1000 Days of Blue
Mata milik sang burung kardinal mendadak menjadi biru semenjak hari rampungnya renovasi sayap timur kebun binatang itu.
1000 Days of Blue
Photo by Dalila Moreira on Unsplash
Mata milik sang burung kardinal mendadak menjadi biru semenjak hari rampungnya renovasi sayap timur kebun binatang itu.
Ia benar-benar ingat harinya.
Rabu malam yang sejuk. Kebun binatang yang lompong. Jangkrik yang lezat.
Di luar kesehariannya sebagai penduduk hutan kota yang taat dan nyaman saja dengan diet bebijian dan bebungaan, sang kardinal juga senang sesekali mengicip barang sedikit protein. Komoditas langka itu ia temui amat banyaknya di tempat-tempat pemeliharaan hewan di kota kecil itu.
Sebagai pendatang dari migrasi musim sebelumnya, tempat-tempat tersebut seharusnya rahasia baginya, tetapi untunglah ia senang gosip. Letak gudang-gudang berisi jangkrik, cacing, dan kumbang pun cepat terpetakan pada otak mungilnya.
Kebetulan, suatu hari ia sedang ngidam jangkrik. Teksturnya ituloh. Cukup itu untuk membuatnya melesat menuju ‘tempat biasa’ di kebun binatang — biasanya stok paling mudah dan paling aman meskipun jangkriknya terhitung standar saja.
Akan tetapi, hari itu, peta dalam kepalanya terlanggar. Debar tipis mulai melaju pada jantung mungilnya.
Mungkin tak ada jangkrik malam ini.
Perasaan di sini letak gudang yang berlubang di pinggir; sejak kapan dia menjadi lorong begini!?
Barangkali para kaki dua telah merobohkan bank jangkrik dan membuat lorong perlindungan baru sebab mereka akhirnya sadar telah lama kebobolan! Gawatnya, gawatnya!
Sembari terbesit untuk langsung meramaikan jejaring rumpinya dengan berita menghebohkan ini, sang kardinal melebarkan sayap.
Namun — “Hai! Ada burung di situ?”
Suara asing berkicau dari dalam lorong gelap. Logat yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
“Halo?” balas sang kardinal. Ia mengayun perlahan menuju arah suaranya. Pendatang, sepertinya?
Suara itu membalasnya, “Iya haloo, salam kenal ya. Aku baru datang siang tadi! Rupanya belum ada burung lagi di sini ya?”
Barulah sang kardinal sadar bahwa ia sedang di depan lorong penuh kandang.
Oh, tidak!
Gudang telah digantikan penjara! Merinding mual dibuatnya. Andai ia punya, bulu kuduknya akan tercengang.
“Apakah kamu dibalik jeruji?” bertanyanya penuh berani.
“Benar,” suaranya membalas. Lalu, karena sang kardinal terdiam tak paham, suara tersebut menambahkan, “Tidak apa, sudah begini dari lahir,” dengan nada sedikit bangga.
Sang kardinal semakin tidak paham.
“Semenjak berhari-hari perjalanan, aku belum bertemu burung lain. Aku hampir kira para kaki dua telah membawakanku ke tempat tanpa burung sekalipun! Terima kasih ya sudah membuktikan sebaliknya.”
Padahal, pikir sang kardinal, ia tak lakukan apa-apa selain rutinitasnya. Sebagai gentlebird, sang kardinal mendekat ke kandang sang pemilik suara. Entah apa yang ia pikirkan, “Maukah aku temani?”
“Boleh sekali,” katanya. Lalu mendekatlah seekor burung kicau abu-abu kebiruan yang tak pernah sang kardinal lihat sebelumnya. Dalam paruhnya, ia seret jangkrik segar dua ekor.
Jangkrik! My lucky day!
Maka teman gosip baru ini berceritalah mengenai pekerjaannya sebagai penyanyi — dibawa ke sana kemari — beserta para kaki dua yang ia temui selama ini. Berceritalah ia mengenai tanah-tanah jauh dengan bebatuan yang menjulang tinggi, langit yang tak berhenti menangis, dan juga hamparan padang biru yang bergerak bergelombang.
“Masa sih, ada padang yang begitu?” Sang kardinal bertanya, paruhnya setengah berisi jangkrik.
“Percayalah denganku,” ujar burung kicau, “Mungkin suatu saat kau akan ke sana.”
Sang kardinal putuskan suatu hari akan ke sana. Mendengar gelombang-gelombang yang mendentum tanah. Melihat padang biru yang tak terbatas. Menyaksikannya dicumbu matahari.
Sang burung kicau lalu bertanya, “Apakah kau punya cerita? Sudah lama aku tak mendengar cerita.”
“Aku punya banyak sekali cerita.”
Lalu, sang kardinal berkicau — dengan suara biasa sajanya — tak henti-henti. Ia kicaukan masa kecilnya di hutan nan jauh. Pepohonan yang tak habis-habis. Rusa dan kelinci dan beruang. Kelezatan jangkrik. Daun yang mati berjamaah kala dingin mengetuk. Dan banyak hal yang ia sendiri lupa.
“Datang ke sini lagi ya,” kata burung kicau.
Tapi sang kardinal hanya mendengar gelombang-gelombang padang biru.
Setelah terbang pulang dan menengok genangan di dekat rumahnya, ia temukan bahwa matanya telah mengambil warna itu pula.
Bahkan jika jangkrik sedang habis, sang kardinal rajin berkunjung.
Ia akan datang setelah langit lelah menjingga dan para kaki dua mulai lengah. Ia bawakan kicauan-kicauan dari luar. Berita terbaru masyarakat hutan kota. Kabar dari angin utara. Wangi kayu pada angin barat daya. Danau bening kebiruan yang membuatnya teringat akan cerita sang padang biru.
Teman barunya cukup mendengar. Terkadang sembari tutup mata. Selalu sembari tersenyum, jika burung bisa tersenyum.
Sesekali ia berkomentar iseng, “Di sini, aku yang burung kicau, tapi rupanya kau yang lebih hobi berkicau!”
Sesekali ia bertanya, “Seperti apa rasanya terbang di antara awan?”
Dan sang kardinal akan mencoba menuturnya sejauh tingkat mampunya, “Seperti… menjadi milik langit.”
Dibalasnya dengan tawa kecil, “Aku tidak iri, serius,” ditatapnya ringan, “Aku suka mendengarmu bercerita. Rasanya seperti aku ikut terbang juga.”
Tapi sang kardinal hanya mendengar gelombang-gelombang padang biru.
Bahkan ketika para kaki dua memindahkannya sementara untuk tampil-tampil di luar kota atau ketika hujan tak mengizinkan kunjungannya. Tetap ia dengar gelombang-gelombang padang biru.
Dan matanya begitu pula.
Migrasi pertama semenjak hari-hari itu adalah yang paling sulit.
Sejauh apapun keberangkatannya ia ulur-ulur, bulunya tetaplah tak kuat dengan embun pagi yang semakin mendingin. Nalurinya pun telah lama bersepakat dengan angin utara. Maka badai haruslah ia terjang untuk mencari kehangatan di daratan lain.
Tak seperti musim-musim lalu yang ia jadikan kesempatan berpindah domisili, ia putuskan akan kembali nanti ke kota ini saat berjumpa seni. Seolah ada janji pada matanya yang biru itu yang mengharuskannya pulang.
Ia berpamitan pada hutan kota dan sahabat-sahabatnya dan pada burung kicau dalam kandang, lalu berangkat seburung diri — tergoncang awan-awan hitam, terkejar elang-elang botak, dan teruji jeda-jeda lapar.
Ia terbang rendah dan lambat, seolah waktu akan cepat dan lunak jika ia lakukan demikian. Akan tetapi, ia temukan bahwa waktu tak bisa mengambil kedua sifat itu sekaligus. Pilih cepat atau pilih lunak?
Sang kardinal merenungkan cerita-cerita padang biru yang begitu ia hafal. Jika ia terbang tanpa henti ke selatan, akankah ia menemukannya? Apa daya, ia tak bisa bertanya sahabatnya — toh kadang yang ditinggalkan itu tak bisa dibawa serta.
Dan matanya masih biru.
Semi berikutnya, sang kardinal telah mengulang-ulangi kicauan fantastisnya kepada semua teman gosipnya di hutan kota. Awan dan elang dan lapar. Trotoar beton dan jendela kaca. Pencakar-pencakar langit raksasa. Ia ulang-ulangi ceritanya bak latihan untuk penuturan teristimewa yang ia simpan untuk temannya di kebun binatang.
Maka ia sambangi lorong yang sama, kandang yang sama. Temannya masih saja di situ. Abu seperti dulu, tersenyum seperti dulu, menyambutnya seperti dulu.
“Kamu harus dengar!” mulainya.
Dibalasnya dengan tawa, “Pelan-pelan aja ceritanya! Aku tak punya tempat pergi. Kita punya waktu.”
Dan mereka larut.
Begitu saja pola musimnya. Saat daun mulai sekarat, sang kardinal terbang ke selatan. Saat bunga lahir kembali, ia pun pulang. Pasang dan surut, seperti gelombang-gelombang padang biru yang tak henti-hentinya sang kardinal ingat. Tak punya kemewahan untuk pasti, memang. Penuh takut pada munculnya dingin utara. Penuh harap pada angin hangat pertama.
Sang kardinal pun belajar menyayangi pola musim ini. Dan hari ke-10, ke-100, ke-1000 pun datang, seperti hari-hari lainnya.
Jangkrik dan daun dan bunga pun berputar-putar dalam dunianya, seperti jangkrik dan daun dan bunga pada semestinya.
Sang kardinal sudah tak menggebu-gebu soal sang padang biru. Barangkali sayapnya saat ini belum kuat untuk menyambang lintasan awan dan menemukannya di selatan. Pun sejuta tanya tentangnya tak banyak bisa dijawab oleh burung kicau yang hanya melihatnya dari balik kandang.
“Mungkinkah suatu saat kita ke sana?” bertanya sang kardinal suatu sore.
“Mungkin. Aku percaya-percaya saja,” balas temannya santai, “Tapi kalau boleh bicara, bukankah cerita itu tak kalah penting dengan cerita-ceritamu yang sekarang?”
“Bisa jadi,” kicau sang kardinal, kali ini mendengarnya. Dan ia lanjutkan dengan cerita segar lagi.
Matanya, sih, masih biru.
Photo by Ghiffary Ridhwan on Unsplash
Kau pasti berbakat menjadi guru. Orang bilang ada lima bahasa kasih — kok tetiba aku jadi fasih semuanya?
Hai sahabat, telusurilah 1 hari, 10 hari, 100 hari, 1000 harimu! Jejakku yang manakah yang kau temukan membekas di situ?
SyairSyawal#6
6 tulisan tak-sepenuhnya-syair tuk lengkapi ibadah menulisku~ 😂 Teradaptasi dari arsip-arsip yang kususun dalam raga yang lebih elok tuk dipertontonkan pada mata dunia.
메타데이터
- post_id
- babbb4c9c7bb
- slug
- 1000-days-of-blue-babbb4c9c7bb
- url
- https://medium.com/@rakeanradya/1000-days-of-blue-babbb4c9c7bb
- canonical_url
- https://medium.com/@rakeanradya/1000-days-of-blue-babbb4c9c7bb
- author_url
- https://medium.com/@rakeanradya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 09:32:20