Kaleidoskop 2022: Tindak Kekerasan Senior Berujung Tewasnya Santri Pondok Gontor. Dalam https://surabaya.kompas.com/read/2022/12/20/131825878/kaleidoskop-2022-tindak-kekerasan-senior-berujung-tewasnya-santri-pondok?page=all. Diakses pada 2 Desember 2024
Almas, Afiq Fikri. 2024. Sosiologi Pendidikan Michel Foucault: Kritik dan Dialog antara Ideologis dengan Praksis Pendidikan. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 4, №2.
Forbis IKPM Gontor. 2023. Mengenang Sejarah Berdirinya Gontor Serta Mengenal Trimurti Generasi Pertama Sebagai Pendiri. Dalam https://forbis.id/inspirasi/2024/04/mengenang-sejarah-berdirinya-gontor-serta-mengenal-trimurti-generasi-pertama-sebagai-pendiri/. Diakses pada 2 Desember 2024.
Foucault, M. 1995. Discipline & Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books.
Foucault, Michel. 2017. Wacana Kuasa/Pengetahuan. Terj. Yudi Santosa. Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea
Muhammadiyyah, Sudirman. 2021. Discipline and Punish Michel Foucault. Dalam https://bengkelnarasi.com/2021/05/17/maha-karya-michel-foucault-discipline-and-punish/
Permadi, Silvester Elva (2018) Disiplin menurut Michel Foucault dalam karya Discipline And Punish: The Birth Of The Prison. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya
Suharto, Ahmad. 2014. Menggali Mutiata Perjuangan Gontor. Ngawi.
Tim Redaksi. 2020. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Resmi Dilantik. Dalam https://gontor.ac.id/pimpinan-pondok-modern-darussalam-gontor-resmi-dilantik/#:~:text=Hasil%20keputusan%20sidang%20tersebut%20menyatakan,ke%20PMDG%20di%20tengah%20kesibukannya.&text=Video%20Pelantikan%20Pimpinan%20Gontor:,is%20disabled%20in%20your%20browser. Diakses pada 2 Desember 2024.
Tim Redaksi. Latar Belakang. dalam gontor.ac.id/latar-belakang/. Diakses pada 30 November 2024.
Wahyudi, Heru. 2022. Hukuman dan Pemukulan. Pidato Kamisan Guru Gontor 3, Kediri. Kamis, 22 Desember 2022.
Wahyudi, Heru. 2022. Pendidikan yang Holistik. Pidato Kamisan Guru Gontor 3, Kediri. Kamis, 25 Agustus 2022.
Wahyudi, Heru. 2022. Trasformasi Nilai dan Lingkungan Disiplin. Pidato Kamisan Guru Gontor 3, Kediri. Kamis, 20 Oktober 2022
Zarkasyi, Abdullah Syukri. 2020. Bekal Untuk Pemimpin. Ponorogo. Trimurti Press.
메타데이터
- post_id
- b99f66401194
- slug
- dunia-santri-diskursus-antara-disiplin-dan-hukuman-di-pondok-modern-darussalam-gontor-ponorogo-b99f66401194
- url
- https://medium.com/@21abadakbar/dunia-santri-diskursus-antara-disiplin-dan-hukuman-di-pondok-modern-darussalam-gontor-ponorogo-b99f66401194
- canonical_url
- https://medium.com/@21abadakbar/dunia-santri-diskursus-antara-disiplin-dan-hukuman-di-pondok-modern-darussalam-gontor-ponorogo-b99f66401194
- author_url
- https://medium.com/@21abadakbar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 13:37:47