← Back to list

#9 : Berkunjung Karena Mantra Masa Lalu

“Ternyata saya berhasil kembali lagi ke sini. Tepat seperti mantra yang saya ucapkan waktu itu.”

Diazry · 2026-04-29 15:11 · 2 claps · 4.0 min read
#pengalaman #impian #adventure
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

#9 : Berkunjung Karena Mantra Masa Lalu

“Ternyata saya berhasil kembali lagi ke sini. Tepat seperti mantra yang saya ucapkan waktu itu.”

Ilustrasi masa lalu | sumber : Pixabay

Ilustrasi masa lalu | sumber : Pixabay

Ada sebuah ungkapan indah dari seorang teman yang mengatakan, bahwa jika suatu tempat begitu menarik hati, maka ada sesuatu dalam hidup kita yang telah terhubung dengan tempat itu.

Saya awalnya tak percaya akan ucapannya itu.Tapi pikiran berubah setelah mengalaminya sendiri. Hal yang membuat saya akan ucapkan mantra.

Mantra yang saya berikan pada tiap tempat.

Tiap kota.

Dan negara yang baru saya kunjungi agar dapat kembali lagi.

Mantra, bagaikan doa.

Beberapa waktu lalu, karena sakit yang luar biasa pada area mulut bagian belakang akibat gigi bungsu yang mulai berulah, saya memutuskan untuk memeriksakannya ke klinik gigi terdekat.

Setelah mencari beberapa sumber klinik gigi terdekat, saya pun berhasil membuat janji temu dengan dokter gigi di salah satu klinik di Pamulang. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari kos saya di Ciputat. Oleh karena itu, saya memesan ojek online untuk ke sana agar cepat sampai.

Sialnya, cuaca hari itu benar-benar sangat panas, tidak seperti biasanya yang kadang mendung tak jelas. Saya pun menyiapkan jaket, masker, sepatu, dan menggunakan banyak sunscreen agar wajah tak gosong.

Saya bayangkan jika ini di Sorong. Mamae, sa tidak pergi kapa. Tunggu matahari turun baru sa mau jalan. Panas picah.

Dalam perjalanan, hal yang sangat suka saya lakukan adalah melihat keadaan sekitar. Melihat untuk merekam gedung, jalan, hingga orang-orang dengan mata saya. Tanpa sadar, saya akan melewati suatu tempat yang akan mengingatkan saya pada masa lalu dalam beberapa menit ke depan.

Motor melaju ke arah tugu alun-alun kecamatan Pamulang, di situlah tubuh saya tersentak. Eh, ini kann… Ah! saya pernah ke sini toh, ucap saya dalam hati.

Iya, ini Pamulang, yang waktu itu, saya pernah ke sini. Ini tugunya masih sama seperti yang dulu.

Saya ingat, dua tahun lalu saat masih menjadi mahasiswa, saya bersama dua orang teman mewakili kampus kami dalam ajang debat bahasa Inggris (NUDC) tingkat nasional di kampus UT Pondok Cabe pada tahun 2024 lalu.

Sebelum kembali ke Sorong, kami sempat mengunjungi tempat ini dan berjalan-jalan di sekitarnya. Saya sangat senang akhirnya melewati tempat itu lagi.

Motor yang saya tumpangi kembali melaju menuju klinik gigi. Setelah sampai, saya melakukan registrasi dan kemudian menjalani pemeriksaan. Syukurlah, kondisinya tidak begitu parah.

Ingatan tentang Pamulang itu mulai samar-samar saya lupakan. Beberapa waktu kemudian, saya pergi ke sebuah convenience store yang direkomendasikan oleh seorang teman. Saya berencana untuk membeli beberapa barang rumah tangga dan juga beberapa stok bahan makanan. Dan untungnya, tempat itu berada tidak jauh dari kos saya. Saya menggunakan public transport TransJakarta agar bisa sampai ke sana.

Setelah sampai, tempatnya cukup besar dan sangat padat dengan orang-orang yang berbelanja. Saya pun memegang list belanjaan saya dan mulai memutari toko itu. Begitu selesai, saya kelelahan menenteng barang-barang itu dan akhirnya memutuskan untuk memesan ojek online saja.

Ojek pesanan saya pun tiba, kami melaju dengan tujuan kembali ke kos. Menurut estimasi saya, ini seharusnya tidak lebih dari 15 menit perjalanan jika melewati jalan raya utama. Tetapi tak tahu mengapa, mas driver mengambil jalan tikus untuk menghindari macet katanya.

Kami melewati beberapa perumahan warga, jembatan, hingga gang-gang sempit. Saya tetap tenang saja dan sesekali tertawa kecil, karena mas driver sepertinya juga telah menyesali keputusannya melewati jalan pintas ini dan terus menggerutu diam-diam.

Namun, tiba-tiba saja kami melewati sebuah kompleks. Ada sebuah toko kelontong yang menjual sayur mayur yang sangat-sangat familiar bagi saya. Dalam hati saya sontak bilang, eh, ini sama seperti yang di dekat Griya Dakwah Muhammadiyah (GDM), tempat saya dan teman-teman menginap saat mengikuti NUDC beberapa tahun lalu.

Déjà vu adalah istilah yang paling tepat untuk sesuatu yang sangat familiar yang saya rasakan saat itu. Dua kali berturut-turut saya merasakannya, saat di tugu alun-alun Pamulang dan kali itu.

Betapa kagetnya saya. Itulah GDM, tepat 50 meter di depannya. Tepat seperti yang sedang saya pikirkan. Sebuah bangunan tua yang megah dan memiliki dua lantai yang kini telah berubah wajah tidak seperti yang dahulu saya datangi. Sekarang sudah direnovasi dan dicat dengan warna biru muda.

Saya pun kaget dan bersemangat. Ini kan tempat menginap kami waktu itu, ucap saya. Kami menghabiskan waktu seminggu di sini. Yang tidak pernah saya lupakan, kami sempat bertemu dan saya diwawancarai langsung dengan menggunakan bahasa Inggris oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. Dan kini beliau adalah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

[embed]Cuplikan wawancara | sumber : @admisiunimuda

Perasaan itu sulit saya jelaskan. Saya merasakan bahagia. Kepala saya mulai celingak-celinguk ke kiri dan kanan. Ingin mencoba menangkap semua momen singkat itu sembari bergulat dengan kecepatan motor.

Seperti saat melewati alun-alun Pamulang, perasaan itu tiba-tiba muncul kembali. Saya seakan terbang melintasi waktu menjadi saya di dua tahun sebelumnya. Tak tahu jika Tuhan telah menulis cerita saya ke depan dan menyebutkan Jakarta (Pondok Cabe — Pamulang — Ciputat) lagi sebagai tempat yang akan saya kunjungi di masa depan.

Motor terus melaju menjauh dari kompleks itu dan tiba-tiba sebuah ingatan datang.

Dulu, diam-diam di sebuah kamar tempat saya menginap itu, sebelum kembali ke Sorong, saya sepertinya pernah menyebut mantra ini dalam doa. Saya katakan begini.

“Tuhan, saya ingin kembali lagi ke sini, tetapi dengan keperluan yang berbeda.”

Ya, itu dia. Itu mantra saya, itu doa saya. Wah, ternyata saya berhasil kembali lagi ke sini. Tepat seperti mantra yang saya ucapkan hari itu.

Tahun 2024 saya datang untuk mengikuti lomba NUDC tingkat nasional. Sekarang saya melewati tempat itu kembali sebagai CPB LPDP untuk program pengayaan bahasa. Apakah saat meminta saya sudah tahu ingin meminta apa? Tidak. Saya hanya meminta saja.

Saya tak tahu akan kembali sebagai apa. Tetapi yang saya tahu, saya pasti akan kembali dengan versi terbaik. Dan entah bagaimana, itu berhasil.

Hari itu menjadi hari paling bahagia. Saya melakukan refleksi kembali ke dua tahun belakang dan saya terus tersenyum sepanjang jalan.

Walaupun akhirnya perjalanan itu memakan waktu hampir 30 menit, saya tetap menikmatinya dan mengucapkan terima kasih kepada mas driver. Sungguh pengalaman berkendara ke masa lalu yang sangat menarik.


메타데이터
post_id
ba416a38e095
slug
9-berkunjung-karena-mantra-masa-lalu-ba416a38e095
url
https://medium.com/@trifenaezri/9-berkunjung-karena-mantra-masa-lalu-ba416a38e095
canonical_url
https://medium.com/@trifenaezri/9-berkunjung-karena-mantra-masa-lalu-ba416a38e095
author_url
https://medium.com/@trifenaezri
status
ok
fetched_at
2026-07-10 22:52:34