← Back to list

Mencari Jalan Tengah di Tengah Kerumitan

Anggara. · 2024-08-19 03:36 · 0 claps · 4.0 min read
#meetings #klien #citra
Open on Medium ↗

Mencari Jalan Tengah di Tengah Kerumitan

Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash

Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash

Pagi ini aku menerima pesan dari Arya lewat Signal. Ia memberitahuku bahwa dia tidak akan masuk kerja hari ini. “Fiona, aku nggak masuk dulu ya Senin ini,” begitu bunyi pesannya.

Aku langsung merespons, “Kamu sakit lagi, Arya?” Kekhawatiran langsung merambat di pikiranku. Arya memang sering sakit akhir-akhir ini, dan itu sangat mengganggu pekerjaannya.

“Iya,” jawab Arya singkat. Jawaban yang biasa dia berikan ketika dia sedang tidak ingin membahas kondisinya.

Aku tidak menyerah begitu saja. “Sebaiknya kamu memeriksakan diri ke rumah sakit, Arya,” tulisku, berharap dia mau mempertimbangkan untuk memeriksakan diri. Aku tahu betapa keras kepalanya dia tentang hal ini, tetapi tetap saja, aku merasa perlu mencoba.

Arya hanya membalas dengan emoticon, seperti biasanya jika dia sudah tidak ingin melanjutkan percakapan. Aku mendesah pelan dan menatap layar ponsel. Pesan-pesan kami selalu lewat Signal. Arya sangat ketat tentang keamanan, terutama ketika berurusan dengan komunikasi kantor.

Beberapa bulan lalu, Arya memutuskan bahwa seluruh komunikasi di Wijaya & Co harus dilakukan melalui Signal. Aku masih ingat bagaimana dia menjelaskan dengan serius kepada seluruh staf tentang pentingnya menggunakan aplikasi ini. “Signal memiliki enkripsi end-to-end yang paling kuat di industri,” katanya saat itu. “Di pekerjaan kita, di mana informasi sensitif sering dibahas, kita tidak bisa mengambil risiko kebocoran data. Signal memastikan bahwa hanya kita dan penerima pesan yang bisa membaca komunikasi kita. Tidak ada pihak ketiga yang bisa mengaksesnya, bahkan penyedia layanan sekalipun.”

Aku mengerti maksud Arya. Di firma konsultan Litigation PR seperti ini, keamanan informasi adalah hal yang paling penting. Banyak dari kasus yang kami tangani melibatkan klien besar yang sedang menghadapi masalah hukum yang kompleks. Jika informasi mereka bocor, reputasi mereka bisa hancur dalam sekejap.

Hari itu, Arya juga mengatakan, “Ini bukan hanya soal keamanan data, tapi juga soal kepercayaan klien kita. Mereka harus yakin bahwa informasi mereka aman di tangan kita.” Sejak saat itu, Signal menjadi satu-satunya aplikasi pesan yang kami gunakan, baik untuk urusan sehari-hari maupun untuk membahas strategi kasus.

Pagi ini, aku mencoba fokus pada pekerjaanku meskipun tanpa kehadiran Arya. Seharusnya, hari ini ada rapat penting dengan salah satu klien kami, sebuah perusahaan retail besar yang sedang menjadi sorotan publik. Perusahaan ini menghadapi krisis setelah memperkarakan seorang ibu miskin dan seorang blogger yang mengecam keras tindakan mereka di media sosial. Kasus ini telah menjadi viral di Instagram dan TikTok, dengan ribuan orang yang ikut mengecam tindakan perusahaan tersebut.

Situasi ini sebenarnya bisa dihindari jika pengacara mereka tidak gegabah dalam mengambil langkah hukum. Tapi sekarang, perusahaan tersebut harus menghadapi dampak negatif yang luar biasa. Toko-toko mereka mulai sepi, dan kampanye boikot yang dipicu oleh unggahan di media sosial semakin meluas. Di kantor, kami terus memantau perkembangan situasi ini.

Sore harinya, aku menerima email dari Arya. Dia akhirnya membuka ponselnya dan membaca ringkasan rapat yang aku kirimkan. Dari responsnya, aku bisa melihat bahwa Arya sepertinya sudah mengerti inti masalah yang dihadapi klien kami. “Ini perkara kecil yang seharusnya tidak perlu sampai ke pengadilan,” tulisnya. Memang benar, masalah ini bisa diselesaikan tanpa harus berlarut-larut seperti ini.

Arya juga membaca blog milik Sari, blogger yang ikut dipidanakan oleh klien kami. Setelah membaca posting blog dan unggahan media sosial Sari, Arya dengan cepat memahami mengapa kasus ini menjadi begitu besar. “Ini soal persepsi dan kecongkakan perusahaan besar yang merasa bisa melakukan apa saja kepada orang kecil,” tulis Arya dalam emailnya.

Selasa pagi, Arya akhirnya kembali ke kantor. Dia langsung menggelar rapat dengan seluruh staf yang terlibat dalam kasus ini. Aku bisa melihat keletihan di wajahnya, tetapi seperti biasa, Arya tetap fokus pada pekerjaannya.

Dalam rapat, Arya memberikan komentar yang cukup datar saat kami membahas konferensi pers yang telah digelar oleh klien kami. “Defensif banget ya,” katanya singkat. Komentar itu membuat kami semua terdiam sejenak. Biasanya, Arya selalu penuh semangat ketika membahas strategi, tetapi kali ini dia terlihat kurang bersemangat.

Aku, yang merasa ada sesuatu yang tidak biasa, memberanikan diri untuk bertanya, “Arya, baru kali ini komentarmu sangat datar dan tidak ada semangat sama sekali. Bukannya sudah pekerjaan kita untuk memberikan umpan balik ke media agar klien kita tidak terlampau terkena dampak negatifnya?”

Arya hanya tersenyum kecil. “Lihat siapa saja yang tergabung di koalisi itu,” katanya sambil menyodorkan kertas siaran pers yang dibuat oleh organisasi non pemerintah. “Memang bukan kasusnya per se yang ditembak oleh koalisi itu, tapi dengan bergabungnya organisasi jurnalis terkemuka dalam koalisi tersebut, klien kita akan menerima dampak dari pemberitaan yang dilakukan oleh media mainstream selama setidaknya setahun.”

Aku menatap kertas itu dan mulai mengerti maksudnya. Arya melanjutkan, “Memang yang dijadikan sasaran oleh koalisi ini sebenarnya adalah UU ITE dan KUHP. Kasus ini sendiri hanya sasaran antara. Sementara netizen hanya menembak kasus ini, tapi mereka tidak memukul jantungnya, yaitu UU ITE dan KUHP. Namun, tetap saja, jalinan dua jejaring besar yang saling tergabung dan terhubung ini tentu membawa suara yang sangat besar.”

Arya kemudian bertanya, “By the way, posisi Sari dan Ibu Minah sekarang ada di mana?”

Aku menjawab, “Kalau Ibu Minah sejak awal jadi tahanan polsek, sementara Sari baru jadi tahanan di tingkat kejaksaan. Tapi sekarang keduanya sudah jadi tahanan kejaksaan dan sudah dikirim ke Rutan Pondok Bambu.”

“Jadi si Ibu Minah sudah ditahan 80 hari ya dan Sari sudah ditahan 20 hari?” Arya menebak-nebak, dan aku serta staf lain mengiyakan serempak.

Arya mengangguk kecil, “Pantes,” jawabnya singkat. Lalu dia melanjutkan, “Fiona, tolong buatkan agenda rapat maksimal minggu depan dengan klien kita, dan pastikan kita punya alternatif untuk memperbaiki citra klien kita yang terlanjur negatif itu. Sedapat mungkin, tawarkan untuk mengambil jalan melalui keadilan restoratif.”

Arya kemudian melangkah keluar ruang rapat, tapi sebelum benar-benar pergi, dia menoleh dan berkata, “Fiona, jangan lupa, pengacara klien kita harus hadir juga. Aku nggak mau apa yang sudah disetujui antara klien kita dan kita dimentahkan lagi oleh pengacaranya.”

Aku mengangguk, mencatat semua yang dia minta. Meski Arya terlihat lelah, aku tahu dia akan terus bekerja keras untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Aku hanya berharap dia mau menjaga kesehatannya dengan lebih baik, karena tanpa Arya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kantor ini akan beroperasi.


메타데이터
post_id
b9f79697e9b8
slug
mencari-jalan-tengah-di-tengah-kerumitan-b9f79697e9b8
url
https://medium.com/@duniaanggara/mencari-jalan-tengah-di-tengah-kerumitan-b9f79697e9b8
canonical_url
https://medium.com/@duniaanggara/mencari-jalan-tengah-di-tengah-kerumitan-b9f79697e9b8
author_url
https://medium.com/@duniaanggara
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:20:27