← Back to list

Dari MRT ke Spanduk Warga

Ya, ya, ya, ini memang promosi pekerjaan editor berkedok tulisan blog!

Aprilia Kumala · 2025-06-12 07:38 · 54 claps · 3.4 min read
#mrt #psd #angkot #bahasa-indonesia #editor
Open on Medium ↗

Dari MRT ke Spanduk Warga

Saya sedang menunggu Ratangga (nama kereta pada sistem moda raya terpadu/MRT di Jakarta) di Stasiun Blok M waktu saya membaca tulisan peringatan yang berbunyi: Dilarang bersandar pada pintu PSD. Di bawahnya, ada peringatan versi bahasa Inggris: Do not lean against the door.

Pintu PSD, batin saya. Apa itu PSD? Jenis pintu yang bagaimanakah pintu PSD itu? Kenapa dalam versi bahasa Inggrisnya hanya ditulis “the door” tanpa ada PSD-PSD-nya?

Sumber: x.com/IanSalim

Sumber: x.com/IanSalim

Saat Ratangga tiba, saya segera masuk dan duduk pada kursi yang tersedia. Pandangan saya berkeliling lagi, mencari huruf-huruf yang bisa terbaca untuk membunuh rasa bosan dalam perjalanan. Ah … entah kenapa, kalimat terakhir saya barusan mendadak mengingatkan saya pada momen-momen buang air besar: duduk di kloset sambil membaca tulisan-tulisan yang melekat pada botol sampo atau botol apa pun yang ada di kamar mandi.

Di gerbong tempat saya berada, peringatan yang sama tertera: Dilarang bersandar pada pintu PSD. Saya makin penasaran. Apa, sih, PSD itu? Enggak mungkin, kan, kalau artinya adalah ‘pen sarjana didikan’, mengingat gelar S.Pd. saja berarti ‘sarjana pendidikan’?

Oke, lelucon itu enggak lucu.

Singkat cerita, saya menemukan arti PSD setelah mencari di internet. Rupanya, kepanjangan yang benar adalah platform screen door. Dalam bahasa Indonesia, istilah itu bisa kita sebut pintu pembatas peron karena letaknya memang di tepi peron.

Eh, tunggu …. Kenapa ditulis pintu PSD, ya? Dengan kata pintu sebelum PSD, peringatan yang saya baca di stasiun jadi bermakna: Dilarang bersandar pada pintu pintu pembatas peron. Iya, kan? Pintu-nya dua kali!

Hati saya agak dongkol untuk alasan yang mungkin akan dijawab sebagian orang, “Ya, udah, sih …, sambil memutar mata. Namun, tetap saja, saya heran kenapa pengumuman tadi tidak ditulis dalam bahasa Indonesia saja? Apakah “dilarang bersandar pada pintu pembatas peron” lebih sulit dipahami? Kalau ingin tetap menulis PSD, kenapa juga tidak disertakan kepanjangannya? Entahlah, mungkin semacam … “dilarang bersandar pada PSD (platform screen door)”?

Saya menulis ini sambil minum es cokelat. Setelah menyelesaikan paragraf di atas, saya jadi berpikir keras dengan kepala (dan tenggorokan) yang dingin: Ah, apa mungkin semua penumpang Ratangga — kecuali saya — memang sudah tahu kepanjangan PSD, jadi pihak stasiun/MRT tidak perlu menuliskan kepanjangannya? Begitu, ya?

Sebuah angkutan kota (angkot) mendahului kami secara tiba-tiba. Di atas motor yang dikendarai suami, saya — si penumpang — lumayan kaget. Lalu lintas Jakarta memang “siksaan” bagi hati yang gembira. Sebelum berangkat dari rumah, saya merasa bahagia dan tenang. Namun, di jalan raya — apalagi saat bertemu kendaraan yang bergerak seenaknya — rasa kesal itu memuncak.

Saya tidak mengumpat, tidak juga menonjok sopir seperti kejadian yang saya saksikan pada 2015-an (duh!). Sambil mengatur napas, saya mengamati angkot tadi. Rasa kesal saya makin menjadi-jadi saat melihat tulisan di bagian belakang: Info Layanan / pelanggan.

Saya ulangi lagi: Info Layanan / pelanggan.

Spasi sebelum dan setelah tanda garis miring memang mengganggu, tapi rasanya sangat mengganjal melihat semua kata diawali huruf kapital, kecuali kata terakhir.

Kenapa?! Kenapa kata pelanggan harus diawali huruf nonkapital, berbeda dengan kata lainnya?! Kenapa tiba-tiba banget nonkapital?!

Di tengah asap kendaraan, hati saya teriris memikirkan ketidakadilan penulisan kata pelanggan. Dunia memang kejam bagi sebagian entitas, termasuk yang berbentuk tulisan. Kalau saya jadi kata pelanggan, kayaknya saya bakal uring-uringan karena merasa terkucilkan.

Baru saja membayangkan uring-uringan, saya malah uring-uringan sungguhan saat motor kami melaju melewati sebuah spanduk besar. Di sana, tertulis slogan dalam huruf kapital berukuran besar: MAJU KOTANYA BAHAGIA WARGA NYA.

Oke, pertama-tama, mana tanda komanya?! Kedua, kenapa kata warga ditulis terpisah dengan -nya, padahal kotanya saja ditulis serangkai dengan -nya? Apa yang mendasari ketidakkonsistenan ini? 😭

Saya memutuskan menumpahkan rasa gelebah pada tulisan ini dengan kesadaran penuh bahwa saya masih membuat banyak kesalah saat menulis. Tuh, pada kalimat barusan saja saya melakukan saltik karena menulis kesalah alih-alih kesalahan. Selain itu, meski sudah membuka EYD V dan KBBI untuk memastikan penulisan kata tertentu, saya mungkin saja masih melakukan kesalahan-kesalahan tak terencana.

Dasar manusia, sudah tahu banyak salah, masih saja protes! batin saya pada diri sendiri. Iya juga, ya, jawab saya pada omelan saya pada diri saya sendiri.

Selagi gelas es cokelat saya mulai membentuk kulacino di atas meja, saya menyadari tulisan ini cukup absurd. Saya menyampaikan keberatan, tapi juga merasa tak layak menyampaikan keberatan tersebut. Lagi pula, bisa saja kesalahan penulisan di sekitar kita terjadi bukan karena disengaja. Ketidaktahuan juga bisa berasal dari kurangnya edukasi, kan?

Jadi, apa kesimpulannya? Mari, pekerjakan editor tulisan di segala sektor! (Ya, ya, ya, ini memang promosi pekerjaan editor berkedok tulisan blog!).

Oke, tulisan ini benar-benar absurd. Terima kasih sudah membaca tulisan yang saya buat selagi bengong di kafe ini!

“Aku lagi ngapain, sih?” (Sumber: Dok. Pribadi)

“Aku lagi ngapain, sih?” (Sumber: Dok. Pribadi)

Terima kasih sudah mampir dan membaca. Silakan kunjungi akun saya di Instagram dan X @dwiapriliakdewi untuk berdiskusi. Semoga harimu menyenangkan selalu!


메타데이터
post_id
ba7dd53ef079
slug
dari-mrt-ke-spanduk-warga-ba7dd53ef079
url
https://medium.com/@adkumala/dari-mrt-ke-spanduk-warga-ba7dd53ef079
canonical_url
https://medium.com/@adkumala/dari-mrt-ke-spanduk-warga-ba7dd53ef079
author_url
https://medium.com/@adkumala
status
ok
fetched_at
2026-07-19 12:05:52