#1
Setelah melihat bantal tergeletak di atas sofa, ia merasa tak ada alasan lagi untuk menahan kantuk. Hari itu tampaknya sudah ia putuskan…
#1
Setelah melihat bantal tergeletak di atas sofa, ia merasa tak ada alasan lagi untuk menahan kantuk. Hari itu tampaknya sudah ia putuskan untuk dihabiskan dengan berbaring, diam, lalu membiarkan dirinya tenggelam dalam tidur sepanjang mungkin.
Kekenyangan adalah rasa yang asing baginya. Dan pada hari itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perutnya merasakan kenyang. Hari-harinya selama ini selalu diiringi rasa lapar. Tidak hanya itu, ia juga baru tahu bahwa ternyata ada makanan yang rasanya begitu lezat. Sebelumnya, ia tak pernah membayangkannya.
Sebelum matanya benar-benar terlelap, ia melihat seekor kucing berbulu kuning yang sedang menggesek-gesekkan kepalanya ke sudut sofa. Saat itulah ia baru menyadari bahwa ternyata ada kucing yang begitu bersih dan tampak harum. Selama ini, kucing-kucing yang ia lihat kebanyakan kucing hamil yang penuh luka, kalau tidak begitu, ada yang sudut matanya dipenuhi belek dengan tulung rusuk yang transparan.
“Sepertinya hidupmu indah dariku,” gumamnya.
Ia kemudian bangkit, menghampiri kucing itu, lalu mengangkat tubuh kecilnya dengan kedua tangan. Hidungnya didekatkan ke bulu kuning yang lembut itu. Ia sedikit tak percaya.
“Wangi,”
“Patoon!”
Suara perempuan itu melengking, menusuk hingga gendang-gendang telinga.
Seketika Paton bangkit lalu menghampiri sumber suara. Dengan mata yang belum sempurna terbuka, ia melangkah dengan sempoyongan. Sukmanya sepertinya belum sepenuhnya kembali setelah tidur panjang. Saat menuruni anak tangga, ia bahkan hampir tersungkur.
“Ya ampuuun, kamu tidur dari pagi sampai sore begini!”
Perempuan itu berdiri dengan rambut yang masih acak-acakan, tampaknya belum sempat disisir. Mulutnya nyerocos tanpa jeda sambil menunjuk-nunjuk Paton dengan wajah penuh kesal.
“Maafkan Paton, Nyonya.”
Sambil menunduk, suaranya nyaris tidak terdengar. Mulutnya hanya terbuka sedikit. Ia terlalu takut untuk berbicara lebih keras.
“Kalau kelakuanmu begini terus, aku usir kamu dari rumah ini! Sudah dikasih tempat yang nyaman, makanan enak, malah santai-santai. Ingat ya, dulu kamu itu seperti apa!”
Paton hanya bisa menunduk. Setelah itu ia langsung membalikkan badan dan mengerjakan apa saja yang memang harus dikerjakan di rumah itu.
Tangannya mulai sibuk menggosok piring, sendok, periuk, dan peralatan dapur lainnya. Di sela-sela pekerjaannya, ingatannya melayang pada hari ketika sang nyonya pertama kali mengulurkan tangan kepadanya. Waktu itu ia sedang duduk di pinggir jalan penuh lalat, di dekat tumpukan sampah yang biasa dijadikan tempat pembuangan oleh orang-orang.
Ia masih ingat betul betapa halus sentuhan tangan sang nyonya. Ia juga ingat bagaimana lembutnya perempuan itu berbicara kepadanya. Sebelumnya, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu orang sebaik itu. Jangankan sampai diajak pulang ke rumahnya, diberi makan saja rasanya sudah seperti mimpi.
“Aku harus terus siap membantu sang nyonya,” gumamnya pelan.
Setelah selesai mencuci, Paton mengambil sapu. Ia menyapu mulai dari lantai dapur, lanjut ke ruang tengah, lalu sampai ke teras. Meski bekerja, rasa takutnya belum juga hilang.
Sesekali ia melirik ke arah sang nyonya yang duduk di kursi teras. Memang menjadi kebiasaannya sambil menunggu maghrib, perempuan itu sedang membaca koran yang dilipat dua. Terkadang ada segelas kopi di depannya. Tapi kali ini tidak ada. Matanya terbuka lebar, sementara kacamata minusnya bertengger tepat di ujung hidung. Dari kejauhan saja sudah terlihat garang.
Saat Paton lewat di depannya sambil mengayunkan sapu dengan hati-hati, tiba-tiba ia dikagetkan oleh teriakan sang nyonya.
“Bangsat! Memang keparat kalian semua!”
Paton terkejut setengah mati. Sapu di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara yang membuat suasana terasa makin tidak enak. Ia sendiri langsung terduduk sambil mengucap ampun berkali-kali.
“Hah? Bukan kamu. Sana lanjut nyapunya!”
Paton masih kebingungan. Namun ia tidak berani bertanya. Takut sang nyonya malah semakin marah. Ia segera bangkit, mengambil sapunya, lalu kembali bekerja dengan dada yang masih berdegup kencang.
Perasaannya semakin tidak nyaman ketika lantunan ayat-ayat mulai terdengar menjelang maghrib. Bukan karena ia tidak suka mendengarnya. Justru suara sang qari’ itu membuat hatinya terasa semakin nelangsa. Tapi ia tidak memahaminya, kenapa ia merasakan seperti itu.
Namun ia tidak mungkin terus memikirkan perasaannya. Ia segera masuk ke kamar mandi, lalu mengguyur tubuhnya dengan air yang terasa dingin sekali. Kini ia mulai terbiasa menggunakan sikat gigi, sabun, dan sampo. Dulu, saat pertama kali memakainya, semua benda itu terasa aneh baginya. Sebelumnya ia tidak pernah mengenal benda-benda semacam itu. Jangankan memakai sabun atau sampo, mandi pun nyaris tidak pernah ia lakukan.
……
메타데이터
- post_id
- b9fc6ef07fec
- slug
- 1-b9fc6ef07fec
- url
- https://medium.com/@abilqasim031/1-b9fc6ef07fec
- canonical_url
- https://medium.com/@abilqasim031/1-b9fc6ef07fec
- author_url
- https://medium.com/@abilqasim031
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31