← Back to list

Bibirmu Ada Berapa? Kok, Beli Lipstik Melulu? (Bagian 2)

Bagian pertama dari tulisan ini adalah artikel yang saya tulis pada 2018 di Mojok.co.

Aprilia Kumala · 2023-08-18 12:04 · 39 claps · 3.0 min read
#lipstik #kosmetik #mojok
Open on Medium ↗

Bibirmu Ada Berapa? Kok, Beli Lipstik Melulu? (Bagian 2)

Penafian: Bagian pertama dari tulisan ini adalah artikel yang saya tulis pada 2018 saat masih menjabat sebagai redaktur di Mojok. Baca selengkapnya di sini.

Bagian pertama di www.mojok.co

Bagian pertama di www.mojok.co

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Yogyakarta cerah saat sore. Teriknya menyengat, membuat warna kulit tangan saya belang di atas motor. Sekilas, tangan saya seperti dilapisi sarung berwarna coklat gosong.

Setiap jam pulang kerja, hidup memberi banyak waktu untuk saya bersenang-senang. Dengan uang gaji yang tersisa dan bensin yang belum mendorong jarum indikator ke huruf E, saya bebas berkeliling kota. Kadang-kadang, saya mampir ke warung nasi langganan zaman saya berkuliah. Namun, lebih sering, saya datang ke sekitar Jalan Kaliurang dan berhenti di sebuah toko kecil yang menjual aneka kosmetik.

Tempat itu, Saudara-saudara, adalah awal mula rontoknya alat-alat pertukaran barang yang tersimpan rapi di dompet saya.

Awalnya, saya hanya mau membeli eyeliner. Bayangkan — sebuah eyeliner, lo. Kecil, tipis, dan enggak mahal. Saya sempat jemawa dan berpikir, “Oh, gini, ya, jadi orang dewasa? Beli-beli barang murah?”

Ternyata, meja kasir tempat saya membayar “barang murah” tersebut dihiasi dengan berderet-deret produk lipstik. Betul, bukan cuma sederet, melainkan berderet-deret.

Semua merek tampak menggoda. Semua shade berkilauan. Baik yang menjanjikan hasil glossy maupun matte, produk-produk itu membuat hati saya berdenyut-denyut lebih cepat. O, inikah cinta pada pandangan pertama?

Saya mengambil salah satu dari produk itu. O, ini lip gloss. Saya geser lagi ke kanan. O, ini lip cream.

“Mbak, shade yang nude dari merek ini, ada?”

Lah, kok, saya malah nanya-nanya?!

Sumber: pixabay.com/camillaperrucci

Sumber: pixabay.com/camillaperrucci

Pada hari itu, saya baru pertama kali tahu bahwa membayar produk di kasir merupakan pekerjaan berat. Jika sebelumnya saya berpikir saya membeli barang murah, pada akhirnya, pertahanan diri sayalah yang murahan.

Saya membeli satu eyeliner, satu lip cream, satu lip tint, dan satu lip velvet.

“Perpisahan” Tanpa Berpikir Dua Kali

Ada suatu masa saya membeli kosmetik diam-diam. Padahal, saya menggunakan uang saya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan, adalah sikap ala budak cinta (bucin) yang sekarang saya tertawakan.

Laki-laki ini dulu menjadi orang terdekat saya. Meski harus diakui ada beberapa hal yang membuat obrolan kami tak putus-putus, tak sedikit kekesalan yang — kalau dipikir-pikir — saya simpan rapat-rapat.

Tiap kali saya membeli kosmetik — lipstik, foundation, cushion, dan lain-lain — dan dia tahu, saya harus bersiap-siap mendengarkan omelannya. Itu, kan, bukan hal penting, katanya. Harganya mahal, kenapa dibeli?

Duh. Saya bahkan tidak berkomentar apa pun ketika dia membeli barang seharga hampir satu juta! Tahu kenapa? Dia pakai uangnya sendiri. Jadi, kenapa repot-repot mengomentari barang yang saya beli dan harganya?

Sumber: pixabay.com/farmgirlmiriam

Sumber: pixabay.com/farmgirlmiriam

Namun, sayangnya, saat hubungan kami berakhir, saya malah melakukan hal di luar akal sehat: membuang semua kosmetik yang saya punya. Ya, kamu enggak salah baca. Saya mengumpulkan semua yang saya punya, memasukkannya dalam tas kresek besar, lalu membuangnya begitu saja.

Saya merasa, kosmetik tidak menyelamatkan saya. Penyebabnya, saya terus terngiang-ngiang ketidaksukaan lelaki itu terhadap kosmetik yang saya koleksi. Saat itu, saya hanya berusaha membuang apa pun yang — baik secara langsung maupun tidak — mengingatkan saya pada keberadaan lelaki itu di dunia.

Berjumpa Lagi

Suami saya pulang agak larut malam itu. Tangannya membawa satu tas kecil yang penuh beberapa barang.

“Apa ini?” tanya saya.

“Buka aja.”

Dari sekian banyak barang di dalam tas, saya melihatnya dengan jelas: enam buah lipstik — semuanya dengan shade yang berbeda.

Wow. Saya menemukan lipstik sekaligus orang yang mendukung apa pun yang saya ingin lakukan dan miliki, rupanya.

Terima kasih sudah mampir dan membaca. Silakan kunjungi akun saya di Instagram dan X @dwiapriliakdewi untuk berdiskusi. Semoga harimu menyenangkan selalu!


메타데이터
post_id
ba6bbcbb65a4
slug
bibirmu-ada-berapa-kok-beli-lipstik-melulu-bagian-2-ba6bbcbb65a4
url
https://medium.com/@adkumala/bibirmu-ada-berapa-kok-beli-lipstik-melulu-bagian-2-ba6bbcbb65a4
canonical_url
https://medium.com/@adkumala/bibirmu-ada-berapa-kok-beli-lipstik-melulu-bagian-2-ba6bbcbb65a4
author_url
https://medium.com/@adkumala
status
ok
fetched_at
2026-06-29 01:02:39