A Review: The Mountains Sing by Nguyễn Phan Quế Mai
“The Mountains Sing tells a multigenerational tale of the Trần family, set against the backdrop of the Việt Nam War. Trần Diệu Lan, born in…

from pinterest
The Mountains Sing by Nguyễn Phan Quế Mai
“The Mountains Sing tells a multigenerational tale of the Trần family, set against the backdrop of the Việt Nam War. Trần Diệu Lan, born in 1920, was forced to flee her family during the Land Reform as the communist government rose. Years later in Hà Nội, her granddaughter, Hương, head off down the Hồ Chí Minh Trail to fight in a conflict that tore apart her country and her family.”
First of all—again, as always, I really can’t write even if it is a review of the novels I read. Until this day I still can’t collect the pieces I want to build into a whole experience I can share. My mind is just, I don’t know, broken? Tapi aku bisa bilang kalau The Mountains Sing beneran ditulis dengan baik.
The little thing I knew about Vietnam War circled through the lens of American Soldier, from some movies I watch. I know nothing about it. And this time, I read this from the perspective of these generations of Trần family and it’s truly devastating. From French colonialism, the rise of the Communist government in the north, to the advent of the civil war that we call the Vietnam War and the American War. The loss, the poverty and the hunger makes it so real. Beautifully written, it makes me having such heavy heart I’m drowning in it.
Diceritakan dari sisi nenek Diệu Lan dan si cucu Hương, kita bisa melihat dua pemandangan yang sedikit berbeda namun nyatanya sama. Mereka sama-sama melihat bahwa masa perang itu menakutkan. Nenek Diệu Lan yang melihat penderitaan mereka dari sisi orang dewasa yang mengerti bahwa kehilangan tak terelakkan, sementara Hương yang terus berfikir bahwa semuanya pasti cepat berakhir—namun nyatanya tidak. Hương hanya ingin kembali bermain. Ingin kembali bercengkrama dengan keluarganya seperti biasa. Ingin dimanjakan oleh paman dan bibinya. Ingin bertemu teman-temannya. Dan di masa depan, Hương akan mengingat masa-masa itu dengan penghargaan yang lebih tinggi pada keluarganya.
Masih terbayang susahnya keluarga-keluarga itu menggali sisa akar tanaman apapun yang bisa dimakan untuk mengganjal perut, tiba-tiba dikagetkan dengan suara tembakan. Mereka harus lari, sembunyi, kocar-kacir kehilangan satu sama lain. Jarang sekali ada keluarga yang “utuh”—atau, yang badannya utuh. Meski begitu, banyak sekali keluarga tetap menjaga satu sama lain. Mereka tidak mau kehilangan lebih lagi. Mungkin karena musuh mereka sama, jadi dengan pandangan yang sama mereka bertahan sekuat tenaga. Bahkan tanpa tenaga.
Namun tidak jarang pula yang mestinya menjadi keluarga, malah diam-diam menjual jiwanya ke antek asing demi memenuhi kebutuhan entah apa. Kadang mereka menunjukkan wajahnya, tapi sering kali tidak. Mereka inilah yang sebenarnya membunuh lebih cepat, menggerogoti dari dalam.
Aku betulan kagum dengan para orang tua zaman itu. Mereka ini yang banyak kehilangan anak-anaknya, sanak saudaranya. Tapi mereka juga yang harus menjadi pilar keluarga. Mereka yang telah lama hidup biasanya yang mengumpulkan keluarga, yang mengingatkan anak cucu untuk hidup lebih baik lagi, untuk saling menjaga. Mereka yang banyak bersedih dan memendam perasaan mereka demi berjalannya sebuah keluarga. Sontak mengingatkanku dengan nenekku, yang sempat hidup lama juga. Harusnya aku lebih banyak bertanya, harusnya aku lebih banyak maklum dengan kehilangannya.
Orang-orang yang pernah melewati masa perang pasti sulit sekali hidupnya. Bayangkan, semuanya porak-poranda. Rumahmu entah bagaimana—karena kamu harus pergi, mencari tempat yang lebih aman. Tiap malam tidak bisa memejamkan mata, tidak bisa istirahat dengan perut yang penuh, memikirkan entah besok ada keributan apa lagi yang melanda. Sekuatnya mencari dan membangun tempat persembunyian, barangkali akhirnya tentara musuh sampai tempatmu. Tiap keluarga juga harus merelakan seseorang lelaki untuk ikut memerangi musuh. Entah apa yang kembali, seringkali cuma kabar buruk. Perang benar-benar buruk dan meninggalkan luka, bahkan bagi mereka yang tak ikut ke medan tempur.
Ceritera seperti ini memang fitrahnya mengambil lebih banyak ruang di jiwa kita, ya?
메타데이터
- post_id
- b9cc36dde4e7
- slug
- a-review-the-mountains-sing-by-nguyễn-phan-quế-mai-b9cc36dde4e7
- url
- https://medium.com/@menangis/a-review-the-mountains-sing-by-nguy%E1%BB%85n-phan-qu%E1%BA%BF-mai-b9cc36dde4e7
- canonical_url
- https://medium.com/@menangis/a-review-the-mountains-sing-by-nguy%E1%BB%85n-phan-qu%E1%BA%BF-mai-b9cc36dde4e7
- author_url
- https://medium.com/@menangis
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13