Ternyata Cara Saya Salah Dalam Membuat “To-Do-List”
Di tahun 2024 lalu, saya pertama kali membuat to-do-list/daftar tugas. Membuat to-do-list ini awalnya bertujuan untuk membuat tugas saya…
Ternyata Cara Saya Salah Dalam Membuat “To-Do-List”

Source: Pinterest
Di tahun 2024 lalu, saya pertama kali membuat to-do-list/daftar tugas. Membuat to-do-list ini awalnya bertujuan untuk membuat tugas saya terkelola dengan mudah dan efektif. Seiring waktu, saya menyadari suatu hal yaitu betapa sulitnya untuk menyelesaikan seluruh to-do-list setiap harinya. Perasaan ini yang akhirnya membuat saya sempat terhenti untuk membuat to-do-list kembali di tiap harinya.
Beberapa waktu lalu, saya kembali menjalankan kebiasaan untuk membuat to-do-list kembali. Setelah berefleksi dan evaluasi, saya akhirnya menyadari kesalahan yang saya lakukan. Banyak orang (termasuk saya) membuat to-do-list dengan cara menuliskan apa yang ingin mereka kerjakan hari itu. Misalnya, “menulis artikel, mengerjakan proposal, atau belajar IELTS”. Sekilas terlihat jelas, tetapi saya melihat ada satu masalah: daftar tersebut sering kali terlalu abstrak untuk dieksekusi.
Ketika membaca “menulis artikel”, otak kita masih harus menjawab banyak pertanyaan.
Artikel tentang apa? Mulai dari bagian mana? Berapa lama? Kapan tugas tersebut dianggap selesai? Akibatnya, kita menghabiskan waktu untuk berpikir sebelum mulai bekerja. Tidak jarang hal ini berujung pada penundaan.
Fenomena itu mirip dengan konsep Implementation Intentions yang diperkenalkan oleh Peter Gollwitzer. Dia menjelaskan bahwa seseorang lebih mungkin menindaklanjuti niatnya ketika niat tersebut diterjemahkan menjadi rencana tindakan yang spesifik dan konkret. Dengan kata lain, otak lebih mudah menjalankan instruksi yang jelas daripada tujuan yang masih samar.
Hal itu yang kemudian membuat saya mengevaluasi terkait cara saya dalam membuat sebuah to-do-list. Alih-alih menuliskan “menulis sebuah opini”, saya akan mengubahnya menjadi “menulis artikel sepanjang 250 kata tentang system thinking”. Semakin konkrit dan detail dari intruksi yang saya tuliskan, maka otak saya akan lebih mudah membayangkan seperti apa tugas yang ingin saya selesaikan.
Cara memberikan instruksi tersebut mengubah perspektif saya tentang arah yang lebih jelas dan mengurangi kebutuhan untuk mengambil keputusan saat bekerja. Pada akhirnya, to-do-list bukanlah sekadar daftar pekerjaan. To-do-list adalah cara kita berkomunikasi dengan diri sendiri. Semakin konkret instruksi yang kita tulis, semakin besar kemungkinan tugas tersebut benar-benar dikerjakan.
메타데이터
- post_id
- ba403f8a3c26
- slug
- ternyata-cara-saya-salah-dalam-membuat-to-do-list-ba403f8a3c26
- url
- https://medium.com/@agungsesar.17/ternyata-cara-saya-salah-dalam-membuat-to-do-list-ba403f8a3c26
- canonical_url
- https://medium.com/@agungsesar.17/ternyata-cara-saya-salah-dalam-membuat-to-do-list-ba403f8a3c26
- author_url
- https://medium.com/@agungsesar.17
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08