Culture Shock tinggal di Depok
Sebagai seorang dosen saya dituntut untuk selalu belajar dan dapat mencapai gelar akademik tertinggi yaitu doktoral. Akhirnya di tahun 2025…
Culture Shock tinggal di Depok

Sebagai seorang dosen saya dituntut untuk selalu belajar dan dapat mencapai gelar akademik tertinggi yaitu doktoral. Akhirnya di tahun 2025 saya memantapkan diri untuk studi doktoral mumpung dari Kemdiktisaintek membuka beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI). Setelah sebelumnya survey di beberapa kampus besar di Indonesia, saya memutuskan untuk lanjut di Doktor Ilmu Komputer (DIK) Universitas Indonesia, Depok. Alasan memilih DIK UI karena akreditasinya sudah unggul, dan dekat dengan keluarga istri di Palembang.
Setelah menjalani serangkaian ujian yang cukup panjang, akhirnya saya dapat diterima di Universitas Indonesia dengan Beasiswa PDDI. Disinilah saya memulai babak baru dalam perjalanan kehidupan. Saya memutuskan membawa istri dan anak untuk menemani kuliah di UI Depok. Saya mengontrak rumah di kawasan Kelapa Dua, dekat markas BRIMOB. Saya mulai tinggal di depok tanggal 1 september 2025, jadi sudah kurang lebih 6 bulan saya berdomisili di depok (sejak tulisan ini di-publish). Terdapat beberapa keadaan atau momen yang membuat saya kaget, atau istilah baratnya Culture Shock waktu tinggal di Depok. Sebelumnya saya lahir dan besar di Semarang, kemudian pernah merantau di beberapa kota seperti Yogyakarta dan Purwokerto. Namun selama saya ber-domisili di tiga kota tersebut. Saya belum pernah menemukan momen atau keadaan yang membuat saya shock seperti di depok.
Culture shock yang pertama waktu saya pindah di depok adalah merasa bahwa kota belimbing ini kapitalis. Sebab hampir semua indomart dan alfamart disini ada tukang parkir. Keadaan seperti ini tidak saya jumpai ketika tinggal di Semarang, Yogya, dan Purwokerto. Bahkan tukang parkir disini akan meraup untung sebesar-besarnya saat menarik uang parkir. Maksud meraup untung adalah ketika saya parkir motor yang bisanya hanya 2000, saat saya kasih uang 5000 ke tukang parkir, maka kembaliannya hanya 2000. Jadi tukang parkir ga mau ribet ngasih 3000. Sebenarnya tidak semua tukang parkir di depok seperti ini. Tapi hampir semua tukang parkir yang saya temui menerapkan metode seperti ini.

Pengamen Tidak Segan Masuk ke Warung
Bahkan isi angin sepeda disini dipatok harga 3000, di kota-kota yang pernah saya tinggali hanya 2000 rupiah saja. Di depok ini banyak Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) yang menjadikan ini sebagai culture shock yang kedua. Pengemis disini lebih banyak dibanding semarang, yogya, dan purwokerto. Mungkin karena disini penduduknya lebih padat dari tiga kota tersebut. Namun pengamen dan pengemis disini lebih berani karena tidak segan untuk masuk ke warung atau resto resmi. Klo di semarang biasaya pengamen atau pengemis hanya berani meminta di warung pinggir jalan yang memakai trotoar sebagai dasaran tendanya.

Kemacetan di Jalan Akses UI
Culture shock yang ketiga adalah terkait kemacetan. Di depok masih banyak angkot yang merajai jalanan, khususnya di jalan akses UI. Keberadaan angkot yang cukup banyak di tambah dengan ruas jalan yang sempit membuat kemacetan parah di jalan akses UI. Para sopir angkot sering ngetem (menunggu penumpang) dibahu jalan sehingga membuat ruas jalan semakin sempit. Belum lagi perilaku arogan para sopir angkot saat hendak menurunkan penumpang. Mereka biasanya tiba-tiba langsung banting setir kiri tanpa lampu sein. Hal ini tentunya dapat memicu kecelakaan di jalan raya. Dan lagi-lagi harus saya bandingkan dengan tiga kota yang pernah saya tempati. Keberaan angkot di kota-kota yang saya tinggali tidak pernah semasive ini mengganggu ketertiban kota. Bahkan di kota jogja dan purwokerto tidak ada angkot.
Meskipun terdapat hal-hal yang tidak mengenakan, tetapi ada juga hal-hal yang membuat saya terkesan dari kota ini. Pertama adalah adanya pilihan bensin selain pertamina seperti Shell dan Vivo. Sehingga apabila pertamina main oplosan lagi, warga depok akan lari untuk isi bensi di shell dan vivo yang ada di jalan margonda. Shell dan Vivo tidak ada di semarang, jogja, dan purwokerto. Jadi di 3 kota tersebut saya selalu beli bensin pertamina. Kedua disini ada cuci mobil robot, dimana kita tinggal tunggu di mobil dan secara otomatis konveyor akan membawa mobil kita untuk dicuci oleh robot. Pengalaman cuci mobil robot ini, belum pernah saya jumpai di semarang, jogja, dan purwokerto. Ketiga, kedekatannya dengan jakarta memudahkan saya (warga depok) untuk berkunjung ke kantor-kantor kementerian, mendatangi event-event atau konser yang biasanya berada di Jakarta.
Meskipun ada hal-hal yang kurang membuat saya nyaman tinggal di Depok, tetapi saya harus tetap bertahan (minimal 3 tahun) untuk menyelesaikan studi. Seperti pepatah makasar yang berbunyi “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai” yang artinya pantang untuk menyerah meskipun menghadapi ringtangan yang berat. Terima kasih yang sudah membaca tulisan ini sampai akhir. Bagi para warga baru di depok atau alumni warga depok jika ada yang mau menambahi culcute shock lainnya silahkan tulis di kolom komen. Tulisan ini dibuat bukan untuk menyinggung siapapun (khususnya warga depok), tetapi murni hanya share pengalaman saja.
메타데이터
- post_id
- b9f6ed0f8a73
- slug
- shock-culture-tinggal-di-depok-b9f6ed0f8a73
- url
- https://medium.com/@afandi_nat/shock-culture-tinggal-di-depok-b9f6ed0f8a73
- canonical_url
- https://medium.com/@afandi_nat/shock-culture-tinggal-di-depok-b9f6ed0f8a73
- author_url
- https://medium.com/@afandi_nat
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31