Tidak Selalu Nyaman, Tapi Itu Benar
/Nada Permata Kamilia/15225064/Kelompok 79
Tidak Selalu Nyaman, Tapi Itu Benar
/Nada Permata Kamilia/15225064/Kelompok 79

Saya memiliki pengalaman yang sangat berkaitan dengan integritas sebagai nilai yang sangat penting untuk dipegang. Saya sadar jika integritas penting sekali sebagai nilai yang menjadi dasar pengembangan diri seseorang. Maka dari itu, saya akan berbagi cerita dan pengalaman saya di sini dengan latar ITB Kampus Jatinangor dan sekitarnya agar kami semua dapat belajar.
Saat menjabat sebagai Kepala Divisi Publikasi dan Dokumentasi dalam sebuah kepanitiaan kampus, saya bertanggung jawab atas seluruh konten informasi yang dipublikasikan, mulai dari desain visual, copywriting, hingga detail teknis acara. Setiap konten yang tayang di media sosial telah melalui proses perencanaan, diskusi, dan persetujuan akhir dari saya sebagai kadiv.
Pada suatu waktu, tim kami mempublikasikan sebuah konten penting yang berisi informasi teknis terkait jalur masuk ke venue acara. Beberapa jam setelah diunggah, ada peserta yang menghubungi panitia dan menyampaikan bahwa terdapat ketidaksesuaian informasi pada salah satu poin di konten tersebut. Awalnya saya mengira itu hanya kesalahpahaman pembaca. Namun setelah saya periksa kembali secara menyeluruh, ternyata memang ada detail informasi yang kurang tepat.
Kesalahan tersebut terjadi karena kurangnya ketelitian saya saat melakukan pengecekan akhir sebelum konten dipublikasikan. Sebagai kepala divisi, saya menyadari bahwa tanggung jawab tetap berada pada saya.
Situasi tersebut sempat membuat saya merasa cemas. Konten itu sudah tersebar dan dilihat banyak orang. Jika tidak segera ditangani, kesalahan informasi bisa menimbulkan kebingungan yang lebih luas dan berpotensi menurunkan kredibilitas panitia.
Dilema yang saya hadapi adalah bagaimana menyikapi kesalahan tersebut secara tepat. Saya bisa saja langsung meminta tim untuk merevisi tanpa membahas akar permasalahannya, atau bahkan menganggap bahwa kesalahan itu terjadi karena miskomunikasi internal. Namun saya sadar bahwa sebagai pemimpin divisi, integritas berarti berani mengakui peran dan tanggung jawab saya dalam proses tersebut.
Di sisi lain, saya juga harus menjaga kondisi tim agar tetap kondusif. Jika saya bersikap panik atau mencari pihak yang disalahkan, suasana kerja dapat menjadi tegang dan produktivitas menurun. Saya perlu mengambil keputusan dengan tenang dan objektif.
Saya kemudian mengajak tim untuk berdiskusi secara internal dengan kepala dingin meskipun kami seringkali berbeda pendapat. Pada waktu itu memang ada perbedaan pendapat soal solusi yang akan diambil dan tentunya saya tetap menghargai perbedaan pendapat itu. Hanya saya rasa pendapat yang disampaikan oleh rekan kerja saya kurang efektif, memakan waktu lama, dan mengambil risiko yang besar, maka saya berusaha menyampaikan pendapat saya yang lebih cepat dan tidak menimbulkan risiko yang besar. Tentunya saya tetap tidak merendahkan pendapat dia sama sekali. Dalam diskusi tersebut, saya menyampaikan bahwa ada bagian dari proses final checking yang terlewat dari perhatian saya. Saya tidak ingin kesalahan ini menjadi beban satu pihak saja. Fokus utama kami adalah mencari solusi yang cepat dan tepat. Jika diingat kembali, hal tersebut memang waktu yang berat, dan banyak faktor eksternal yang memengaruhi kinerja kami, tapi dengan seluruh upaya saya dalam membujuk solusi yang lebih tepat dan sudah disetujui oleh beberapa rekan, maka kami berhasil mengambil keputusan/solusi yang tepat.
Kami sepakat untuk segera merevisi konten, memastikan kembali seluruh detail informasi, lalu mengunggah versi yang telah diperbaiki. Selain itu, kami juga memberikan klarifikasi singkat agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut di kalangan audiens. Proses revisi berjalan lancar karena semua anggota tim bekerja sama tanpa saling menyalahkan.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa integritas bukan hanya tentang kejujuran, tetapi juga tentang tanggung jawab dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Kesalahan bisa saja terjadi, tetapi cara menyikapinya menentukan tingkat profesionalisme dan kepercayaan yang dibangun. Dengan bersikap terbuka dan solutif, masalah dapat diselesaikan dengan baik tanpa merusak kepercayaan tim maupun publik.
메타데이터
- post_id
- ba9d87905c8e
- slug
- tidak-selalu-nyaman-tapi-itu-benar-ba9d87905c8e
- url
- https://medium.com/@nadapermatakamilia1/tidak-selalu-nyaman-tapi-itu-benar-ba9d87905c8e
- canonical_url
- https://medium.com/@nadapermatakamilia1/tidak-selalu-nyaman-tapi-itu-benar-ba9d87905c8e
- author_url
- https://medium.com/@nadapermatakamilia1
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13